Angkasa

Angkasa
32. Penjelasan


__ADS_3

Kata Angkasa, Raya salah paham.


Cowok itu ceritain semua yang ia dengar dari Dylan, melihat gerak-gerik Chika dan Chandra, sampai menyimpulkan beberapa alasan. Dan hasilnya sama seperti yang Dylan ceritakan semalam.


Chika dijebak.


Angkasa menceritakan semua. Mulai dari Dylan yang hampir ditabrak truk hingga Chika yang menyelamatkan Dylan dan mengangkat Dylan sebagai anak—mengesampingkan bahwa dia adalah wanita singel yang siap menikah saat itu.


Lalu akhirnya Chika bertemu dengan Chandra yang saat itu adalah Bosnya di suatu perusahaan, Archandra Group. Mereka tadinya hanya atasan dan bawahan. Tapi intensitas bertemu yang sering membuat keduanya merasakan ada getaran aneh satu sama lain.


Chandra yang mengakuinya lebih dulu. Walaupun senang, Chika tak ingin membuat rumah tangga atasannya itu rusak. Lagipula Chandra memiliki sudah memiliki anak yang sudah cukup umur untuk mengetahui apa yang terjadi. Chika tak ingin anak itu membencinya karena terlalu dekat dengan Chandra.


Akhirnya Chika keluar dari pekerjaannya. Membawa dirinya dan Dylan jauh dari Chandra. Bertahun-tahun lamanya. Hingga akhirnya dia tak sengaja kembali bertemu dengan mantan atasannya itu.


Ia dapat melihat wajah senang Chandra. Tapi dalam lubuk hatinya Chika tak pernah berniat untuk membuat mantan atasannya itu menyukainya. Tak heran memang, Chika yang memiliki paras menawan mampu meluluhkan hati pria dalam sekejap mata. Tapi ia tak pernah menginginkan hal itu.


Dan malam itu, tak seharusnya Chika menerima permintaan bertemu Chandra. Chika kira itu hanyalah pertemuan biasa setelah tak bertemu bertahun-tahun. Yang Dylan tahu, wajah ibu angkatnya itu tak seceria biasanya. Ada guratan sedih setelah ibunya pergi.


Dylan yang masih belum bisa memahami situasi menemui ibunya. Dari ambang pintu kamarnya terlihat bahwa wanita cantik itu menangis tertahan. Dylan mendekatinya, dan Chika mendongak menatap Dylan penuh sedih.


"Aku melakukan kesalahan besar," gumam Chika waktu itu. Dylan duduk disebelah Chika menatap ibu angkatnya itu prihatin.


"Ibu kenapa?" tanya Dylan dengan suara bergetar. Seakan ikut merasakan kesedihan ibu angkatnya itu.


Chika tersenyum miris ke arah Dylan dan segera memeluk cowok itu. Hanya Dylan satu-satunya yang sekarang ia miliki. Tak ada orang tua, keluarga juga pasti akan menjauhinya. Tapi tidak dengan Dylan, dia yakin bahwa anak angkatnya—walaupun dia hanya anak angkatnya—Dylan pasti akan ada, pasti akan selalu bersamanya. Dia yakin itu.


"Aku melakukan kesalahan. Besar sekali, dan ini tidak bisa dimaafkan," ucap Chika tersendat-sendat membuat Dylan membalas pelukan Chika. Tubuh ibunya dingin, bergetar hebat.


Dan saat itulah Dylan mulai mencari informasi. Perlahan dia menanyai ibunya apa yang terjadi dengannya. Dan secara perlahan Chika akhirnya bercerita. Walau tidak utuh, Dylan tahu siapa disini yang harus bertanggung jawab.


Dylan akhirnya menemui Chandra ditempat kerja pria itu. Meminta perhitungan atas apa yang dia perbuat malam itu.


"Chandra!" pekik Dylan keras segera masuk ke ruang kerja Chandra tanpa permisi.


"Hm? Oh, anak angkat wanita cantik itu," gumam Chandra tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Chandra mengunci pintu dengan tombol didekat meja kerjanya. Membuat Dylan menggeram. Dasar pria licik.


Dengan amarah memuncak akhirnya Dylan maju. Ingin memukul keras-keras wajah sombong itu. Tapi karena sifat Dylan yang selalu marah tanpa kendali akhirnya Chandra dengan mudah mendorong cowok itu hingga punggungnya menghantam tembok putih kosong di sisi ruangan.


Dylan menggeram. Marah. Ingin membalas pria brengsek yang telah menghancurkan hidup ibu angkatnya itu. Tapi sebelum Dylan benar-benar kembali fokus untuk menyerang, Chandra dengan cepat mengeluarkan sebilah pisau yang sangat tajam. Ujungnya mengkilat membuat Dylan menegak salivanya.


Chandra dengan berlari—tidak heran dengan tubuh yang sepertinya awet muda itu dia dapat berlari cepat kedepan Dylan dan langsung merapatkan cowok itu kembali ke dinding. Persis seperti yang Angkasa lakukan malam itu.


Tapi bedanya, Chandra menggunakan pisau.


"Mau apa kamu, bocah?" desis Chandra dingin.


Tapi hanya desisan begitu saja, Dylan tidak akan gentar.


Chandra kemudian mengangkat tangannya, mengarahkan ujung pisau persis ke tengah tenggorokan Dylan membuat Dylan mengangkat kepalanya tinggi menghindar ujung tajam pisau itu. Bergerak sembarangan saja bisa membuat ujung pisau itu menembus tenggorokannya dan berakhir dengan saluran napas yang terputus.


"Berapa orang yang sudah wanita cantik itu ceritakan tentang malam itu?" tanya Chandra, masih dengan suara yang sama. Dingin dan datar.


Dylan mengambil napas. Dadanya naik-turun tak beraturan. Ia menatap Chandra penuh kebencian.


Hening. Sampai Dylan akhirnya menyerah. Ujung mata pisau itu telah menembus kulitnya beberapa milimeter. Ia tak ingin mati ditangan si brengsek ini.


"Dasar sialan!" umpat Dylan membuat Chandra terkekeh pelan.


"Apa yang salah membawa seorang wanita cantik ke hotel?" ucap Chandra seakan tak bersalah.


Dylan menggeram. Tapi gerakannya terkunci. Pisau itu membuat Dylan tak dapat bergerak.


"Lo gila ya?" desis Dylan dengan tercekat karena Chandra semakin menekan pisau di tenggrokan Dylan membuat darah mengalir kecil dari sana. Dia menutup mata mengerjap kecil. Tidak, lebih kuat, ini hanya perih biasa. Tak mungkin ia mundur.


"Saya hanya membawanya ke hotel. Memintanya untuk mengabulkan permintaan kecil saya. Tapi dia tidak mau—"


"DAN LO MAKSA DIA GITU!? PUNYA HATI NGGAK SIH!?" teriak Dylan sudsh tak sabar. Masa bodoh dengan tenggorokannya. Dia hanya memperjuangkan ibunya!


"Shhtttt ... kamu bisa puas berteriak. Orang lain tidak akan mendengarnya," desis Chandra.

__ADS_1


"Seberapa jauh?" ucap Dylan lirih. Tatapan matanya menurun. Tak ada gunanya juga marah, malah akan membuatnya semakin dekt dengan kematian.


Mengerti pertanyaan Dylan, Chandra tersenyum menyeringai. Ia terkekeh pelan. "Kamu yakin ingin mendengarnya?"


Dylan tak menjawab. Karena ia tahu seperti apapun jawabannya Chandra akan mengatakannya. Entah itu secara terang-terangan, atau secara bertele-tele seperti di sinetron televisi.


"Baiklah. Mulai mana ya?" gumam Chandra terlihat berpikir keras sedangkan Dan menggeram kecil. Dasar lelaki tua brengsek.


"Oke, oke. Akan kuceritakan saat kita sudah masuk kamar bersama," ucap Chandra dengan santainya. "Seperti yang kubilang, aku telah meminta permintaan kecil itu. Tapi dia menolak, hendak pergi. Tapi aku mencegahnya ..."


"Tidak seperti wanita di club malam dia lebih agresif. Dia berlari beberapa kali ingin melarikan diri, tapi aku menahannya. Sangat merepotkan. Sampai akhirnya aku mengikat kedua tangan dan kakinya menidurkannya diatas ranjang dengan posisi telentang. Itu menyenangkan, melihatnya merontak sampai kehabisan tenaga."


Menyenangkan dia bilang? Sudah gila apa! Dylan mengeraskan kepalan tangannya. Mendengarnya saja sudah membuatnya tak tega dengan ibunya.


"Dan setelah dia kehabisan tenaga, aku segera melakukannya. Oh iya, sebelum itu aku melepaskan—"


"CUKUP!" teriak Dylan segera menendang perut Chandra membuat Chandra terhempas dan menghantam meja kerjanya.


Mata Dylan memerah. Darah mengucur dari tenggorokannya. Dan dadanya naik turun. Ia menatap Chandra penuh emosi.


Dylan ingin berlari. Melemparkan tinju atau menginjak pria brengsek itu agar emosinya bisa mereda. Tapi Dylan tidak tahu, sebelumnya—bersamaan dengan Dylan yang menahan rasa sakit di tenggorokannya karena pisau menekan tenggorokannya—Chandra menyuntikkan sesuatu membuat kesadaran Dylan semakin lama semakin menurun.


Dan saat itu Chandra membawanya kesebuah ruangan. Mengancamnya sekali lagi dan kali ini Dylan kalah.


Darahnya banyak terbuang. Dia tidak bisa melawan.


Sejak saat itu Dylan benar-benar melindungi ibunya. Selalu menemani kemanapun Chika pergi.


Karena diluar sana ada pria gila!


Sebelum kesadaran Dylan hilang kembali, yang Dylan lihat Chandra menyuruh dia orang. Entah siapa itu, pasti suruhannya.


Dan saat bangun, Dylan sudah berada didepan teras rumahnya. Dengan surat kecil yang ada disaku celana jeansnya.


Dia gagal melindungi ibunya, dia gagal membela ibunya.

__ADS_1


💗💗💗


__ADS_2