Angkasa

Angkasa
03. Vella


__ADS_3

--💗--


Raya mendesah, lelah, keringat telah mengucur kemana-mana. Baju sekolahnya juga terasa basah sekarang. Rambutnya juga sudah lepek bahkan wajahnya sudh tak keruan karena ulah Ryan.


Cowok itu dengan sengaja mengoleskan tanah kewajah Raya, tentu saja Raya marah. Tapi dia tidak bisa mengejar Ryan yang mempunyai langkah bak flash itu.


Dan akhirnya Raya hanya diam sambil sibuk membersihkan rumput tanpa memperdulikan Ryan yang terus saja mengajaknya bicara.


"Ray, lo marah? Maaf deh, gue nggak sengaja," ucap Ryan. Raya masih diam saja. Biarin aja Ryan terus meminta maaf, sorry ya kacangnya lagi mahal!


"Ray, ayolah. Gue minta maaf, gue nggak bakal lakuin itu lagi deh. Janji," ucap Ryan dengan nada memohon.


Raya melirik Ryan yang wajahnya sudah penuh peluh itu, ia menghela napas kasar lalu bangkit dan duduk di kursi batu dekat pohon beringin besar.


"Ih, Ray, jangan disitu," ucap Ryan memperingatkan. Raya dengan kacang-nya tak memperdulikan ucapan Ryan. Ia masih kesal dengan lelaki itu!


"Yaudah deh, gue temenin," ucap Ryan yang dengan sigapnya duduk disebelah Raya membuat Raya merasa sedikit risi.


"Apaan sih lo?" tanya Raya dengan nada sedikit membentak.


Ryan tersenyum bahagia, "Akhirnya! Lo mau ngomong juga sama gue!"


Raya mendesis mendengar ucapan Ryan. Ia kembali sibuk dengan tasnya, membuka botol yang masih tersegel. Dia kemudian meminumnya, membasahi kerongkongannya yang rasanya sudah seperti gurun sahara.


Setelah puas minum, Raya kemudian bangkit dan kembali membersihkan area sekitar pohon beringin yang cukup rimbun itu. Ryan yang melihat itupun bergidik.


"Ray!" panggil Ryan membuat Raya menoleh, "lo nggak takut ada di situ?" lanjutnya sbari menunjuk pohon beringin besar itu.


"Kenapa emang?" tanya Raya acuh. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa menghiraukan wajah Ryan yang mulai memerah karena kesal dengan sikapnya. Biar saja, toh bukan urusannya.


"Rumor yang beredar sih, ada penghuni baru disitu," ucap Ryan.


Raya seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap Ryan tajam, "Jangan coba-coba nakutin gue deh lo!"


"Gue nggak nakut-nakutin lo kok, katanya sih penghuni yang lama, alias mbak-mbak yang suka bawa lonceng udah pergi," ucap Ryan, "trus katanya gantian mbak kunti yang jadi penghuninya."


"Ngaco lo, mana ada hantu suka bawa lonceng," ucap Raya.


"Hih, dibilangin juga. Udah ah, gue mau beli minum dulu di kantin," ucap Ryan dan segera pergi meninggalkan Raya.


Raya mendesis pelan, ia kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun semenit kemudian bulu kuduknya terasa meremang. Ia menatap sekeliling, sepi, hanya ada dirinya.


Ia kemudian menepis gambaran-gambaran buruk yang akan terjadi. Tapi sedetik kemudian angin berhembus membuat Raya kembali merasa merinding.


"Nggak mungkin yang Ryan omongin itu beneran," gumam Raya.


Sebuah ranting kemudian jatuh tepat dibelakang Raya membuat Raya terkejut dan segera berlari keluar dari taman itu. Tak lupa ia menyambar tasnya tanpa memperdulikan lagi tas Ryan yang tergeletak tak berdaya dikursi taman itu.


--💗--

__ADS_1


Angkasa memutar-mutar pena yang berada ditangan kanannya, matanya sesekali melihat kearah pintu kelas. Kenapa gadis itu belum datang? Apakah dia bolos sekolah di hari pertamanya?


Ia kemudian mengusap wajahnya, kembali memperhatikan pelajaran yang sudah ia pahami di kelas XI dulu. Angkasa kemudian menarik ponsel yang ada di loker mejanya, ini adalah sejarah dimana Angkasa pertama kali membuka ponsel saat pelajaran.


Mau bagaimana lagi? Dia khawatir dengan Raya. Maksudnya ayahnya menitipkan Raya padanya dan pasti jika terjadi apa-apa dia yang terkena imbasnya, jangan salah paham.


Angkanata :


Dmn?|


Tak butuh waktu lama Angkasa menunggu, Raya membalas pesannya sepersekian detik kemudian.


Rayaarcha :


|Tolongin gue Asa!!!


Angkanata :


Emng knp?|


Rayaarcha :


|Gue jadi buronan hantu pohon beringin!


Angkanata :


Rayaarcha :


|Ih, beneran!


Angkanata :


Lo dmn?|


Rayaarcha :


|Kantin


Angkasa mengusap wajahnya, gadis itu ketakutan dan memilih berada di kantin? Pinter!


Angkanata :


Tunggu situ|


Rayaarcha :


|Cepetan gue takut


"Bawel!" gumam Angkasa. Dia kemudian mengacungkan tangannya membuat Pak Luis--guru yang saat itu tengah mengajar kelas Angkasa menatap ke arah lelaki itu.

__ADS_1


Angkasa kemudian mendekati Pak Luis dan bicara sekecil mungkin agar orang lain tidak mendengar. Pak Luis kemudian mengangguk dengan wajah sedikit bingung membuat Angkasa dapat menghela napasnya lega.


Setidaknya dia tidak perlu menjelaskan apa yang dia maksud. Dan untungnya dia masih menjabat sebagai anak OSIS, walaupun sebentar lagi jabatan itu akan berpindah ke adik kelasnya karena dia sudah berada di kelas XII.


Saat keluar dari kelas Angkasa baru menyunggingkan senyum kecil. Merasa bodoh dengan alasan yang ia gunakan tadi.


"Pak, saya mau jemput anak baru yang tersesat dan tau arah pulang ke kelas ini. Lagi jadi buronan hantu soalnya."


--💗--


Raya menghela napasnya sambil melihat sekeliling. Katanya Ryan ingin ke kantin, tapi apa? Cowok itu tak ada disini.


Raya kemudian kembali menyalakan ponselnya dan melepon satu nomor yang dia kenal disini.


"Lo dimana sih?" tanya Raya tak sabaran. Angkasa yang berada diujung sambungan telepon pun menghela napasnya.


"Bentar lagi gue sampe kantin, deket pintu masuk kantin," ucap Angkasa.


Dengan segera Raya berlari untuk menemui Angkasa. Dan benar saja Angkasa sedang menunggunya di pintu masuk kantin.


Angkasa kemudian menatap Raya, "Lo ikutin gue. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Lo harus satu meter dibelakang gue, gue nggak mau kita kelihatan kaya orang yang udah kenal," ucap Angkasa membuat Raya mengangguk pasrah. Daripada dikejar hantu lebih baik mengikuti perintah Angkasa sajalah.


"Oke, tapi lo tetepa jangan jauh-jauh dari gue," ucap Raya.


Angkasa hanya diam, dia kemudian mulai berjalan diikuti Raya mencoba menghitung sudah berapa panjang jaraknya dengan Angkasa.


"Ini udah satu meter belum sih?"


--💗--


"Kayanya kita punya saingan baru, guys," ucap gadis dengan polesan bedak tebal diwajahnya. Ia kemudian mengambil satu botol berwarna merah dan ia membukanya, tak lupa mengusapkan cairan itu kebibirnya.


Ia menatap ke arah cermin, menjentikkan jarinya yang dipenuhi cat kuku aneka ragam. Serta mengibaskan rambutnya yang berbagai warna.


"Si, lo liat cewek itu beneran sama Ryan? Ntar lo salah informasi lagi," ucap cewek itu menatap temannya--Sisi--yang sedang membenarkan letak bulu mata palsunya.


"Gue lihat sendiri, mereka dihukum sama Bu Nunung gara-gara masuk dari gerbang belakang, Vel," ucap Sisi berkacak pinggang.


"Kayanya bener deh kata Sisi, gue soalnya tadi lihat juga sih kalau si Ryan bawa cewek dari gerbang belakang," sahut cewek lainnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Vella--gadis itu membenarkan bajunya yang sebenarnya sudah sesak. Ia kemudian menatap kedua temannya.


"Jadi saatnya kita buktiin, nggak ada siapapun yang bisa deket sama most wanted di Mandalika," ucap Vella dengan bibir ia sunggingkan membentuk seringai kecil.


--💗--

__ADS_1


__ADS_2