
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 232
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Hari demi hari berlalu, acara pertunangan antara Revi dan Muzaki pun tiba.
Sepasang kekasih itu kini saling bertemu satu sama lain untuk mengikat diri mereka, Muzaki memasangkan cincin di jari manis Revi, begitupun sebaliknya.
Sambutan tepuk tangan bergemuruh di ruangan tersebut, memang tak cukup banyak orang yang hadir menyaksikan momen itu, hanya pihak keluarga serta saudara dari kedua pihak saja yang diundang.
"Rev, sekarang kamu udah aku ikat pakai cincin ini. Itu artinya kamu gak bisa lagi dekat sama laki-laki lain selain aku, ngerti kan!" ucap Muzaki posesif.
"Aku ngerti kok kak, aku kan paham maksud dari tunangan ini. Begitu juga kak Zaki, kamu gak boleh dekat sama cewek lain selain aku. Walaupun aku tahu kak Zaki gak pernah begitu, tapi jaga-jaga aja barangkali nanti ada cewek kegatelan yang mau deketin kamu." kata Revi.
"Ahaha, itu gak akan mungkin terjadi sayang. Kamu kan tahu aku bukan laki-laki idaman wanita, mana mungkin ada cewek yang mau deketin aku?" ucap Muzaki tertawa.
"Ada kok. Buktinya aku mau sama kamu, itu artinya kamu idaman wanita." kata Revi.
"Iya sih, tapi gak banyak. Apalagi yang benar-benar tulus sama aku, ya cuma kamu. Makanya aku gak mau sia-siakan kesempatan ini, aku mau terus bersama sama kamu selamanya!" ucap Muzaki.
"Iya kak, begitupun aku." kata Revi.
Mereka bertatapan satu sama lain cukup lama, lalu perlahan saling mendekat dengan kedua tangan bercengkrama.
"I love you Revi..." Muzaki memeluk gadisnya dengan erat di hadapan kedua orangtuanya.
"Love you too, kak." balas Revi yang juga memeluk tubuh lelakinya.
Lagi dan lagi orang-orang disana kembali bertepuk tangan melihat adegan mesra di hadapan mereka, tak ada satupun yang ingin melewatkan momen itu karena Revi dan Muzaki memang terlihat sangat romantis malam ini.
"Pah, senang banget ya rasanya lihat Revi bahagia sama pilihannya! Mama salah banget dulu udah larang hubungan mereka, harusnya mama gak kayak gitu!" ucap Juliana menyesal.
"Udah mah, yang dulu dulu mah gausah dibahas lagi! Sekarang kita sama-sama dukung hubungan Revi dan Muzaki, supaya mereka bisa terus bersama sampai maut memisahkan!" ucap Marcel.
"Aamiin pah! Mama juga berharap bisa melihat mereka berdua bersanding di pelaminan nanti, itu pasti akan sangat membahagiakan!" ucap Juliana.
"Hahaha itu dia..."
β’
β’
Zian mengajak Latifah ke sebuah rooftop cafe, pria itu terus menggandeng tangan Latifah dan membantunya duduk di kursi yang sudah ia booking sebelumnya.
Suasana disana sangat indah, pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang-bintang dan cahaya bulan menambah meriah suasana disana.
Lilin-lilin kecil yang menyala di sekitarnya juga membuat Latifah sangat bahagia, ia tak menyangka akan menjalin hubungan dengan Zian dan pergi untuk makan malam bersamanya.
"Fah, kamu suka gak sama suasana disini?" tanya Zian menatap wajah Latifah.
"Suka kok, gue suka banget. Lu emang pandai pilih tempat!" jawab Latifah tersenyum tipis.
"Bagus deh! Kalo gitu aku boleh minta sesuatu gak sama kamu, Fah?" ucap Zian.
"Apa itu?" tanya Latifah penasaran.
"Boleh gak mulai malam ini dan seterusnya, kita bicaranya pakai aku-kamu? Supaya lebih akrab aja, soalnya agak gimana gitu kalau kamu masih ngomong pake kata lu-gue. Tapi, kalau kamu gak terbiasa ya gapapa." jelas Zian.
"Oh soal itu, iya sih kak gue emang belum terbiasa bicara pake aku-kamu kayak gitu. Mungkin gue bakal usahain mulai malam ini buat pake kata itu tiap kali ngobrol sama lu, tapi maaf aja ya kalo misal gue lupa atau kelepasan!" ucap Latifah.
"Gapapa, makasih ya karena kamu udah mau coba ngomong pake aku-kamu. Jujur aja, aku lebih suka wanita yang halus bukan kasar." kata Zian.
"Oh tenang aja! Gue, eh maksudnya aku. Aku gak kasar kok, biarpun aku ini orangnya kelihatan kayak berandalan atau apalah itu, tapi aku ini ramah kok dan selalu lembut sama orang." kata Latifah.
"Bagus deh!" ucap Zian singkat.
"Permisi mas, mbak!" tiba-tiba pelayan muncul membawa daftar menu di tangannya.
"Ah iya, ada apa?" tanya Zian.
"Mas sama mbaknya udah mau pesan sekarang apa belum?" ucap pelayan itu.
"Oh boleh boleh. Kamu mau pesan apa Latifah?" ucap Zian mengambil daftar menu tersebut.
"Umm... aku mau baked salmon sama es jeruk aja." jawab Latifah.
"Nah, kalo gitu baked salmon sama es jeruk nya dua ya mbak." ucap Zian sembari menyodorkan kembali daftar menu itu ke sang pelayan.
"Baik mas, mbak. Ditunggu ya!" ucap pelayan itu.
"Iya," ucap Zian singkat.
__ADS_1
Pelayan itu pun pergi, Latifah langsung menatap wajah Zian dengan penuh keheranan.
"Kok pesanannya disamain sih, kak?" tanya Latifah.
"Iya dong, aku soalnya lagi pengen sesuaikan diri sama yang kamu sukai." jawab Zian.
Latifah pun tersipu malu dibuatnya, gadis itu tiba-tiba berubah menjadi gugup setelah mendengar perkataan Zian barusan.
β’
β’
Beberapa bulan kemudian...
"Oeee... oeee... oee..."
Suara tangisan bayi terdengar di telinga Oni, ia menghela nafas lega karena telah berhasil melahirkan seorang anak yang sangat ia sayangi dan cintai itu.
Walaupun ia harus berjuang sangat keras demi bisa melahirkan bayinya, namun Oni merasa senang dan gembira karena perjuangannya tidak sia-sia, hingga kini ia bisa melihat bayinya itu lahir ke dunia.
"Selamat ya Bu! Anak ibu perempuan, sama cantiknya kayak ibu." ucap dokter itu.
Oni tersenyum bahagia, "Dok, boleh saya lihat wajah bayi saya?" pintanya pada sang dokter.
"Oh, boleh kok Bu. Silahkan!" ucap dokter itu memperlihatkan bayi itu kepada Oni.
Seketika rasa lelah dan sakit yang ia rasakan mendadak hilang begitu melihat wajah cantik putrinya.
"Kamu cantik sekali nak!" ucapnya.
"Bu, sebentar ya biar anak ibu kami urus dulu! Baru nanti ibu dan keluarga bisa gendong bayi ibu sepuasnya," ucap dokter itu.
"Ah iya dok, tadi saya cuma mau lihat wajahnya aja." kata Oni.
"Gapapa kok Bu," dokter itu tersenyum kemudian meminta suster untuk mengurus bayi tersebut.
Setelahnya, Radian masuk ke dalam ruangan itu dan tampak cemas menghampiri istrinya. Ia membungkuk memegang tangan Oni sembari mengusap wajah wanita itu.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan? Semuanya lancar kan?" tanya Radian cemas.
"Mas, kamu gak perlu khawatir! Aku baik-baik aja kok, anak kita juga udah lahir. Dia perempuan loh mas, kamu pasti suka lihatnya! Soalnya dia cantik, ya mirip lah sama ibunya ini." kata Oni menjelaskan mengenai putrinya.
"Hahaha... lagi capek gini aja kamu masih bisa muji diri sendiri ya sayang? Tapi gapapa, aku suka banget malah kalau anak kita cantik kayak kamu! Aku jadi gak sabar pengen lihat dan gendong anak kita!" ucap Radian.
"Sabar mas! Mending kamu cari nama dulu buat dia, kita kan belum pikirin nama tau!" ucap Oni.
"Soal itu mah gampang, tadi aku udah rundingin kok sama papa mama. Mereka semua sepakat buat kasih nama ini ke anak kita," ucap Radian.
"Oh ya? Apa namanya?" tanya Oni.
"Iya deh gapapa, suka-suka kamu aja. Aku mah setuju karena pasti kamu sama papa mama bakal kasih nama yang bagus dan terbaik buat anak kita!" ucap Oni tersenyum.
"Hehe..." Radian nyengir saja lalu mengecup kening dan wajah Oni berkali-kali.
β’
β’
Revi, Latifah dan Laras masih berada di kampus. Mereka bertiga mempunyai niat untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Oni yang sedang lahiran.
"Eh eh guys, gimana kalau sekarang kita ke rumah sakit jenguk kak Oni? Dia kan lahiran hari ini tuh, pasti sekarang bayinya udah lahir. Gue pengen banget lihat anaknya kak Oni, pasti lucu banget kayak gue!" ucap Latifah memberi usul.
"Yeh sok kecakepan lu!" cibir Laras.
"Hahaha... biarin lah! Gue kan emang cakep Ras, seorang Latifah itu cantik dan manis. Jadi, diharap untuk tidak iri ya!" ujar Latifah.
"Huh serah lu aja deh ah!" ujar Laras.
"Udah udah, jangan pada ribut! Aku setuju sama usul kamu, Fah! Kita jenguk kak Oni di rumah sakit. Kalian udah pada gak ada kelas kan hari ini?" ucap Revi menengahi.
"Tenang aja! Semua kelas kita udah pada beres kok!" jawab Latifah.
"Iya Rev, kita udah free sekarang." sahut Laras.
"Bagus deh! Kalo gitu kita bisa pergi ke rumah sakit buat jenguk kak Oni," ucap Revi tersenyum.
"Nah, yaudah kita langsung aja kesana lah gas!" ucap Latifah sangat bersemangat.
"Eh tunggu dulu! Kita gak bisa datang gitu aja kesana! Masa iya kita gak bawain apa-apa buat kak Oni atau bayinya? Gak enak dong!" ujar Revi.
"Iya juga ya, tapi kita mau kasih apaan lagi Rev? Waktu tujuh bulanan kemarin kan kita udah kasih hadiah perlengkapan bayi ke kak Oni, terus sekarang kita mau beliin apa lagi?" ucap Latifah.
"Itu juga yang aku gak tahu, apa kita bawain buah-buahan aja ya buat kak Oni?" ucap Revi.
"Umm... gimana kalo kita kasih parcel yang isinya macam-macam aja? Jadi, ada kue, minuman dan segala macam gitu." usul Laras.
"Boleh juga tuh, menurut kamu gimana Fah?" ucap Revi bertanya pada Latifah.
"Ya gue sih ngikut aja. Kan gue nyumbang paling sedikit, jadi apapun yang kalian mau beli ya gue mah iya iya aja." ujar Latifah sambil nyengir.
"Yeh dasar lu!" cibir Laras.
"Udah gapapa, kalo gitu yuk kita beli parcel nya buat kak Oni di supermarket!" ucap Revi.
"Gas!" ucap Latifah dan Laras bersamaan.
Ketiganya pun bergegas pergi menuju supermarket untuk membeli parcel yang ingin mereka beli.
__ADS_1
β’
β’
"Pak, Bu, ini dia putri bapak sama ibu.." ucap dokter yang muncul menyerahkan bayi itu kepada Radian selaku ayahnya.
"Wah kamu cantik banget sayang! Makasih ya dok!" ucap Radian langsung terpukau dengan kecantikan putrinya itu.
"Sama-sama pak, kami permisi dulu ya?" ucap dokter itu.
"Iya dok, sekali lagi terimakasih!" ucap Radian.
"Makasih ya dok!" ucap Oni tersenyum.
Dokter itu tersenyum singkat, kemudian pergi bersama para suster.
Rihana, Baim, serta Brandon turut hadir disana menemui putra-putri mereka yang tengah berbahagia itu.
Ketiganya sangat bahagia melihat cucu mereka yang sangat cantik jelita bak seorang putri.
"Waduh, cucu opa cantik banget sih ini! Ututu..." ucap Brandon seraya mengelus wajah cucunya.
"Iya ih, mama sampai terpesona lihatnya! Benar-benar cantik sekali cucu Oma ini!" ucap Rihana.
"Pastinya dong mah, pah. Kan itu anak aku, jadi dia cantiknya nurun dari aku." kata Oni tersenyum.
"Berarti ngikut dari mama juga dong, kan kamu anak mama." ujar Rihana.
"Hahaha..." semuanya kompak tertawa disana.
"Yasudah Radian, kamu sudah beri nama anak kamu ini belum?" tanya Baim.
"Oh iya, aku lupa pah." kata Radian.
"Aduh gimana sih! Harusnya kamu segera beritahu dong namanya!" ucap Brandon.
"Iya mas, aku juga penasaran nama apa yang kamu punya buat putri kita. Kamu kasih tahu dong!" ucap Oni.
"Iya iya..." Radian tersenyum manis.
"Aku bakal kasih nama putri kita yang cantik ini Asia Tiara Ulya Salsabila." sambungnya.
Oni sedikit terkejut mendengarnya, ia kagum dengan penamaan yang diberikan sang suami kepada putrinya.
"Namanya indah. Tapi, itu artinya apa mas?" tanya Oni penasaran.
"Artinya harapan yang bersinar bagai mata air utama dari surga." jawab Radian.
"Waw namanya bagus, artinya juga tambah bagus! Kamu pintar banget sih mas!" ucap Oni.
"Bukan cuma aku yang cari namanya, kan dibantu juga sama papa mama." kata Radian.
"Ah iya,"
β’
β’
Revi, Latifah serta Laras tiba di rumah sakit. Mereka bertiga langsung diarahkan menuju ruangan tempat Oni berada.
"Kak Oni!" ketiganya kompak menyebut nama Oni begitu masuk ke ruangan itu.
Sontak Radian dan juga orangtuanya disana menoleh secara bersamaan ke arah ketiga gadis yang baru datang itu.
"Sssttt jangan berisik!" pinta Radian.
"Kenapa?" tanya Latifah bingung.
"Dedek bayinya lagi tidur, kalian pelanin suara kalian ya!" jawab Brandon dengan suara pelan.
"Oh gitu, maaf ya kak kita gak tahu!" ucap Revi.
"Gapapa. Makasih ya kalian udah mau datang kesini!" ucap Radian tersenyum.
"Makasih ya Rev, Fah, Ras!" ucap Oni.
"Sama-sama kak, selamat ya atas kelahiran anak kalian berdua! Oh ya kak, anaknya cewek apa cowok?" ucap Revi.
"Anak kami perempuan." jawab Radian.
"Wah pantas kelihatan dari sini aura kecantikannya walau agak ketutup sedikit," ucap Latifah.
"Iya, pasti cantiknya mirip kak Oni deh." sahut Laras.
"Iya dong!" ucap Oni percaya diri.
"Kak, nama bayinya siapa kalau boleh tau?" tanya Revi penasaran.
"Dia Asia Tiara. Bebas kalian pada mau panggil dia apa, masih ada juga dua kata di belakangnya, Ulya sama Salsabila. Jadi, pilihan kalian banyak tuh buat panggil dia." jawab Oni.
"Ahaha, namanya cantik kayak orangnya ya kak." ujar Revi tertawa manis.
Suasana di ruangan itu penuh dengan kebahagiaan dan canda tawa, tidak hanya bagi Radian dan Oni melainkan juga para orang disana.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1