
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...
...×××...
#ANGKASA EPS. 182
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Radian sampai di depan rumah Laras, ia memang mengantar gadis itu pulang ke rumah sesuai aplikasi yang sudah tersedia.
Laras pun turun dari motor, melepas helm dan memberikannya pada Radian. Tak lupa ia juga membayar ongkos ojek pada pria tersebut, karena biar bagaimanapun ia tetap harus membayarnya.
"Ini kak uangnya, makasih ya udah anterin aku!" ucap Laras menyodorkan uang.
"Sama-sama Laras cantik!" ucap Radian.
"Ahaha kak Radian bisa aja!" ujar Laras.
Sementara itu, Zian yang kebetulan masih menunggu Laras di depan pintu, melihat kemunculan gadis itu bersama Radian alias temannya. Tentu Zian sangat mengenali rupa pria itu, karena mereka memang sudah mengenal cukup lama satu sama lain.
Zian beranjak dari kursinya, lalu menghampiri Radian serta Laras yang berada di depannya. Ia sedikit berlari agar bisa mencegah Radian untuk tidak pergi lebih dulu dari sana.
"An, tunggu jangan cabut dulu!" teriak Zian.
Sontak Radian dan juga Laras menoleh ke arah yang sama, mereka menatap wajah Zian dengan ekspresi terheran-heran karena pria itu tampak ngos-ngosan.
"Zian? Lu ngapain disini bro?" tanya Radian.
"Hahaha, lu kayak gak tahu gue aja! Biasalah gue kan mau ngapelin cewek gue, ini nih si Laras!" jawab Zian sambil tersenyum.
"Ohh pantesan aja lu sore-sore ada disini, yaudah bro selamat berduaan dah ya! Gue mau lanjut ngojek dulu, mumpung lagi jam-jam orang pulang kerja nih rame yang pesen ojek!" ucap Radian.
"Oke deh bro! Tadinya sih gue mau ajak lu ngobrol sekalian disini, kita kan udah lama gak kumpul dan ngobrol bareng!" ujar Zian.
"Iya sih bro, sorry banget ya gue gak bisa kumpul bareng kalian kayak dulu! Kan lu tahu sendiri sekarang gue udah ada tanggungan, istri sama calon anak gue!" ucap Radian.
"Iya An, gue paham kok!" ucap Zian.
"Eee emang kak Oni udah hamil ya, kak?" tanya Laras.
"Iya Ras, syukurlah begitu!" jawab Radian.
"Ohh Alhamdulillah deh! Selamat ya kak Radian, semoga kondisi kandungan kak Oni sehat-sehat terus sampai waktunya melahirkan nanti!" ucap Laras.
"Aamiin makasih doanya Ras!" ucap Radian.
Zian tersenyum memandangi wajah Laras, ia terkesima pada kebaikan dan kelembutan gadis cantik nan manis itu.
"Yaudah Ras, bro, gue pamit dulu ya? Permisi!" ucap Radian.
"Iya An, hati-hati lu! Semangat cari uangnya, titip salam buat Oni!" ucap Zian.
"Aku juga kak," sahut Laras.
"Siap!"
Radian tersenyum kepada mereka, lalu bergegas pergi dengan motornya meninggalkan rumah Laras tersebut.
Sementara Zian kembali mengalihkan pandangan pada Laras setelah Radian pergi, ia langsung meraih satu tangan gadis itu dan menggenggamnya erat sambil tersenyum.
"Ras, ke dalam yuk!" ucap Zian.
"Eee iya kak, maaf ya aku lama! Kak Zian jadi nunggu kelamaan deh!" ucap Laras.
"Gapapa, udah biasa kok!" ucap Zian tersenyum.
Gadis itu merunduk, lalu melangkah perlahan menuju teras rumahnya bersama Zian yang terus menggandeng tangannya dengan lembut.
__ADS_1
Saat sampai di depan rumah, Maryam sang ibu muncul dari dalam dan tersenyum senang melihat kehadiran putrinya disana, tentu saja Laras langsung mencium tangan ibunya sebagai tanda hormat.
"Mah, assalamualaikum aku pulang!" ucap Laras meraih satu tangan Maryam dan menciumnya.
"Iya sayang, waalaikumsallam!" ucap Maryam.
"Akhirnya kamu pulang juga, kasihan nih nak Zian nungguin lama tau disini! Kamu kemana aja sih sayang?" sambungnya.
"Eee iya mah, aku soalnya ada urusan penting tadi sama temenku. Makanya agak lama!" jawab Laras.
"Udah lah tante, gapapa kok. Yang penting kan sekarang Laras nya udah ada disini, jadi saya bisa ngobrol sama dia!" ucap Zian.
"Iya sih, yaudah kalian ngobrolnya di dalam aja sambil minum sama ngemil!" ucap Maryam.
"Iya tante, makasih!" ucap Zian tersenyum.
Setelahnya, ketiganya pun masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Namun, Maryam pergi dengan alasan yang tak jelas meninggalkan putrinya berdua bersama Zian disana, tentu saja maksudnya adalah untuk membuat mereka makin akrab.
•
•
Radian yang sedang dalam perjalanan, tak sengaja bertemu dengan Digo di pinggir jalan. Tentu saja Radian menghentikan motornya dan langsung turun untuk menghampiri temannya tersebut.
Digo masih belum sadar kalau Radian datang disana, karena ia asyik melamun sambil memegang setangkai bunga mawar di tangannya, tampak sepertinya Digo sedang kasmaran karena ia terus melamun sambil senyum-senyum.
"Oi Go!" sapa Radian sambil menepuk pundak Digo dan duduk di sampingnya.
"Eh An? Lu ngagetin gue aja sih, sejak kapan lu ada disini?" ujar Digo.
"Hahaha makanya jangan ngelamun bro! Gue dateng sampe gak tahu, lu lagi ngapain emang duduk disini sendirian sambil pegang bunga? Buat siapa sih itu ha?" ujar Radian nyengir.
"Ohh ya udah jelas lah ini buat Latifah, kan lu tau sendiri gue suka sama dia! Niat gue tuh pengen tembak dia sekali lagi bro!" ucap Digo.
"Nah bagus tuh bro! Lu harus semangat terus bro gak boleh nyerah, kejar tuh si Ifah sampai dapat! Gue doain semoga kali ini usaha lu gak sia-sia, karena lu udah punya tekad yang baik! Gue yakin si Ifah pasti bisa luluh lama-kelamaan sama lu, semangat bro gue selalu doain lu kok!" ucap Radian.
"Thanks bro! Tapi, gue masih ragu buat temuin Ifah dan ungkapin semua ini ke dia!" ucap Digo.
"Loh kenapa? Kok ragu?" tanya Radian heran.
"Ya iyalah, kan gue udah pernah ditolak sama Ifah dan dia juga pernah bilang kalau dia gak suka sama gue! Gimana kalau nanti hasilnya tetap sama bro?" ucap Digo.
"Ya gimana ya bro? Gue ini orangnya sadar diri, walau gue masih tetap kekeuh pengen milikin Ifah karena gue beneran sayang sama dia!" ucap Digo.
"Yaudah, kalau emang lu sayang sama Ifah, harusnya lu terus semangat dong dan jangan nyerah gitu! Lu buktiin ke dia kalau lu beneran sayang sama dia, gue yakin dengan begitu pasti Latifah bakalan luluh sama lu bro!" ucap Radian.
"Iya sih bro, omongan lu ada benarnya! Gue harus bisa semangat dan buktiin ke Latifah betapa sayangnya gue sama dia! Makasih ya bro, lu emang selalu bisa bikin gue bangkit lagi!" ucap Digo.
"Sama-sama bro!" ucap Radian tersenyum.
"Oh ya, lu kok bisa ada di daerah sini sih bro? Abis anterin penumpang apa gimana?" tanya Digo.
"Iya bro, gue baru anterin si Laras ke rumahnya! Tadi gue juga ketemu Zian disana, harusnya lu contoh tuh si Zian! Dia aja berani deketin Laras, masa lu enggak? Zian itu awalnya kan juga ditolak sama Laras, tapi lu lihat sekarang buktinya dia udah bisa deketan dan ambil hatinya Laras! Gue yakin bro, lu pasti juga bisa kayak gitu!" ucap Radian.
Digo terdiam memikirkan perkataan Radian, menurutnya benar juga apa yang baru saja dikatakan oleh Radian padanya.
"Lu benar bro! Emang harusnya gue contoh semangatnya si Zian, tapi masalahnya dia lebih enak bro karena dia goodlooking! Makanya emaknya si Laras setuju sama hubungan mereka!" ujar Digo.
"Iya juga sih, emang kenapa lu gak coba deketin emaknya si Ifah juga?" tanya Radian.
"Gimana mau deketin bro? Gue ini beda jauh sama Zian, mana mungkin ibunya Ifah bisa setuju dan bantu gue deketin si Ifah?" ucap Digo.
"Hahaha tuh kan lu malah pesimis lagi, dimana jiwa buaya lu bro? Kita kan sama-sama masuk ke geng alligator di kampus, harusnya lu pede dong bro! Menurut gue, lu juga gak terlalu jelek kok! Malah lebih ganteng daripada si Zaki!" ucap Radian.
"Ngapain lu bandingin gue sama Muzaki?" ujar Digo.
"Ya emang lu gak tahu bro? Muzaki aja yang kayak gitu bisa dapetin spek kayak si Revi, terus tadi gue juga lihat dia lagi jalan berdua sama Laras mesra banget!" ucap Radian.
"Hah? Serius lu bro? Sama Laras? Wah parah sih, dia jangan-jangan mau nikung Zian!" ujar Digo.
"Itu dia bro!" ujar Radian.
...•••...
Disisi lain, Muzaki akhirnya sampai di rumah Revi setelah membenarkan motornya. Pria itu turun dan bergerak mendekati pagar rumah Revi, ia melihat ke dalam halaman yang terlihat sepi itu.
Muzaki pun mengambil ponselnya dan memberi pesan ke nomor Revi, ia mengatakan kalau dirinya sudah sampai di depan rumah gadis itu untuk menjemputnya sesuai perkataannya tadi.
^^^💌Muzaki : Hai Rev! Aku udah di depan rumah kamu nih, keluar dong!^^^
__ADS_1
Setelahnya, pak Fadlul muncul menghampiri Muzaki dan membuka pintu pagar untuk berbicara dengan pria tersebut.
"Misi mas, pasti masnya yang lagi ditunggu sama non Revi ya?" tanya pak Fadlul.
"Ah iya benar pak, saya mau ketemu Revi! Eee terus Revi nya dimana ya pak? Kok saya lihat-lihat di dalam sana kosong kayak gak ada orang?" ujar Muzaki kebingungan.
"Non Revi ada di dalam, mas. Tadi sih nunggu disini, tapi karena panas dan ada mas Arsyan yang datang jadinya non Revi milih nunggu di dalam deh biar gak keganggu!" jelas pak Fadlul.
"Hah? Arsyan datang lagi kesini temuin Revi, pak? Kok bisa sih? Kenapa dia gak bosan-bosannya ganggu Revi?" ujar Muzaki kaget.
"Saya juga kurang tahu, mas. Mungkin karena mas Arsyan itu masih cinta sama non Revi, ya yang namanya cinta kan bikin buta dan susah buat diatur mas!" ucap pak Fadlul.
"Iya deh pak, makasih infonya!" ucap Muzaki.
"Sama-sama mas, mau masuk ke dalam apa saya panggilin non Revi nih?" tanya pak Fadlul.
"Eee biar aja saya nunggu disini, pak. Tadi saya udah sms Revi, mungkin sebentar lagi dia bakal keluar!" ucap Muzaki.
"Oh yaudah mas, kalo gitu saya mohon izin balik ke pos ya?" ujar pak Fadlul.
"Iya pak, silahkan!" ucap Muzaki tersenyum.
Muzaki pun menunggu Revi di depan gerbang, ia masih memikirkan tentang Arsyan yang tak henti-hentinya mendekati Revi, padahal sudah berulang kali Revi meminta pada Arsyan untuk menjauh, namun pria itu justru semakin nekat dan terus saja mendatangi Revi.
"Aaarrgghh!! Saya gak bisa biarin Arsyan terus aja muncul di kehidupan Revi! Kalau misal Revi jadi tertarik lagi sama dia gimana? Bisa-bisa saya gagal memiliki Revi, karena dia!" gumam Muzaki dalam hati.
Pria itu tampak celingak-celinguk ke kanan dan kiri sembari mengusap ceruk lehernya, sampai ia tak sengaja melihat seorang pria yang tengah bersembunyi di balik pohon.
"Loh, itu siapa? Ngapain dia sembunyi disitu? Wah jangan-jangan punya niat jahat!" ujarnya.
•
•
Sementara itu, Revi hendak keluar menemui Muzaki setelah membaca pesan darinya kalau pria itu sudah sampai di depan rumahnya. Akan tetapi, ia justru bertemu dengan Juliana sang mama yang baru muncul dari kamar.
Juliana menatap curiga ke arah Revi, ia mendekati putrinya dan bertanya karena penasaran melihat Revi yang sudah rapih itu.
"Rev, kamu mau kemana? Kok rapih banget?" tanya Juliana sinis.
"Eee aku mau pergi, mah. Aku udah ada janji sama kak Zaki, ini dia juga udah sampe di depan tuh! Yaudah ya mah, aku keluar dulu? Assalamualaikum!" ucap Revi sembari mencium tangan mamanya.
"Waalaikumsallam, eh tunggu!" cegah Juliana.
"Kenapa mah?" tanya Revi heran.
"Mama ikut ke depan, mama pengen bicara sama Muzaki itu!" jawab Juliana.
"Bi-bicara apa ya, mah?" ujar Revi.
"Nanti juga kamu tau!" ucap Juliana ketus.
Juliana melangkah lebih dulu keluar rumahnya meninggalkan Revi, sedangkan gadis itu masih berdiri di tempatnya penasaran apa yang hendak dibicarakan oleh mamanya kepada Muzaki.
"Duh, mama mau ngomong apa ya kira-kira sama kak Zaki? Jangan sampe deh mama ngomong yang enggak-enggak ke kak Zaki!" batin Revi.
Akhirnya Revi berlari mengejar mamanya, ia harus menemani sang mama agar tidak bicara seenaknya pada Muzaki, ia khawatir kalau Muzaki akan kecewa dan nantinya merasa sedih.
Sesampainya di depan, terlihat Muzaki yang masih memandangi sesosok pria di sebrang sana.
Revi pun berteriak memanggil pria itu dan mencegahnya agar tidak pergi.
"Kak Zaki!" teriak Revi.
Sontak Muzaki menoleh dan tersenyum saat melihat Revi muncul, namun bukan hanya Muzaki tapi juga Juliana menoleh ke arahnya.
"Hey, kamu ngapain panggil dia?" tanya Juliana.
"Loh kenapa, mah? Kan mama katanya mau ngobrol sama kak Zaki, ya aku harus panggil kak Zaki dong sebelum dia pergi! Nanti kalau mama gak bisa bicara sama kak Zaki, aku lagi yang disalahin atau mama malah marah-marah sama kak Zaki!" jawab Revi.
"Hadeh iya iya, udah yuk kita buruan kesana!" ucap Juliana menggandeng putrinya.
"I-i-iya mah..."
Muzaki pun mengurungkan niatnya, namun ia masih sesekali menoleh ke arah seorang pria yang tengah bersembunyi di depan sana, ia penasaran siapa pria itu dan apa alasannya memantau dari jauh.
"Saya urusin itu nanti deh, sekarang yang penting saya harus bicara sama Revi!" batin Muzaki.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...