Angkasa

Angkasa
15. Curiga


__ADS_3

Raya menghela napasnya pelan, ia menaikkan selimutnya sebatas leher dan memeluk guling sambil berpikir.


Lagi-lagi Raya hanya menghela napas. Ia menatap langit-langit, mencari jawaban atas pertanyaan yang bercokol diotaknya.


"Ah, masa sih?" gumam Raya.


Ia mengubah posisinya menjadi miring menatap tembok. Ia kemudian mengambil ponselnya dan membuka aplikasi instagram.


"Stalker bentar nggak masalah kali ya?" gumam Raya pada dirinya sendiri sambil segera mengetikkan nama akun seseorang.


Kedua sudut bibirnya kemudian terangkat saat nama akun itu muncul diurutan paling atas. "Ternyata punya instagram juga tuh anak."


Raya kemudian menekan akun itu, cukup banyak ternyata foto-foto yang cowok itu posting.


"Isinya foto-foto kelas doang," gumam Raya sambil kembali menscrool kebawah dan jarinya berhenti menscrool saat ada foto seorang gadis.


Ia meneliti, ada seorang gadis dan foto cowok itu. Sangat dekat. Keduanya tersenyum walau Angkasa hanya tersenyum sedikit, namun sudah terlihat bahwa lelaki itu sedang senang saat foto bersama gadis itu.


Raya ternganga, ia kemudian membaca tulisan yang berada di bawah foto itu.


"Angkasa? Sama cewek?" ucap Raya tanpa sadar.


Angkanata_ Aku sungguh beruntung,


Bisa bertemu denganmu di dunia ini,


Dan mendapatkanmu,


Yeobo...


@sashikirana <3


Raya mengernyit bingung, keningnya berlipat-lipat. Berusaha berpikir keras.


Yeobo?


Bukankah kata yeobo adalah panggilan sayang dalam bahasa Korea?


Tunggu, Angkasa sudah memiliki pacar?


--💗--


Angkasa lagi-lagi memutar bola matanya jengah, memandang gadis berambut pendek yang masuk kamarnya sembarangan dengan tatapan kesal.


"Tidur sana, udah malem," usir Angkasa ketus sambil menarik selimutnya belagak ingin tidur. "Jangan lupa tutup pintunya."

__ADS_1


Raya ternganga, ia kemudian mendekat dan mengguncang tubuh Angkasa. "Ih! Gue pengen tau! Lo beneran udah punya pacar? Kok nggak pernah liat gue? Angkasa! Jawab!"


"Lo jadi orang ngedelin banget sih!" ucap Angkasa geram. "Emang kenapa kalo gue udah punya pacar?" sambungnya sambil bertanya menantang.


"Udah putus juga lagian," gumam Angkasa pelan tapi masih dapat didengar oleh Raya walau tidak terlalu jelas.


"Hah?! Lo udah putus sama tuh cewek yang ada di instagram? Kapan? Kok gue nggak tau sih?" tanya Raya dengan berbagai pertanyaan yang membuat Angkasa pusing.


Iya, Raya tadi langsung menemui Angkasa selepas stalking instagramnya. Untung saja Angkasa sudah kembali ke kamar dari ruang musiknya. Jika tidak Raya pasti akan tau ruangan tersembunyi itu.


"Urusan lo apa sih! Nggak penting juga," sentak Angkasa dengan nada tinggi.


Raya mengerjap, langsung terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Angkasa kok jadi galak banget sih?


"Ini hidup gue, Ray! Nggak semua orang tau posisi gue, mereka cuma nilai luarnya doang. Nggak tau gimana gue sebenernya. Lo nggak usah deh nambah masalah gue," racau Angkasa membuat Raya mengerjap.


Memangnya Angkasa sedang berada di posisi mana?


Raya lihat sejauh ini Angkasa baik-baik saja.


Tapi ada benarnya juga, dia pasti juga tertekan dengan masalah keluarganya.


"Soal foto itu cuma kisah biasa, nggak penting," lanjut Angkasa dengan nada sedikit rendah.


Angkasa menghela napasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ray, lusa lo mau jalan sama gue?" tanya Angkasa. Kali ini ada binar berharap dari matanya.


"Udah sekarang lo tidur," suruh Angkasa.


Raya kemudian berbalik, tapi sebelum menutup pintu terdengar Raya berbicara dengan nada serak.


"Maaf ganggu waktu tidur lo, gue cuma sedikit ada rasa nggak terima aja gitu waktu gue tau lo punya pacar. Maaf sekali lagi. Malam, Angka."


Dan Angkasa merasa ada darah berdesir di tubuhnya. Rasa hangat itu muncul, menyelimutinya.


--💗--


Langit tersenyum ke arah Sashi, ia mengusap puncak kepala cewek itu dan mengecupnya pelan. Sashi juga membalasnya dengan mengecup pipi Langit.


Kadang Langit tertawa saat Sashi memekik keras saat adegan difilm sedang menegangkan dan berujung kejutan yang menarik. Apalagi film yang diputar kali ini adalah film horror membuat Sashi merasa jantungnya meloncat berkali-kali dari tempatnya.


"Sebegitu takutnya, hm?" tanya Langit menyentil.pelan kening Sashi.


Sashi mencebik kecil, ia lalu menatap Langit dengan tatapan kesal. "Ya kamu pikir sendiri lah, aku kan takut film-film gini."


"Ya udah sini, biar aku peluk. Biar nggak takut lagi," ucap Langit sambil memeluk Sashi erat membuat Sashi tak bisa melepas pelukan Langit dan akhirnya hanya menurut saja.

__ADS_1


"Mau cium sekalian nggak?" tanya Langit menggoda dengan senyum jahil sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sashi.


Sashi dengan cepat mendorong wajah Langit dan menatap Langit tajam. "Aku nggak mau ciuman pertamaku di luar ikatan pernikahan. Kita kan udah pernah bicarain ini."


Langit tersenyum, mengusap gemas rambut Sashi dan mencium pipi Sashi hangat.


"Sekarang pipi dulu, nnti kalo udah resmi kesini deh," ucap Langit sambil menunjuk bibir merah Sashi membuat pipi Sashi seketika memerah karena malu.


"Aduh, udah bulshing aja," goda Langit.


Sashi kemudian menonyor kepala cowok itu membuat Langit tergelak.


"Ambilin selimut dong, di dekat laci kecil itu," tunjuk Sashi sambil menengok ke arah laci kecil di pojok ruangan, Langit ikut menengok.


Langit tersenyum dan segera berjalan mendekati laci itu mencari dimana selimut yang dimaksud Sashi.


Cowok itu dengan tenang membuka laci dan tumpukan kertas warna-warni dan beberapa amplop berwarna pelangi keluar dari laci itu membuat Langit mengernyit.


Sashi yang mendengar bunyi pintu laci dibuka langsung bangkit dan melebarkan matanya sambil berlari ke arah Langit yang sudah hampir membuka amplop warna biru, amplop terpenting menurut Sashi.


"Jangan dibuka," cegah Sashi sambil merebut kertas itu dari tangan Langit dan mencoba bersikap tenang.


Langit menatap Sashi heran dan kembali menunduk melihat masih banyak kertas yang kebanyakan tulis tangan.


"Ini kertas apa?" tanya Langit mengacungkan satu kertas warna pink.


Sashi menunduk, mencari-cari alasan menyakinkan. Film horror pun rasanya kalah dengan ketegangan yang Sashi rasakan sekarang.


"Jawab, Sashi," ucap Langit menunggu jawaban dari bibir tipis Sashi.


Sashi kemudian meneguk salivanya dan membasahi bibir bawahnya. "Itu... tugas mata kuliah aku," ucao Sashi berbohong.


Kalau pendengaran Langit sangat tajam, pasti cowok mampu mendengar getaran dalam nada bicara Sashi. Tapi sayangnya, cewek itu sangat pandai menyembunyikannya membuat Langit tak curiga apapun.


"Kenapa nggak dibuang aja? Udah nggak kepake kan?" tanya Langit lagi membuat Sashi lagi-lagi harus merasa kadar oksigen menghilang dari jangkauan Sashi.


Sashi menenangkan napasnya dan mencoba tersenyum. "Mau aku buat jadi... hiasan gitu sih, lumayan kan buat dipajang," ucap Sashi lagi-lagi berbohong.


Langit mengangguk-angguk membenarkan Sashi sampai ia melirik sebuah tulisan tangan dengan bait-bait puisi didalamnya yang sangat ia kenal.


"Lho, ini bukannya...." Langit menggantungkan ucapannya meneliti lebih detail benarkan orang ini yang menulisnya?


Langit mengerjap, matanya kemudian memandang Sashi.


"Bisa kamu jelasin siapa dia?" tanya Langit dengan suara yang berubah menjadi dingin.

__ADS_1


--💗--


__ADS_2