
Ryan : hoi Angkasa
Ryan : lo dimana?
Ryan : marahan?
Ryan : oi nyet Raya nyariin *****
Angkasa hanya diam, membaca pesan Ryan yang muncul di notifikasi lockscreennya. Ia menghela napas kasar, sedang tidak mood untuk membalas pesan Ryan. Tanya sih tanya, tapi ya nggak ngatain juga kali.
Ryan : oi ntar ada latihan buat pensi
Ryan : jangan ngilang woy
Ryan : lo kan peran utamanya
Angkasa : bodo
Angkasa mendengkus kesal, ia menaruh hapenya ke sofa rusak di sebelahnya. Dia sedang berada di rumah kosong yang jsdi markasnya dengan teman-temannya.
Ia menghela napas. Meruntuki diri sendiri kenapa dia bersikap seperti itu pada ibunya? Seolah-olah disini ibunya adalah orang jahat, padahal dia baru menyadari bahwa ayahnya juga tidak lebih baik dari ibunya.
"Gue udah duga lo disini," ucap Ryan yang tiba-tiba saja datang dan mendekati Angkasa membuat Angkasa mendengkus sebal.
"He ma pren, ngapain? Ada masalah lo?" tanya Ryan duduk di sebelah Angkasa membuat Angkasa mendelik kesal.
"Apaan sih lo, sana pergi. Hush," usirnya membuat Ryan mengerucutkan bibirnya tapi kemudian ia tersenyum.
"Lo berati nggak jadi ikut pensi dong? Gue jadi bisa gantiin elo tampil sama Ray—"
"Nggak gue tetep ikut," potong Angkasa tajam membuat Ryan langsung kicep.
"Btw, masalah lo sama nyokap udah selesai?" tanya Ryan membuat Angkasa menghela napas lelah.
"Makin rumit, Yan," jawab Angkasa.
__ADS_1
Ryan mengernyit tak mengerti, bukankah disini yang jahat ibunya Angkasa?
"Gue salah paham. Ibu gue nggak jahat," lanjut Angkasa melihat wajah bingung Ryan.
Ryan ternganga. "Lah? Berarti ...."
"Sumpah dah, gue ngerasa bersalah banget," gumam Angkasa mengusap wajahnya dengan telapak tangan frustasi.
Ryan mengusap punggung Angkasa, menenangkan cowok itu. "Udahlah lo tinggal minta maaf kedia. Jelasin kenapa lo bisa salah paham," jawab Ryan memberi solusi terbaik.
Angkasa mengangkat wajahnya, menatap datar Ryan dengan air muka menyiratkan : **** banget sih lo. Ryan mengernyit namun beberapa detik kemudian dia tersadar dan melengos.
"Yah, susah kalo gini. Lagian gengsi lo tinggi banget. Nyokap lo sendiri padahal," gumam Ryan dengan dramatis membuat Angkasa jadi mengeplak kepalanya. Ini situasi serius! Bisa-bisanya Ryan sok drama gitu.
"Gue boleh nginep rumah lo nggak, Yan?" tanya Angkasa membuat Ryan jadi mengangkat alisnya.
"Lo marahan sekarang sama bokap lo?"
Angkasa mengangguk.
"Ck, dulu kakak lo, trus nyokap, habis itu sekarang bokap. Besok si Senja mau lo musuhin juga ha?" ucap Ryan lelah. Ryan memang tau semua tentang keluarga Angkasa. Mulai dari konflik antara Angkasa, Sashi dan Langit hingga Angkasa yang mulai membenci Elina. Dan sekarang dia mulai membenci ayahnya sendiri.
"Iya iya. Kalo rumah sih nggak bisa. Tapi kafe punya gue bisa," ucap Ryan memandang Angkasa senjenak. "Gimana?"
"Kafe? Oh, yang itu. Masih ada? Masa gue tidur di gubuk reyot gitu?" tanya Angkasa masih menimang-nimang keputusan. Pasalnya dia tahu seperti apa kafe yang dimaksud Ryan, itu bangunan sudah 4 tahun yang lalu. Ryan dan Angkasa yang membangunnya, berusaha mencari uang lewat situ. Angkasa tidak tahu kalo 'kafe' itu masih ada.
"Ciah! Lo mah nggak pernah main kesana lagi! Tuh gubuk udah gue sulap jadi kafe beneran njay," ucap Ryan membanggakan dirinya sendiri.
Angkasa terperangah tak percaya. Ia kemudian mendesis. "Jangan bohong lo," decaknya membuat Ryan menggeleng pelan.
"Kapan sih Ryan yang baik hati dan tidak sombong ini pernah berbohong? Nggak pernahhh," ucap Ryan membanggakan dirinya lagi.
"Ntar pulang sekolah anter gue kesana. Sekalian gue mau pinjem baju lo," pinta Angkasa membuat Ryan tersenyum lebar dan mengacungkan ibu jarinya.
💗💗💗
__ADS_1
"Pokoknya lo bakal nggak percaya, Sa!"
Ryan sudah mengulang itu puluhan kali setelah mereka melakukan perjalanan ke 'kafe' yang dimaksud Ryan. Raya tadinya ingin ikut, tapi Angkasa bilang dia akan pergi mungkin hanya beberapa hari, untuk menenangkan diri. Untunglah Raya mengerti.
"Tombol off suara lo mana sih Yan?" tanya Angkasa mulai jengah. Ryan terbahak. Dia kemudian membelokkan mobil memasuki deretan pertokoan dan kafe-kafe terkenal membuat Angkasa mengerjap menatap Ryan.
"Lo nggak salah jalan kan?"
"Nggak lah. Tuh kafe gue didepan sono," tunjuk Ryan mengarah ke salah satu kafe bergaya lama dengan warna emas menyala di beberapa bagian. Angkasa sedikit tak percaya. Cowok ini? Si tengil sahabatnya sejak lama ini? Bisa mendirikan kafe semegah itu? Benar-benar sulit dipercaya.
"Nggak heran sih, gue kan pekerja keras," ucap Ryan santai kembali membanggakan dirinya sendiri.
Angkasa hanya mencibir saja. Ia kemudian segera turun dari mobil dan mengikuti Ryan masuk ke dalam kafe.
Ryan tidak berbohong. Kafe ini memang miliknya. Dia seperti boss yang di segani oleh bawahannya. Para penjaga kafe menyapanya dengan sapaan 'Tuan Bos'. Aneh sekali. Pasti Ryan yang menamai begitu.
"Lo bisa tidur di ruangan gue. Itu khusus," ucap Ryan memberi tahu.
Angkasa hanya mengangguk-angguk saja. Tidak begitu peduli. Mereka kemudian berbelok dari koridor dapur, debuah pintu dengan tulisan 'Cuma Bos yang boleh masuk' membuat Angkasa langsung mengetahui itu ruangan yang dimaksud Ryan.
"Lo—ANJAY ...." Ucapan Angkasa langsung terpotong dengan melihat ruangan Ryan yang—aneh?
Begitulah. Kafe di luar terlihat classy, rapi dan sangat enak dipandang. Tapi kamar ini ... berantakan. Ada kasur dengan sprai terlepas dari tempatnya. Dan masih banyak barang-barang berantakan membuat Angkasa langsung mual melihat ini.
"Lo bisa tidur sini. Dan tolong beresin juga ya hehe," ucap Ryan nyengir membuat Angkasa mendesis kesal tapi langsung melenggang masuk.
"Lo bisa ambil baju di lemari itu," tunjuk Ryan.
Angkasa hanya mengangguk. Setelah Ryan menjelaskan semuanya—yang sebagian besar tidak penting sama sekali—akhirnya Ryan pamit pulang dan meninggalkan Angkasa dengan kunci kafe duplikat milik Ryan.
Angkasa menghela napas. Ia mengusap perutnya, lapar.
Hm. Tapi ini lebih baik dari pada harus tinggal di jalanan, seperti nasib orang di film-film FTV itu.
Ia kemudian duduk di kasur dan merebahkan diri disana.
__ADS_1
Untuk saat ini, nasib Angkasa sama sekali tidak buruk. Dia masih punya Ryan yang peduli padanya.
💗💗💗