Angkasa

Angkasa
Kesalahpahaman


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 216


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


"Kak Zian, apa-apaan sih ngapain tarik tarik aku kayak gini! Aku bisa jalan sendiri, gak perlu ditarik begini sakit tau!" rengek Laras terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Zian tapi gagal.


Zian dengan amarahnya tak mau mendengarkan perkataan dari Laras, ia memaksa gadis itu ikut bersamanya. Zian menarik paksa lengan Laras membawa gadis itu ke suatu tempat di kampus tersebut, ia tak perduli seberapa kerasnya Laras berontak dan meminta dilepaskan, karena ia sudah terlanjur emosi pada Laras.


Akhirnya Zian menghentikan langkahnya dan melepas genggaman tangan Laras ketika mereka tiba di taman kampus, sontak Laras langsung menarik tangannya menjauh dari Zian dan menatap bengis ke arah pria itu sembari memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman erat Zian tadi.


"Kamu tuh udah bener-bener gila ya! Aku kan udah minta kamu buat lepasin tangan aku, tapi kamu malah tarik terus. Kamu mau bikin tangan aku putus apa gimana sih? Nih sekarang kamu lihat, tangan aku jadi merah begini!" ucap Laras.


"Itu salah kamu sendiri, suruh siapa kamu malah genit gitu sama pak Zaenal?" ujar Zian.


"Hah? Aku genit ke pak Zaenal atau ke siapapun itu kan bukan urusan kamu, suka-suka aku dong! Ingat ya kak, kamu itu bukan pacar aku dan kamu gak berhak buat larang-larang aku kayak gini! Sekarang kamu lupain aja aku, karena aku serius pengen kejar cintanya pak Zaenal!" tegas Laras.


"Kamu kenapa sih Ras? Selalu aja gak bisa terima cinta aku, daripada kamu repot-repot kejar pak Zaenal, mending kamu sama aku yang udah pasti aja!" ujar Zian.


"Gak mau! Sampai kapanpun aku gak bisa terima kamu, kak Zian. Karena aku emang gak cinta sama kamu, harusnya kamu paham dong!" ucap Laras.


Zian terdiam memalingkan wajahnya, ia pun bingung harus berbicara apa lagi untuk bisa meyakinkan Laras agar mau menerimanya.


"Dengar ya kak, cinta itu gak bisa dipaksa. Kamu kan udah berjuang cukup lama, dan itu gak berhasil bikin aku cinta sama kamu. Jadi seharusnya kamu ngerti, dan tinggalin aku sekarang!" ucap Laras cukup tegas meminta Zian menjauhinya.


"Hahaha, itu gak akan mungkin terjadi. Aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku gak akan pernah tinggalin kamu! Terserah kamu mau tetap kejar pak Zaenal atau apa, tapi aku bakal tetap berusaha dapatin cinta kamu! Lagipun, belum tentu juga cinta kamu terbalaskan sama pak Zaenal," ucap Zian tersenyum smirk.


"Kata siapa? Emang kamu gak lihat tadi kalau pak Zaenal udah mulai perhatian sama aku? Tinggal tunggu waktu aja, buat aku dan pak Zaenal bisa jadian!" ucap Laras.


"Ya semangat berjuangnya sayang! Tapi, ingat kalau kamu gagal pasti ada aku yang selalu siap buat terima kamu!" ucap Zian.


"Cih! Aku bakal buktiin ke kamu, aku gak akan gagal kali ini! Pak Zaenal bakal jadi milik aku dalam waktu secepatnya, jadi kamu mending nyerah aja dan jangan berharap bisa dapetin hati aku lagi!" ucap Laras tegas.


"Oke!" ucap Zian singkat.


Laras pun berbalik, lalu pergi meninggalkan Zian. Pria itu hanya diam membiarkan Laras pergi karena tak ada yang bisa ia lakukan saat ini, selain menunggu kegagalan Laras.


"Laras Laras... kamu kenapa begitu banget sih sama aku?" gumam Zian geleng-geleng kepala.


Zian akhirnya memilih ikut pergi dari sana, biarpun ia masih belum bisa menerima jika Laras mendekati Zaenal, dosennya sendiri.


Sementara Laras terus berjalan sambil meracau sendiri, ia merasa kesal pada sosok Zian yang terus saja memaksa untuk menjadi pasangan hidupnya walau sudah berkali-kali ditolak.


β€’


β€’


Siang harinya, Revi ditemani Latifah pergi ke kantin dalam rangka menikmati makan siang mereka. Ya Revi tidak bersama Muzaki, lantaran pria itu sedang sibuk dengan kuliahnya sehingga tak bisa menemani Revi makan siang kali ini.


Kedua gadis itu pun berjalan bersama menuju kantin kampus sambil saling berbincang, sedari tadi Latifah tak berhenti menceritakan mengenai pak Zaenal selaku dosen tampan disana kepada Revi yang memang belum mengetahuinya.


"Percaya gak Rev? Kalau gue bisa jadi pacarnya pak Zaenal dan nikah sama dia?" ujar Latifah.


"Astaga Fah, daritadi kamu itu selalu aja bahas tentang pak Zaenal. Aku jadi penasaran deh, seperti apa sih rupa pak Zaenal itu? Sampai-sampai kamu tergila-gila gitu sama dia, terus kemarin juga Laras bilang begitu malah sampai ribut sama kamu, seganteng apa sih pak Zaenal emang?" ucap Revi kebingungan.


"Yeh lu belum lihat dia secara langsung sih, coba kalo misal lu udah lihat tuh dosen, pasti lu juga bakal terkagum-kagum sama dia!" ucap Latifah.

__ADS_1


"Ah masa? Yaudah, coba deh kamu tunjukin ke aku seperti apa rupa tuh dosen!" ucap Revi.


"Boleh, nanti kalo misal kita ketemu sama dia pasti gue langsung kasih tahu ke lu. Sekarang kita lanjut aja jalan dulu, supaya gak telat makan siangnya gue dah lapar nih!" ucap Latifah.


"Iya iya...." ucap Revi menurut.


Mereka pun melanjutkan langkah menuju kantin, sambil sesekali Latifah celingak-celinguk mencari pak dosen tampan kampusnya.


"Sebenarnya pak Zaenal itu kayak gimana sih? Kok aku penasaran ya?" gumam Revi dalam hati.


Tak lama kemudian, mereka berpapasan dengan orang yang dicari-cari. Ya pak Zaenal kebetulan muncul di hadapan mereka dan seketika itu juga Latifah langsung merasa gembira karena dapat melihat pria idamannya.


"Eh Rev, i-itu dia pak Zaenal. Dia dosen tampan yang tadi gue ceritain sama lu, tuh tuh lihat tuh ke depan!" ujar Latifah heboh sendiri.


"Mana?" Revi terlihat bingung dan berusaha melihat ke arah yang ditunjuk Latifah.


"Itu loh itu...." Latifah terus menunjuk ke arah Zaenal sambil meremass baju yang dikenakan Revi karena sangking hebohnya.


Revi pun menemukan sosok dosen tampan tersebut, ia ikut terpesona dengan ketampanan dari Zaenal yang memang benar seperti apa yang dikatakan Latifah tadi.


"Wah ternyata emang beneran cakep ya!" ucap Revi spontan dengan mulut terbuka.


"Nah, iya kan? Lu sih gak percaya sama gue, pak Zaenal itu ganteng banget. Udah yuk, kita samperin dia ke depan!" ucap Latifah.


"Yuk!" Revi mengangguk setuju.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun bergerak maju menghampiri Zaenal dengan tergesa-gesa.


"Pak Zaenal, pak tunggu pak!" teriak Latifah.


Sontak Zaenal menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke asal suara dan melihat dua orang gadis tengah berlari ke arahnya, ia menyipitkan mata coba mencari tahu siapa kedua gadis itu.


"Huh akhirnya bapak berhenti juga, halo pak!" ucap Latifah menyapa dengan nafas tersengal-sengal.


"Ya, ada apa? Kenapa kalian berdua panggil saya dan lari-larian kayak gitu cuma buat samperin saya? Apa ada yang penting?" tanya Zaenal.


"Eee iya pak, kita mau bicara sama bapak. Kira-kira bapak ada waktu gak, ya?" ucap Latifah nyengir.


β€’


β€’


Muzaki yang baru selesai kelas, hendak mencari Revi karena sedari tadi ia selalu memikirkan gadis itu. Ia pun mencoba untuk menghubungi Revi, akan tetapi ponsel kekasihnya itu tidak dapat dihubungi.


Merasa kalut dan cemas, akhirnya Muzaki memutuskan untuk pergi mencari sosok Revi di sekitar kampus dengan langkah tergesa-gesa dan juga terus mengulangi menghubungi nomor Revi mengecek apakah gadis itu sudah bisa dihubungi.


"Aduh Revi! Kamu itu dimana sih? Kenapa gak angkat telpon dari aku coba? Bikin cemas aja deh jadi orang!" ujar Muzaki panik sendiri.


Bruuukkk...


"Awhh!!" Muzaki terkejut saat ia tak sengaja menabrak seseorang di dekatnya dan mendengar suara pekikan kecil itu dari sampingnya, ia menoleh lalu mendapati sosok Oni disana.


"Oni? Ya ampun, kamu gapapa?" ujar Muzaki panik dan langsung memegangi tubuh Oni.


"I-i-iya, gue baik-baik aja kok! Lu kalo jalan lihat-lihat dong jangan sambil main handphone gitu, bahaya tau!" ucap Oni mengingatkan Muzaki.


"Iya, aku minta maaf ya!" ucap Muzaki menunduk.


"Gapapa." Oni tersenyum kemudian meminta Muzaki melepaskan tubuhnya, pria itu menurut dan menggeser posisinya menjauh dari Oni karena tak mau terjadi salah paham nantinya.


"Oh ya, lu itu mau kemana sih? Kenapa lu sampe sepanik itu tadi?" tanya Oni penasaran.


"Eee begini Oni, aku tuh pengen cari Revi. Kebetulan aku baru selesai kelas, nah aku pengen ketemu Revi tapi dia gak angkat telpon dari aku. Makanya aku cemas terus coba cari dia di sekitar sini gitu, maaf banget ya aku jadi nabrak kamu tadi!" ucap Muzaki menjelaskan pada Oni.


"Iya gapapa, yaudah gue boleh ikut gak sama lu? Soalnya gue pengen ketemu sama Revi juga, udah lama gue gak ketemu dia. Boleh kan?" ucap Oni.


"Ya boleh boleh aja sih, tapi suami kamu gimana? Kamu gak izin dulu sama dia kalau mau ikut aku cari Revi?" tanya Muzaki bingung.


"Oh iya ya, nanti urusannya malah ribet. Tapi, kalo gue izin sama Radian pasti gak bakal dibolehin, apalagi dia tahu gue pergi sama lu. Udah deh, mending gue gausah izin ke dia!" ujar Oni.


"Loh, jangan dong Oni gak baik!" ucap Muzaki.

__ADS_1


"Kenapa emang? Gue itu cuma pengen ketemu Revi sahabat gue, gue gak macam-macam kok. Kecuali gue ada niat jahat, misal selingkuh atau apa gitu baru dah itu namanya gak baik!" ucap Oni terheran-heran.


"Bukan begitu Oni, tapi alangkah baiknya kamu izin dulu sama Radian. Biar gimanapun, sekarang dia udah jadi suami kamu dan kamu harus patuh sama dia! Dosa loh kalau kamu pergi gitu aja tanpa lapor ke suami, nanti juga aku takut kalau Radian malah nyalahin aku!" ucap Muzaki.


"Hadeh, ribet banget sih lu! Yaudah iya, nih gue sms Radian sekarang dan izin ke dia!" ucap Oni.


"Nah, itu lebih bagus Oni!" ucap Muzaki tersenyum.


Oni pun melakukan apa yang diminta Muzaki, ia mengirim pesan ke nomor Radian dan berpamitan pada suaminya tersebut.


"Udah nih, yuk jalan sekarang!" ujar Oni.


"Tunggu dulu dong Oni!" cegah Muzaki.


"Kenapa lagi sih Zaki? Gue kan udah izin ke Radian, terus mau lu apa lagi?" tanya Oni.


"Ya tunggu sampai Radian balas pesan kamu!" jawab Muzaki.


"Haish, ribet amat sih!" umpat Oni kesal.


β€’


β€’


Tliingg...


Radian yang tengah kumpul bersama teman-temannya di markas alligator, dibuat kaget saat ponselnya berdering dan terdapat nama Oni yang mengirim pesan padanya.


Radian pun bergegas membuka dan membaca isi pesan tersebut, ia melongok lebar saat mengetahui Oni saat ini tengah bersama Muzaki dan hendak menemui Revi.


"Kurang ajar nih orang!" umpatnya sembari mengepalkan tangan.


"Hah? Siapa bro yang kurang ajar?" tanya Azim.


"Ini si Zaki, dia udah rebut Revi dari gue, terus sekarang mau coba deketin Oni istri gue. Emang minta disembelih tuh orang!" geram Radian.


"Sabar bro! Lu cari tahu dulu kebenarannya, jangan main emosi kayak gitu! Nanti yang ada lu malah malu sendiri, bisa jadi Muzaki cuma mau bantu Oni gak lebih!" ucap Azim.


"Iya tuh, kurang-kurangin emosi lu An! Lu kan udah jadi bapak-bapak sekarang," sahut Digo.


"Pala lu peyang! Gue masih calon bapak, anak gue aja belum brojol. Lagian lu pada kenapa jadi bela si Muzaki sih? Harusnya kalian bela gue dong, temen macam apa kalian?!" geram Radian.


"Bukan gitu bro, kita cuma gak mau ada keributan di kampus ini. Selagi bisa diselesaikan dengan cara baik, kenapa harus ribut bro?" ucap Azim.


"Nah betul!" sahut Daffa.


Radian menggelengkan kepalanya, kemudian mengetik pesan balasan untuk Oni.


...Radian...


^^^Sayang, aku gak mau tau pokoknya kamu gak boleh pergi sama Muzaki!^^^


Setelahnya, Radian pun bangkit dari duduknya lalu berniat pergi menyusul istrinya yang sedang bersama Muzaki. Namun, lengannya dicekal dari belakang oleh teman-temannya yang tak mengizinkan ia untuk pergi.


"Bro, gue bilang jangan emosi bro! Lu harus bisa kendalikan diri lu, lagian ini di kampus bukan jalanan. Kita ini gak mau lu kena masalah sama pihak kampus nantinya, cuma karena hal sepele kayak gini! Apalagi lu belum tahu kan kenapa Oni bisa sama Zaki?" ujar Digo.


"Gue gak perduli bro! Pokoknya gue harus kasih pelajaran tuh si Zaki, dia seenaknya mau deketin bini gue itu! Udah, lu pada jangan halangin gue buat habisin dia!" ujar Radian emosi.


"Tahan bro, sabar! Lu gak boleh emosi, lu harus tenangin diri lu! Kita disini bukan bela Muzaki, tapi kita gak mau lu salah ambil tindakan!" ujar Azim.


"Benar bro! Gue tahu lu kesal, tapi ya jangan kayak gitu juga bro! Ada baiknya lu datengin dulu mereka sekarang, terus tanya ke Zaki sama Oni ngapain mereka berduaan disana!" ucap Digo memberi usul bagi Radian.


"Haish, yaudah iya gue ikutin mau kalian! Lepasin tangan gue sekarang!" ujar Radian.


"Iya iya..." ucap mereka lalu melepaskan tangan Radian membiarkan pria itu pergi menemui istrinya.


Namun, tentunya mereka tak mau ambil resiko, ya Azim dan yang lainnya pun pergi mengikuti Radian untuk mencegah terjadi sesuatu yang buruk.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2