Angkasa

Angkasa
Dosen tampan


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 206


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Muzaki yang baru keluar dari kamar, langsung turun ke bawah menghampiri mamanya serta Suci yang sudah berada disana lebih dulu dan tengah menikmati sarapan pagi bersama.


Pria itu menarik kursi, lalu duduk di samping Suci tanpa melirik sedikitpun ke arah gadis itu. Tampak Muzaki masih risau karena Suci tak kunjung pulang dan terus-menerus menginap di rumahnya, padahal sudah berulang kali ia memperingati Suci untuk segera pulang demi kebaikannya.


"Zaki, kamu ini kenapa sih? Datang-datang kok cuek gitu gak nyapa mama atau Suci?" tanya Stevi.


"Huh... pagi mah, pagi Suci!" ucap Muzaki pelan.


"Gak gitu juga Zaki! Kamu tuh lagi ada masalah atau kenapa sih sayang? Gak biasanya loh kamu kayak gini, coba cerita sama mama!" ujar Stevi.


"Apa lagi sih, mah? Aku kan udah ngelakuin yang mama mau tadi, aku nyapa mama dan Suci sesuai permintaan mama! Terus aku masih salah gitu di mata mama, ha?" ujar Muzaki kesal.


"Bukan begitu, tapi kamu ini sikapnya beda banget loh gak kayak biasanya. Apa yang lagi kamu pusingin sekarang? Soal Suci belum mau kembali ke rumahnya, iya?" ujar Stevi.


"Nah itu mama tau, aku ini cemas aja mah kalau sampe papanya Suci marah-marah ke kita dan laporin kita ke polisi atas tuduh penculikan! Ini udah hari kedua Suci disini, aku gak mau kita jadi terlibat masalah dengan keluarga Suci hanya karena masalah sepele, mah!" ucap Muzaki.


"Tuh kan benar dugaan mama, kamu masih aja bahas soal itu! Udah Zaki, kamu gak perlu lagi cemasin hal itu yang bikin kamu jadi jutek kayak gini ke mama dan Suci! Karena Suci tadi udah telpon papanya, dia minta izin buat tinggal disini. Mama juga bicara langsung kok sama papanya, ya kan Suci?" ucap Stevi tersenyum.


"Iya tante. Muzaki, kamu gak perlu khawatir lagi ya! Aku udah dapat izin kok dari papa buat tinggal disini beberapa hari ke depan, gak masalah kan? Soalnya aku belum siap kena omelan papa atau mama, kamu ngerti kan?" ucap Suci.


"Ya bagus deh kalo emang bener begitu! Tapi, jangan lama-lama ya! Gak enak juga dilihat tetangga kalau kamu tinggal disini, kita kan bukan mahram!" ucap Muzaki.


"Iya Zaki, gak lama kok!" ucap Suci tersenyum.


"Udah lah Zaki, omongan orang mah gausah didengerin! Mereka itu cuma syirik sama kita, biasalah iri tanda tak mampu!" ujar Stevi.


Muzaki menggelengkan kepalanya, lalu fokus memakan sarapan di piring dengan lahap.


"Hari ini kamu ada janji sama pacar kamu?" tanya Suci di sela-sela aktivitas sarapan itu.


Muzaki terkejut dengan pertanyaan Suci barusan, ia melirik ke arah gadis itu dan menatap heran.


"Kenapa kamu tanya gitu?" ujar Muzaki bingung.


"Gapapa, cuma mau tau aja. Semisal kamu free alias gak ada janji sama pacar kamu, boleh dong aku minta kamu temenin aku buat beli baju! Kan kamu tau sendiri, aku tinggal disini tanpa persiapan dan gak bawa baju ganti!" ucap Suci.


"Ah iya, benar itu Zaki! Ini aja sekarang nak Suci pakai baju mama yang udah lama gak dipake, udah kamu angetin aja Suci belanja ke mall ya!" ucap Stevi.


"Eee ya insyaallah deh, nanti coba aku lihat-lihat dulu apa aku hari ini ada janji sama Revi atau enggak. Tapi, kalau aku gak bisa kamu jangan maksa ya!" ucap Muzaki.


"Oh, iya aku gak akan maksa kok! Aku maklumin kamu yang udah punya pacar!" ucap Suci.


"Bagus deh! Kalo gitu mah, Suci, aku pamit ke kampus dulu ya? Assalamualaikum!" ucap Muzaki pamit lalu beranjak dari kursinya bersiap pergi.


"Waalaikumsallam," ucap Suci dan Stevi.


Muzaki mencium tangan mamanya, lalu tersenyum ke arah Suci sebelum mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Stevi tampak heran pada sikap putranya itu, karena Muzaki memang sering sekali pergi ke kampus tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu.


β€’


β€’


Disisi lain, Radian bangkit dari ranjang dan menaruh ponselnya di atas nakas karena ia henda mandi membersihkan tubuhnya. Tenaganya cukup terkuras semalaman akibat aktivitas panas yang ia lakukan bersama sang istri, namun tentunya hal itu memang ia inginkan dan berhasil membuatnya merasa puas.


Sementara Oni kini baru keluar dari kamar mandi, harumnya tercium di hidung sang suami yang juga sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum dan bersiap menerkam tubuh wanita yang hanya mengenakan bathrobe itu.

__ADS_1


"Sayang, wangi kamu enak banget sih!" ucap Radian yang langsung memeluk dan mengendus leher Oni menikmati aroma tubuhnya.


"Eemmhh... mas, kamu jangan mulai deh! Aku masih perih banget ini, mending kamu cepat-cepat mandi sana terus kita sarapan bareng di bawah sama mama papa!" ucap Oni.


"Iya iya, aku kan cuma mau cium kamu sayang! Abisnya kamu wangi banget!" ucap Radian.


"Huft, yaudah gapapa kalo cuma cium. Tapi, awas loh minta lebih! Semalaman aku udah nurut sama kamu, kali ini gantian kamu yang nurut sama aku! Demi kepentingan bayi kita juga, kalau dia sakit gimana?" ujar Oni.


"Ya jangan sampai dong!" ucap Radian.


Pria itu masih terus mengendus di leher Oni, menghirup dalam-dalam aroma wanita itu yang selalu membuatnya tergila-gila.


Oni memejamkan mata dan mencengkeram baju suaminya, ia mendongak membiarkan Radian bermain-main di lehernya, sesekali pria itu menjilat serta mengecupnya membuat Oni mengerang.


"Eenngghh mass.." desahh Oni saat Radian menggigit lehernya dan meninggalkan bekas disana.


"Mas, kamu tuh ya! Ngapain sih pake kasih cap segala? Gimana kalau mama papa lihat pas kita makan nanti?" protes Oni.


"Gapapa sayang, aku gak tahan lagi!" ujar Radian.


Oni cemberut, namun Radian masih tampak asyik bermain di jenjang leher Oni dan menjilatinya tanpa henti. Pria itu mendorong tubuh Oni hingga mepet tembok, lalu melumatt bibir istrinya dengan penuh gairah sembari memegangi dua telapak tangan sang istri agar tak dapat berontak.


"Kamu nikmat sayang, bibir kamu selalu bikin aku tergila-gila!" goda Radian melepas ciumannya.


"Mas, udah cukup! Sekarang kamu mandi, aku mau pake baju! Kalau diterusin, nanti yang ada kamu malah hilang kendali!" ucap Oni berusaha mendorong tubuh suaminya tetapi gagal.


"Oke deh, iya aku berhenti! Apa sih yang enggak buat kamu istriku?" ucap Radian tersenyum sembari membelai rambut Oni.


Cupp!


Pria itu kembali mengecup bibir Oni sekilas, lalu melepas dua tangan Oni dan sedikit menjauh namun masih terus menatap wajah wanita itu dengan senyum menggoda.


"Sebenarnya susah banget buat aku lepasin kamu, tapi yaudah lah gapapa!" ucap Radian.


"Mas, maaf ya! Bukan maksudnya aku gak mau layanin kamu dan bikin kamu kecewa, tapi kan ini udah mau siang, kamu juga harus kerja! Kalau kita begituan lagi sekarang, nanti kamu gak kerja-kerja terus kita juga gak bisa sarapan! Aku janji deh, nanti malam kamu bebas mau ngapain aja sama aku!" ucap Oni tersenyum.


"Gak perlu minta maaf Oni! Aku ngerti kok, dan yang kamu bilang juga benar! Lagian semalam kan kamu udah bikin aku puas!" ucap Radian.


"Huh aku lega deh..." ujar Oni menghela nafas.


Cupp!


β€’


β€’


Sementara itu, Latifah dicegat oleh Syahra beserta kedua temannya yakni Ami dan Alin. Tentu saja gadis itu terkejut melihat kehadiran mereka bertiga disana, ditambah ia hanya seorang diri sehingga merasa bingung harus menghadapi mereka dengan apa.


Syahra, Ami dan juga Alin berhenti tepat di depan Latifah. Mereka menatap tajam ke arah gadis itu sembari melipat kedua tangan di depan, bahkan Syahra terlihat mengarahkan bola matanya melihat secara intens ke arah tubuh Latifah dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewati.


"Ini maksudnya apa ya? Kenapa kalian cegat gue kayak gini? Mau ngapain sih, ha?" tanya Latifah.


"Cih, gausah sok beg* deh lu! Jelas lah gue mau balas dendam sama lu, siapa suruh lu berani ancam gue kayak gitu!" geram Syahra.


"Hah? Maksud lu apa sih?" tanya Latifah.


"Alah pake pura-pura gak tahu! Gue udah tahu kok, pasti lu kan yang pasang wallpaper ancaman itu di hp gue! Sekarang lu harus terima konsekuensinya, karena lu berani lakuin itu!" ucap Syahra.


"Ohh soal itu, ya kalau itu sih emang iya gue ngaku gue yang lakuin. Emangnya kenapa sih, kak? Lu gak terima? Gue begitu kan juga demi sahabat gue si Revi, abisnya lu tuh gak bisa dipercaya banget sih jadi orang!" ujar Latifah.


"Apa lu bilang? Gue udah bersikap baik ya sama lu dan Revi, tapi apa balasannya? Lu malah kayak gitu ke gue dan bikin gue emosi!" ujar Syahra.


"Loh, apa salahnya sih kalo gue ganti wallpaper di hp lu? Lagian gambar sebelumnya juga jelek kok! Kalo tulisan itu kan bagus, supaya lu sadar dan gak berani macam-macam sama Revi!" ucap Latifah.


"Dih emang kurang ajar ya lu! Lihat aja, apa yang bisa lu omongin setelah gue dan teman-teman gue hajar lu disini!" ancam Syahra.


"Tuh kan, emang lu ini gak bisa dipercaya! Berarti kemarin lu bersikap baik ke gue sama Revi, itu cuma pura-pura kan? Dasar wanita munafik lu!" ujar Latifah kesal.


"Ohh lu berani sama gue? Kalo gue pura-pura emang kenapa? Masalah buat lu?" ujar Syahra.


"Ya jelas masalah! Revi itu teman gue, dan gue gak akan biarin siapapun sakitin dia termasuk lu! Jadi, jauhin Revi sekarang juga!" geram Latifah.


Syahra semakin geram pada Latifah, ia maju mendekat ke arah Latifah dengan tatapan tajam bersama Ami dan Alin yang ada di belakangnya. Bukannya takut, Latifah justru ikut maju mendekat seperti menantang ketiga gadis itu.


"Kalian mau apa?" tanya Latifah dingin.

__ADS_1


"Hahaha, berani juga ya lu! Oke fine, kita lihat apa lu masih bisa kayak gini nantinya!" ucap Latifah.


"Why not?" ujar Latifah tersenyum sinis.


"Hey kalian!" suara teriakan dari arah samping membuyarkan aksi gadis-gadis itu, mereka kompak menoleh ke asal suara secara bersamaan.


"Pak Zaenal?" ucap mereka serempak saat mendapati sosok dosen muda di kampus yang bernama Zaenal itu.


"Kalian lagi pada ngapain disini? Saya lihat dari jauh kayak bersitegang gitu, ada masalah apa sih?" tanya Zaenal memandang keempat gadis itu secara bergantian.


"Eee tau tuh pak, mereka tadi cegat saya pas mau jalan!" ucap Latifah.


Sontak Zaenal mengalihkan pandangan ke arah Syahra dan teman-temannya, membuat tiga gadis itu salah tingkah serta gugup.


"Kenapa kalian cegat dia?" tanya Zaenal tegas.


"Gak kok pak, gak ada apa-apa cuma iseng tadi. Kita permisi dulu ya pak ada kelas, yuk guys!" ucap Syahra ketakutan dan langsung menarik tangan teman-temannya pergi dari sana.


"Woo dasar cemen!" ledek Latifah pada tiga gadis yang melarikan diri itu.


"Hey kamu, gak boleh begitu! Mereka kan senior kamu, harusnya kamu jaga sikap sama mereka!" tegur Zaenal.


"Maaf pak! Abisnya mereka duluan sih yang ngeselin, wajar dong kalo saya kayak gitu!" ucap Latifah.


"Ya ya, nama kamu siapa?" tanya Zaenal.


"Oh eee saya Latifah, pak!" jawab Latifah menyodorkan tangan ke arah Zaenal.


"Mau ngapain?" tanya Zaenal dingin.


"Ah enggak pak, ini tangan saya pegal. Yaudah ya pak, saya permisi dulu?" ucap Latifah gugup.


"Silahkan!" ujar Zaenal memberi jalan.


Latifah pun berjalan melewati Zaenal, ia pergi dengan tergesa-gesa sambil tersenyum mengingat wajah tampan dosen muda tadi.


"Wow ganteng banget gila!" batinnya.


β€’


β€’


Digo tak sengaja bertemu dengan Latifah yang sedang berjalan seorang diri sambil senyum-senyum, matanya menatap heran ke arah gadis itu karena bingung mengapa Latifah sampai tersenyum begitu disana.


"Latifah kenapa tuh? Gue samperin aja deh, mumpung belum ada kelas!" batin Digo.


Akhirnya Digo menghampiri gadis itu, ia berhenti tepat di depan Latifah dan menyapanya sambil tersenyum manis.


"Hai Fah!" sapa Digo melambaikan tangan.


"Eh kak Digo, hai juga!" ucap Latifah tersenyum.


"Waw kayaknya ada yang lagi seneng nih!" sindir Digo menggoda gadis itu.


"Ahaha, enggak kok kak. Biasa aja!" ucap Latifah.


"Oh gitu, terus kenapa kamu senyum-senyum tadi pas jalan? Pasti ada alasannya dong?" tanya Digo penasaran.


"Iya sih ada, tapi kak Digo gak perlu tau. Ini urusan aku, maaf ya kak!" ucap Latifah tersenyum.


"Oh siap siap, gapapa kok. Aku cuma penasaran aja tadi, soalnya kamu kelihatan happy banget! Eee kira-kira kamu ada kelas gak sekarang?" ujar Digo.


"Gak ada tuh, emang kenapa?" tanya Latifah.


"Kita makan di kantin dulu yuk! Aku yang traktir deh kali ini, mau kan?" jawab Digo.


"Umm, mau deh! Kapan lagi bisa makan gratis, yuk kak!" ucap Latifah dengan senyum senang.


"Yes asik!" ujar Digo girang.


Mereka pun jalan bersamaan menuju kantin, kesenangan Latifah juga membuat Digo ikut senang karena bisa dekat dengan gadis yang ia cintai itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2