Angkasa

Angkasa
01. Angkasa Raya


__ADS_3

--💗--


Dengusan keras lagi-lagi berhasil lolos dari mulut mungil Raya, tangan kirinya sudah terisi dengan satu kantong plastik besar berisi berbagai macam buku tebal. Sedangkan tangan kanannya sibuk menyeka keringat dipelipisnya yang terus muncul.


Hari ini memang sangatlah panas, Raya yang notabene-nya adalah cewek cerewet itu terus saja ngedumel di sepanjangan jalan. Angkasa pun sudah memberitahunya agar diam tapi tetap saja, seorang Raya tidak akan bisa diam dalam keadaan seperti ini.


"Angkasa, kita tuh sebenernya mau kemana sih? Lo udah belanja banyak banget. Mau cari apalagi? Kaki gue pegel tau," sahut Raya membuat Angkasa yang sudah semeter didepannya kembali membalikkan tubuhnya dengan wajah datar.


"Diem," ucap Angkasa dengan nada datar.


Raya yang mendengar itupun langsung diam dengan mulut menganga.


"Eh, gue capek ya bawa ginian. Lo kita ini yang gue bawa ini tissue? Ini buku woy! Tebel-tebel lagi, capek, Sa gue bawanya."


Angkasa menyatukan alis tebalnya, dengan langkah tenang dia berjalan ke arah Raya dan mengambil alih kantong plastik itu dari tangan Raya ke tangannya.


Raya yang melihat itu langsung bernapas lega. Setidaknya dia tidak perlu lagi membawa beban berat.


"Gitu kek dari tadi, gue jadinya kan nggak capek," celetuk Raya.


"Eh, Sa, habis ini lo mau kemana? Toko buku lagi? Gue mau cari novel soalnya." Raya melebarkan senyumnya berharap Angkasa akan mengabulkan keinginannya untuk pergi ke toko buku.


Angkasa yang tengah sibuk merapihkan buku-bukunya di kantong plastik itu menatap Raya tajam.


"Nggak, gue langsung pulang," ucap Angkasa sembari melangkah meninggalkan Raya.


Raya yang melihat itu hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Setelah puas dia langsung berlari mengikuti Angkasa yang sudah jauh didepan sana.


"Nyebelin banget sih jadi cowok!"


--💗--


"Nggak mau mampir dulu gitu?" tanya Raya di dalam mobil, dia masih mencoba peruntungannya untuk membujuk Angkasa pergi ke toko buku.


"Nggak," ucap Angkasa dengan mata yang fokus ke jalanan didepan mereka.


Raya lagi-lagi mendengkus kesal. Padahal kan dia ingin membeli buku yang baru saja keluar tahun ini dan itu sangat limited edition! Mana mungkin dia melewatkannya.


"Please lah, Sa. Gue cuma mau beli satu doang kok," ucap Raya memohon.


"Kenapa tadi nggak sekalian beli?" tanya Angkasa acuh.


"Ya kan toko yang tadi cuma buat buku pelajaran, tokonya juga isinya buku tebel-tebel. Nggak ada novelnya," rengek Raya membuat telinga Angkasa pengang.


"Bagus dong," ucap Angkasa. Matanya masih fokus terhadap jalanan.


Raya mengernyit bingung, "Maksud lo?"


"Iya bagus, jadi lo nggak bisa beli novel itu, bikin otak lo makin payah aja," sindir Angkasa tanpa memperdulikan Raya yang sudah ingin memakan Angkasa hidup-hidup.


"Jadi maksud lo gue **** karena novel, gitu?" tanya Raya dengan nada menggebu-gebu.


Angkasa mengangguk singkat, "I think so."


"What the ... astaga, Angkasa! Lo tau nggak sih dalam novel itu juga ada pelajaran-pelajaran pentingnya! Lo sih nggak gaul," ucap Raya dengan nada meninggi.


"Apa?" tanya Angkasa menantang.


Raya berdecih sebentar sambil memandang wajah Angkasa.


"Nih ya yang pertama, imajinasi kita makin luas! Trus juga kita lebih bisa peka sama orang lain. Nah abis selesai baca novel kita bisa deh ambil amanatnya, misalnya kita harus mencintai sepenuh hati, gitu," jelas Raya bangga.


Kini giliran Angkasa yang berdecih meremeh, "Itu? Itu yang lo namain pelajaran penting?"


"Iya dong!" ucap Raya dengan nada sedikit tak terima karena Angkasa meremehkannya. "Emang lo tau apa kaya gitu-gitu? Nggak kali!"


"Nih ya, pelajaran didalam novel itu bukan diisinya. Tapi di ilmunya, lo pasti nggak pernah merhatiin tanda baca, penulisan huruf, penulisan PUEBI, majas, dan sebagainya kan?" ucap Angkasa membuat Raya mengernyit.


"Apaan itu? Nggak ada kali kaya gituan di novel," sergah Raya membuat Angkasa tersenyum miring.


Angkasa kemudian memelankan laju mobilnya sebelum menrespon apa yang Raya ucapkan tadi. Ia lalu memberhentikan mobilnya saat lampu berubah merah.


Ada enam puluh detik untuk merespon ucapan Raya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


"Ada dong, cuma nggak ditulisan secara jelas. Lo-nya aja nggak pernah belajar ilmu kaya gini-gini," remeh Angkasa membuat Raya menjitak keras kepala Angkasa.


"Eh, gue gini-gini tuh rajin ya suka menolong pula. Lo apaan, nggak pernah gue liat lo nolongin orang," ucap Raya membuat kening Angkasa berkerut.


Nih anak waras nggak sih? Bahasnya apa melencengnya kemana-mana, bisik Angkasa dalam hati.


"Terserah lo lah, Ray, capek ngomong sama lo muter-muter mulu," serah Angkasa membuat Raya tersenyum penuh kemenangan.


"Nah, akhirnya lo tau, bahwa cewek selalu menang," ucap Raya.


"Ceweknya aja yang nggak mau ngalah, cerewet!" sahut Angkasa.


--💗--


Setelah memarkirkan mobilnya Angkasa langsung keluar dan meninggalkan Raya yang masih sibuk dengan seatbelt-nya yang menyangkut.


"ANGKASA, BANTUIN KEK!" teriak Raya membuat Angkasa menghentikan langkahnya dan berbalik kembali ke mobilnya.


Angkasa kemudian memandang Raya datar, Raya yang melihat itu mengdengkus sebal.


"Copotin!" titah Raya.


"Emang gue babu lo?" tanya Angkasa sedikit tajam.


Raya mendengkus lagi, ia kemudian menatap Angkasa tajam, "Ya bantuin kek! Masa gue harus disini terus!"


Angkasa masih diam. Lebih ke bingung sih, sebenarnya dia harus ngapain?!!


"COPOTIN, ANGKASA! JANGAN DIEM AJA!" teriak Raya dengan kesabaran yang hampir habis.


Angkasa kemudian menghela napasnya dan menunduk untuk melepas seatbelt yang Raya pakai. Sedangkan Raya tiba-tiba saja membeku ditempat, jarak Angkasa terlalu dekat dengannya!


Raya sampai harus menahan napasnya karena wajahnya dengan pipi Angkasa tidak ada dua puluh sentimeter! Jarak aman antara Angkasa dan Raya itu kan minimal dua puluh setimeter.


"S ... Sa," ucap Raya lirih.


Angkasa pun dengan cepat memandang Raya, dan pandangan mereka bertemu. Sngat dekat! Bahkan napas Angkasa dapat Raya rasakan, bau mint gimana gitu.


Raya masih dengan napas tertahan berusaha melontarkan kalimat yang ingin dia ucapkan. Susah tapi.


"L ... lo kedeketen ngelepasinnya," ucap Raya dengan segenap tenaganya.


Angkasa menatap Raya diam, tangannya masih bergerak untuk melepaskan sealbelt yang Raya pakai. Setelah terlepas barulah Angkasa menjauhkan wajahnya.


Jujur, Angkasa pun merasa gugup saat wajahnya sangat dekat dengan Raya tadi. Dan entah kenapa tubuhnya ini tidak mau diajak kompromi.


"Sorry," ucap Angkasa setelah tubuhnya kembali tegak.


Raya mengangguk pelan lalu berdiri dan menutup pintu mobil. Mereka pun berjalan menuju pintu masuk rumah Angkasa. Tentunya dengan Angkasa yang paling depan dan Raya dibelakangnya.


"Kalian sudah pulang?" sambut seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


Angkasa tersenyum singkat lalu menyalami pria itu--yang merupakan ayahnya. Tidak seperti Raya yang heboh sendiri.


"Halo, Ayah Angkasa! Selamat malam, maafin Raya sama Angkasa yang pulangnya lewat dari jam enam, tapi nggak apa-apa kok, Ayah Angkasa, lewat cuma semenit doang. Besok nggak gitu lagi kok, janji," ucap Raya panjang lebar. Bagas--ayah Angkasa--kemudian tersenyum hangat sambil mengangguk mengerti, hanya sebagai formalitas saja.


Raya memang terbiasa memanggil Bagas--dengan sebutan Ayah Angkasa.


Angkasa yang sudah muak dengan tingkah Raya seharian ini langsung menuju ruang makan untuk makan malam bersama, tidak mau lagi meladeni Raya. Sudah cukup!


Melihat Angkasa yang peegi meninggalkannya menuju ruang makan, Raya pun bergegas menyusul Angkasa. Menyamakan langkahnya dengan langkah Angkasa walau sulit. Bagas tertawa kecil melihat kelakuan kedua remaja itu, mengingatkannya pada seseorang yang kini namanya sudah tidak ingin Bagas ingat lagi.


"Ayah Angkasa, besok hari pertama Raya sekolah kan disekolahnya Angkasa, nah bawa apa aja?" tanya Raya. Angkasa yang duduk disebelahnya langsung menatap Raya dengan tatapan sulit diartikan.


Belum juga Bagas menjawab, sudah didahului Angkasa yang ia jawab dengan nada dingin dan menusuk.


"Buku lah, ****," ucap Angkasa tanpa menatap Raya.


Raya kemudian menatap Angkasa dengan mulut dimajukan, "Gue kan belum pernah masuk sekolah kaya gitu, sekolah lo kan elit! Masih maklum kali."


"Hmmm," gumam Angkasa tak jelas.


Raya kemudian lebih memilih melanjutkan makannya dari pada harus berdebat dengan Angkasa lagi.

__ADS_1


Cukup melelahkan.


--💗--


Selesai makan Raya langsung pamit untuk kembali ke kamarnya, yang sebenarnya milik adik Angkasa tapi sekarang gadis itu sedang liburan bersama teman-temannya di Bali.


Raya segera merebahkan tubuhnya, ia kemudian memeriksa ponselnya yang terbalik disebelahnya.


Raya tersenyum ketika mendapati sebuah pesan dari sahabatnya, Rain. Kedua sudutnya tertarik ke atas membentuk senyuman lebar.


Rainanda :


|Raya, gue kangen :(


|Padahal baru dua hari lalu lo pergi tapi gue udah kangen aja :"(


Raya segera mengetikkan pesan balasan untuk Rain. Fyi, Rain adalah sahabat Raya yang berada di Jakarta.


: Rayaarcha


Gue juga kangen sama lo :(|


Sabar ya gue disini cuma setaun kok|


Rainanda :


|Iya, sayang :(


|Baik-baik disana


|Oh iya, gue dapet kabar kalo lo tinggalnya sama temen deketnya ayah lo. Trus katanya punya anak laki, gans nggak?


: Rayaarcha


Elah, baru aja kangen-kangenan|


Iya, emang. Nggak biasa aja|


Nyebelin orangnya|


Rainanda :


|Ah masa???


Rayaarcha :


Beneran deh cius!|


Rainanda :


|Namanya siapa emang?


|Awas aja kalo lo suka beneran nanti, lo harus kasih gue uang seratus ribu!


: Rayaarcha


Namanya Angkasa|


Gue nggak akan suka sama dia!|


Gue jamin!|


Rainanda :


|Ciee namanya couple-an


: Rayaarcha


Hah maksud lo?|


Rainanda :


|Iya, Angkasa Raya

__ADS_1


__ADS_2