Angkasa

Angkasa
Suci lagi


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 161


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Radian pulang ke rumah membawakan minuman serta makanan pesanan istrinya itu, terlihat ia sangat gembira karena sudah tak sabar ingin melihat reaksi Oni nantinya begitu diberikan pesanannya.


Sementara Oni seperti biasa langsung menuju ke luar begitu mendengar suara motor suaminya, ya Oni seakan sudah hafal dengan suara motor Radian itu hingga ia yakin tak mungkin salah.


"Hai mas, selamat datang!" ucap Oni tersenyum.


"Aduh, istriku udah berdiri disini aja. Oh ya, ini pesanan kamu tadi!" ucap Radian tersenyum.


"Wah makasih ya mas!" ucap Oni.


Oni menampani bungkusan itu, kemudian mencium tangan suaminya seperti biasa sebelum mengajak sang suami masuk ke dalam.


"Mas, yuk masuk!" ucap Oni.


"Sabar sayang! Masuknya mah nanti kalo udah di kamar, masa mau disini?" sarkas Radian.


"Apaan sih mas? Maksudnya masuk ke rumah loh, bukan yang lain!" ujar Oni.


"Ahaha, iya aku bercanda sayang!" ucap Radian.


Radian mengusap wajah istrinya yang cemberut itu lalu mengecupnya lembut, barulah mereka berdua masuk ke dalam sambil bergandengan tangan dengan Oni menaruh wajahnya pada pundak sang suami yang terasa nyaman.


Mereka memilih langsung ke kamar karena Oni hendak berbicara pada suaminya tersebut, ya Oni tak enak jika pembicaraan mereka didengar oleh papa atau mama dari pria itu sehingga Oni mengajak Radian ke kamar.


"Sayang, kamu mau bicara apa sih? Jangan bilang kamu mau minta dipuasin!" ujar Radian.


"Mas, kali ini aja tolong serius ya!" ucap Oni.


"Hehe, iya iya aku serius! Ada apa sih emang?" tanya Radian penasaran.

__ADS_1


"Eee jadi gini mas, tadi itu aku dengar mama papa ribut di bawah. Aku ngerasa gak enak aja gitu mas, mungkin bawaan bayi kali ya? Aku pengen suasana yang aman dan damai, bukan keributan kayak gitu!" jelas Oni.


"Mama papa ribut lagi?" ujar Radian terkejut.


"Iya mas, bukan cuma sekali tapi tiga kali!" ucap Oni.


"Duh, maaf ya sayang kalau kamu gak nyaman dengar keributan mereka! Yaudah, apa kamu mau kita tinggal di apartemen aja kayak waktu pertama kita nikah?" tanya Radian memberi usul.


"Umm, aku sih terserah kamu mas. Yang penting aku bisa ngerasa nyaman gitu," jawab Oni.


"Yaudah deh, nanti aku bawa kamu ke apartemen ya sayang! Sekarang kita tidur disini dulu sampe besok, gapapa kan cantik?" ucap Radian.


"Iya mas, gapapa. Maaf ya aku jadi nyusahin kamu mas!" ucap Oni merasa tidak enak.


Radian memegang dua pundak istrinya lalu tersenyum menatap wajah Oni dengan seksama.


"Hey, kamu gak perlu minta maaf! Aku wajarin kok kan kamu juga lagi hamil sayang, justru aku minta maaf sama kamu karena rumah ini gak nyaman dan bikin kamu ngerasa gak enak! Aku janji bakal cari rumah yang tentram dan damai!" ucap Radian.


"Iya mas, makasih!" ucap Oni tersenyum.


Oni memeluk suaminya dan menaruh wajahnya pada dada bidang Radian sambil mengelus punggung sesekali.


"Eh aku mau mandi dulu, kamu mau ikut atau enggak nih cantik?" tanya Radian.


"Enggak deh, aku tunggu disini aja sekalian siapin baju buat kamu. Kalau aku ikut, nanti malah lama mandinya terus makanannya keburu dingin deh mas!" jawab Oni tersenyum.


"Hahaha iya juga ya..."


"Mas, ini handuknya!" ujar Oni.


"Iya sayang, makasih ya!" ucap Radian tersenyum.


Setelah mengambil handuk dari tangan Oni, Radian pun masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk mandi disana.


Sementara Oni menunggu disana sembari menuju lemari pakaian, ia mengambilkan satu set pakaian ganti untuk suaminya sambil senyum-senyum.


"Mas Radian baik banget sih!"


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Muzaki baru pulang ke rumah seusai mengantar Laras ke rumah temannya yang terletak lumayan jauh dari sana. Terlihat pria itu tampak letih karena perjalanan ia tadi sangat melelahkan.


Namun, Muzaki merasa senang karena ia bisa mengantar Laras sampai ke tempat tujuannya. Ya entah mengapa ia tidak tega melihat gadis itu tadi sendirian di halte karena tak ada bus yang lewat.


"Huh capek banget! Tapi, saya senang bisa bikin Laras senyum tadi!" ucapnya.


Muzaki turun dari motornya, menaruh helm pada cantolan di dinding lalu melangkah ke luar dari garasi sambil senyum-senyum.


Muzaki sungguh tak menyangka, karena ketika ia melangkah keluar tiba-tiba saja ada Suci yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya dan tersenyum begitu melihat Muzaki muncul.

__ADS_1


"Suci? Kamu ngapain disitu?" tanya Muzaki heran.


"Hai Muz, assalamualaikum!" ucap Suci tersenyum.


"Waalaikumsallam, lagi ngapain sih?" ujar Muzaki.


"Eee aku mau ketemu sama kamu, boleh kan? Ini kebetulan aku juga udah buatin makanan buat kamu, aku bikin sendiri loh!" ucap Suci.


"Duh, kamu tuh kenapa sih Suci? Kok masih aja kamu datang kesini temuin aku? Kan aku udah bilang sama kamu, aku gak mau deketan lagi sama kamu Suci!" ucap Muzaki tegas.


"Tenang aja Muz, aku gak ada niatan buat deketin kamu lagi kok!" ucap Suci.


"Terus buat apa kamu bawain aku makanan?" tanya Muzaki.


"Kan namanya teman, emang gak boleh ya kalo aku kasih makanan ke teman aku? Ayolah Muz, cobain dulu ya? Enak loh ini!" ucap Suci.


"Yaudah, sini makanannya!" ucap Muzaki.


Suci pun menyerahkan rantang berisi makanan itu pada Muzaki sambil tersenyum.


"Ngapain kamu masih disini? Kan udah aku ambil!" tanya Muzaki.


"Eee kamu gak mau ajak aku masuk ke dalam gitu? Masa kamu malah usir aku sih?" ujar Suci cemberut.


"Haish, ayo masuk!" ucap Muzaki.


Muzaki terpaksa membiarkan Suci masuk ke dalam rumahnya, ia membuka pintu pagar dan mempersilahkan gadis itu masuk.


Terlihat Suci sangat senang dan terus tersenyum saat Muzaki membukakan pintu pagar, gadis itu melangkah masuk dan berhenti di samping Muzaki.


"Muz, kamu abis darimana?" tanya Suci.


"Eee dari luar, ada urusan. Udah yuk langsung masuk aja, gausah banyak tanya!" ucap Muzaki.


"Iya iya maaf!" ucap Suci kesal.


Muzaki melangkah lebih dulu meninggalkan Suci, gadis itu merasa jengkel karena yang ia inginkan adalah berjalan berdampingan dengan Muzaki sambil berpegangan tangan.


Keduanya berhenti di depan pintu, Muzaki mengetuk pintu lebih dulu sebelum membukanya lalu mengucap salam, sebagai adab ketika datang ke rumah biarpun rumahnya sendiri.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum..."


Suci mengikuti Muzaki mengucap salam, lalu perlahan masuk ke dalam rumah pria itu bersamaan dengan langkah Muzaki.


"Waalaikumsallam!"


Terdengar suara balasan dari ibu Muzaki, tentu saja Suci tersenyum senang karena ia bisa bertemu dengan calon mertuanya itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2