Angkasa

Angkasa
Mengejar dibanding dikejar


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 217


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Revi dan Latifah masih bersama Zaenal si dosen tampan itu, mereka tampak asyik berbincang sehingga lupa waktu. Revi juga mulai terbuai dengan pesona dosen itu, ia tak bisa bohong kalau Zaenal memang sosok lelaki yang hampir sempurna dengan ketampanannya itu.


Bahkan Zaenal juga merasa senang karena ia bisa berbincang dengan kedua gadis cantik yang masih muda dan segar itu, sejak pertama melihatnya Zaenal langsung terpesona pada Revi dan tak bisa berhenti menatapnya sehingga membuat Latifah agak jengkel karena Zaenal tak meliriknya.


"Jadi, nama kamu ini Revi? Kamu temannya Latifah?" tanya Zaenal basa-basi.


"Iya pak, aku Revi teman Latifah. Sebenarnya kami ini lebih dari sekedar teman, pak. Aku udah anggap Latifah kayak saudara aku sendiri, begitu juga sebaliknya. Ya kan Fah?" jawab Revi.


"Pastinya dong! Kita ini tuh udah kayak Upin dan Ipin pak, gak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali takdir!" ucap Latifah tersenyum.


"Wah bagus dong! Saya suka dengan anak muda yang menjunjung tinggi persahabatan seperti kalian berdua ini, teruskan ya jangan sampai hanya karena masalah kecil seperti laki-laki, kalian malah jadi bertengkar dan putus silaturahmi!" ujar Zaenal.


"Siap pak! Insyaallah kita berdua gak akan kayak gitu kok, lagian Revi ini udah punya pacar yang tampan dan baik hati banget kok pak! Jadi, kita gak mungkin lah saingan buat rebutin bapak!" ucap Latifah sambil tersenyum manis.


"Hah? Kok saya?" tanya Zaenal terkejut.


"Eee ma-maksud saya laki-laki seperti bapak, gitu loh!" jawab Latifah berbohong.


"Oalah kirain...."


"Hehe, ya tapi kalo bapaknya mau direbutin sih gak masalah. Itu bisa dibicarakan baik-baik nanti, saya sih mau-mau aja pak," ucap Latifah nyengir.


"Hahaha ada-ada aja kamu," ujar Zaenal terkekeh mendengar perkataan Latifah barusan.


Sementara Latifah juga ikut tersenyum dan menyelipkan rambutnya di atas telinga, sungguh ia kesal sekali lantaran Zaenal tak mengerti bahwa yang ia katakan tadi adalah kesungguhan.


"Yasudah ya, saya harus pergi sekarang. Masih ada tugas yang harus saya nilai di ruangan saya, kapan-kapan kita ngobrol lagi, oke?" ucap Zaenal.


"Yah, yaudah deh gapapa," ucap Latifah pasrah.


"Iya, maaf ya Latifah! Revi, saya pamit dulu ya? Kalau ada yang mau dibicarakan lagi, datang saja ke ruangan saya atau nanti setelah beres tugas kita ketemuan di depan gerbang kampus!" ucap Zaenal menatap Revi.


"Baik pak!" ucap Revi singkat disertai senyuman.


Sontak Latifah langsung menyenggol Revi dengan sikunya dan memberikan tatapan tajam ke arah gadis itu, Revi yang tak mengerti hanya diam tanpa merespon apapun dari pergerakan Latifah.


Zaenal melangkahkan kakinya pergi dari sana, meninggalkan kedua gadis yang sedang asyik melamun membayangkan dirinya itu.


"Fah, tadi kamu kenapa senggol aku kayak gitu sih?" tanya Revi tak mengerti.


"Suruh siapa lu pake senyum-senyum gitu ke pak Zaenal tadi? Rev, lu kan tahu sendiri gue lagi berusaha buat deketin pak Zaenal, lu ngertiin gue dong! Emang lu mau sahabat lu ini jomblo terus gak punya pasangan?" ujar Latifah.


"I-i-iya, maaf Fah aku gak sengaja! Lagian aku cuma sekedar senyum kok gak ada niat lebih, kamu gausah takut ya Fah! Aku pasti dukung kamu kok, semangat!" ucap Revi tersenyum.


"Thanks Rev!" ucap Latifah.


"Eh ya, kamu beneran serius suka sama pak Zaenal dan mau pacaran sama dia?" tanya Revi.


"Iya dong, gue kan udah bilang kalau gue cinta sama pak Zaenal. Apapun rintangannya, pasti bakal gue hadapi demi pak Zaenal!" jawab Latifah.


Revi hanya tersenyum memeluk Latifah dari samping dan mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.



__ADS_1


Sementara itu, Muzaki dan juga Oni masih bersama mencari keberadaan Revi yang memang belum tahu ada dimana. Oni sengaja ikut dengan Muzaki, karena ia ingin bertemu dengan Revi yang sudah cukup lama tak ia temui.


Namun, Oni tidak tahu jika saat ini suaminya tengah emosi dan memiliki keinginan untuk menghajar Muzaki karena dianggap ingin merebut Oni darinya, ya wanita itu pun santai-santai saja mengira bahwa Radian tidak mungkin seperti itu.


"Gimana Oni? Suami kamu kasih izin buat kamu ikut sama aku?" tanya Muzaki pada Oni.


"Eee...." Oni terlihat bingung dan gugup.


"Duh, gimana ya? Kalo gue bilang ke Zaki yang sebenarnya, nanti yang ada gue gak bisa ketemu sama Revi. Tapi, kalo gue bohong kira-kira bakal terjadi sesuatu gak ya?" gumam Oni dalam hati.


Melihat Oni yang hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan darinya, Muzaki pun merasa heran dan menaruh curiga pada wanita tersebut.


"Kok kamu diam sih? Apa itu artinya kamu gak dikasih izin sama Radian? Kalau emang begitu, yaudah kamu mending gausah maksa deh buat ikut sama aku temuin Revi! Daripada nantinya Radian malah marah-marah dan salah paham," ucap Muzaki.


"Enggak Muz, gue dikasih izin kok sama Radian. Mana mungkin juga dia gak izinin?" jawab Oni.


"Yakin kamu? Bukan apa-apa Oni, kamu kan tahu sendiri suami kamu itu gak suka banget sama aku, gimana kalo dia ngamuk nanti?" ucap Muzaki.


"Udah tenang aja! Mas Radian tuh udah berubah kok, dia gak kayak dulu lagi. Yuk kita langsung cari Revi aja di sekitar sini!" ujar Oni.


"Yaudah deh," ucap Muzaki singkat.


Disaat mereka hendak melangkah, tiba-tiba saja Radian bersama kedua temannya muncul dan mencegat mereka sehingga Oni serta Muzaki tak bisa pergi kemana-mana.


"Mau kemana kalian?" tanya Radian dengan ketus dan mata menyorot tajam ke arah Muzaki.


"Eee mas, kamu kok kesini? Tadi kan aku udah izin sama kamu loh, aku mau ikut Zaki ketemu sama Revi. Kamu kan tahu sendiri, udah lama aku gak ketemu sama Revi. Boleh dong ya aku ketemu Revi dulu sebentar?" jawab Oni coba merayu suaminya.


"Kamu emang udah izin sama aku, tapi aku kan belum bilang boleh. Terus kenapa kamu tetap pergi sama dia, ha?" ujar Radian tegas.


Sontak Muzaki langsung menatap ke arah Oni dengan wajah bingung sekaligus emosi.


"Sayang, a-aku...." belum sempat Oni selesai bicara, Radian sudah lebih dulu menarik tangannya menjauh dari Muzaki. "Awhh sakit mas!" rintih Oni saat tangannya ditarik oleh sang suami.


Radian melotot tajam ke wajah sang istri, membuat Oni ketakutan dan tak berani menatap wajah suaminya itu.


"Mas, kamu jangan marah-marah disini! Malu tau kalau dilihat sama orang, kita bicara di tempat lain aja yuk yang sepi!" pinta Oni membujuk Radian.


"Gak! Aku mau bicara dulu sama cowok kegatalan ini!" geram Radian menunjuk ke arah Muzaki.


"Mas, tahan mas!" ucap Oni memohon.


"Iya bro, ini semua belum tentu salah Zaki. Lu gak boleh main emosi gitu!" ujar Azim.


"Terus maksud lu apa? Istri gue gitu yang deketin dia duluan, iya?" ujar Radian emosi.


"Gak gitu bro, gue—"


"Udah lu diem! Ini urusan gue sama tuh cowok, emang dari dulu dia ini gak pernah bener dan selalu suka bikin emosi!" potong Radian.


"Maaf! Saya gak punya waktu untuk ini, saya permisi!" ucap Muzaki singkat.


Muzaki tak mau meladeni amarah Radian, ia memilih pergi dari sana menghindari keributan yang tak ada gunanya.


"Woi mau kemana lu dasar pengecut!" teriak Radian berusaha mengejar Muzaki, namun ditahan oleh kedua temannya.




Saat hendak pulang ke rumah sesudah menyelesaikan kuliahnya, Laras kini menunggu di depan gerbang kampus sembari memegang ponselnya, ia berharap Zaenal mau menghubungi dan mengantarnya pulang karena mereka sudah bertukar nomor telepon sebelumnya.


Namun, harapan gadis itu tak kunjung muncul dan sedikit membuatnya gusar. Ia cemberut merasa jengkel sekaligus khawatir jika Zaenal tidak datang untuk menjemputnya disana, ya tentunya ia bingung harus pulang dengan apa mengingat semua uang jajannya hari ini telah dihabiskan.


"Duh, pak Zaenal kemana sih? Dia kok gak ada kabarin gue ya? Padahal gue berharap banget dia bisa antar gue pulang, ah dasar php!" ujar Laras sambil terus menatap layar ponselnya.


Tak lama kemudian, bukan Zaenal yang muncul melainkan sosok lelaki lain yang tak lain ialah Zian, pria yang selalu mendekatinya dan berharap dapat memilikinya. Tentu saja Laras tak bahagia ketika melihat kemunculan Zian, ia berpikir bahwa Zian akan kembali menggodanya seperti biasa atau memaksanya untuk diantar pulang.


"Hai Ras! Lagi nunggu siapa sih? Kok kelihatan bete gitu?" ujar Zian menyapa gadis itu.


"Bukan siapa-siapa, lu gausah kepo deh!" ucap Laras ketus tanpa melirik ke arah Zian.


"Oh aku tahu nih, kamu pasti lagi nunggu si dosen tampan itu kan? Kasihan deh, nunggu yang gak pasti itu gak enak ya?" ujar Zian meledek.


"Apaan sih? Gausah sok asik deh lu!" cibir Laras.

__ADS_1


"Bukan sok asik, aku cuma kasihan aja sama kamu! Berharap kok sama sesuatu yang gak pasti. Padahal kalau kamu mau buka mata lebar-lebar, kamu udah temuin sosok yang pasti dan baik buat kamu Laras! Sayang aja mata kamu dibutakan sama laki-laki good looking," ujar Zian.


"Maksud kamu apa? Jadi menurut kamu, kamu itu lebih baik dari pak Zaenal, iya?" tanya Laras.


"Aku gak ada bilang gitu. Mana bisa aku jadi lebih dari pak Zaenal? Dia itu tampan, kaya, pintar lagi. Tapi, setidaknya aku bukan tipe cowok yang suka menyakiti perasaan wanita!" ucap Zian.


"Hadeh, basi tau gak!" ujar Laras ketus.


"Ya kalau basi tinggal kamu kasih ke kucing, atau bisa kamu buang gitu."


"Kamu itu ngomong apa sih?" ujar Laras heran.


"Eee udah lah lupain aja soal itu! Sekarang aku mau pulang, hati-hati ya dan semangat terus nunggu nya! Jangan nyerah loh, sesakit apapun itu kamu harus kuat! Karena ini kan kemauan kamu, buat milih mengejar dibanding dikejar!" ucap Zian.


Setelah mengatakan itu, Zian tersenyum sejenak sebelum akhirnya pergi dari sana meninggalkan Laras seorang diri dengan keadaan bingung plus tidak tahu harus bagaimana.


"Kenapa setelah kak Zian bilang gitu, aku jadi ngerasa bersalah ya?" gumam Laras.


Pukkk...


"Ras!" tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Laras dari belakang, gadis itu kaget dan reflek menoleh untuk memastikan siapa yang datang.


"Pak Zaenal?" matanya langsung berbinar begitu melihat sosok lelaki yang sudah ditunggunya sedari tadi itu muncul disana.


"Iya, ini saya. Kamu lagi ngapain berdiri disini? Kok belum pulang?" ucap Zaenal bertanya heran.


"Eee a-aku lagi tunggu pak Zaenal, rencananya kan aku mau lanjut ngobrol-ngobrol sama bapak, apa bapak bersedia buat pulang bareng sama aku?" ucap Laras agak malu-malu.


"Why not?" Laras sangat gembira sekaligus terkejut mendengar ucapan itu.


Akhirnya mereka berdua pergi dari sana dengan mobil milik Zaenal.




Malam harinya, Muzaki kembali membawa Revi ke rumahnya untuk bertemu dengan sang ibu tercinta sekaligus membuat Revi dan ibunya dapat lebih dekat sehingga hubungan mereka pun bisa berjalan lancar.


Revi awalnya ragu dengan itu, namun demi kelangsungan hubungan mereka, ia pun setuju dan mau ikut bersama Muzaki ke rumahnya untuk meyakinkan Stevi bahwa dirinya pantas menjadi pasangan dari Muzaki.


Sesampainya disana, Revi turun dari motor dan menatap bingung ke arah Muzaki.


"Kak, aku kok gak yakin ya mau ketemu sama mama kamu? Aku takut mama kamu gak suka dan malah usir aku dari sini," ucap Revi.


"Jangan pesimis gitu!" ujar Muzaki tersenyum.


Muzaki mendekat ke arah Revi, kemudian menangkup wajah gadisnya dengan kedua tangan sambil perlahan mengusap rambut yang menutupi kening gadis itu.


"Rev, kamu gak perlu cemas dan berfikir seperti itu tentang mama! Aku yakin mama gak mungkin tega usir kamu, karena mama tuh orangnya baik! Kalau kamu udah kenal lebih dekat dengan mama, pasti kamu bisa tahu seperti apa sikap mama itu!" ucap Muzaki meyakinkan kekasihnya itu.


"Iya kak, aku ngerti yang kak Zaki bilang. Tapi, buktinya sewaktu kita dinner kelihatan kalau mama kak Zaki tuh gak suka sama aku! Kan wajar kalau aku berfikir begitu, aku takut hubungan kita bakal sulit buat dilanjut!" ucap Revi cemberut.


"Hey, gak boleh bilang gitu ah! Kita harus sama-sama berjuang!" bujuk Muzaki.


Revi manggut-manggut setuju, Muzaki pun tersenyum senang dan mengajak gadisnya untuk masuk ke dalam bertemu dengan mama tercinta agar bisa lebih akrab.


"Yaudah, kita masuk yuk!" ucap Muzaki.


"Yuk!" ucap Revi singkat.


Keduanya pun melangkah sambil bergandengan tangan, Muzaki langsung mengetuk pintu rumahnya dengan Revi berdiri di sampingnya.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, mah ini Zaki. Aku udah pulang mah, bukain pintunya dong!" teriak Muzaki.


Tak lama kemudian, pintu terbuka.


Ceklek...


"Waalaikumsallam, eh Zak—" Muzaki syok begitu melihat sosok wanita yang muncul dari balik pintu dan menatap ke arahnya.


Begitu juga dengan wanita itu, ia tak mengira jika Muzaki datang bersama kekasihnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2