
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 199
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Latifah kembali keluar setelah berganti pakaian dan tampak siap untuk pergi kuliah, ia juga yakin kalau Digo sudah tidak ada disana karena tak mungkin pria itu tetap menyapu halaman rumahnya selagi ia berada di kamar.
Namun, semua dugaannya itu salah karena ternyata Digo masih ada disana dan tengah menyapu halaman depan rumahnya seorang diri seperti yang ia perintahkan tadi.
Sontak saja Latifah terkejut melihatnya, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan tak menyangka jika Digo setulus itu menyayangi dirinya hingga rela menyapu halaman sesuai perintahnya, walau sebenarnya Latifah hanya bergurau alias ia ingin mengusir Digo secara halus.
"Ya ampun! Kak Digo kok masih ada disana sih? Gue gak nyangka dia senekat itu!" ujar Latifah.
Akhirnya Latifah memutuskan untuk mendekati Digo dan berbicara pada pria itu, ia sungguh menyesal telah membuat Digo menyapu seperti itu karena seharusnya memang ia tak pantas berbuat begitu pada seorang lelaki, apalagi seniornya.
"Kak Digo!" ucap Latifah memanggil Digo.
Pria itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya, ia tersenyum saat melihat Latifah sudah kembali dengan tampilan yang berbeda.
"Latifah? Kamu cantik banget! Pantas aja daritadi aku kayak nyium bau wangi gitu, eh ternyata dari tubuh kamu! Aku paling suka deh lihat cewek cantik yang wangi kayak kamu!" puji Digo.
"Umm, makasih kak! By the way, kak Digo daritadi disini tuh nyapu?" tanya Latifah penasaran.
"Ya iya dong, aku kan mau buktiin ke kamu kalau aku ini tulus sayang sama kamu! Jadi, ya aku turutin perintah kamu!" jawab Digo tersenyum.
"Hah??" Latifah terkejut bukan main.
"Gausah kaget gitu! Udah biasa kok aku begini, kan di rumah aku juga sering bantu-bantu mama buat nyapu atau ngepel! Lagian kalau cuma bersihin satu halaman ini mah kecil buat aku, yang penting kamu tau betapa aku serius mencintai kamu Ifah!" ucap Digo menggombal.
"Eee gue minta maaf ya, kak! Gara-gara gue jadinya lu harus nyapu begini, mana sampe keringetan begitu! Pasti capek ya kak? Udah udah berhenti ya nyapunya, udah bersih semua kok! Mau gue ambilin minum atau apa gak?" ucap Latifah cemas.
Digo justru tersenyum senang melihat reaksi Latifah yang mencemaskan dirinya.
"Kamu gemesin banget sih kalo lagi cemas gitu! Tapi aku senang, karena kamu udah mulai perduli sama aku Ifah dan aku yakin sebentar lagi kamu juga bisa terima cinta aku!" ucap Digo.
"Maaf kak! Kalau soal itu kayaknya gak mungkin deh, sekarang kak Digo duduk dulu disana biar aku buatin minum ya?!" ucap Latifah.
"Eh gausah!" ucap Digo menahan Latifah.
"Kenapa kak? Kak Digo kan abis nyapu lama tuh sampe kinclong begini halaman rumah gue, masa iya gak gue kasih imbalan minimal minuman? Gak enak lah gue kak, apa kata orang-orang nanti?" ucap Latifah terheran-heran.
"Iya, biarin aja aku gak butuh minum kok! Aku cuma pengen buktiin ke kamu betapa tulusnya aku mencintai kamu, jadi aku gak perlu minum atau apa! Mending sekarang kamu ke kampus, bareng sama aku aja ya! Nanti telat loh, kalo sama aku kan aman gak mungkin telat!" ucap Digo tersenyum.
"Yaudah deh kak, kali ini gue mau diantar sama lu! Ya karena lu udah bersihin halaman rumah gue, tapi lain kali jangan harap ya kak! Karena gue gak mau dianggap kasih harapan buat lu!" ucap Latifah.
"It's okay, gapapa kok! Walau cuma sekali, itu sangat berarti buat aku!" ucap Digo.
Setelahnya, Latifah pun pergi ke kampus bersama Digo yang dengan senang hati mengantar gadis itu sesuai kemauannya.
β’
β’
Dor!
Revi baru saja melesakkan satu peluru ke arah target dan hampir tepat sempurna, hanya saja masih menyamping sedikit ke kanan sehingga ia mendapat nilai sembilan, namun tentu saja itu sudah cukup bagus bagi seorang seperti Revi yang baru belajar beberapa kali dalam menembak.
Charlie dan juga Regar menatap bahagia ke arah Revi karena gadis itu berhasil menembak dengan hampir sempurna, akan tetapi Revi sendiri justru merasa biasa-biasa saja walau ia berhasil melakukan tembakan tepat sasaran begitu, ya gadis itu memang kurang suka latihan bersama Charlie bukannya Muzaki.
"Wah selamat ya Revi! Kamu benar-benar luar biasa, padahal ini percobaan pertama kamu dan kamu bisa mengenai target disana! Saya kagum dengan kemampuan kamu, Revi!" puji Regar.
"Makasih coach! Sebelumnya saya emang udah pernah latihan begini kok, jadi gak terlalu susah buat saya beradaptasi!" ucap Revi tersenyum.
__ADS_1
"Oh begitu, ya bagus deh!" ucap Regar.
Lalu, Charlie pun mendekati Revi sambil tersenyum dan berbisik di telinganya.
"Kamu hebat Revi!" ucap Charlie memuji gadisnya.
"Makasih! Udah, giliran kamu sana yang tembak pelurunya! Kalau kamu berhasil dapat sepuluh, aku juga bisa salut sama kamu Charlie! Tunjukin ke aku kalo kamu bisa nembak dengan benar!" ucap Revi menantang Charlie.
"Siap, aku terima tantangan kamu! Aku bakal buktiin kalo aku bisa, dan aku lebih jago dari kamu Revi!" ucap Charlie tersenyum.
"Yaudah, sana gih ambil tuh senjata kamu dan tembak sesuai sasaran!" ucap Revi.
"Oke!" ucap Charlie singkat.
"Charlie, ayo sekarang giliran kamu! Ambil senjata kamu dan tembak seperti yang dilakukan Revi tadi, jangan mau kalah sama cewek ya Charlie!" ucap Regar mengingatkan Charlie.
"Gak mungkin saya kalah, coach! Saya gini-gini jago kalo urusan nembak!" ucap Charlie pede.
"Ya ya ya, kamu tunjukkan saja secepat mungkin! Buat saya dan Revi terkagum-kagum sama kemampuan kamu, Charlie!" ucap Regar.
"Baik coach!" ucap Charlie.
Charlie langsung bergerak mengambil senjata miliknya dan mengeker target di depan sana.
"Ayo gue harus bisa!" batin Charlie.
Charlie mulai menggunakan senjatanya dan menembak dengan penuh keseriusan, ia membidik sasaran dan mengarahkan peluru kesana.
Dor!
Sayang sekali peluru yang ditembakkan Charlie meleset dari target, dan hanya bisa mengenai nilai lima alias sangat jauh jika dibanding dengan tembakan Revi tadi. Tentu saja Charlie langsung menunduk dan garuk-garuk kepala saat ditertawakan oleh Regar serta Revi.
"Hahaha, mana yang katanya kamu bisa lebih baik dari Revi? Kok malah melenceng jauh gitu sih?" ledek Regar tertawa lepas.
"Eee itu barusan saya kurang fokus aja, coach! Kalau saya serius, pasti bisa dapat sepuluh tuh!" ucap Charlie ngeles.
"Halah alasan aja kamu! Buktikan dong kalo kamu bisa, jangan omongan doang!" ujar Regar.
"Iya tuh bener, kamu mah bisanya ngomong doang nih! Ayo tunjukin lah kalo kamu bisa lebih baik dari aku, mana katanya jago nembak? Kok cuma dapat lima sih cemen amat?!" ujar Revi.
"Yeh kamu jangan salah, Rev! Oke deh satu percobaan lagi untuk kali ini, aku yakin pasti aku bisa dapat sepuluh!" ucap Charlie.
Disaat Charlie hendak menembak kembali, tiba-tiba saja seseorang muncul dari belakang dan meneriakkan nama Revi, membuat seisi ruangan itu menoleh secara bersamaan ke asal suara.
"Revi!"
Ya teriakan itu berasal dari Muzaki, sang kekasih Revi yang memang sengaja datang kesana untuk memenuhi permintaan pacarnya. Ia sangat senang melihat gadisnya tampak tersenyum bahagia begitu melihatnya hadir disana.
Sontak Revi pun bergerak menghampiri Muzaki dengan senyum di wajahnya, lain halnya dengan Charlie yang langsung kecewa dan hampir saja membanting senjatanya jika ia tak ingat kalau itu adalah senjata yang mahal.
"Aaarrgghh sial! Ngapain sih tuh orang pake dateng segala?!" geramnya dalam hati.
β’
β’
Siang harinya, Radian memilih pulang ke rumah setelah menyelesaikan kuliahnya hari ini. Ia berjalan menuju tempat parkir kampus untuk mengambil motornya disana.
Namun, tiba-tiba saja ia dicegat oleh Laras yang nampaknya juga baru selesai kuliah dan hendak pulang sama seperti dirinya. Gadis itu berhenti tepat di hadapannya, menatap ke arah wajah Radian seakan-akan mengharapkan sesuatu.
"Kak Radian tunggu!" ucap Laras sedikit keras.
"Eh iya, kenapa Ras?" tanya Radian bingung.
"Kak Radian mau pulang kan?" ucap Laras.
"Iya, emangnya kenapa?" Radian semakin dibuat bingung dengan pertanyaan Laras barusan.
"Eee boleh gak aku numpang sama kak Radian? Eh bukan numpang sih, aku mau naik ojek kak Radian! Pasti nanti aku bayar kok, tapi gak pakai aplikasi soalnya handphone ku abis baterai!" jelas Laras.
"Ohh mau ngojek? Bilang dong daritadi! Eh tapi emang lu gak pulang bareng Zian? Nanti dia marah lagi sama gue, kapok ah gue!" ujar Radian.
"Enggak kak, aku naik ojek kak Radian aja! Lagian antara aku dan kak Zian itu gak ada apa-apa, kita cuma teman biasa! Dia gak berhak larang-larang aku buat pulang sama siapa, karena itu kan hak aku!" ucap Laras.
"Ya emang iya sih, tapi kan..."
"Kalau kak Radian gak mau anterin aku, gapapa kok gak masalah! Nanti biar aku cari taksi atau angkot aja di depan kampus, yaudah permisi ya kak!" potong Laras.
__ADS_1
"Eh tunggu!" ucap Radian menahan gadis itu dan mencekal lengannya dari samping.
"Kenapa kak? Kak Radian berubah pikiran?" tanya Laras menoleh kembali.
"Iya, biar gue aja yang anterin lu pulang! Lu gak perlu bayar, kan gimanapun juga lu ini gebetannya sahabat gue!" ucap Radian.
"Makasih ya kak!" ucap Laras singkat.
"Oke, yaudah yuk kita ke parkiran sekarang!" ucap Radian tersenyum.
Laras hanya mengangguk setuju, mereka pun melangkah menuju parkiran tanpa melepaskan genggaman di lengan Laras, ya sepertinya Radian lupa menyadari bahwa kini ia masih menggenggam lengan gadis itu, dan Laras sendiri juga diam saja menerima lengannya digenggam oleh Radian.
Sementara dari arah yang tak jauh, Zian menangkap pemandangan kurang mengenakkan itu. Ia mengira Radian sudah mengkhianatinya dengan mendekati Laras, karena memang terlihat bahwa Radian menggandeng tangan Laras saat melewati jalan tersebut.
"Kurang ajar emang tuh Radian! Dia udah punya istri, tapi masih aja mau embat gebetan orang! Emang dasar buaya pengkhianat! Awas aja, gue bakal balas lu Radian!" geram Zian.
Setelahnya, Zian pun memilih pergi dari tempat itu dengan perasaan emosi.
Namun, ia terkejut karena sosok wanita sudah berdiri di hadapannya menatap ke arahnya sambil tersenyum penuh arti.
"Kak Zian! Lagi ngapain?" ucap wanita itu.
"Latifah?" ujar Zian terkejut saat menyadari Latifah berdiri di hadapannya.
"Eee ini gue cuma lagi nyari teman-teman gue, kok gak ada ya bingung banget?" sambung Zian.
"Ohh, mungkin di kantin kali!" ucap Latifah.
"Ah iya ya, yaudah gue kesana deh. Thanks ya Fah!" ucap Zian tersenyum dan menepuk pundak Latifah singkat sebelum beranjak pergi dari sana.
"Iya," ucap Latifah singkat yang masih kebingungan dengan tingkah aneh Zian tadi.
"Kak Zian kenapa sih? Tapi, kalo dilihat-lihat dia ganteng banget deh! Gue jadi pengen jadian sama dia! Andai aja gue bisa jadi pasangan hidupnya, beuh bahagianya hidup gue!" batin Latifah.
β’
β’
Disisi lain, Muzaki mengantar Revi pulang ke rumah setelah mereka selesai latihan menembak bersama Charlie. Keduanya tampak sangat bahagia karena habis menikmati momen berdua, walaupun ada Charlie diantara mereka.
Revi turun dari motor Muzaki, ia melepas helm di kepalanya lalu memberikannya pada Muzaki. Gadis itu tampak tersenyum manis menghadap ke arah Muzaki, sedangkan pria itu sendiri juga langsung mengusap wajah dan membenarkan rambut Revi yang berantakan diterpa angin setelah mencopot helmnya tadi.
"Kamu itu cantik sekali, Rev! Saya jadi makin was-was dengan Charlie yang selalu saja dekati kamu, gimana kalau nanti dia berhasil memikat kamu sayang?" ucap Muzaki cemas.
"Kenapa kamu jadi mikir gitu sih? Ya gak mungkin lah aku bisa berpaling dari kamu!" ucap Revi.
"Iya sih, tapi kan...."
"Udah deh kak, jangan cemas begitu! Aku ini tetap setia sama kak Zaki kok, dan aku gak mungkin berpaling ke lain hati! Apalagi sama kak Charlie itu, aku sama sekali gak tertarik kok! Ya selama ini aku mau jalan sama dia, karena paksaan mama aja!" ucap Revi memotong ucapan kekasihnya.
"Hey, kamu bandel ya sekarang mulai potong-potong aku lagi mau ngomong!" ucap Muzaki sembari mencolek hidung gadisnya.
"Eee hehe maaf kak! Bukan maksudnya aku gak sopan atau gimana, tapi kan aku cuma mau jelasin aja ke kak Zaki kalau aku ini setia sama kak Zaki!" ucap Revi tersenyum malu.
"Iya iya, yaudah kamu masuk gih sayang!" ucap Muzaki tersenyum.
"Kak Zaki gak mau ikut masuk juga? Sekalian ketemu sama papa dan mama, mumpung kamu juga lagi ada disini kan!" usul Revi.
"Duh, enggak dulu deh. Aku masih ada urusan abis ini, kamu masuk ya cantik jangan kemana-mana lagi udah mau sore nih!" ucap Muzaki mengusap puncak kepala gadisnya.
"Siap kak!" ucap Revi mengangguk.
Tiiinnnn...
Tiba-tiba saja ada suara klakson mobil yang muncul di dekat mereka saat Revi hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Papa?" ucap Revi saat mengetahui mobil yang datang adalah milik papanya.
"Itu mobil papa kamu?" tanya Muzaki.
"Iya kak, tolong minggir dulu ya! Supaya mobil papa bisa masuk ke dalam, tapi jangan langsung pulang ketemu dulu sama papa ya!" ucap Revi.
"Oh yaudah," ucap Muzaki singkat.
Muzaki pun memindahkan motornya agar mobil Marcel bisa masuk, namun rupanya Marcel justru keluar menemui keduanya dan tersenyum mengarah pada sepasang kekasih itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...