
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 211
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Radian datang menjemput Oni di rumah sakit sesudah menyelesaikan kuliahnya, ia memarkir motor di tempat parkir kemudian turun dari motor dan melepas helmnya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Namun, belum sempat ia masuk lebih jauh Oni ternyata sudah muncul bersama mamanya. Radian pun tersenyum menatap istrinya dan coba untuk menanyakan bagaimana kondisi kandungan Oni yang baru selesai diperiksa.
"Hai sayang! Gimana kandungan kamu, baik-baik aja kan?" ucap Radian bertanya penasaran.
"Eh kamu mas, udah selesai kuliahnya?" ujar Oni yang justru balik bertanya pada suaminya.
"Aku kan nanya duluan sayang, harusnya kamu jawab pertanyaan aku dong bukannya malah balik nanya!" ujar Radian agak ngos-ngosan.
"Iya mas iya, maaf! Anak kita baik-baik aja kok, malah kata dokter kondisinya sehat!" ucap Oni.
"Ya syukurlah! Daritadi aku was-was mikirin kamu terus, sampai gak fokus pas di kelas. Tapi untung aja kamu gak kenapa-napa, soalnya aku takut aja sayang terjadi sesuatu sama kandungan kamu dan semua itu gara-gara ulah aku yang maksa kamu terus-terusan!" ucap Radian.
"Enggak mas, udah gausah cemas!" ucap Oni.
"Iya, aku sekarang lega kok. Eh ya, maaf mah aku tadi lupa cium tangan mama gara-gara cemas sama kondisi Oni!" ucap Radian beralih menatap mertuanya dan mencium tangan Rihana.
"Gapapa Radian, wajar aja kamu cemas gitu kan kamu suaminya Oni. Yaudah, sekarang kita pulang aja yuk mumpung udah gak panas!" ucap Rihana.
"Iya mah, kamu pulangnya sama mama aja ya Oni sayang! Soalnya aku kan bawa motor, gak mungkin kamu bareng aku, nanti malah kamu kepanasan terus jatuh sakit!" ucap Radian tersenyum.
"Iya mas, tapi kamu mau ikut pulang gak lanjut ngojek aja?" tanya Oni.
"Eee sebenarnya sih aku mau pulang terus nemenin kamu di rumah, ya tapi kalau kamu maunya aku ngojek juga gapapa kok. Biar abis ini aku langsung berangkat ngojek aja, supaya bisa dapat uang!" jawab Radian.
"Eh jangan mas! Udah kamu pulang aja istirahat di rumah, besok lagi aja kamu kerjanya ya! Temenin aku aja dulu di rumah, oke?" pinta Oni.
"Yakin? Emangnya kamu gak mau dikasih uang buat beli skincare? Bukannya kamu selalu gak bisa kalau gak pake skincare walau cuma satu hari aja?" goda Radian tersenyum mengejek.
"Ish kamu mas, udah gapapa kok kamu pulang aja sama aku dan mama!" ucap Oni.
"Iya Radian, kamu kan baru selesai kuliah jadi lebih baik kamu pulang dulu aja ke rumah dan istirahat sekalian temani istri kamu ini!" ucap Rihana.
"Tuh kan mas, mama aja setuju!" ucap Oni.
"Iya iya, aku ikut pulang kok. Lagipun, aku juga pengen belai kamu sayang!" ujar Radian menggoda Oni dengan cara merengkuh pinggang istrinya itu dan berbisik di telinganya.
"Mas ih jangan nakal deh!" tegur Oni mengingatkan suaminya untuk berhenti.
Radian justru terkekeh dan mencium kening sang istri dengan lembut, sedangkan Rihana yang menyaksikan itu pun ikut tersenyum saja melihat kemesraan antara putrinya serta menantunya yang tentu membuatnya senang.
"Yaudah, yuk sekarang kita keluar dan pulang supaya kita bisa lanjut mesra-mesraan di rumah biar kamu gak malu-malu!" ucap Radian.
"Nah benar tuh kata suami kamu, kalah di rumah kan kalian bisa bebas tuh mau ngapain aja!" ujar Rihana tersenyum.
"Apaan sih mas? Kalo kamu begitu terus, aku ngambek nih sama kamu!" ujar Oni mengancam.
"Hahaha, kok ngambek sih? Itu mama kamu aja dukung kok rencana aku!" goda Radian.
__ADS_1
"Masss...!!" rengek Oni mulai kesal.
Akhirnya mereka bertiga berjalan keluar dari rumah sakit itu bersamaan sambil saling tertawa dan membuat orang-orang di sekitar mereka merasa iri dengan keharmonisan keluarga mereka.
β’
β’
Sementara itu, Revi sampai di rumahnya bersama Muzaki yang mengantarnya. Ia turun dari motor sang kekasih dan bertatapan sejenak disana, Muzaki membantu melepaskan helm dari kepala Revi lalu merapihkan rambut kekasihnya itu.
Gadis itu tersenyum manis menatap wajah pria di hadapannya yang pun juga ikut menatapnya, mereka saling terdiam sejenak sampai Muzaki ikut turun dari motornya dan mendekati Revi hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja.
"Kamu itu cantik banget sih, enak buat dipandang kayak gini! Apalagi pas rambut kamu berantakan, makin tambah waw deh!" puji Muzaki.
"Ahaha, jangan terlalu muji aku kayak gitu kak! Nanti yang ada aku malah baper tau!" ucap Revi.
"Gapapa sayang, semua yang aku bilang itu kan benar dan sesuai fakta. Kamu ini termasuk ke dalam salah satu wanita tercantik yang pernah aku temui selama ini, aku beruntung banget bisa ketemu sama kamu Revi! Mau gak nanti malam kamu dinner sama mama aku dan aku?" ucap Muzaki mengelus rambut gadisnya.
"Dinner? Boleh tuh kak, kebetulan aku juga pengen kenal sama mamanya kak Zaki. Kan selama kita pacaran, aku belum pernah ketemu sama mama kak Zaki!" ucap Revi tersenyum.
"Nah itu dia sayang, sekalian aku pengen kenalin kamu ke mama. Siapa tahu kalian bisa cocok kan, terus hubungan kita bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius nantinya. Yaudah kalo kamu setuju, biar nanti aku jemput kamu!" ucap Muzaki.
"Oke kak! Eee tapi sekarang kak Zaki mau masuk ke dalam dulu gak ketemu mama aku sebelum kamu pulang?" ucap Revi.
"Umm, kayaknya jangan sekarang deh! Nanti malam aja sekalian aku jemput kamu, jadi aku minta izin juga sama mama dan papa kamu buat bawa kamu pergi makan malam!" ujar Muzaki.
"Ya terserah kamu aja deh, jadi sekarang kamu mau langsung pulang nih?" ucap Revi.
"Iya, sampai ketemu nanti malam ya!" ujar Muzaki.
"Oke kak!" Revi mengangguk sambil tersenyum.
Lalu, Muzaki pun bersiap untuk pergi dari sana dan kembali ke rumahnya. Revi tetap berdiri disana menunggu Muzaki pergi menjauh.
"Hati-hati ya kak!" ucap Revi.
"Pasti dong!" ucap Muzaki sembari memakai helmnya. "Yaudah ya sayang, aku pergi dulu? Assalamu'alaikum!" sambungnya pamit pada Revi sembari melambaikan tangan.
Setelahnya, Muzaki pun menyalakan mesin motornya lalu menancap gas dan pergi dari sana meninggalkan gadisnya.
Sementara Revi terus memandangi motor Muzaki yang perlahan menghilang itu sambil tersenyum, barulah ia berbalik dan masuk ke dalam rumah sesudah motor kekasihnya itu tak terlihat lagi di matanya.
Akan tetapi, Revi justru berpapasan dengan Juliana yang sepertinya hendak pergi keluar. Revi sedikit lega karena Juliana muncul saat Muzaki sudah pergi dari sana.
"Mama? Mama mau kemana?" tanya Revi kaget.
"Ini mama ada janji sama teman-teman mama, kamu baru pulang sayang?" ucap Juliana.
"Iya nih mah," ucap Revi mengangguk.
"Yaudah, kamu masuk gih terus makan! Mama pergi dulu ya cantik?" ucap Juliana memegang wajah putrinya sambil tersenyum.
"Oke mah!" ucap Revi tersenyum.
Setelahnya, terlihat Juliana masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada sang supir dan segera saja mereka pergi dari sana dengan cepat, sedangkan Revi memutuskan untuk kembali ke rumahnya membersikan tubuh sekaligus berganti pakaian karena dirinya sudah berkeringat.
β’
β’
Malam harinya, Muzaki sudah bersiap-siap untuk melakukan dinner bersama sang kekasih dan juga mamanya di malam hari yang cerah ini, ia pun telah meminta pada sang mama agar mau ikut bersamanya dan berkenalan dengan Revi disana.
Walau sempat menolak, akhirnya Stevi setuju untuk pergi makan malam dengan putranya itu. Biar bagaimanapun, Stevi juga penasaran seperti apa rupa Revi kekasih dari Muzaki yang sangat diidam-idamkan oleh putranya tersebut.
"Mah, aku jemput Revi dulu ya? Nanti baru kita sama-sama pergi ke restoran!" ucap Muzaki.
"Jangan gitu Zaki, jadinya kelamaan dan kamu juga bakal capek bolak-balik! Mending kita langsung ke rumah pacar kamu itu pakai taksi, supaya sekali jalan!" ucap Stevi memberi usul.
"Eee tapi masalahnya aku harus minta izin dulu sama orang tua Revi, kalau gak gitu aku takut nanti Revi gak dibolehin pergi mah!" ucap Muzaki.
__ADS_1
"Ya ampun ribet banget sih!" ujar Stevi.
"Maklumlah mah, Revi itu kan anak satu-satunya jadi dia dimanja sama orangtuanya. Udah gitu dia juga perempuan dan mama sama papanya tuh gak mau terjadi sesuatu sama dia, makanya mereka pengen jagain Revi supaya gak kenapa-napa!" ucap Muzaki membujuk mamanya.
"Haish, kalau kamu balikan sama Suci pasti gak seribet ini sayang!" ujar Stevi.
"Mah, udah lah mah jangan bahas Suci terus! Aku ini sekarang udah punya pacar, dan dia namanya Revi bukan Suci. Harusnya mama stop bahas Suci apalagi minta aku balikan sama dia!" ucap Muzaki.
"Kenapa? Mama ini pengennya kamu kembali sama nak Suci, karena mama rasa kalian berdua itu sudah cocok sekali loh!" ucap Stevi.
"Mama mending jangan berharap kayak gitu lagi! Karena aku sama Suci gak akan pernah balikan sampai kapanpun, aku ini cuma cinta sama Revi sekarang bukan Suci lagi! Yaudah ya mah, aku mau ke rumah Revi dulu!" ucap Muzaki agak kesal.
"Terserah kamu lah! Pokoknya kalau nanti kamu terluka karena si Revi itu, mama gak mau bantuin kamu! Abisnya kamu dikasih saran sama mama, malah gak mau nurut kayak gitu!" ujar Stevi.
"Mah, maaf ya aku gak bisa turutin kemauan mama!" ucap Muzaki pelan.
Stevi hanya diam memalingkan wajahnya, membuat Muzaki merasa bersalah namun tak tahu harus melakukan apa saat ini.
"Zaki pergi ya, mah? Assalamualaikum...."
"Waalaikumsallam."
Sikap cuek dan dingin dari sang mama membuat Muzaki makin kebingungan, dirinya tak yakin kalau hubungannya dengan Revi akan berjalan mulus seperti jalan tol, namun ia bertekad untuk tidak menyerah dan meneruskan perjuangannya.
"Mama emang sekarang gak suka sama Revi, tapi begitu mama ketemu Revi pasti mama bisa terima Revi karena gadis itu memiliki aura positif yang dapat membuat mama suka!" batin Muzaki.
Setelahnya, Muzaki pun berbalik lalu pergi menaiki motornya untuk menjemput Revi di rumahnya.
Sementara Stevi tetap berada disana, ia tak beranjak sedikitpun dari tempat itu walau Muzaki sudah tak terlihat lagi.
"Pokoknya kamu harus menikah dengan nak Suci, mama gak mau kamu sama yang lain Muzaki!" gumam Stevi dalam hati.
Barulah wanita itu memasuki rumahnya dengan perasaan jengkel, biarpun begitu Stevi tetap tidak tega jika menolak ajakan Muzaki untuk makan malam bersama Revi dan dia akan melakukan itu hanya demi menyenangkan putranya.
β’
β’
Sama halnya dengan Muzaki serta Revi yang ingin menikmati malam ini di luar, kini Zian dan juga Laras pun tengah berada di sebuah mall besar untuk menghabiskan malam berdua karena Zian ingin membahagiakan calon pacarnya itu agar Laras bisa menerima dirinya.
Ya wanita itu tentu saja terpaksa ikut dengan Zian saat ini, karena desakan dari mamanya. Sejujurnya Laras sangat malas pergi bersama Zian, bahkan ia terus memanyunkan bibirnya sepanjang jalan walau Zian sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tersenyum tetapi selalu gagal.
"Sayang, kamu itu maunya apa sih? Daritadi kok cemberut terus sih?" tanya Zian kesal.
"Aku mau kita pulang sekarang, aku bete banget tau jalan berdua sama kamu! Andai aja yang ada di samping aku sekarang ini pak Zaenal, pasti aku bakalan senang banget!" ujar Laras.
"Kamu katanya gak berharap sama pak Zaenal, tapi kok sekarang masih suka bahas dia terus sih?" ujar Zian tampak jengkel dengan gadisnya itu.
"Ya emang aku gak berharap, tapi kan gak ada salahnya kalau aku masih mikirin dia. Emang kamu kenapa sih, gak suka ya?" ucap Laras.
"Jelas lah aku gak suka! Kamu kan tahu sendiri, aku ini cinta sama kamu sayang! Kalau kamu bahas orang lain terus tiap kali jalan sama aku, gimana aku gak kesel?! Kamu harus belajar hargai perasaan orang, supaya kamu juga bisa dihargai nantinya cantik! Sekarang gini aja deh, kalo kamu mau pulang yaudah ayo aku antar!" tegas Zian.
"Kamu kok marah-marah gitu sih, kak? Aku kan cuma bercanda doang, santai aja kali!" ujar Laras.
"Bercanda? Maksud kamu?" tanya Zian heran.
"Iya, aku gak benar-benar mikirin pak Zaenal kok. Udah ya jangan marah gitu, nanti aku juga yang repot bujuknya! Aku gak jadi mau pulang kok, kita tetap disini aja ya kak Zian!" bujuk Laras.
"Huft, kamu itu selalu bikin aku bingung sayang! Kadang kamu bertingkah manis kayak gini, tapi terkadang juga kamu bisa berubah ngeselin dalam waktu singkat. Seandainya kamu kayak gini terus, pasti aku senang banget sayang!" ucap Zian.
"Yaudah, bicaranya sambil main aja yuk! Kita ke tempat bermain di lantai atas, supaya gak bosen cuma jalan-jalan doang!" ucap Laras.
"Boleh! Nah gitu dong sayang, kalau kamu senyum gini kan aku jadi makin cinta!" ujar Zian.
"Ahaha bisa aja..." Laras tertawa lepas, membuat Zian merasa gemas dan mencubit pipinya.
Disaat mereka melangkah menaiki eskalator, tanpa sengaja Laras justru melihat sosok pria yang mirip dengan Zaenal, dosen tampan di kampusnya itu.
"I-itu kan pak Zaenal..." gumamnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...