Angkasa

Angkasa
48. AngkaSashi?


__ADS_3

"Lo nyembunyiin apa?"


Angkasa menghadang Raya yang berniat ingin menuruni tangga. Raya mengernyit menatap Angkasa yang baru saja selesai mandi terlihat dari titik air yang masih tersisa di rambut serta wajahnya.


"Apaan sih? Sok tau," balas Raya santai sambil menuruni sisa tangga lainnya membuat Angkasa jadi maju dan membuat Raya hampir terjengkal karena jarak mereka yang sangat dekat.


Angkasa menatap Raya tajam. "Gue habis cek cctv depan," ucap Angkasa menantang. "Dan gue liat lo lagi ngobrol sama Langit sama Sashi," sambungnya membuat Raya mendesah pelan.


"Terus?" tanya Raya tak peduli.


"Lo ada apa sama mereka?"


Raya berdecak sebal mendorong Angkasa menjauh membuka jalan untuknya turun. "Sok peduli lo. Udah deh lagian cuma ngobrol biasa."


Angkasa mengerjap. Kalau mengobrol biasa kenapa Raya harus kesal?


Ck, dia PMS kali ya?


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Wei wei wei, Raya ***** lah pulgoso pokoknya."


Raya mengernyit. Melihat Ryan heboh sendiri video call dengan Raya malam-malam begini. Dan yang buat Raya jadi heran adalah Ryan ada di pinggir jalan.


"Lo kenapa sih?" tanya Raya yang sudah biasa melihat Ryan seperti ini.


"Gue serius *****! Itu Angkasa! Pulgoso!" teriak Ryan menunjuk-nunjuk ke arah kanan membuat Raya jadi mengernyit.


"Apa sih ah pulgoso-pulgoso. Kenapa Angkasa kenapa?" tanya Raya mencoba sabar.


Ryan menghela napas sambil mengelus dadanya lalu segera membelokkan kamera ke arah dua orang yang sedang duduk di kursi taman berdua, gelap-gelapan.


Punggung tegap itu tak asing. Itu Angkasa. Bersama seorang gadis yang juga tak asing di pandangannya.


Sashi?


"Mereka keluar dari club *****! Apakah ini!" ucap Ryan heboh kembali menarik kameranya kedepan wajahnya.


Raya megalihkan pandangannya. Ia merasakan sesak di dadanya.


"Woah ***** facenya deket banget gila sih!" suara heboh Ryan kembali terdengar membuat Raya jadi menatap layar hape memperlihatkan Angkas yang berjongkok didepan Sashi dan memperbaiki rambut Sashi serta memegang tangan Sashi seperti pacarnya saja.

__ADS_1


"Udah, Yan. Nggak usah kompor lo," ucap Raya lesu dibarengi dengan putusnya video call.


Raya menghela napas perlahan lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia memandang langit-langit kamar kosong.


Langit-langit.


Langit.


Ah, kenapa jadi keinget sama kembarannya Angkasa sih.


Ding... dong...


Raya mendecak sebal. Sudah sendirian di rumah. Angkas yang pamitnya pergi mau ngegame di warnet malah berduaan sama mantannya. Dan si Ryan malah memperburuk suasana aja.


Awas kalo tuh anak ada didepan pintu.


"Udah gue bilang, Yan, lo nggak usah jadiβ€”eh, Kak Langit," ucapan tak peduli Raya jadi langsung tiba-tiba berubah intonasi jadi lebih kalem melihat pemuda tampan dengan wajah mirip Angkasa itu tersenyum padanya.


Apalagi ditimpa caaya bulan purnama. Ugh, meleleh dedek.


Ish, apasih. Raya nggak boleh tergoda dong.


"Sashinya ada?" tanya Langit cepat membuat Raya jadi membulatkan mata.


"Lah, dia bilang mau main ke rumah," ucap Langit bingung.


"Ehm, kak," panggil Raya takut-takut.


Langit mengernyit dan menatap Raya membuat Raya jadi menggigit bibirnya.


"Kakak mau anteri aku ke Berlin Club nggak? Tadi aku lihat Angkasa sama Sashi ada disana," ucap Raya membuat Langit membulatkan mata dan langsung bergegas.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Kamu pakai gituan doang nggak papa?" tanya Langit menatap Raya dari atas sampai bawah.


Hanya menggunakan baju kebesaran tipis berwarna putih, shortpants jeans dan sandal jepit berwarna merah tanpa make up.


Raya meringis tapi kemudian menggeleng. "Nggak kok, Kak."


Setelah beberapa menit akhirnya mobil Langit sampai di depan Berlin Club. Keduanya keluar. Raya yang sudah tahu dimana mereka berdua segera berlari ke arah taman yang hanya diterangi lampu kecil di sekitar jalan setapaknya.

__ADS_1


Langit yang mengikuti langsung membulatkan mata melihat keduanya sambil menatap dengan tangan Angkasa memegang kedua pipi Sashi yang terlihat lemas.


"Lo apain Sashi?!" pekik Langit langsung mendekati keduanya membuat Angkasa menoleh sedsngkan Sashi masih terkulai lemas.


Langit langsung duduk disebelah Sashi mendorong keras Angkasa dan memeluk Sashi erat.


"Lo apain dia?!" tuduh Langit membuat Angkasa gelagapan.


"G-gue nggak ada maksud ngelukain Sashi," ucap Angkaaa gelagapan langsung dituduh yang tidak-tidak.


"Lo bilang mau ke warnet tapi malah clubbing disini!?" tuduh Raya langsung membuat Angkasa jadi panik dapet double kill kaya gini.


Sashi terlihat tertawa dan menunjukkan sinbol hati ke arah Angkasa. "Angkasa saranghae...," ucap Sashi lirih tapi masih terdengar membuat Angkas jadi seeeti maling ayam yang ketangkep warga dan lagi dihakimi massal.


"Apaan maksudnya coba!" pekik Ray tak terima mendorong Angkasa.


Langit menatap tajam Angkasa membuat Angkas jadi bingung sendiri gimana jelasinnya.


"Jadi gini lho... dengerin dulu," ucap Angkas menenangkan keduanya.


"Gue tadinya mau balik. Tapi gue lihat mobil hitam dari dalem keluar Sashi sama dua orang badannya kekar-kekar. Gue coba deketin dong. Sashi dibawa ke tempat duduk ini. Dari dalem mobil badannya udah acak-acakan lemes gitu kaya abis di apa-apainβ€”"


"Maksud lo apa!?" sentak Langit tak terima.


"Tenang, Kak, ceritanya belum habis," ucap Angkasa mengibaskan tangannya ke arah Langit.


"Trus dateng teman satunya lagi keluar dari Berlin. Dia trus nyerahin satu botol yang kayanya itu minuman gitu ke arah cowok yang gundul, cowok yang rambutnya tipis megangin Sashi biar duduk tegak. Gue nggak berani deketin dong, mereka sendiri gue bertiga.


"Tapi gue kasihan liat Sashi kaya udah nggak bertenaga gitu. Habis itu si cowok gundulnya itu ngedongakin wajahnya Sashi, bukan mulut Sashi paksa dan nuangi semua isi botol ke mulut Sashi. Setelah ngelihat Sashi kaya udah nggak sadar dan mulai ngelantur akhirnya mereka pergi. Nah setelah mereka pergi itulah gue dateng. Baju Sashi udah kebuka resleting belakangnya, untuk dia pakai daleman kaos trus rambutnya usah nggak teratur. Gue cobalah temenin dia sampe dia sadar. Tapi ternyata kalian udah ada disini," jelas Angkasa panjang lebar membuat Langit menggeram.


"Kok lo nggak nolongin si ****! Dia lemes banget ini kasihan," umpat Langit menunjuk-nunjuk Angkasa.


"Ya maaf, Kak...."


Raya mendecak kesal berbalik tak ingin menatap Angkasa.


"Ray... lo marah?"


Raya mendengkus. "Lo pikir aja sendiri," ucap Raya tak acuh segera pergi.


"Kak Langit tahu dari mana kalo kita ada disini?" tanya Angkasa menatap Langit yang masih memeluk Sashi.

__ADS_1


"Raya yang ngasih tau. Katanya dari Ryan. Kalo nggak dari Ryan mungkin kita nggak bakal cari kamu kesini," ucap Langit datar masih merasa kesal pada adiknya itu.


Haduh, Angkasa kok jadi serba salah ya?


__ADS_2