
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...
...×××...
#ANGKASA EPS. 200
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Marcel turun dari mobilnya begitu melihat Revi tengah bersama Muzaki di depan gerbang rumahnya, ia pun berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum manis merasa senang karena gadisnya tampak bahagia saat bersama Muzaki.
Sementara Muzaki dan Revi, keduanya bingung mengapa Marcel sampai harus senyum-senyum begitu ketika melangkah ke dekat mereka. Namun, Revi coba menenangkan dirinya dan juga Muzaki karena ia yakin papanya pasti tidak mungkin berkata yang tidak-tidak pada mereka.
"Revi, Muzaki! Kalian berdua pada abis darimana nih? Kayaknya senang banget pasangan muda ini, sampai mukanya ceria begitu!" ujar Marcel.
"Eee pah, ini kita abis latihan nembak tadi bareng kak Charlie juga! Emang seru banget pah, tadi kak Zaki juga jago banget loh nembaknya! Malahan dia bisa ngalahin aku disana, dapat skor sepuluh lagi!" jawab Revi tersenyum renyah.
"Wah keren juga nih calon mantu om! Pantas Revi terpikat sama kamu, orang kamu jago nembak! Hahaha..." ujar Marcel disertai tawa keras dan tangan menyentuh pundak Muzaki.
"Ah om bisa aja, saya jadi malu!" ucap Muzaki.
"Ngapain malu? Justru seharusnya kamu bangga, dengan kemampuan kamu itu bisa aja loh kamu jadi atlet menembak!" ujar Marcel.
"Iya tuh kak, kenapa gak coba daftar jadi atlet biar keren?" sahut Revi.
"Waduh, kalau soal itu berat sih om, Rev! Saya masih kalah jauh sama atlet-atlet di luar sana, lagian tadi cuma kebetulan aja tembakan saya tepat sasaran gak meleset! Mungkin itu karena ditonton sama Revi, saya juga gak mau kalah dari pacar saya yang jago ini!" ucap Muzaki.
"Hahaha ternyata selain jago nembak, kamu juga jago bikin Revi salah tingkah ya Zaki? Tuh buktinya wajah Revi langsung jadi merah kayak gitu, emang luar biasa kamu Zaki!" ujar Marcel tertawa.
"Papa ih jangan gitu ah!" Revi tersipu malu.
Melihat putrinya malu-malu seperti itu, justru membuat Marcel makin ingin menggodanya. Tentu saja Revi pun hanya bisa menunduk tak berani menatap wajah kekasihnya saat ini, memang momen seperti ini yang sangat ingin dihindari oleh Revi yakni saat papanya mulai resek dan suka menggodanya di hadapan Muzaki.
Sementara dari arah lain, Juliana menatap tak suka ke arah gerbang begitu mengetahui suaminya tengah bercanda ria bersama Muzaki dan Revi. Ia pun bergerak menghampiri mereka bertiga dengan perasaan emosi dan ingin marah-marah.
"Oh bagus ya, papa sekarang emang udah sekongkol sama mereka!" tegur Juliana.
Ketiganya pun kompak menoleh ke arah yang sama, Revi panik saat melihat mamanya disana begitu juga dengan Muzaki. Namun, lain hal dengan Marcel yang tetap bersikap santai.
"Maksud mama apa?" tanya Marcel tak mengerti.
"Pake pura-pura lagi papa ini! Jelas-jelas udah ketahuan sama mama sekarang, papa gausah ngeles lagi deh!" ujar Juliana.
"Mama ini kenapa sih? Datang-datang kok langsung bilang gitu? Harusnya mama sambut nih calon menantu kita yang datang, jangan malah bicara yang enggak-enggak!" ucap Marcel.
"Hah? Apa tadi papa bilang? Calon mantu? Jangan harap ya mama mau punya menantu seperti dia, ogah banget!" ujar Juliana.
"Mah, cukup ya! Mama ini—"
"Papa mama udah, jangan berantem! Gak enak sama kak Zaki kalau papa mama berantem disini, mending kita bicara di dalam aja! Kak Zaki, maaf ya tapi kayaknya kak Zaki boleh pulang sekarang deh!" ucap Revi menengahi papa mamanya.
"Iya Rev, aku pergi ya? Om, tante, saya pamit dulu! Assalamualaikum semua!" ucap Muzaki.
__ADS_1
"Waalaikumsallam," jawab mereka serempak.
Setelah Muzaki pergi dengan motornya, kini Revi mengajak mama serta papanya masuk ke dalam dan berbicara serius mengenai hubungannya.
•
•
Juliana, Marcel serta Revi duduk bertiga di sofa ruang tengah untuk berbicara membahas apa yang baru saja terjadi di depan tadi, tampak Juliana masih menatap geram ke arah putrinya itu.
Marcel dan Revi pun hanya terdiam menunggu Juliana memulai obrolan, mereka tak mau mengambil resiko khawatir kalau salah kata dan malah membuat Juliana makin emosi.
"Revi, sebenarnya gimana bisa kamu pulang bareng sama Muzaki? Bukannya tadi kamu pergi sama nak Charlie? Kemana nak Charlie? Kok bukan dia yang antar kamu pulang ke rumah?" tanya Juliana terheran-heran.
"Eee iya mah, jadi tadi tuh aku yang minta kak Zaki buat datang ke lokasi latihan tembak. Soalnya aku gak mau kalau cuma berduaan sama kak Charlie disana, lagian aku kan udah punya pacar gak enak dong kalo aku malah berduaan dengan lelaki lain disaat aku udah punya pacar! Nah makanya aku minta izin ke kak Charlie buat ajak kak Zaki, untung aja kak Charlie mau kasih izin!" jawab Revi.
"Hah? Ya ampun sayang, kamu ngapain sih malah kayak gitu segala? Nak Charlie itu pengen latihan berdua sama kamu, kenapa kamu pake ajak Zaki sih? Nak Charlie mungkin emang kasih izin, tapi itu pasti karena dia terpaksa dan gak mau lihat kamu sedih! Harusnya kamu paham dong Rev, kasihan nak Charlie kamu gituin!" ujar Juliana kesal.
"Mah, aku kan udah bilang tadi kalau aku gak mau berduaan sama lelaki lain disaat aku udah punya pacar! Apa salah?" ucap Revi tegas.
"Ya jelas salah dong! Biar gimanapun kamu harus hormati nak Charlie, kan dia yang ajak kamu jalan! Dengan kamu telpon Muzaki kayak gitu, itu sama aja kamu nyakitin hati nak Charlie dan mama gak suka itu sayang!" ujar Juliana.
"Apa alasan mama gak suka? Aku lihat juga kak Charlie biasa aja kok!" ucap Revi membela diri.
"Sayang, ya jelaslah nak Charlie begitu! Dia cuma pura-pura tahu, masa kamu gak paham? Pokoknya mama gak mau tau, lain kali pas kamu jalan sama nak Charlie lagi kamu gak boleh kayak gitu!" ucap Juliana mengingatkan putrinya.
Marcel yang sedari tadi diam, akhirnya memilih angkat bicara karena merasa istrinya sudah berlebihan pada Revi hanya karena membela Charlie yang bukan siapa-siapanya.
"Mah, menurut papa apa yang dilakukan Revi itu benar kok! Dia cuma mau jaga perasaan Muzaki, pacarnya. Lagian dia sama Charlie itu kan gak ada apa-apa, jadi gak seharusnya mama begitu ke Revi hanya karena Revi melakukan apa yang memang harus dia lakukan!" ucap Marcel tegas.
"Papa apaan sih? Gausah ikut campur deh kalo gak tahu permasalahannya dimana! Mama begini juga demi kebaikan Revi!" ucap Juliana.
"Kebaikan apanya kalau maksa begitu? Papa juga gak lihat Revi bahagia sama Charlie, dia cuma bahagia dengan Muzaki kekasihnya! Dan menurut papa lagi, memang lebih cocok waktu Revi berdua sama Muzaki daripada Charlie yang gak jelas itu! Mama udah deh cukup, jangan pernah paksa Revi lagi buat jalan sama Charlie atau siapapun! Terima aja kalau anak kita sudah punya pacar, itu juga baik kok buat Revi!" ucap Marcel.
Juliana beranjak dari sofa, lalu pergi dengan perasaan kesal karena merasa Marcel dan Revi juga tidak mau mendengarkan ucapannya. Padahal menurutnya, Charlie lebih baik daripada Muzaki.
"Pah, gimana ya cara ngomong sama mama kalau aku ini gak mau terus dipaksa kayak gitu? Baru begini aja mama udah marah, apalagi kalo aku nentang kemauan mama! Bisa-bisa mama malah semakin gak mau bicara sama aku!" ucap Revi.
"Sabar sayang! Yang kamu lakukan tadi sudah benar, emang mama kamu itu aja yang belum sadar juga!" ucap Marcel tersenyum.
Marcel pun merangkul dan memeluk Revi untuk menenangkan putrinya itu, Revi tersenyum merasa lebih tenang saat dipeluk oleh sang papa walau suasana hatinya tetap masih tegang.
•
•
Keesokan harinya, Radian amat syok melihat nama Revi yang muncul di aplikasi dan memesan ojek online. Ya pria itu sama sekali tak menyangka kalau di pagi hari ini sudah akan terkena masalah besar yang menyangkut hatinya, harus mengantar Revi ke kampus adalah sebuah tindakan yang amat sangat menguji hatinya.
Oni sang istri menatap heran ke arah suaminya, ia tak mengerti mengapa Radian terus berdiri sambil memandang layar ponselnya dengan tatapan terkejut, akhirnya wanita itu menghampiri Radian dan menyelipkan wajahnya di sela-sela lengan sang suami bermaksud menghibur Radian serta bertanya padanya.
"Mas, kamu lagi kenapa sih? Kok kelihatan bingung gitu?" tanya Oni dengan nada manja.
"Eh sayang, kamu ngagetin aku aja sih! Ini loh sayang, aku dapat orderan dari Revi. Aku heran aja pagi-pagi begini dia rajin banget mau ke kampus, terus kenapa dia gak minta antar sama pacarnya aja ya?" ucap Radian menjelaskan.
"Ohh ya gapapa dong mas, anggap aja itu rezeki buat kamu! Kan lumayan uangnya buat kebutuhan kita sehari-hari!" ucap Oni tersenyum.
"Iya juga sih, kamu benar!" ucap Radian.
"Yaudah mas, mending langsung aja kamu jemput tuh Revi dan anterin dia sampai tujuan! Abis itu baru kamu balik kesini, kan kamu belum sarapan!" ucap Oni seraya mendongak ke arah wajah Radian.
Cupp!
Hal itu dijadikan kesempatan oleh Radian untuk mengecup kening istrinya, Oni pun terkejut dan mengusap-usap bekas kecupan dari sang suami di dahinya. Namun, tentu saja Oni senang mendapat kecupan lembut secara tiba-tiba dari Radian saat sebenarnya ia sedang bermanja-manja pada suaminya.
__ADS_1
"Kamu wangi banget sih! Aku jadi ragu buat ninggalin kamu sekarang!" ucap Radian.
Radian pun mengendus-endus di jenjang leher Oni serta wajah istrinya itu, membuat tubuh Oni seakan menggelinjang mendapat endusan nikmat dari sang suami.
"Eemmhh mas, nakal ih kamu! Udah sana jemput Revi, kan uangnya lumayan buat beli kebutuhan sehari-hari kita!" ucap Oni coba menjauhkan wajah Radian dari tubuhnya.
"Aduh sayang! Rasanya aku susah banget buat ninggalin kamu sekarang, soalnya kamu itu cantik sekali pagi ini!" ucap Radian tersenyum.
"Oh jadi cuma pagi ini aku cantik? Pagi sebelumnya tuh enggak?" ujar Oni.
"Bukan gitu sayang, maksud aku pagi ini kamu beda dan kelihatan lebih cerah gitu! Pokoknya susah deh buat aku tinggalin istri aku dalam keadaan begini, gapapa ya sayang aku cancel dulu orderan kali ini?" ucap Radian.
"Mas, jangan ah! Sayang tau uangnya! Kan kamu bisa peluk-peluk aku lagi nanti abis anterin Revi, lagian semalaman juga kamu udah ngelakuin itu berulang kali, masa gak puas?" ucap Oni.
"Hadeh yaudah deh aku nyerah!" ucap Radian.
"Hahaha berangkat gih sana!" ucap Oni.
Radian terpaksa pergi setelah gagal membujuk istrinya, dengan berat hati ia pun pamit pada sang istri dan bergegas menjemput Revi di rumahnya.
•
•
Sementara itu, Muzaki baru turun dari kamarnya berniat untuk sarapan pagi karena cacing-cacing di perutnya sudah berontak minta diberi makanan, ia pun menuju meja makan walau belum mandi.
Namun, alangkah terkejutnya Muzaki saat melihat adanya Suci di meja makan tengah mempersiapkan sarapan untuk mereka, ya memang semalam Suci menginap di rumah Muzaki karena ia tidak berani pulang ke rumahnya setelah menghilangkan mobil milik ayahnya.
Muzaki pun menghampiri Suci dan berdiri tepat di samping gadis itu, ia tersenyum memandangi tubuh Suci yang sepertinya sudah mandi karena ia dapat mencium wangi dari tubuh gadis itu begitu berada di dekatnya.
"Ehem ehem... selamat pagi Suci! Lagi ngapain nih?" ucap Muzaki menyapa gadis itu.
Sontak Suci terkejut dan reflek menoleh seraya memegangi dadanya, namun ia merasa lega karena yang dilihatnya adalah Muzaki bukan orang lain.
"Ya ampun, ternyata kamu Muz! Aku pikir siapa loh, soalnya aku kira kamu masih tidur dan disini kan gak ada cowok lain selain kamu!" ucap Suci.
"Hahaha, lagian mana mungkin sih ada cowok lain yang bisa masuk sini? Oh ya, mama mana kok kamu cuma sendiri disini?" tanya Muzaki keheranan.
"Eee tadi mama kamu pergi ke tukang sayur, katanya buat belanja makan siang!" jawab Suci.
"Oh gitu, terus ini bihun goreng siapa yang buat? Kok bisa ada di meja makan kayak gini?" tanya Muzaki.
"Gak tahu deh siapa," ujar Suci membuang muka.
Muzaki tersenyum lalu menarik kursi dan duduk disana, ia masih terus mendongak menatap wajah Suci sambil menunjukkan senyum renyahnya walau gadis itu tak mau berbalik menatapnya.
"Iya iya, aku tahu pasti kamu kan yang masak semua ini? Aku tadi cuma basa-basi aja, jangan ngambek gitu dong! Aku yakin nih masakan kamu pasti enak banget, yuk lah kita makan sekarang aku udah lapar banget tau!" ucap Muzaki.
"Lapar? Emangnya kamu udah mandi Muz? Kok mau sarapan aja sih?" tanya Suci.
"Loh sejak kapan ada peraturan sebelum sarapan harus mandi dulu? Perasaan setahu aku gak ada deh yang kayak gitu, gak masalah dong kalo aku sarapan dulu sebelum mandi!" ucap Muzaki.
"Ya emang gak ada sih, tapi kan—"
"Udah deh Suci, duduk sini kita sarapan bareng! Gak enak kalo aku makan sendirian, apalagi ini kan masakan kamu!" potong Muzaki.
"Iya iya..." Suci menurut dan akhirnya duduk di samping Muzaki.
Gadis itu mengambilkan piring kosong untuk Muzaki, ia hendak menuangkan nasi namun dicegah oleh Muzaki yang memegang lengannya.
"Biar aku aja!" ucap Muzaki.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...