Angkasa

Angkasa
Salah paham


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 204


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Oni masih kesal lantaran suaminya tak memberi izin padanya untuk bertemu dengan Mira, ia terus bertanya mengapa Radian tak mau mengizinkan ia untuk pergi dengan wajah cemberutnya.


"Mas, kenapa sih kamu gak izinin aku pergi ketemu Mira? Aku kan kangen sama dia!" tanya Oni.


"Suka-suka aku dong, kan aku suami kamu! Kalau aku gak mau kasih izin kamu buat pergi, kamu mau apa?" ujar Radian mendekat ke arah Oni.


"Eee..."


Oni tampak gugup dan memalingkan wajahnya saat ditatap dari jarak dekat oleh Radian, bahkan tangan pria itu mulai menangkup wajahnya dan menariknya sehingga mereka kembali bertatapan di dalam kamar itu.


"Kamu gak boleh keluar dalam keadaan kayak gini! Aku gak suka kamu dilirik cowok lain nanti, apalagi kamu cantik banget sayang! Cuma aku yang boleh lihat kamu begini!" tegas Radian.


"Iya mas aku ngerti, tapi kan—"


"Sssttt! Kamu jangan bantah omongan aku, itu gak baik loh! Oh ya satu lagi, kalau kamu mau ketemu Mira ya suruh aja dia kesini!" potong Radian menaruh jari telunjuk di bibir istrinya.


"Mas, tapi Mira... mmppphhh!" ucapan Oni terhalang ketika Radian langsung melumatt bibirnya dengan ganas.


Perlahan Radian mendorong tubuh Oni hingga mepet tembok tanpa melepas pagutannya, ia memperdalam ciuman setelah Oni mulai ikut terbawa dalam permainan dan membuka mulutnya memberi celah bagi Radian untuk menjelajahi area mulutnya.


Tangan Oni terus meremass dan memukul-mukul bahu Radian, berharap suaminya itu melepas sejenak ciuman mereka karena nafasnya sudah mulai habis.


Radian yang mengerti langsung melepaskan ciuman itu, Oni pun tampak ngos-ngosan mengambil nafas. Radian tersenyum dan mencengkeram dua tangan Oni, ia taruh keduanya di atas kepala sang istri dan menatapnya.


"Mas, kamu kenapa sih? Tiap hari kok mesum terus?" ujar Oni kesal.


"Hey, kenapa kamu bilang gitu? Kamu gak suka aku gituin ha? Ingat loh, kamu kan udah jadi istri aku sayang!" ucap Radian.


"Iya aku tahu, tapi kamu gak bisa seenaknya aja gitu dong mas! Aku kan juga punya perasaan, kamu gak boleh tiba-tiba cium aku terus tahan aku begini dong mas! Aku juga mau bebas, masa cuma ketemu Mira aja gak boleh?" ucap Oni.


"Bukan gak boleh, aku cuma gak suka kalo ada cowok lain yang lihat kamu sayang! Kalau kamu mau keluar, gak perlu dandan! Kamu cuma boleh dandan buat aku sayang!" tegas Radian.


"Iya iya, aku nurut iya sama kamu!" ujar Oni.


"Yaudah, sekarang kita lanjutin yang tadi aja yuk!" ucap Radian tersenyum.


"Hah? Maksudnya?" Oni terkejut.


Radian hanya tersenyum licik, lalu perlahan mendekati wajah Oni seakan-akan ingin melumatt kembali bibir istrinya itu.


"Mas ah, aku gak mau! Aku udah janji sama Mira, kasihan dia!" ujar Oni berontak.


"Aku gak perduli! Kamu udah bikin dia tegang, jadi kamu gak bisa lepas gitu aja dan harus tanggung jawab!" ucap Radian sembari menunjuk ke bawah celananya.


"Ish, dasar mesum!" cibir Oni.


Oni terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Radian, namun pria itu justru semakin menguatkan cengkeramannya sehingga Oni tak bisa bergerak sedikitpun, bahkan kini Radian mulai maju menempelkan bibirnya pada bibir Oni lalu meraup nya dengan rakus tanpa ampun.


Oni mulai pasrah dan terbawa dengan permainan sang suami, ia membuka mulutnya saat Radian sengaja menggigit bibir bawahnya. Pria itu pun mulai memasukkan lidahnya, menari-nari di dalam rongga mulut Oni dengan kedua tangan yang masih mencengkram tangan Oni di atas kepalanya.


TOK TOK TOK...


"Oni, Radian!" tiba-tiba suara ketukan serta teriakan seorang wanita muncul dari luar kamar yang membuat mereka terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Mama!" ucap Oni dan Radian bersamaan.




Disisi lain, Syahra sudah kembali ke meja tempat Revi serta Latifah berada. Ia membawa pesanan miliknya dan duduk disana seperti sebelumnya, tak lupa ia tersenyum menyapa kedua gadis yang sudah ada disana sedari tadi itu.


Latifah menatap heran ke arah Syahra, karena gadis itu hanya membawa satu makanan. Padahal tadi ia dan Revi sudah menitip untuk memesan makanan pada Syahra, namun justru kali ini pesanan mereka tidak ada disana.


"Loh kak, ini pesanan gue sama Revi mana ya? Kok lu cuma bawa makanan lu doang sih? Niat mau dititipin apa enggak sih?" tanya Latifah ketus.


"Sabar dong Latifah! Gue udah pesenin kok pesanan kalian itu, tinggal tunggu aja nanti juga diantar sama pelayannya! Emang lu pikir tangan gue bisa bawa makanan sebanyak itu?" jawab Syahra dengan raut kesal juga.


"Iya Fah, kamu sabar dulu dong! Jangan langsung marah-marah gitu!" ucap Revi menegur Latifah.


"Iya iya maaf, gue cuma heran aja tadi! Gue kira tadi kak Syahra lupa gitu pesenin makanan buat kita, kan kesel!" ucap Latifah.


"Makanya jangan negatif mulu!" cibir Syahra.


Latifah memutar bola matanya, Syahra mulai merogoh tas dan mengambil ponsel dari sana.


Gadis itu tampak terkejut saat melihat gambar wallpaper di layar ponselnya, ya terdapat tulisan jangan macam-macam disana yang tentunya ulah dari Latifah tadi.


Syahra pun melirik ke arah Latifah, namun gadis itu hanya diam saja pura-pura tidak tahu dan fokus pada ponselnya sendiri. Syahra memang menduga itu semua adalah ulah Latifah, karena tak mungkin Revi bisa melakukan tindakan itu.


"Kurang ajar nih anak! Dia kayaknya mau cari gara-gara sama gue, awas aja!" batin Syahra.


Latifah yang menyadari tatapan Syahra, tampak tersenyum tipis sambil menutupi wajahnya dari gadis itu. Ia memang sengaja melakukannya untuk membuat Syahra tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan orang yang salah, karena Latifah akan terus membela sahabatnya.


"Hahaha, itu belum seberapa Syahra! Pokoknya kalo lu berani macam-macam sama Revi, lu berhadapan sama gue!" batin Latifah.


Revi yang tak mengetahui apa-apa, hanya terdiam memandang layar ponselnya sembari menanti makanan yang ia pesan, cukup lama pelayan tak kunjung datang kesana mengantarnya.


"Permisi kak! Ini makan dan minumnya, silahkan dinikmati!" ucap seorang pelayan.


Ya akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, seorang pelayan mengantarkan pesanan Revi serta Latifah dan menaruhnya di atas meja.


"Sama-sama kak, permisi!" ujar pelayan itu lalu berbalik pergi.


"Rev, mas-mas itu ganteng juga ya?" ujar Latifah.


"Hus! Kamu naksir sama orang itu? Ya ampun Fah, jadi selama ini kamu nolak kak Digo karena kamu suka sama pelayan yang tadi?!" ucap Revi kaget.


"Ish apa sih Rev? Gue cuma bilang dia ganteng, bukan berarti gue naksir kal!" elak Latifah.


"Ahaha, ngaku aja kali Fah kalau emang suka mah! Gapapa kok gausah malu, nanti aku bantu deketin deh!" ucap Revi tersenyum.


"Jangan ngada-ngada deh Rev!" ujar Latifah.


"Hahaha...." Revi tertawa lepas menatap sohibnya.


Sementara Syahra masih terdiam tak perduli dengan apa yang dibicarakan kedua gadis itu.




Ceklek...


Radian dan Oni beranjak dari kasur, lalu membuka pintu menemui sang mama yang sedari tadi mengetuk memanggil-manggil nama mereka dari luar, walau sebenarnya Radian sangat kesal karena gairahnya sedang meningkat saat ini.


"Mama? Ada apa, mah?" tanya Radian dengan senyum yang menghiasi wajahnya untuk menutupi kekesalannya saat ini.


"Ah maaf ya sayang, mama udah ganggu kalian!" ucap Rihana saat menyadari pakaian putrinya sudah berantakan disertai nafas yang memburu dari sepasang suami-istri itu.


Oni pun reflek menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangan dan mulai panik.


"Enggak kok mah, mama gak ganggu kita! Orang kita cuma lagi ngobrol biasa kok, ada apa mama kesini?" ujar Radian tersenyum renyah.


"Oh ya syukur deh kalau mama gak ganggu! Ini loh mama cuma mau kasih tau, itu di depan ada teman kamu Radian katanya pengen ketemu!" ucap Rihana menjelaskan maksudnya.


"Teman aku? Siapa mah?" tanya Radian bingung.

__ADS_1


"Mama sih belum tau ya, baru sekarang mama lihat dia disini. Tapi, tadi dia bilang namanya tuh Zian, coba aja kamu temuin gih di bawah!" jawab Rihana.


"Oh Zian, iya benar mah itu teman aku! Yaudah, makasih ya mah udah kasih tau aku!" ucap Radian.


"Sama-sama," ucap Rihana tersenyum.


"Kalo gitu aku ke bawah dulu ya, mah? Sayang, aku temuin Zian dulu. Ingat loh, aku gak kasih izin kamu buat pergi keluar!" ucap Radian menatap wajah istrinya.


"Iya mas, aku ingat kok! Udah sana temuin aja teman kamu tuh!" ujar Oni cemberut kesal.


Cupp!


Radian menyempatkan untuk mengecup kening Oni dan mengusap puncak kepalanya, barulah ia bergegas pergi menuruni tangga menemui Zian yang sudah menunggu di bawah sana untuk bertemu dengannya.


Sementara Rihana tersenyum mendekati putrinya, ia merangkul Oni yang masih cemberut itu.


"Sayang, ada apa sih emang? Kamu kesel karena gak bisa lanjutin kegiatan kalian tadi?" tanya Rihana terkekeh kecil.


"Apa sih mah? Aku sama mas Radian gak ngapa-ngapain kok tadi!" ujar Oni kesal.


"Hahaha mama tau kok sayang, buktinya baju kamu tadi berantakan gitu dan kalian kelihatan berkeringat gitu tadi. Kalau emang gak ngapa-ngapain, terus kenapa kamu kesal dan cemberut gitu sayang?" ucap Rihana menggoda Oni sembari mencolek dagu putrinya itu.


"Ish mah, aku tuh kesel karena mas Radian gak kasih izin aku buat pergi ketemu Mira, teman aku! Padahal aku udah rapih begini, tapi mas Radian seenaknya ngelarang aku!" ucap Oni.


"Oh begitu, kamu udah tahu alasannya kenapa Radian larang kamu buat pergi ketemu teman kamu itu sayang?" tanya Rihana.


"Udah sih, mas Radian bilang aku gak boleh keluar dengan dandanan kayak gini. Katanya aku cuma boleh dandan buat dia, padahal kan aku juga biasa-biasa aja kan mah? Gak terlalu menor atau seksi gitu?" ucap Oni.


"Ya mungkin aja suami kamu cuma gak mau kamu dilirik lelaki lain di luar sana sayang!" ujar Rihana.


"Yaudah deh mah, aku gak permasalahin ini lagi. Sekarang aku mau ke dalam, terus kasih kabar ke Mira kalau aku gak bisa ketemuan sama dia!" ucap Oni.


"Oh iya iya, mama juga mau ke bawah!" ucap Rihana tersenyum.


"Oke mah!" ucap Oni singkat.


Oni pun masuk kembali ke kamarnya, sedangkan Rihana turun ke bawah menyusul Radian menemui tamu yang datang.




Sementara itu, Radian sudah berada di bawah menghampiri Zian yang tengah duduk menunggu di sofa sambil mengusap-usap telapak tangannya membuat Radian makin penasaran.


Pria itu menyapa Zian, kemudian duduk di sampingnya sesudah saling bersalaman dan tersenyum seperti biasa. Awalnya memang Zian biasa-biasa saja belum menunjukkan ekspresi tidak sukanya mengingat Radian dengan sengaja mendekati Laras ketika di kampus kemarin.


"Eh bro! Tumben lu kesini, btw lu tahu darimana rumahnya si Oni?" ujar Radian menepuk pundak Zian dan berjabat tangan dengan pria itu.


"Ah iya nih bro, gue pengen main aja. Tadi tuh gue tanya sama orang-orang aja di dekat sini, makanya gue bisa tahu rumah Oni dan ketemu sama lu disini!" ucap Zian tersenyum.


"Oh gitu, udah diminum belum tuh minuman? Minum dulu lah biar enakan!" ucap Radian.


"Udah kok, gue mau langsung ke intinya aja ya, An! Soalnya gue gak ada waktu juga buat lama-lama disini, tahu sendiri lah gue sibuk!" ujar Zian.


"Ya boleh boleh, silahkan aja!" ucap Radian.


"Jadi gini, kemarin itu gue lihat lu anterin pulang Laras dari kampus tanpa dibayar. Itu maksudnya apa ya? Lu mau nikung gue apa gimana? Ingat loh bro, lu udah punya istri jangan ganjen dong sama gebetan sahabat sendiri!" ujar Zian.


"Hah? Lu bicara apa sih bro? Mana mungkin gue tega nikung sahabat gue sendiri? Udah berapa lama sih kita temenan? Masa lu gak percaya sama gue?" ujar Radian heran.


"Terus maksudnya apa lu anterin Laras pulang ke rumah tanpa dibayar, ha?" tanya Zian.


"Ohh ya itu karena gue tahu Laras gebetan lu dan lu lagi ngincer dia, makanya gue sengaja kasih Laras tumpangan gratis supaya gue bisa bikin lu lebih dekat sama Laras! Buat apa juga gue tikung lu bro? Gue udah punya istri yang cantik dan lebih dari si Laras, gue cuma mau lu bahagia bro!" jawab Radian.


"Alah ngeles aja lu! Lu pikir gue bakal percaya gitu aja sama omong kosong lu itu? Darimana caranya lu bisa bikin gue deket sama Laras, sedangkan lu malah anterin dia? Harusnya kalau emang lu punya niat gitu, ya lu suruh Laras buat pulang sama gue dong An!" ucap Zian kesal.


"Tenang dulu bro! Kita bicarain ini baik-baik tanpa emosi! Gue itu lagi coba yakinin Laras buat terima lu, sepanjang perjalanan gue selalu bilang sama Laras kalau lu serius ke dia! Ya walau gue belum lihat dia bisa berubah karena ucapan gue, tapi seenggaknya Laras jadi bisa berpikir bro kalo lu emang cinta sama dia!" jelas Radian.


Zian terdiam membuang muka, luapan emosi masih menguasai tubuhnya dan belum bisa hilang biarpun Radian sudah coba menjelaskan padanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2