
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 219
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Revi menghampiri Stevi serta Suci yang sedang menyiapkan makanan di meja makan, gadis itu berharap bahwa ia dapat mengambil hati sang mama dari kekasihnya, walau ia tahu hal itu tidak akan mudah mengingat Stevi lebih dekat dengan Suci, mantan dari Muzaki.
Melihat kedatangan Revi disana, raut wajah Suci langsung berubah sinis tanda bahwa ia tidak suka dengan kehadiran Revi sang kekasih dari Muzaki yang merupakan mantannya itu. Ya Suci memang masih menyimpan rasa pada Muzaki, biarpun ia tau tidak akan mudah untuk kembali bersama Muzaki.
"Eee maaf tante! Kira-kira aku boleh gak ya bantu tante sama Suci buat siapin makanan? Soalnya aku gak enak kalo cuma diam aja," ucap Revi.
"Aduh! Gak perlu lah kamu bantu kesini, kan udah ada nak Suci!" ucap Stevi menolak.
"Gapapa tante, daripada aku cuma diam-diam doang gak jelas. Tante tinggal bilang aja apa yang perlu aku lakuin, insyaallah aku bisa bantu kok tante!" ucap Revi membujuk.
"Udah Rev, gak perlu maksain kayak gitu buat bantu kita! Kalau tante Stevi bilang gausah, ya itu artinya lu gak bisa maksa buat bantu kita. Mending lu tunggu aja dulu di depan, kalo makanannya udah siap baru deh lu kesini!" ucap Suci.
"Nah denger tuh yang dibilang nak Suci! Kamu ke depan lagi aja sana! Oh ya, Muzaki emang lagi ngapain?" ucap Stevi bertanya pada Revi.
"Eee kak Zaki lagi mandi sekalian ganti baju, tante. Yaudah deh kalo emang tante gak mau aku bantu, tapi aku tetap disini aja gapapa kan? Siapa tahu nanti ada yang bisa aku bantu," ucap Revi.
"Terserah kamu aja!" ujar Stevi jutek.
Revi tersenyum lalu tetap berada disana bersama Stevi serta Suci, walau begitu terlihat sekali kalau Stevi tidak suka dengan keberadaan Revi disana.
"Eh Rev, aku mau bicara deh sama kamu, sebentar aja! Kamu bisa kan?" ucap Suci.
"Bicara apa?" tanya Revi penasaran.
"Eee ada satu hal yang mau aku tanyain ke kamu, bisa kan?" ucap Suci.
"Ya bisa bisa aja sih, yaudah disini aja!" ujar Revi.
"Jangan disini!" ucap Suci.
"Loh kenapa Suci? Disini aja kali, biar kita bisa bantu tante Stevi siapin makanan buat nanti sore!" ucap Revi.
"Iya Suci, kamu kalau mau bicara sama Revi ya disini aja! Emangnya apa sih yang kamu pengen tanyain ke Revi? Tante jadi penasaran nih, udah kamu bicaranya disini aja ya!" ucap Stevi.
"Eee maaf tante! Tapi, aku gak mau bicara disini takut ganggu tante yang lagi siapin makanan!" ucap Suci tersenyum.
"Emang kenapa sih? Kamu mau ngomongin apa sama Revi?" tanya Stevi penasaran.
"Bukan apa-apa kok, tante. Eee Revi, kita bicaranya nanti aja ya abis selesai makan!" ucap Suci sambil melirik ke arah Revi.
"Ah iya," ucap Revi singkat.
Stevi semakin dibuat penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Suci dan Revi, namun tampaknya Suci tidak mau memberitahu itu pada Stevi dan lebih memilih diam melanjutkan kembali persiapan makan malam mereka.
Sementara Revi juga bingung mengapa Suci ingin mengajaknya bicara, ia penasaran apa kiranya yang akan ditanyakan oleh Suci padanya, apalagi terlihat kalau Suci menyembunyikan itu dari Stevi dan tak ingin Stevi mengetahuinya.
"Halo semua!" Muzaki kembali muncul disana setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Eh Zaki, udah selesai mandinya?" tanya Stevi pada putranya yang baru datang itu.
"Udah kok mah, sekarang aku udah wangi. Eh ya, Revi kamu kenapa diem aja disini? Bukannya tadi kamu bilang mau bantu mama?" ucap Muzaki.
"Eee anu..." Revi terlihat bingung saat hendak menjawab pertanyaan Muzaki.
β’
β’
Sementara itu, Zaenal tiba di rumah Laras untuk mengantarkan gadis itu pulang. Ia melirik sejenak ke arah Laras yang berada di sampingnya, lalu tersenyum sembari mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
Laras menikmati usapan dari Zaenal, tentu ia sangat senang karena dapat merasakan sensasi lembut dari tangan pria yang disukainya. Apalagi saat ini Zaenal juga mengelus wajahnya hingga memerah seketika.
"Kita udah sampe, yuk langsung aja kita turun ke luar! Aku udah gak sabar pengen ketemu sama mama kamu!" ucap Zaenal tersenyum manis.
"Iya Nal, tapi beneran nih kamu mau ketemu sama mama aku?" tanya Laras memastikan.
"Ya beneran dong, buat apa aku bohong? Udah yuk kita sama-sama turun dari mobil, terus temuin mama kamu di dalam! Sekalian aku pengen kenalin diri sebagai kekasih kamu," ucap Zaenal.
"Hah??" Laras terkejut dan menganga lebar.
"Eee maksud aku sebagai teman kamu, tadi lidah aku typo. Kamu gausah mikir yang enggak-enggak!" ucap Zaenal tersenyum.
"Ohh, tapi sebenarnya kalau kamu pengen jadi kekasih aku juga gapapa sih. Daripada cuma jadi teman biasa, mending sekalian kekasih kan!" ujar Laras tersenyum malu-malu.
"Emang kamu mau jadi kekasih aku?" tanya Zaenal sembari mendekatkan wajahnya pada Laras.
Deg!
Jantung Laras seakan mau copot begitu Zaenal mengucapkan kalimat itu, apalagi saat ini Zaenal juga menatapnya dari jarak dekat yang membuat Laras tak bisa berkata-kata untuk sementara.
"Kok diem aja sih? Mau apa enggak nih cantik?" tanya Zaenal sekali lagi sembari mengusap pelipis gadis di hadapannya itu.
"Ka-kamu serius?" Laras coba memastikan bahwa Zaenal serius bertanya seperti itu.
"Masa iya aku bohong sih? Aku serius pengen jadi kekasih kamu Laras, nah sekarang tinggal kamu pengen juga jadi kekasih aku apa enggak. Kalau misal kamu mau, itu artinya mulai hari ini kita resmi pacaran!" ucap Zaenal.
"Mau mau mau!" jawab Laras spontan, namun ia juga langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan dan seketika wajahnya merona.
Zaenal tersenyum senang, ia memajukan wajahnya kemudian mengecup hidung Laras dengan lembut.
Cupp!
Dengan perlahan Zaenal menyingkirkan tangan Laras dari mulutnya, lalu menaruh tangan itu pada wajahnya tanpa melepas pandangannya.
"Jadi kamu mau nih Laras?" tanya Zaenal lagi.
"Umm, iya Nal. Tapi, aku boleh tanya sesuatu dulu gak sama kamu?" ucap Laras ragu.
"Tanya apa?"
"Kenapa kamu mau pacaran sama cewek kayak aku? Padahal kamu ini kan dosen, terus ganteng lagi. Pasti banyak banget cewek-cewek di luaran sana yang suka sama kamu, terus lebih cantik daripada aku. Kenapa kamu malah pilih buat jadi pacar aku?" tanya Laras penasaran.
"Hah? Maksudnya?" tanya Laras tak mengerti.
"Iya itu dia, intinya aku cinta sama kamu Laras! Udah, kamu gak perlu banyak tanya lagi! Berarti sekarang kita pacaran kan?" ucap Zaenal.
"Eee..."
Cupp!
Di luar dugaan, Zaenal tiba-tiba mencuri satu kecupan di bibir Laras, hingga membuat gadis itu syok berat dan melebarkan matanya menatap ke arah Zaenal seakan tak percaya.
β’
β’
Keesokan paginya, Radian membuka matanya dan langsung melirik ke arah samping melihat sosok istrinya yang masih tertidur pulas. Ia memeluk tubuh Oni dari samping, kemudian mengusap rambut wanita itu sambil menciumi lehernya.
Radian merasa sangat senang dan puas, setelah semalaman berhasil mendapatkan kenikmatan dari Oni istri tercintanya itu, walau kini tampak jelas jika Oni kecapekan dan tidak dapat membuka matanya karena semalaman sulit tidur.
"Sayang, punya kamu benar-benar enak banget! Aku selalu pengen main sama kamu!" ucap Radian.
Pria itu terus mencium kening, leher serta bibir Oni berkali-kali. Ia juga meninggalkan beberapa bekas di area leher jenjang Oni yang membuat wanita itu melenguh dan terbangun.
"Eenngghh..." Oni membuka matanya lalu melirik ke belakang menatap suaminya. "Mas, kamu lagi ngapain sih?" tanya Oni heran.
"Hai sayang, good morning!" ucap Radian sambil kembali mencium bibir istrinya itu.
"Morning mas! Tapi, aku masih ngantuk tau! Emang kamu gak kasihan apa sama aku? Kan dari semalam aku susah tidur gara-gara kamu, harusnya kamu biarin aku tidur dong mas jangan diganggu kayak gini!" ucap Oni cemberut.
"Hey, kamu kok bilangnya gitu sih? Masa iya aku gak kasihan sama istri aku sendiri? Kamu tuh cantik banget sih sayang, aku gak bisa tahan kalo gak cium kamu!" ucap Radian.
Radian kembali menyerang Oni dengan berbagai ciuman di wajah serta bibirnya.
"Ish mas, udah ah aku capek!" pinta Oni.
"Hahaha iya iya... sekarang kamu boleh tidur lagi kok, udah ya jangan cemberut begitu nanti jadi jelek loh!" ucap Radian tersenyum sembari mengusap kepala istrinya.
"Kamu mau kerja, mas?" tanya Oni.
__ADS_1
"Iya dong sayang, kalo aku gak kerja gimana nanti pas anak kita mau lahir? Yaudah, aku mau mandi duluan ya?" jawab Radian.
"Ikut dong mas!" ujar Oni sedikit manja.
"Hah? Ikut kemana?" ucap Radian terkejut.
"Ya ikut mandi sama kamu, aku pengen sekalian bangun aja deh! Soalnya susah buat tidur lagi, jadi aku mau mandi aja biar seger dan gak ngantuk! Selain itu, aku juga bisa layanin kamu nanti pas mau berangkat kerja!" jelas Oni.
"Serius kamu mau mandi bareng sama aku? Gak takut nanti di dalam aku anuin lagi?" tanya Radian.
"Hah? Emang kamu masih pengen begitu apa mas? Aku kira kamu udah puas loh semalam," ujar Oni cemberut.
"Hahaha, ya puas sih puas, tapi kan kalo kamu ajakin mandi bareng kayak gini bikin si dia tegang lagi tuh!" ucap Radian sambil menunjuk ke bagian miliknya yang hanya tertutupi kain segitiga.
"Haish, kamu emang mesum ya mas! Yaudah, aku gak jadi deh mandi sama kamu!" ujar Oni.
Wanita itu berubah pikiran setelah Radian berkata seperti tadi, ia tak mau jika nantinya sang suami kembali meminta jatah darinya. Namun, Radian kali ini justru membujuk Oni untuk mau mandi bersamanya.
"Jangan dong sayang! Masa kamu mau berubah pikiran sih? Udah ya, kita mandi bareng sekarang! Aku janji deh gak apa-apain kamu!" ujar Radian.
"Yakin nih? Kamu gak bohong kan?" tanya Oni.
"Iya cantikku, aku serius!" jawab Radian tegas.
"Yaudah,"
"Yaudah apa?" tanya Radian memancing.
"Ya ayo kita mandi bareng!" Radian langsung bersemangat dan menggendong tubuh Oni ala bridal style, membawa istrinya itu ke dalam kamar mandi.
β’
β’
Disisi lain, Laras baru saja pamit pada ibunya dan keluar dari rumah bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasa.
Ceklek..
Namun, alangkah terkejutnya ia saat mendapati sosok Zian sudah terduduk di depan rumahnya. Laras pun mendekati pria itu dengan mulut menganga lebar.
"Kak Zian, kamu lagi ngapain disini? Ada perlu apa?" tanya Laras terheran-heran.
"Eh hai Ras! Akhirnya kamu keluar juga, ya udah jelas lah aku kesini tuh mau antar kamu ke kampus! Kamu ada kelas kan sayang?" ucap Zian langsung berdiri dan mendekat ke arah Laras.
Laras pun dengan sigap memundurkan langkahnya menjauh dari tubuh Zian, ia tentu tak mau Zian terus-terusan mendekatinya disaat ia sudah resmi menjadi pacar alias kekasih dari Zaenal selaku dosen tampan di kampusnya.
"Maaf ya kak Zian! Tapi, aku gak butuh kak Zian sekarang! Aku bisa ke kampus tanpa bantuan kak Zian, jadi sebaiknya kamu pergi deh!" ujar Laras.
"Gapapa Laras, udah biar aku aja yang antar kamu ke kampus! Aku gak pengen kamu capek dan ribet sendiri nantinya kalo ke kampus tanpa aku, lagian biar irit juga!" bujuk Zian.
"Kalo aku bilang gak mau, ya gak mau kak Zian! Jangan maksa deh!" tegas Laras kesal.
"Huft, yaudah iya. Emangnya kamu mau ke kampus naik apa sih? Ojek? Atau taksi? Itu kan mahal loh sayang, apalagi pagi-pagi begini! Udah paling pas emang kamu bareng sama aku, selain gratis nyaman juga buat kamu!" ucap Zian tersenyum.
"Ya emang gratis, tapi bikin aku kesel terus karena kak Zian selalu aja gangguin aku! Jadi, udah ya kak Zian mending pulang deh sana!" ucap Laras.
"Aku gak akan pulang, aku bakal tetap disini temenin kamu sayang!" ucap Zian kekeuh.
Laras memutar bola matanya dan membuang muka, kemudian tanpa sengaja ia melihat sebuah mobil berhenti di dekat gerbangnya dan seketika ia pun tersenyum ketika menyadari pemilik mobil itu.
"Itu kan mobilnya pak Zaenal," batin Laras.
"Kak, udah deh kak Zian cepat pulang sana! Lagian aku ini ke kampus bukan naik ojek ataupun taksi, tapi aku dijemput sama seseorang!" ucap Laras.
"Hah? Siapa yang jemput kamu sayang? Emangnya ada apa?" tanya Zian sembari terkekeh tak percaya dengan apa yang diucapkan gadisnya.
"Tuh kamu lihat aja!" jawab Laras seraya menunjuk ke arah mobil yang berhenti di dekat pagar rumahnya mengenakan bibirnya.
Sontak Zian langsung menoleh, matanya terkejut ketika melihat Zaenal keluar dari mobil tersebut.
"Pak Zaenal...??" ujar Zian terkejut bukan main.
"Yap! Aku dijemput sama pak Zaenal, jadi kamu jangan marah ya kak Zian! Bye, aku mau samperin pak Zaenal dulu!" ucap Laras tersenyum.
Gadis itu langsung berjalan ke depan menghampiri Zaenal dengan langkah tergesa-gesa, ia meninggalkan Zian yang masih terbengong disana seakan tak percaya dengan semua itu.
"Gak, ini gak mungkin! Masa iya pak Zaenal mau jemput Laras?" gumamnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...