Angkasa

Angkasa
Latihan nembak


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 197


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


"Jadi begitu ceritanya, sekarang aku gak tahu lagi harus gimana supaya mobil dan semua harta aku bisa balik!" ucap Suci sembari mengusap air matanya seusai menceritakan apa yang terjadi padanya kepada Wisnu di warung kopi itu.


Wisnu terdiam sejenak coba mencerna cerita dari Suci, ia mengerutkan kening menoleh sekilas ke arah temannya seperti meminta saran. Bagaimanapun juga, Wisnu sangat ingin membantu Suci yang sedang dilanda masalah seperti ini. Namun, tentunya ia juga bingung harus melakukan apa untuk membantu Suci.


Gadis itu masih terus terisak memikirkan mobil milik ayahnya yang dicuri itu, ia takut jika sang ayah akan memarahinya setelah tahu bahwa mobil miliknya dicuri oleh orang karena kelalaian Suci.


"Hiks hiks..." Suci menangis disana.


"Hey Suci, jangan nangis terus! Aku sama temanku ini janji bakal bantu kamu kok, udah ya tenang!" ucap Wisnu coba menenangkan Suci.


"Gimana gue bisa tenang coba? Itu mobil bokap gue, pastinya bokap bakalan marah banget sama gue kalau tau mobilnya dicuri! Gue bingung harus ngapain lagi, Wisnu!" ujar Suci sesenggukan.


"Sabar ya! Insyaallah semuanya akan baik-baik aja! Jangan nangis terus dong Suci!" ucap Wisnu.


Suci tersenyum tipis dan kembali mengusap air mata di wajahnya mengenakan tisu, sedangkan Wisnu terdiam menatap wajah gadis itu secara seksama, entah mengapa Wisnu makin tertarik pada sosok Suci yang memang sangat cantik dan berhasil menyita perhatiannya.


"Cantik sekali! Rasanya gue makin gak tega lihat gadis secantik Suci harus tersakiti karena Muzaki yang lebih memilih Revi, gue janji bakal bikin lu bahagia Suci! Dan gue pastikan siapapun yang sakitin lu bakal gue habisin!" batin Wisnu.


Tak lama kemudian, Muzaki sampai di lokasi tempat mereka berada sesuai yang dikatakan Suci sebelumnya lewat telpon. Pria itu langsung melepas helmnya dan turun dari motor, menghampiri Suci yang sedang terduduk disana lalu menepuk bahu gadis itu dari belakang.


"Suci! Wisnu!" ucap Muzaki menyapa keduanya.


"Muz?" ujar Suci menoleh dan langsung berdiri mendekati Muzaki, ia memeluk pria itu dan menangis di dalam pelukannya.


"Aku sedih banget Muz! Mo-mobil sama ha-pe aku diambil semua hiks hiks..." ujar Suci menangis.


"Iya iya Suci, kamu tenang ya! Sekarang kita duduk dulu, kamu tenangin diri kamu! Ceritakan semuanya ke aku, supaya aku juga bisa bantu kamu! Udah ya jangan nangis lagi!" ucap Muzaki menenangkan Suci, ia menepuk-nepuk punggung gadis itu perlahan dan tersenyum.


Suci melepaskan pelukannya, lalu Muzaki menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan menatapnya serius dan menghapus air mata yang membasahi wajah Suci dengan lembut.


"Kamu jangan nangis! Yuk duduk dulu, kamu ceritain semua ke aku ya cantik! Udah udah nanti cantiknya luntur loh kalo nangis terus, Suci kan wanita yang kuat! Zaki gak mau kalau Suci nangis kayak gini, paham?!" ucap Muzaki tersenyum.


"Iya..." ucap Suci sambil mengangguk pelan.


Mereka duduk berdampingan, di dekat Wisnu dan juga temannya. Muzaki tetap fokus pada Suci, karena tujuannya datang kesana adalah untuk membantu gadis itu, ia tak perduli dengan kehadiran Wisnu disana walau sebenarnya ia penasaran juga bagaimana bisa Wisnu ada disana.


"Jadi, gimana ceritanya Suci? Kenapa mobil sama harta kamu yang lainnya bisa dicuri gitu?" tanya Muzaki penasaran.


"Tadi tuh mobil aku lagi mogok, terus tiba-tiba aku didatengin sama dua orang cowok yang katanya mau bantu aku. Karena emang di sekitar sana sepi, jadi ya aku terima aja bantuan mereka! Tapi, aku sama sekali gak nyangka kalau mereka bakal nipu aku dan bawa kabur mobil aku!" jawab Suci.


Muzaki syok mendengarnya, ia mengusap wajahnya kasar lalu meraih dua tangan Suci untuk digenggamnya. Pria itu sangat tahu bagaimana perasaan Suci saat ini, kehilangan harta benda adalah suatu hal yang sangat menyedihkan.


"Tenang ya! Kita langsung ke kantor polisi aja buat laporin ini semua, gimana?" ujar Muzaki.


"Nah iya, gue setuju sama usul lu Muz!" ucap Wisnu.


"Gimana Suci?" tanya Muzaki menatap Suci.

__ADS_1


"Eee aku ikut apa kata kamu aja, Muz. Aku udah gak bisa mikir lagi, pikiran aku udah kacau gara-gara mobil papaku dicuri!" ucap Suci.


"Yaudah, kita pergi ke kantor polisi sekarang ya! Biar kamu naik motor aku aja!" ucap Muzaki.


Suci mengangguk pelan, lalu beranjak dari kursi dan bergandengan tangan dengan Muzaki berjalan menuju ke arah motor pria itu yang terparkir di depan warung kopi.


"Bang, sekali lagi makasih ya udah bantu saya!" ucap Suci pada si pemilik warkop.


"Iya neng, sama-sama. Saya doakan semoga mobil neng sama yang lainnya bisa kembali!" ucap si pemilik warung kopi itu sambil tersenyum.


"Aamiin!" ucap mereka serentak.


Setelahnya, Suci dan yang lainnya pun pergi dari sana untuk menuju kantor polisi melaporkan kejadian yang baru saja menimpa Suci, walau sulit namun Suci tetap berharap bahwa mobil milik ayahnya akan bisa kembali.


β€’


β€’


Sementara itu, Laras masih harus menghadapi Zian yang terus-terusan merengek agar Laras mau pergi ke kampus bersama pria itu. Padahal sudah berulang kali Laras mengatakan kalau ia tidak mau ke kampus dengan Zian, namun Zian seakan tak perduli dengan tolakan dari Laras itu.


Tak lama kemudian, seorang pengendara ojek online yang dipesan Laras tiba. Ya sesuatu yang menguntungkan bagi Zian tentunya, karena ternyata ojek online itu adalah Radian alias sahabatnya di kampus, sehingga ada kesempatan bagi Zian untuk dapat mengantar Laras.


"Ras, yuk kita langsung jalan sekarang aja!" ucap Radian menyerahkan helm pada Laras.


Melihat itu, tentu saja Zian langsung bergerak maju mendekati Radian dan Laras. Zian akan mulai bernegosiasi dengan Radian mengenai kepentingan dirinya untuk lebih dekat dengan Laras.


"Eh eh tunggu tunggu!" teriak Zian cukup keras.


"Loh Zian? Lu ada disini juga? Ngapain?" tanya Radian terheran-heran.


"Iya bro, gue mau jemput Laras!" jawab Zian.


"Ohh terus kenapa ini Laras malah pesan ojek online? Sia-sia dong gue kesini, tahu gitu mending gue sarapan dulu tadi!" ujar Radian.


"Eh enggak kok kak, gak sia-sia! Aku emang mau ke kampus naik ojek aja, gausah perduliin kak Zian ya kak! Udah kita langsung ke kampus sekarang, aku takut telat!" ucap Laras.


"Ras, kamu jangan gitu dong sama aku! Masa kamu tega tinggalin aku sendirian disini? Aku udah rela jauh-jauh kesini buat jemput kamu loh, harusnya kamu bareng aku bukan naik ojek kayak gini!" bujuk Zian.


"Apaan sih kak? Aku kan udah berkali-kali bilang sama kamu, aku gak mau diantar sama kamu atau apapun itu!" tegas Laras.


"Iya aku tahu, tapi please lah Laras jangan begini! Kamu bareng aku aja ya!" ucap Zian memohon.


"Haish, gak mau! Udah kak Radian, ayo berangkat sekarang!" ucap Laras menepuk pundak Radian.


Gadis itu naik ke atas jok motor Radian, ia tak perduli dengan permohonan dari Zian yang terus memaksa untuk mengantarnya, ya karena Laras memang sudah mengatakan bahwa ia tidak menyukai Zian dan ia tak mau pergi ke kampus dengan pria itu walau hanya satu kali.


"Ayo kak jalan!" pinta Laras pada Radian.


"Eee tapi Zian gimana? Kasihan juga dia tuh!" ucap Radian kebingungan.


"Udah kak biarin aja!" ujar Laras.


"I-i-iya deh iya, sorry ya bro!" ucap Radian bersiap melajukan motornya.


"Tunggu bro! Lu gak boleh bawa pergi Karas disini!" ucap Zian mencegah Radian, bahkan pria itu nekat mencabut kunci motor Radian. "Nah, gue ambil kunci motor lu biar lu gak bisa kemana-mana!" sambungnya dengan senyum melekat di wajah.


"Eh bro, lu apa-apaan sih? Jangan gitu lah balikin sini kunci motor gue! Laras tuh gak mau dianterin sama lu bro, udah sih terima nasib aja! Lagian lu kan masih bisa ketemu dia di kampus nanti, cepet sini balikin kunci gue sebelum gue teriakin maling lu!" ucap Radian mulai kesal.


"An, lu gimana sih? Harusnya sebagai teman lu bela gue dong! Gue ini lagi memperjuangkan cinta gue, masa lu gak kasihan lihat gue jomblo terus? Lu mah enak udah nikah, lah gue?!" ujar Zian.


"Bukannya gue gak belain lu bro, tapi kan gue juga butuh uang dan sekarang kerjaan gue itu jadi driver ojek online, lagian lu kan juga tau biaya hidup gue sekarang gak sedikit! Bukan cuma gue yang butuh biaya, tapi istri sama calon anak gue juga butuh!" ucap Radian menjelaskan pada Zian.


"Duh, ayolah bro bantu gue! Cuma kali ini aja deh gue minta bantuan lu, kalo gak gini biar gue bayar ongkosnya dan lu bisa bebas pergi!" ujar Zian.


"Boleh tuh, tapi si Laras nya mau apa enggak nih?" ucap Radian menoleh ke arah Laras.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan membuang muka setelah Radian mulai terpengaruh dengan omongan Zian, apalagi saat pria itu menawarkan untuk membayar ongkos ojek Radian jika Radian mau membantunya.

__ADS_1


"Sayang, please kamu ke kampus bareng aku aja ya! Ayolah sayang, aku cuma pengen buktiin ke kamu betapa cintanya aku ke kamu dan aku gak main-main!" ucap Zian memohon.


Laras hanya diam memalingkan wajahnya, baginya permohonan Zian itu hanya akting saja dan tidak bersungguh-sungguh.


β€’


β€’


Revi bersama Charlie sampai di tempat latihan menembak sesuai dengan yang dikatakan pria itu sebelumnya, Revi cukup terpukau dengan tempat tersebut karena cukup luas dan peralatan disana juga sudah bertaraf internasional.


Keduanya pun menemui sosok lelaki dewasa bernama pak Raymond, selaku pemilik tempat itu sekaligus juga adalah paman dari Charlie yang sengaja meminta pada ponakannya tersebut untuk mencoba tempat menembak miliknya, kebetulan juga Charlie memang ingin mengajak Revi kesana.


"Permisi om!" ucap Charlie menyapa pamannya itu dengan senyum tersimpul di bibirnya.


"Ah iya, kalian sudah datang! Eee Charlie, apa ini teman kamu yang kemarin kamu bilang sama om itu?" ucap Raymond menatap ke arah Revi dan ponakannya.


"Benar om, namanya Revi!" jawab Charlie.


"Halo om! Salam kenal, saya Revi yang ingin belajar nembak disini juga om!" ucap Revi tersenyum lalu mengulurkan tangan ke arah Raymond.


"Ya ya, kamu cantik sekali Revi!" ucap Raymond memuji gadis itu dan bersalaman dengannya.


"Terimakasih om!" ucap Revi.


"Ayo silahkan langsung saja ambil senjata kalian masing-masing! Disini kalian akan dilatih langsung oleh pelatih yang sudah berpengalaman dalam dunia menembak, nah ini dia panggil saja coach Regar!" ucap Raymond mengenalkan seorang pelatih yang ia pekerjakan disana pada mereka.


Ya pria bernama Regar, pelatih menembak itu pun tersenyum mengenalkan diri kepada Charlie serta Revi yang memang ingin belajar lebih lagi mengenai menembak.


"Halo semua! Saya Regar, saya sudah banyak melatih orang-orang disini hingga mereka pandai dalam menembak!" ucap Regar.


"Waw mantap! Gak salah emang saya bawa Revi kesini ya om, pelatihnya aja bagus-bagus kayak gini! Pasti saya sama Revi bisa makin cepat belajar nembak nya!" ucap Charlie tersenyum.


"Oh iya dong! Regar, kamu latih mereka sampai mereka bisa jadi penembak jitu! Oh ya, ini ponakan saya namanya Charlie dan yang itu temannya, sebut saja Revi!" ucap Raymond.


"Baik pak, siap! Mari mas Charlie dan mbaknya, kita mulai aja!" ucap Regar.


"Eee iya Iya..." ucap Revi agak gugup.


Gadis itu diberi satu senjata yang lumayan bagus dan tidak terlalu berat, begitu juga dengan Charlie. Mereka pun langsung menuju ke ruang tembak, tampak disana juga banyak sekali orang yang datang untuk berlatih seperti mereka.


"Rev, kamu suka gak sama tempatnya?" tanya Charlie mendekati Revi sambil tersenyum.


"Suka kok, ini bagus banget dan asyik buat latihan nembak kayak gini! Ya cuma ada yang kurang sedikit sih disini!" jawab Revi.


"Loh, apa tuh?" tanya Charlie bingung.


"Kita cuma berdua, gak ada kak Zaki atau Latifah disini yang ikut latihan sama kita! Gimana kalau aku hubungin mereka dulu buat nyusul kesini, boleh kan? Ya biar tambah asik aja gitu, soalnya cuma berdua begini tuh kurang seru!" jelas Revi.


Charlie terdiam memalingkan wajahnya, jujur saja ia kesal karena Revi lagi-lagi membahas tentang Muzaki dan ingin mengajak pria itu datang kesana latihan bersama mereka.


Lalu, pria itu kembali mendekati Revi dan mengikis jarak diantara mereka sehingga hembusan nafas Charlie juga terasa pada leher Revi, gadis itu reflek menjauh namun ditahan oleh Charlie yang dengan cepat mencengkeram lengannya.


"Revi cantik, bisa gak jangan bahas soal Muzaki dulu kalau kamu lagi berdua sama aku? Aku gak suka kamu bahas dia terus!" ujar Charlie.


"Kenapa? Kak Zaki pacarku kok, apa salahnya kalo aku bahas dia ke kamu?" ucap Revi santai.


"Ya jelas salah besar dong! Aku ajak kamu kesini, karena aku pengen nikmati waktu berdua sama kamu! Tolong dong ngertiin aku, jangan malah bahas si Zaki terus!" ucap Charlie tampak kesal.


"Yaudah, aku pergi aja dari sini!" ujar Revi.


Gadis itu menaruh kembali senjata yang ia pegang di atas tempat duduk, kemudian melangkah pergi meninggalkan Charlie.


"Revi tunggu!" teriak Charlie berusaha mengejarnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2