Angkasa

Angkasa
28. Masalah


__ADS_3

Angkasa dan Raya sekarang sedang duduk di kursi taman dekat air mancur. Mereka hanya diam, Angkasa yang bingung menata kalimat pembuka untuk suasana canggung ini dan Raya yang berusaha mengalihkan perhatian dengan memandangi segerombolan anak kecil yang sedang bermain.


Angkasa kemudian menghela napas pelan membuat Raya diam-diam melirik penasaran.


"Gue mau tanya, Ray," ucap Angkasa dengan nada tenang. Sedangkan Raya sudah was-was dengan pertanyaan apa yang akan meluncur dari mulut Angkasa.


Siapa tahu berhubungan dengan ... perasaannya? Mungkin saja kan.


"Mau ... mau tanya apa?" tanya Raya, suaranya lirih sampai Angkasa hampir tak mendengarnya.


"Lo ada apa sama ortu lo?" tanya Angkasa penasaran.


Entah apa yang membuat Angkasa begitu penasaran hingga berani menyinggung soal orang tua Raya. Tapi sikap Raya yang seperti tak begitu akrab pada orang tuanya sendiri membuat Angkasa jadi penasaran.


Raya menghela napas pelan. "Lo juga kenapa sama ibu lo?" ucap Raya malah balik bertanya.


"Itu ... beda, Ray. Lo nggak bakal ngerti," ucap Angkasa berusaha menolak membicarakan tentang ibunya.


"Kalo gitu lo juga nggak bakal ngerti sama orang tua gue, Sa," balas Raya menunduk sambil meremas ujung hoodienya.


Hening.


Tak ada yang kembali memulai percakapan. Angkasa kemudian menoleh menatap Raya yang masih menunduk. Ia kemudian menghela napas pelan.


"Oke," ucap Angkasa membuat Raya mendongak menatap Angkasa tak mengerti. "Gue bakal jelasin masalah gue sama perempuan itu."


"... gue sebelumnya nggak pernah nyangka bisa cerita sama orang lain. Termasuk lo, tapi ... gue merasa lo beda, Ray, dan gue merasa lo orang yang tempat buat tau apa yang selama ini gue sembunyiin. Lo orang kedua," jelas Angkasa membuat Raya mengangkat alisnya.


"Ryan tau?"


Angkasa tersenyum tipis. "Gue nggak mungkin nggak cerita kedia. Dia selalu ada buat gue, temen terbaik gue."


Raya hanya bergumam pelan dan mengangguk-angguk mengerti. Dia tidak bertanya lebih lanjut-walau ingin-sepertinya ini masalah yang tidak sederhana.


"Perempuan itu selingkuh."


"Hah?!"


Ucapan Angkasa yang tiba-tiba langsung membuat Raya membelalak dan refleks menoleh dengan wajah tak percaya.


Selingkuh?


Ibu Angkasa selingkuh?


Sulit dipercaya.


"Kenapa? Lo kaget?" tanya Angkasa menoleh dengan wajah tak berekspresi.


"A ... ng-nggak kok," ucap Raya mengalihkan pandangannya.


Angkasa terdiam, Raya juga ikut diam. Bingung ingin membicarakan apa. Embusan napas pelan Angkasa membuat Raya menoleh, ia kemudian menatap mata Angkasa yang kini menatap ke bawah.

__ADS_1


"Pasti berat ya?" celetuk Raya akhirnya membuat sudut bibir Angkasa terangkat tipis.


Angkasa kemudian tersenyum tipis. Ia kemudian menatap Raya dan terdiam memandangi garis wajah gadis itu membuat Raya mengerjap pelan. Salah tingkah.


"Sekarang apa yang jadi masalah lo?"


"Ah? Emm ... nggak kok, nggak ada apa-apa. Gue nggak papa sama orang tua gue," ucap Raya menolak.


Angkasa kemudian mendekatkan diri dan menarik Raya untuk jatuh ke pelukannya. Ia mengusap puncak kepala Raya pelan menempelkan pipinya ke kepala Raya.


"Sa ...," desis Raya pelan. Angkasa kemudian bergumam pelan melirik ke arah Raya.


"Hm?"


"Banyak orang lho ... nggak ... malu?"


"Kan kita pake baju. Nggak perlu malu lah."


"Ish bukan." Raya berdecak memukul tangan kiri Angkasa yang kini masih melingkar di pinggangnya. "Tuh banyak anak kecil ...."


"Lo cerita dulu ke gue," ucap Angkasa. Intonasinya kini berubah menjadi agak dingin membuat Raya mengerjap. Biasanya ada nada-nada jahil atau main-main, kok sekarang jadi dingin sih?


"Maksa ih," gumam Raya mencoba bergurau.


"Kan gue udah cerita ke elo. Sekarang gantian," ucap Angkasa tersenyum tipis. "Masa nanya informasi sama calon pacar nggak boleh?" sambungnya kali ini dengan nada menggoda membuat Raya berdecak kesal.


Raya kemudian menghela napas dan mendongak menatap Angkasa yang kemudian langsung disambut tatapan hangat cowok itu.


Ganteng.


Ganteng banget.


GANTENG BANGET!!!


Raya menelah salivanya, untuk kesekian kalinya. Mengerjap pelan, merasakan desiran hangat menjalar diseluruh tubuhnya.


Sesaat dia sudah merasa seperti artis terkenal drama Korea.


Dan berada dalam drama itu.


Tapi dia lupa seorang Angkasa bisa membuatnya terpana dan kesal dalam satu waktu.


"Napa? Mau cium hm?" ucap Angkasa tersenyum menyeringai membuat Raya buru-buru mendorong Angkasa jauh-jauh.


Nggak heran sih emang Angkasa bilang kaya gitu. Jarak wajah mereka tadi aja udah cukup deket, tinggal majuin bibir dikit dan ... BOM! Terjadilah sebuah ciuman.


"Ish, ngeselin banget sih lo!" geram Raya mengusap kasar wajah Angkasa, hampir dia khilaf mau nyakar-nyakar muka Angkasa.


"Eh eh, sori, sori. Iya sayang iya, ntar kalo udah sampe rumah baru ya iya hehe ...."


"MAU GUE LAS TUH BIBIR BIAR LO DIEM HAH!?"

__ADS_1


"Ih kalo bibir aku di las kita ciumannya gimana sayang?"


"BUODO AMAT!"


"Ih jahat."


"JIJIK ANGKASA!"


"Tapi Raya tetep sayang-"


"Kakak berdua lagi berantem ya?"


Angkasa refleks menghentikan kalimatnya dan menolwh bwgitupun araya yang tadinya sudah siap meledak jika saja Angkasa kembali menggodanya.


"Eh?"


"Kakak berdua rebutan apa sampai berantem?"


"He?"


"Jangan berantem ya, kak. Kata mamah nggak baik."


"Lah?"


"Terus buat kakak yang mukanya kaya kucing," ucap anak kecil itu menunjuk Angkasa. Sedangkan Angkasa langsung refleks menunjuk dirinya sendiri.


"Gue?"


"Kata mamah, laki-laki harus ngalah sama perempuan. Jadi kakak nggak boleh rebutan sama kakak yang cantik ini," sambung anak kecil itu sembari menunjuk Raya yang sedang menoleh menatap Angkasa.


Mendapat pujian 'cantik' dari seorang anak kecil langsung membuat percaya diri Raya naik. Dia langsung mengibaskan rambut pendeknya sambil bergaya membuat Angkasa membuang muka jijik.


"Ya udah yang, kak, aku main dulu! Jangan berantem lagi ya!" pamit anak kecil itu melambaikan tangan lucu lalu balik kanan dan berlari ke kerumunan anak kecil lainnya yang sedang bermain di air mancur.


Angkasa dan Raya kemudian saling tatap lalu terkekeh pelan.


"Muka gue kaya kucing ya?"


"Iya sih ... kiyowo, hehe."


"Eh?"


"Kenapa?"


"Nggak papa kok."


Mereka berdua kemudian menghabiskan sore di taman itu. Tertawa bersama. Angkasa yang tiba-tiba jadi salah tingkah karena Raya dan Raya yang diam-diam hatinya meringan karena percakapan sederhananya dengan Angkasa tadi apalagi ditambah anak kecil yang tiba-tiba ngikut.


Mungkin belum sekarang Raya berterus terang soal masalahnya.


Ia butuh waktu untuk mempersiapkan diri.

__ADS_1


Memastikan hatinya sudah benar-benar pulih dari luka.


💗💗💗


__ADS_2