Angkasa

Angkasa
11. Biar Gue Aja


__ADS_3

--๐Ÿ’—--


"Lo kenapa dah dari tadi ditekuk mulu mukanya," celetuk Mesya sambil memangku dagunya menatap Angkasa yang berada tepat didepannya sedang melamun.


Mata Angkasa menatap Mesya sebentar, ia lalu mendesah. Patah hati sebelum memulai itu emang bikin mood langsung anjlok.


"Orang yang gue suka... udah mau digebet," ucap Angkasa lirih dengan suara seraknya.


Mesya membulatkan matanya, tunggu, jadi yang kemarin Angkasa maksud bukan dirinya?


Jadi dia cuma kegeeran?


Huhu sedih banget, udah ngefly, tiba-tiba di jatuhin lagi dengan kerasnya.


Mesya kemudian mengerjap, berdeham lalu menatap Angkasa. Sedikit kasihan sih melihat cowok dingin ini tiba-tiba jadi galau.


"Emang udah pasti diterima sama cewek yang lo suka itu?" tanya Mesya berusaha menormalkan suaranya.


"Nggak tau juga sih." Angkasa mendesah, menatap Mesya.


"Ngomong-ngomong, setiap kisah percintaan gue kayanya lo orang yang pertama kali tau ya? Lo... nggak bosen kan?" tanya Angkasa memelankan suaranya di kalimat terakhirnya.


Mesya menunduk. Nggak, Sa, gue nggak bosen. Tapi gue baper!


Mesya tersenyum, setulus mungkin. "Nggak kok."


"Makasih ya," ucap Angkasa sembari mengulum senyum. "Lo masih ikutan cheers?"


Mesya menggeleng pelan. "Nggak sih, cuma kalo ada latihan gue kadang ikut."


"Ohh...." Angkasa mengangguk-angguk.


Hening.


Keduanya sama-sama terdiam.


Memikirkan perasaan masing-masing. Mesya dengan kekecewaannya sedangkan Angkasa dengan rasa patah hatinya.


Tak lama terdengar langkah kaki membuat Angkasa maupun Mesya mendongak. Menatap seorang gadis berponi pagar itu yang celingak-celinguk. Matanya menatap sekitar sampai netra coklat itu bertemu dengan netra hitam milik Angkasa.


Keduanya refleks tersenyum. Membuat Mesya mengerutkan kening.


Tidak biasanya Angkasa tersenyum dengan gampangnya pada seorang cewek.


Gadis itu kemudian mendekat, membuat Angkasa berdiri diikuti Mesya.


Senyum gadis itu terkembang sempurna saat sudah berada didepan Angkasa. Matanya kemudian melihat kanan kiri dan mendekatkan bibirnya ke arah Angkasa.


"Kak Angkasa, Kak Darren ada di sini nggak?" tanya gadis itu yang langsung membuat Angkasa terkekeh.


Terlihat lipatan kening Mesya semakin dalam. Ia tak bisa mendengar apa yang kedua orang itu bicarakan. Mereka berbicara secara berbisik gimana mau dengar?


"Kenapa? Kangen?" tanya Angkasa kembali dengan suara normalnya membuat Mesya mendelik tak paham.


Hah?


Angkasa sedang bicara apa sih dengan gadis itu? Kok pakek kangen-kangenan?


"Ehehe, ya kan sibuk mau ujian jadinya jarang ketemu. Aku kangen deh," ucap gadis itu malu-malu membuat Mesya semakin tak mengerti.


Mereka... kok mencurigakan?


"Kalo udah selesai pasti bakalan intens lagi kok deketnya, Lis, tenang aja," ucap Angkasa.


Oke, sepertinya Mesya disini terlupakan.


"Hehe, ya udah kak Asa. Nanti lanjut di chat aja ya? Kayanya kakak disamping Kak Asa udah nunggu lama deh," ucap gadis yang disapa Angkasa 'Lis' itu dengan nada malu. Mesya tersadar langsung tersenyum kaku sedangkan gadis itu segera mengngguk sopan.


"Duluan ya Kak Asa!" pamit gadis itu sambil melambaikan tangannya.


Angkasa hanya tersenyum tipis dan kembali duduk di kursi menatap Mesya yang masih belum mengalihkan tatapannya dari pintu perpustakaan tempat gadis itu menghilang.


"Ngapain lo?" celetuk Angkasa membuat Mesya kembali duduk. Dia gelagapan.

__ADS_1


Seperti teringat sesuatu Mesya segera berdiri. "Anu... Sa, kayanya masih ada yang perlu diurus di ruang cheers. Gue pamit ya, bye!"


Dengan tergesa-gesa Mesya keluar dari area perpustakaan.


Sial. Jangan sampai Angkasa berpikir yang enggak-enggak. Apalagi sampe mikir kalo Mesya cemburu tadi. Walaupun jawabannya iya.


Angkasa mengerjap. Menatap kepergian Mesya dengan bingung.


Dasar cewek aneh. Pikirnya.


--๐Ÿ’—--


Raya mengerjap. Menatap Ryan yang kini sedang beelutut dihadapannya sambil menyerahkan sepucuk mawar merah yang sedang bagus-bagusnya.


"Lo... sakit?" tanya Raya menatap wajah Ryan.


Kelakuan cowok ini sungguh aneh.


Ryan mendongak menatap Raya penuh arti. "Gue suka sama lo, Ray. Dari awal kita ketemu."


Raya mengerjap. Cowok ini bilang apa tadi?


Suka?


Sama Raya?


Tapi kan Raya nggak suka.


"Jangan bercanda deh, Yan. Gue nggak suka," ucap Raya tertawa hambar. Ryan terkekeh kecil. Ia lalu bangkit dan menatap tepat ke manik mata Raya.


"Lo nggak suka ya sama gue?" tanya Ryan kecewa, "maaf, kalo gue mendadak kaya gini. Maaf juga bikin lo nggak nyaman. Kalaupun lo nggak mau terima cinta gue... tolong terima bunga gue."


Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu kembali mengamtupkan bibirnya. "Soalnya itu gue ambil duit mama buat beli. Mubazir nggak lo terima hehe."


Raya tersenyum kecil. Ia kemudian menatap Ryan yang kini mengusap puncak kepalanya sebentar dan segera berbalik untuk pergi.


"Ryan," panggil Raya membuat Ryan berbalik.


Cowok itu kemudian mengangguk. Berusaha tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Raya sendiri.


--๐Ÿ’—--


Raya berjalan, tak berniat kembali ke kelas karena memang kelas sedang kosong dan pasti akan sangat ramai. Dia memilih untuk beristirahat di UKS. Lumayan bisa tidur sambil main hape.


Ia memutar kenop pintu, tersenyum ramah pada Mbak Sintaโ€”penjaga UKS yang saat itu tengah asik dengan hapenya.


"Raya kan? Kenapa?" tanya Mbak Sinta langsung membuat Raya berhenti dan meringis kecil.


"Ngantuk, Mbak. Perut aku juga kayanya agak sakit gitu," ucap Raya meringis kecil.


Mbak Sinta mengangguk mengerti. "Mau dibuatin teh nggak?"


Raya menggeleng. "Nggak usah, Mbak, mau tidur aja."


"Eh, Ray? Rok kamu habis kena cat ya?" tanya Mbak Sinta langsung membuat Raya membulatkan matanya lebar-lebar.


"Masa, Mbak? Mana?"


"Itu... di belakang rok kamu... atau kamu... lagi?" tanya Mbak Sinta ragu.


Raya meneguk salivanya. Ia kemudian berjalan ke arah cermin di ujung ruangan dan membalikkan tubuhnya. Ia lalu memutar kepalanya dan membelalak ketika melihat roknya kini sudah merah.


"MBAK SINTA! GIMANA INI? HUHU," pekik Raya langsung membuat Mbak Sinta terlonjak.


"Lho kamu lagi to? Bentar-bentar, Mbak cariin," sahut Mbak Sinta yang langsung mencari sesuatu di lemari UKS.


Makin kebawah, makin cemas wajah Mbak Sinta membuat Raya semakin merasa perasaannya mulai tak enak.


"Yah, habis, Ray itunya," ucap Mbak Sinta lemas membuat Raya merengek.


Mbak Sinta kemudian menenangkan Raya meminta untuk menunggu sebentar selagi dia mencari di indomaret depan. Raya menurut dan duduk dengan wajah hampir menangis.


"Tunggu, Ray. Cuma bentar kok."

__ADS_1


--๐Ÿ’—--


"Eh, Mbak Sinta," sapa Angkasa saat mereka berpapasan di koridor UKS.


Mbak Sinta mengerjap karena terkejut. "Kamu, Angkasa, aku kira siapa."


Angkasa yang saat itu ditugasi Pak Gery, petugas tata usaha disekolah mereka untuk memanggil Mbak Sinta langsung merekahkan senyum.


"Mbak, dipanggil Pak Gery tadi," ucap Angkasa membuat wajah Mbak Sinta langsung cemas.


"Yah, Mbak kan mau beliin itu... buat Raya," gumam Mbak Sinta.


Angkasa mengerjap. Raya?


"Emang Raya kenapa, Mbak?"


"Anu, aduh kamu panggilin aja temen ceweknya ya. Mbak mau ngurus panggilan Pak Gery, suruh beli roti girl," ucap Mbak Sinta cemas.


Angkasa mengerjap, setelah Mbak Sinta pergi. Ia kemudian segera melangkahkan kaki menuju UKS menemui Raya.


Sampai di depan pintu, Angkasa langsung membuka dan mendapati Raya sedang memain-mainkan sepatu. Gadis itu langsung mendongak dan terkejut.


"Lho, Angkasa?" tanya Raya heran.


Angkasa mendekati Raya dengan wajah sedikit cemas Angkasa menatap Raya dari atas sampai bawah. "Lo sakit?"


Raya menggeleng pelan. Bingung kenapa Angkasa tiba-tiba ada disini.


"Trus? Kok tadi Mbak Sinta bilang suru beli roti girl buat Raya?" tanya Angkasa heran.


Raya mengerjap dan memukul keningnya sendiri. "Mending panggilin siapa gitu temen gue di kelas. Gue butuh banget ini. Emergency!"


"Kenapa nggak gue aja?"


"Hah?"


Angkasa mengerjap tapi dia langsung berdeham. "Lo butuh apa? Biar gue beliin."


"Yakin?"


"Yakin, Ray. Apa aja."


"Beliin anu... ehm... buat cewek itu lho... kalo lagi PMS...."


Raya menunduk. Malu sendiri jadinya.


Sedangkan Angkasa mengerjap perlahan. Mencerna kata-kata Raya.


"Maksud lo... yang buat PMS itu?" tanya Angkasa ragu.


Raya mengangguk. "Udah deh, panggilin yang lainโ€”"


"Biar gue aja," potong Angkasa membuat Raya mengerjap tak percaya.


"Beneran? Lo yakin?"


Angkasa mengangguk. "Beli anu kan? Tunggu."


"Tapi, Sa, yang warna orange jangan yang ungu kehitaman atau pink. Trus yang bersayap," cicit Raya membuat Angkasa mengernyit.


"Orange? Emang kaya gituan ada warnanya ya? Trus kok bersayap? Bisa terbang?" tanya Angkasa.


"Bukan, ogeb! Itu... bungkusnya. Kalo yang kehitaman itu nanti kepanjangan, kalo yang pink takutnya kekecilan," ucap Raya dengan nada tertahan. Cukup! Ia malu!


"O-oke. Gue beliin. Tunggu, yang orange bersayap kan?" ulang Angkasa memastikan.


Raya mengangguk kaku. "Sama jaket kalo bisa, atau sweater."


Angkasa kemudian mendesah dan segera berjalan menuju pintu. Ia kemudian memandang Raya sebentar dan tersenyum samar.


"Demi lo gue lakuin ini, Ray."


--๐Ÿ’—--

__ADS_1


__ADS_2