Angkasa

Angkasa
Masalah cinta


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 223


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Tliingg...


Radian yang baru tiba di rumah penumpangnya dibuat kaget saat ponselnya berdering, ia pun mengeceknya sejenak mencari tahu siapa yang mengiriminya pesan, matanya seketika terbelalak ketika melihat foto istrinya tengah bersama Muzaki di lorong kampus dan tampak dekat sekali.


Sontak saja Radian langsung emosi, ia tak perduli siapa yang mengirim foto tersebut karena baginya yang paling penting saat ini adalah mencari tahu kebenaran dari foto tersebut, ya tentu karena Radian tak mau mudah terjebak oleh orang yang mengirim foto itu kepadanya.


"Kurang ajar nih si Zaki! Dia masih aja berani deketin Oni, tapi kira-kira ini benar gak ya? Apa cuma editan doang buat manasin gue? Ini lagian nomor siapa sih gak ada namanya kayak gini? Bikin bingung aja jadi orang!" gumam Radian.


Pria itu kembali menatap foto di ponselnya untuk mengecek keaslian dari foto tersebut, sampai akhirnya ia yakin bahwa foto itu adalah asli.


"Ini fix sih, emang benar Oni lagi berduaan sama Muzaki di kampus!" geram Radian.


"Ah sialan! Baru semalam minta maaf, udah terjadi lagi yang kayak gini. Emang bikin emosi aja tuh orang, pengen kali ya gue hajar dia? Gue harus ke kampus sih ini!" kata Radian.


Radian yang terbawa emosi pun memakai kembali helmnya dan bersiap melaju pergi menuju kampus, namun penumpangnya lebih dulu keluar dan mencegahnya.


"Eh eh tunggu mas!" teriak penumpang itu.


"Ada apa ya mbak?" tanya Radian bingung.


"Lah kok ada apa sih mas? Saya kan yang order masnya buat anterin saya ke kantor, kok malah main pergi gitu aja?" ucap si mbak itu.


"Oh iya ya, maaf saya lupa mbak!" ucap Radian.


"Hadeh, gimana sih mas ini? Untung aja ganteng, jadi lucu deh kalo lupa begitu. Yaudah mas, yuk anterin saya ke kantor! Saya udah mau terlambat nih, ngebut ya mas!" pinta si mbaknya.


"I-i-iya mbak, ini helmnya dipakai dulu mbak!" ucap Radian menyodorkan helm pada mbak itu.


"Ah iya, makasih mas!" ucap mbak itu.


Setelahnya, mbak bernama Siena itu naik ke atas jok motor Radian dan menaruh tangannya di pinggang pria itu tanpa rasa ragu.


"Duh, ini gimana ya? Gue gak bisa samperin Oni lagi sekarang, semoga aja Oni gak ada niatan buat selingkuh dari gue! Walau kelihatannya Oni kayak tertarik sama Muzaki," batin Radian.


Siena tampak bingung melihat ojek yang ditumpanginya itu malah terbengong.


"Mas, ayo jalan mas jangan diam aja!" ujar Siena menegur Radian sembari menepuk punggung pria itu dengan sedikit kasar.


"Eh iya iya... maaf ya mbak!" ucap Radian.


"Iya gapapa, buat masnya mah selalu saya maafin kok. Yaudah mas, yuk buruan kita jalan! Saya udah mau terlambat ini, bisa gawat kalau sampai saya terlambat dan nanti dimarahin bos!" ucap Siena.


"Iya mbak, ini saya jalanin motornya. Sekali lagi maaf ya mbak!" ucap Radian.


"Oke mas!" ucap Siena singkat sambil tersenyum.


"Haduh, gue harus fokus dulu sama orderan ini! Baru abis itu gue susul Oni ke kampus dan tanya langsung ke dia, buat apa dia samperin Muzaki lagi! Tapi gue curiga sih, ini ulah Muzaki yang suka genit ke cewek-cewek di kampus! Emang dasar cowok wibu bau bawang!" batin Radian.


Akhirnya Radian melajukan motornya pergi dari sana dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan penumpangnya, sekaligus juga Radian ingin melampiaskan emosinya dengan cara ngebut.


"Awas aja kamu Oni! Begitu aku ketemu sama kamu nanti, aku langsung kasih hukuman buat kamu dan kurung kamu di kamar seharian tanpa boleh kemana-mana!" batin Radian kesal.


β€’


β€’


Sementara itu, Zaenal menemui Laras yang sedang bersama Revi serta Latifah di kantin. Tiga gadis itu kompak terkejut ketika Zaenal muncul lalu mendekati mereka disana, terutama Latifah yang tak menyangka kalau ia bisa kembali berdekatan dengan Zaenal saat ini.

__ADS_1


Namun, kebahagiaan Latifah seketika hilang lantaran Zaenal terlihat menuju ke arah Laras dan berhenti tepat di dekat gadis itu, Latifah pun memasang wajah curiga sekaligus kesal pada Laras yang telah merebut Zaenal darinya.


"Hai honey! Hai juga ya Revi, Latifah! Saya gak nyangka ternyata kalian berteman!" ucap Zaenal menyapa ketiganya.


Latifah kembali dibuat geram ketika Zaenal menyebut Laras dengan panggilan honey.


"Iya dong pak, mereka berdua ini teman-teman aku. Oh ya, kamu udah selesai ngajarnya? Kok malah ke kantin sih bukannya ngajar di kelas?" ucap Laras mendongak dan bertanya pada kekasihnya.


"Iya honey, tadi barusan aku habis bicara sama Zian teman kamu itu. Terus aku langsung kesini aja temuin kamu, karena aku kangen sama kamu!" ucap Zaenal sembari memeluk Laras dari belakang dengan posisi duduk.


Revi dan Latifah sama-sama tak percaya dengan apa yang mereka saksikan saat ini, ya tentu karena Zaenal serta Laras tampak sangat romantis.


"Eee pak, sebenarnya bapak sama Laras ini ada hubungan apa sih?" tanya Latifah penasaran.


"Eh iya, kamu belum kasih tahu ke teman-teman kamu ya honey tentang status hubungan kita sekarang?" ucap Zaenal pada Laras.


"Belum sayang," jawab Laras menggeleng.


"Yaudah, biar aku aja yang jelasin ya!" ucap Zaenal lalu melepas pelukannya dan kembali berdiri tegak menatap Revi serta Latifah sambil tersenyum.


"Jadi begini Revi, Latifah... sebenarnya diantara saya dan Laras itu sekarang sudah terjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, jadi kami ini telah resmi berpacaran!" jelas Zaenal.


"Apa??" Latifah terkejut bukan main mendengarnya, mulutnya terbuka lebar menatap ke arah Laras.


"Iya Latifah, saya sama Laras sudah berpacaran. Ya baru mulai kemarin sih, tapi kalian bantu doa ya supaya hubungan kami langgeng!" ucap Zaenal.


"Iya pak, tenang aja pasti kami doain kok! Ya kan Ifah?" ucap Revi.


"Eh eee iya iya..." Latifah terpaksa pura-pura mengiyakan ucapan Revi, walau sebenarnya dirinya saat ini amat hancur dan sakit.


"Baguslah! Kalau begitu sebagai bentuk rasa syukur saya setelah berhasil memiliki Laras, sekarang saya mau traktir kalian semua sampai puas! Gimana? Setuju gak?" ucap Zaenal.


"Wah setuju banget pak!" jawab Revi semangat.


"Nah, kalo gitu ayo silahkan pesan aja apa yang kalian mau! Tidak usah ragu tidak perlu sungkan, saya yang bayarin nanti!" ucap Zaenal.


"Oke pak!" ucap Revi.


Revi menoleh ke arah Latifah dan merasa heran melihat gadis itu hanya diam termenung, padahal biasanya Latifah selalu bersemangat tiap kali ada yang ingin mentraktirnya.


"Fah, kamu kenapa diam aja? Kamu gak pengen ditraktir sama pak Zaenal?" bisik Revi.


Zaenal pun duduk di samping Laras sembari merangkul gadisnya dan membuat Latifah semakin sakit hati sekaligus iri.


"Sayang, aku ditraktir juga gak?" tanya Laras dengan nada manjanya.


"Ya pasti dong sayang! Kamu mah udah wajib banget bakal aku traktir!" jawab Zaenal tersenyum sambil mencubit pipi Laras.


"Ahaha bisa aja kamu.." Laras tertawa kecil dan membenamkan wajahnya pada dada bidang sang kekasih sambil memejamkan mata.


Latifah pun semakin tak tahan, ia berusaha keras menahan dirinya untuk tidak terbawa emosi setelah melihat kedekatan Zaenal serta Laras di depan matanya langsung.


β€’


β€’


Muzaki tiba di kantin, ia tersenyum begitu melihat gadisnya ada disana bersama teman-temannya. Tentu saja Muzaki langsung bergerak mendekati Revi karena ia ingin bertemu dengannya.


Oni pun melakukan hal yang sama, wanita itu mengikuti kemana Muzaki pergi masih tetap menjaga jarak lumayan jauh dari pria itu agar tidak ada yang melihat kebersamaan mereka.


"Assalamualaikum, sayang!" Muzaki menghampiri Revi dan mengucap salam sambil tersenyum.


"Eh kak Zaki? Waalaikumsallam..." ucap Revi.


"Halo halo kalian semua!" Oni juga ikut mendekat dan menyapa semua orang di meja itu sambil melambaikan tangan.


"Halo juga kak Oni!" ucap Revi.


"Wah seru nih tambah rame yang datang! Sini sini kalian ikut gabung aja sama kita, kebetulan saya lagi mau traktir kalian semua dalam rangka hari bahagia saya dan Laras!" ucap Zaenal.


"Nah iya tuh kak Zaki, kak Oni, yuk gabung sama kita dan pesan makanan!" sahut Laras.


"Ini serius pak Zaenal sama Laras udah jadian? Wah gak nyangka banget saya, selamat ya pak! Selamat juga Laras!" ucap Muzaki.


"Terimakasih Muzaki! Yasudah, silahkan duduk dan pesan makan atau minum sesuka hati kamu! Kamu juga Oni!" ucap Zaenal.


"Makasih pak!" ucap Muzaki dan Oni.

__ADS_1


Mereka berdua pun duduk di kursi yang kosong, Muzaki tersenyum menatap Revi sembari mengusap rambutnya.


"Rev, kamu apa kabar? Udah lama nih kita gak ketemu, aku jadi rindu!" ucap Oni.


"Iya kak, Alhamdulillah aku baik! Kak Oni sendiri gimana? Terus kandungan kak Oni juga sehat-sehat aja kan?" ucap Revi.


"Aku baik kok, begitu juga kandungan aku. Tapi, dia dari kemarin maksa banget pengen ketemu sama kamu Rev. Kayaknya dia nyaman deh kalau didekat kamu," ucap Oni tersenyum.


"Ahaha, duh jadi gak sabar nih aku mau lihat dedek bayinya lahir!" ucap Revi.


"Iya kak Oni, aku juga sama. Berapa bulan lagi sih lahirannya kak?" sahut Latifah.


"Masih sekitar empat bulan lagi," jawab Oni.


"Ohh yah masih lama dong, padahal aku udah pengen gendong gendong anak bayi. Kan pasti anaknya bakal lucu banget, orang ibunya aja cantik plus lucu!" ujar Latifah.


"Ah bisa aja kamu Fah! Tapi aamiin deh, semoga benar anakku nanti lucu!" ucap Oni.


"Iya dong kak, biasanya anak kan bakal persis sama ibunya. Oh ya, ini kak Oni kok sendirian aja? Kak Radian nya mana?" ucap Latifah.


"Eee Radian masih ngojek, mungkin sebentar lagi dia bakal datang buat jemput aku. Makanya aku kesini sekalian nungguin dia," ucap Oni.


"Oalah, yaudah kak pesan aja makanan atau minuman kesukaan kak Oni!" ucap Laras.


"Iya Laras, makasih!" ucap Oni tersenyum.


Oni pun memanggil pelayan untuk datang dan mengatakan pesanannya, Revi juga menawarkan pada Muzaki untuk memesan makanan maupun minuman.


"Kak, kamu gak mau pesan juga?" tanya Revi.


"Umm... boleh deh, kebetulan aku lagi haus plus lapar sehabis ikut kelas tadi. Mumpung gratis juga, kapan lagi kan makan gratis?" ujar Muzaki.


"Hahaha kamu ih!" Revi tertawa sambil memukul lengan Muzaki.


β€’


β€’


Singkat cerita, Radian datang ke kampus angkasa untuk menjemput istrinya dengan perasaan kesal dan emosi mengingat sebelumnya ia melihat foto saat Oni bersama Muzaki.


Pria itu langsung turun dari motornya dan bergegas mencari Oni, ia sudah tidak sabar lagi ingin segera menghukum istrinya itu karena sudah berani mendekati lelaki lain.


"Awas aja kamu Oni!" gumam Radian.


Disaat Radian hendak melangkah, tiba-tiba ia berpapasan dengan Zian yang sedang murung. Radian pun penasaran mengapa sohibnya itu tampak bersedih, ia menghampiri Zian dan menyapanya.


"Eh Zian!" Radian menyapa dan menepuk pundak Zian dari samping.


"Kenapa An?" ucap Zian singkat.


"Harusnya gue yang tanya sama lu! Lu kenapa murung gitu? Ada masalah?" ujar Radian.


"Gapapa kok, udah ya gue cabut dulu?" ucap Zian.


"Eh eh tunggu tunggu! Lu gak bisa bohongin gue bro, gue tahu kalo lu lagi ada masalah sekarang! Udah, mending lu cerita sama gue!" ucap Radian.


"Gue gak ada masalah apa-apa, An. Lu gak percayaan banget sih jadi orang! Kalaupun gue punya masalah, emang lu bisa bantu gue selesaiin masalah gue ha?" ujar Zian.


"Pasti gue bakal berusaha buat bantu lu bro! Yang penting lu cerita dulu ke gue!" ucap Radian.


"Ini tentang Laras, gue masih gak percaya kalau Laras udah jadian sama pak Zaenal, dosen kita yang tampan itu. Gue kira selama ini Laras cuma sekedar kagum dan pura-pura aja bilang suka sama pak Zaenal buat panas-panasin gue, eh ternyata mereka malah jadian beneran!" ucap Zian menjelaskan masalahnya pada Radian.


"Hah? Jadi, maksud lu sekarang pak Zaenal sama Laras udah jadian gitu? Seriusan lu bro?" ujar Radian terkejut bukan main.


"Iya bro, lu kaget kan? Sama gue juga, tadi pak Zaenal bilang sendiri ke gue kayak gitu. Pupus udah deh bro harapan gue buat punya cewek, emang sial banget nasib gue!" ucap Zian.


"Waduh, lu jangan bilang gitu bro! Kalo lu gak bisa dapetin Laras, itu tandanya dia bukan jodoh lu. Kan masih ada cewek lain di luaran sana bro, lu harus bisa ikhlas dan moveon!" ucap Radian.


"Lu gak ngerti perasaan gue bro! Gue ini beneran sayang sama Laras, sulit buat gue lupain Laras!" ucap Zian.


"Iya iya gue ngerti kok, lu pikir perasaan gue sama Revi gimana ha? Gue sayang dan cinta banget sama dia, justru yang gue cintai awalnya itu Revi bukan Oni. Tapi, takdir berkata lain dan mengharuskan gue untuk nikah sama Oni. Dari situ gue sadar bro, kalau gak jodoh ya mau gimana lagi? Lu harus juga bisa mikir kayak gitu, walau sampai sekarang gue pun masih susah buat lupain cinta gue sama Revi!" ucap Radian.


"Apa??" Radian dan Zian terkejut mendengar suara tersebut, mereka kompak menoleh mencari tahu siapa yang bersuara.


Radian pun terbelalak ketika melihat Oni berada di dekatnya bersama Revi serta Muzaki yang sepertinya mendengar kalimat yang dilontarkan Radian tadi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2