Angkasa

Angkasa
Makan roti bakar


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 215


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Laras tiba di kampusnya menaiki ojek online yang ia pesan sebelumnya, karena Zian yang biasanya menjemput ia hari ini tidak datang entah kenapa dan membuat Laras terpaksa harus pergi ke kampus sendirian.


Namun, tentunya Laras merasa senang karena hari ini ia bisa bebas dari gangguan Zian, karena memang wanita itu tak menyukai Zian yang terus saja mengganggu kehidupannya.


Setelah membayar ongkos ojek, Laras pun pergi ke dalam kampusnya dengan langkah kecil sambil tersenyum menikmati segarnya udara pagi di kampus yang asri ini, selain karena udaranya yang segar, Laras juga merasa bahagia dan nyaman karena akhirnya ia bisa bebas dari Zian kali ini.


"Huh setelah sekian lama, gue bisa juga ngerasa kebebasan seperti sekarang!" batinnya.


Disaat ia sedang asyik berjalan, tanpa sengaja dirinya justru melihat Zaenal si dosen tampan yang juga baru tiba disana. Terlihat juga kalau Zaenal berjalan dari arah parkiran dan hendak memasuki lobi kampus, Laras pun tersenyum senang lalu bergegas menghampiri Zaenal.


"Pak Zaenal!" teriaknya sembari berlari.


Mendengar namanya disebut, Zaenal langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara, ia tersenyum saat melihat Laras ada disana lalu menanti gadis itu hingga tiba di dekatnya.


"Pak, selamat pagi!" ucap Laras menyapa Zaenal dengan nafas tersengal-sengal.


"Iya pagi, kamu terlihat ceria sekali. Apa yang bikin kamu sampai begini? Oh pasti karena melihat saya ya?" tanya Zaenal sengaja menggoda Laras.


"Ah bapak bisa aja," ucap Laras malu-malu.


"Hahaha, saya bercanda. Yasudah, kamu mau masuk ke dalam bareng saya atau ada yang mau kamu bicarakan nih? Tadi kan kamu panggil saya, pasti ada alasannya dong?" tanya Zaenal.


"Eee iya benar, pak. Alasan saya manggil bapak tadi tuh karena saya mau ngobrol sama bapak, tapi kalau sambil jalan juga gapapa. Boleh kan pak?" jawab Laras sambil tersenyum.


Zaenal ikut tersenyum mendekati Laras, kemudian mencolek pipi gadis itu dengan telunjuknya.


"Boleh kok." Laras dibuat tersipu dan seketika wajahnya memerah akibat sentuhan dari Zaenal padanya, gadis itu menunduk malu membuat dosen tampan tersebut makin gemas dengan sikap Laras.


"Kamu jangan nunduk gitu, biarin saya lihat wajah kamu yang cantik itu!" ucap Zaenal sembari menarik dagu Laras ke atas.


"Umm pak, jangan dekat-dekat ah saya malu! Gak enak juga sama orang di sekitar kita, nanti mereka mikir yang enggak-enggak lagi. Kalau bapak mau dekat sama saya, di luar aja nanti!" pinta Laras.


"Ohh kamu berani menggoda saya kalau di luar kampus doang, ya? Lemah kamu!" cibir Zaenal.


Zaenal melepaskan wajah Laras, lalu berbalik dan hendak pergi. Namun, Laras bergerak mencekal lengan Zaenal dari belakang meminta pria itu tetap berada disana.


"Tunggu pak!" ucap Laras.


"Kenapa lagi? Bukannya tadi kamu bilang kalau kita gak boleh dekat-dekat di kampus, ya kan?" tanya Zaenal sedikit ketus.


Laras justru tersenyum merasa bahwa Zaenal telah menyukai dirinya, "Bapak marah ya? Bapak pengen kalo saya godain bapak lagi kayak kemarin? Bilang aja dong pak!" ucapnya.


"Apaan sih? Saya itu cuma heran aja sama kamu, di luar kamu berani banget goda saya, tapi giliran di kampus nyali kamu ciut!" ujar Zaenal.


"Ya karena saya gak mau bikin karir bapak di kampus ini jelek, pak."


"Alasan. Bilang aja kalau kamu gak lebih dari seorang wanita gatal, yang sukanya menggoda orang-orang seperti saya. Iya kan Laras?" ucap Zaenal menekan Laras.


"Gak gitu, saya beneran suka kok sama bapak. Tapi, bapak suka juga gak sama saya?" ucap Laras bertanya pada Zaenal.


Zaenal terdiam kaget sekaligus bingung ketika Laras menanyakan hal itu.




Sementara itu, Revi bersama Muzaki pergi bersama ke kampus di pagi hari yang indah ini. Namun, sebelumnya Muzaki memutuskan untuk membawa Revi ke sebuah warung kopi karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Muzaki.


Revi pun setuju saja dengan kemauan sang kekasih, kelasnya juga masih dimulai sekitar satu jam lagi sehingga ia bisa mengobrol sejenak dengan kekasihnya di warung kopi.


"Rev, kamu mau pesan apa?" tanya Muzaki.

__ADS_1


"Eee susu hangat deh," jawab Revi.


"Gak makan?"


"Aku udah makan tadi."


"Oh oke," Muzaki mengangguk kemudian memesan makanan serta minuman untuknya dan Revi.


"Kak, apa yang pengen kak Zaki bicarain sama aku?" tanya Revi menatap wajah kekasihnya.


"Ini masalah semalam, aku tahu kamu pasti masih kepikiran sama sikap mama aku kan? Makanya sekarang ini aku mau semangati kamu, supaya kamu gak sedih lagi!" jelas Muzaki.


"Ohh kirain apa, kalau soal itu mah gapapa kak. Aku gak terlalu mikirin apa yang dikatakan mama kamu kok, kak!" ucap Revi.


"Beneran?" tanya Muzaki memastikan.


"Iya kak, lagian sikap dan perkataan mama kamu semalam itu masih biasa aja kok, gak setajam ucapan mama aku ke kamu. Kalau kamu aja bisa sabar hadapi mama aku, masa iya aku udah nyerah gitu aja cuma karena sikap mama kamu yang dingin semalam? Lagian masih banyak kesempatan buat aku tunjukin ke mama kamu, kalau aku ini sayang sama kamu!" ucap Revi.


"Hahaha, duh aku jadi baper nih gara-gara ucapan kamu. Makasih ya cantik, kamu udah bikin aku bahagia sekarang!" ucap Muzaki tersenyum sembari mengusap wajah Revi.


"Aku kan sayang sama kak Zaki, jadi ya aku juga harus ikut berjuang!" ucap Revi.


"Oke sayang, aku senang lihat semangat kamu!" ucap Muzaki mengelus puncak kepala Revi.


Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sampai. Segelas susu hangat serta kopi susu yang dipesan Muzaki tadi diantar oleh pemilik warkop, roti bakar pesanan Muzaki pun menyusul dan membuat Revi membasahi mulutnya saat melihat roti itu.


"Kenapa Rev? Mau?" tanya Muzaki menggoda.


"Eee enggak kok, aku udah kenyang. Buat kak Zaki aja, kan kak Zaki belum sarapan!" ucap Revi malu-malu tapi mau.


"Yakin? Udah gapapa kalo mau mah bilang aja, nih aku suapin deh! Aku juga gak terlalu lapar kok, kita makan berdua aja ya sayang?" ucap Muzaki menawarkan roti pesanannya pada Revi.


"Boleh deh kalau kak Zaki yang maksa, tapi gausah banyak-banyak!" ucap Revi tersenyum malu.


"Hahaha, yaudah nih aku suapin ya?" ujar Muzaki menyodorkan roti bakar itu pada Revi.


"Aaaaa..." Muzaki menyuapi roti bakar miliknya ke dalam mulut Revi, layaknya seorang ayah tengah menyuapi anaknya.


"Ih kamu ngapain sih pake kayak gitu segala? Aku jadi inget waktu bibik aku nyuapin aku dulu," ujar Revi terkekeh kecil.


"Hahaha gapapa sekali-sekali,"


"Enak gak sayang?" tanya Muzaki sambil ikut memakan juga roti bakarnya.


"Enak banget!" jawab Revi penuh semangat.


"Bagus deh, kamu mau aku pesenin satu lagi buat di kampus nanti?" ucap Muzaki.


"Gausah, ini aja abisin dulu kak."


"Oke deh!" ucap Muzaki menurut.




TOK TOK TOK...


Radian dan Oni yang sedang melakukan kegiatan panas di dalam kamar, terkejut ketika mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Oni pun menahan gerakan Radian agar berhenti menyetubuhinya, ia tak mau tentunya jika membuat siapapun yang ada di luar sana merasa diacuhkan oleh mereka berdua.


"Mas, berhenti dulu! Itu ada yang ketuk pintu, kamu cek dulu deh sana!" pinta Oni.


"Aaarrgghh ganggu aja sih! Padahal aku udah tegang banget tau, pengen langsung masukin kamu sayang!" geram Radian.


"Mas, tahan lah!" ucap Oni kesal.


"Iya iya, aku yang cek ke depan. Kamu pake lagi pakaian kamu, supaya siapapun itu gak lihat kamu lagi telanjang kayak gini. Nanti yang ada dia bisa tahu kalau kita lagi berhubungan badan," ucap Radian menyuruh Oni memakai pakaiannya.


"Gimana aku mau pake lagi? Bajunya kan udah kamu robek tuh," ujar Oni cemberut.


"Eee yaudah paket apa aja dulu, biar aku yang temuin siapapun itu!" ucap Radian.


Oni mengangguk setuju, lalu Radian turun dari ranjang dan bergerak ke dekat pintu untuk mengecek siapa yang datang sembari juga membenarkan pakaian serta rambutnya.


Ceklek...


"Eh mama?" Radian terkejut saat melihat mama mertuanya disana, ia menoleh ke belakang seakan memberi kode pada Oni untuk segera pergi.


Oni yang mengerti segera bergegas menuju kamar mandi membawa pakaian robeknya itu.

__ADS_1


"Ada apa ya, mah?" tanya Radian pada mama mertuanya itu dengan nafas tersengal-sengal.


"Kamu lagi ngapain Radian? Kok sampai keringetan gitu terus ngos-ngosan? Mama ganggu ya?" Rihana mencurigai sikap Radian itu.


"Eee a-aku barusan abis olahraga sebentar, mah. Biasalah pagi-pagi kan waktu yang tepat buat olahraga, apalagi sekarang cuacanya cerah mah. Oh ya, mama ini kesini mau ketemu Oni ya?" ucap Radian mengalihkan pembicaraan.


"Kamu gausah bohong sama mama! Kelihatan kok kamu sama Oni lagi olahraga bareng, ya kan? Yaudah, mama gak ganggu kalian deh. Kamu lanjutin aja aktivitasnya!" ucap Rihana tersenyum.


"Gapapa mah, mama gak ganggu kok."


"Udah, kamu lanjut lagi aja! Mama bicara nanti aja kalau kalian udah selesai," ujar Rihana.


Radian terdiam gugup, ia tak tahu harus bagaimana saat ini. Di satu sisi ia senang karena bisa melanjutkan aktivitas panas tadi dengan Oni, tapi disisi lain ia juga cemas karena Rihana telah mengetahui apa yang sedang ia lakukan tadi.


"Mama!" tiba-tiba Oni muncul dari dalam kamar, menahan mamanya yang hendak pergi. Wanita itu sudah berganti pakaian dan terlihat fresh.


"Oni? Kamu kenapa keluar? Mama ini mau pergi kok, nanti aja mama bicaranya kalau kamu sama Radian udah selesai. Sana masuk lagi, kasihan tuh suami kamu!" ucap Rihana.


"Hah? Ma-maksud mama apa sih? Mas Radian kasihan kenapa?" tanya Oni tak mengerti.


"Eee mah, udah mah gapapa kok. Mama bicara aja sama Oni, aku juga mau mandi dan siap-siap buat ngojek. Sayang, kamu temenin mama ya!" ucap Radian.


"Iya mas," Oni mengangguk pelan.


Lalu, Radian pun masuk ke kamar. Ia mengambil handuk dari dalam lemari, kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sebelum itu tentunya ia akan menuntaskan apa yang ia inginkan sedari tadi.


"Aaahhh..."




Zian tanpa sengaja melihat sosok Laras tengah jalan berduaan dengan Zaenal di depan matanya, sontak saja pria itu kaget sekaligus emosi karena kedekatan wanitanya dengan dosen tampan di kampusnya itu, apalagi terlihat kalau mereka berdua tampak semakin akrab dan mesra.


Tentu Zian cemburu melihatnya, ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang memuncak akibat dari kedekatan mereka. Laras terlihat sangat gembira saat bersama Zaenal, tak seperti ketika dengan dirinya di mall kemarin.


"Aaarrgghh sial! Dicari kemana-mana gak ketemu, ternyata lagi berduaan sama tuh dosen genit! Kurang ajar emang!" gumam Zian.


Tanpa berpikir panjang, Zian langsung mendekati Laras serta Zaenal di depan sana.


"Laras." pria itu memanggil wanitanya, berdiri tepat di hadapan Laras serta Zaenal dengan wajah dingin dan kedua tangan terkepal.


Laras terkejut melihat kemunculan Zian di depannya, apalagi tampak kalau Zian sangat emosi melihat kedekatan dirinya dengan Zaenal.


"Ras, kamu kok datangnya bisa sama pak Zaenal?" tanya Zian menelisik.


"Eee aku..."


"Kita gak datang bareng kok, tadi gak sengaja ketemu di depan. Terus kita cuma mau jalan bareng aja ke dalam, katanya Laras ada yang pengen dibicarakan dengan saya. Oh ya, kamu ini pacarnya Laras?" Zaenal memotong ucapan Laras membantu gadis itu menjelaskan pada Zian.


"Ya, saya—"


"Bukan pak! Dia ini cuma teman saya, bapak jangan ngira gitu ya! Saya tuh masih single kok, tapi lagi nyari cowok supaya bisa jadi double." Laras dengan cepat memotong ucapan Zian.


"Oh gitu, yasudah saya duluan ya Ras? Saya harus menilai tugas mahasiswi saya," ucap Zaenal.


"Iya pak, silahkan! Nanti kalau udah selesai, telpon ke nomor aku aja ya! Biar kita bisa ngobrol sambil jalan-jalan lagi," ucap Laras tersenyum genit.


"Iya," ucap Zaenal singkat.


Zaenal beralih menatap Zian, ia tersenyum singkat kemudian pamit pada pria itu.


"Zian, saya permisi ya?" ucap Zaenal.


Zian hanya mengangguk tanpa bersuara, Zaenal pun pergi dari sana meninggalkan Laras bersama Zian, namun ia menyempatkan diri mencolek lengan Laras tanpa disadari oleh Zian.


"Uhh kayaknya pak Zaenal udah tertarik deh sama gue, tinggal tunggu waktu aja buat gue sama pak Zaenal jadian!" batin Laras kesenangan.


Setelah Zaenal pergi, Zian menatap tajam ke arah Laras dengan penuh emosi. Pria itu langsung saja menarik tangan Laras memaksa gadisnya ikut bersamanya, namun tentu saja Laras menolak karena ia tak mau ikut dengan Zian.


"Ayo ikut!" paksa Zian.


"Ish apaan sih! Aku gak mau ikut sama kamu, jangan paksa paksa kayak gini dong!" ujar Laras berontak.


Zian seakan tak perduli dengan rengekan Laras, ia tetap mencengkram lengan Laras dan membawa gadis itu pergi dari sana secara paksa, walau Laras terus saja merengek minta dilepaskan.


"Aku kecewa sama kamu Ras! Bisa-bisanya kamu lebih pilih pak Zaenal dibanding aku!" batin Zian.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2