Angkasa

Angkasa
Istri yang baik


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 170


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Keesokan harinya, Revi berupaya menagih janji sang papa untuk membantunya agar dapat lepas dari niat Juliana alias mamanya yang ingin sekali menjodohkan ia dengan Charlie anak dari temannya.


Revi pun menemui papanya itu di ruang kerja, ia memasuki ruangan tersebut secara hati-hati dan perlahan karena takut mengganggu sang papa yang sedang fokus bekerja di pagi hari ini.


Ceklek...


"Misi pah, papa lagi sibuk gak?" tanya Revi pelan masih dari dekat pintu mengintip ke dalam.


Sontak Marcel menoleh karena terkejut tiba-tiba muncul suara putrinya disana, ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala saat melihat Revi sedang mengintip di pintu ruang kerjanya.


"Aduh sayang, kamu itu bikin papa kaget aja sih! Tadi papa kira siapa loh, eh ternyata malah kamu! Mau ngapain kamu sayang?" ucap Marcel heran.


"Eee aku mau bicara sama papa, kalau papa lagi gak sibuk boleh gak aku bicara sebentar? Abis itu aku langsung keluar kok, tapi kalau papa gak bisa juga gapapa aku gak maksa!" ucap Revi menjelaskan maksudnya datang kesana.


"Ahaha, papa gak sibuk kok. Yaudah, ayo sini masuk sayang kita bicara sambil duduk!" ucap Marcel.


"Eee makasih papa!" ucap Revi tersenyum.


Revi pun melangkah masuk ke dalam sambil menutup pintu ruangan itu dengan rapat, tentu ia tak ingin mamanya mendengar apa yang hendak ia bicarakan dengan sang papa.


Setelahnya, Revi mendekati papanya dan duduk di samping sang papa sambil menunjukkan wajah cemberutnya. Marcel langsung bergerak mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut, lalu bertanya apa yang terjadi pada Revi saat ini.


"Kamu kenapa sayang? Kok kelihatannya sedih begitu, ada masalah apa?" tanya Marcel penasaran.


"Ini loh pah, mama itu makin kenceng banget pengen jodohin aku sama anak temannya itu. Padahal aku udah nolak tau, aku juga bilang kalau aku cuma pengen sama kak Zaki pacar aku. Eh mama malah tetap kekeuh maunya aku sama Charlie, katanya papa mau bantu aku? Ayo dong pah bantu aku bicara sama mama!" ucap Revi.


"Aduh si mama ini ada-ada aja, iya sayang nanti papa bicara deh sama mama kamu itu! Sekarang kamu sabar dulu ya, jangan sedih gitu!" ucap Marcel.


"Iya pah, tapi gimana kalau nanti mama tetap gak mau ngikutin perkataan papa dan tetap kekeuh pengen jodohin aku? Secara keinginan mama itu kan kuat banget pah," tanya Revi cemas.


"Tenang sayang! Percaya sama papa!" ucap Marcel.


"Huft, iya deh aku percaya kok sama papa! Ya semoga aja mama emang mau dengerin perkataan papa nanti, karena aku gak mau dijodohin begitu apalagi sama Charlie yang belum aku kenal!" ucap Revi cemberut.


"Iya sayang, papa juga gak mau kamu menikah dengan pria yang kamu enggak kenal! Nanti gimana kalau kamu gak bahagia kan?" ucap Marcel.


"Itu dia pah, mama gak ngerti sih sama perasaan aku! Mama cuma pengen punya menantu yang kaya, padahal Charlie itu pengangguran tau pah dan dia juga kelihatannya pemalas!" ucap Revi.


"Sabar sayang jangan emosi gitu! Mama kamu kan emang begitu orangnya," ucap Marcel.


"Iya pah, maaf! Aku kesel aja sama mama! Abisnya mama itu kekeuh banget pengen jodohin aku, padahal mama sendiri yang bilang kalo aku udah punya pacar mama gak bakal jodohin aku, tapi sekarang malah mama tetep jodohin aku sama anak temannya itu!" ucap Revi jengkel.


"Sudah ya, biar papa yang coba urus nanti sama mama kamu! Kamu sekarang balik aja ke kamar dulu, percayakan sama papa!" ucap Marcel merangkul Revi sambil tersenyum.


Gadis itu tersenyum dan merasa sedikit lega karena ia akan dibantu oleh sang papa.


...•••...


Disisi lain, Laras tengah duduk di teras rumahnya seorang diri dan tampak melamun memikirkan Muzaki yang sudah pergi ke luar pulau bersama para anggota tim pecinta alam.

__ADS_1


Sebenarnya Laras ingin sekali ikut dengan mereka, bahkan Muzaki sendiri juga sudah mengajak Laras dan bertanya pada Laras apakah ingin ikut, namun pada akhirnya gadis itu justru memilih tinggal dengan alasan ia tak mau meninggalkan mamanya.


"Duh, gue kok jadi gak enak gini ya sama kak Zaki? Harusnya kan gue ikut sama mereka kesana, tapi kalo gue ikut mama cuma sendiri disini!" batinnya.


Tak lama kemudian, Maryam sang mama muncul membawakan segelas teh hangat untuk putrinya itu. Ia menaruh gelas itu di atas meja lalu duduk di samping Laras sambil tersenyum.


"Ras, kamu kenapa?" tanya Maryam bingung.


"Eh mama, enggak kok aku gak kenapa-napa. Aku cuma lagi ngelamun aja," jawab Laras tersenyum.


"Ngelamunin apa sayang?" tanya Maryam lagi.


"Umm, aku gak enak aja sama kak Zaki, mah. Dia kan ngajak aku ikut sama dia, tapi aku malah nolak. Sejujurnya aku juga emang pengen ikut sih, tapi aku gak tega ninggalin mama sendirian!" jelas Laras.


"Ya ampun sayang, kamu harusnya gak perlu mikirin mama kayak gitu! Mama mah gapapa ditinggal sendiri juga, kan mama udah terbiasa. Daripada sekarang kamu malah sedih begini, harusnya kamu ikut aja sayang!" ucap Maryam.


"Ih mama kenapa gak bilang dari kemarin sih? Tau gitu kan aku ikut sama kak Zaki, kalo sekarang mah udah telat mama!" ujar Laras cemberut.


"Ya mana mama tau sayang kalo kamu mau ikut sama nak Zaki? Kamu aja gak bilang!" ujar Maryam.


"Hehe iya sih mah, yaudah gapapa lah aku gak mikirin itu lagi sekarang! Biarin aja kak Zaki sama yang lain pergi tanpa aku, lagian udah terlambat juga gak mungkin aku nyusul kesana!" ucap Laras.


"Yaudah, untuk sekarang kamu fokus aja sama nak Zian sayang! Dia kemana ya kok belum datang lagi kesini?" ucap Maryam tersenyum.


"Aduh mah, ngapain si bahas dia?" ujar Laras.


"Loh kenapa sayang? Nak Zian itu baik loh, harusnya kamu buka hati dong buat dia!" ucap Maryam.


"Mah, jangan bahas itu ah!" ujar Laras kesal.


"Iya iya sayang, kamu itu kalo mama bahas tentang nak Zian selalu aja begitu! Padahal kan usia kamu udah cocok loh buat punya pendamping, harus dipikirin dari sekarang sayang!" ucap Maryam.


"Iya mah, tapi sekarang aku mau fokus ke kuliah dulu. Urusan pendamping mah gampang, mama gausah khawatir ya! Kalau misal kak Zian jodoh aku, pasti kita bakal sama-sama kok nanti. Tapi, kalau bukan ya mama harus ikhlas!" ucap Laras.


"Iya sayang mama tau, yaudah ini mama buatin teh hangat buat kamu. Ayo diminum dulu supaya enakan badan kamu sayang!" ucap Maryam.


"Eh iya mah, makasih mama! Eee makanannya gak ada gitu mah? Misal pisang goreng atau apa kek, hehe..." ujar Laras nyengir.


"Hehe bercanda kok mah, teh hangat juga udah makasih banget!" ucap Laras tersenyum.


Maryam mengangguk pelan, lalu Laras mengambil cangkir teh itu dan meminumnya secara perlahan karena memang tehnya masih agak panas sehingga ia harus pelan-pelan menyeruputnya.


Tiba-tiba saja, sebuah motor berhenti di depan rumah gadis itu. Seorang pria membuka helmnya dan turun dari motor sambil tersenyum ke arah Laras serta Maryam, ya dia adalah Zian pria yang tadi dibahas oleh Maryam bersama putrinya.


"Assalamualaikum!" ucap Zian tersenyum.


Laras terkejut bukan main saat melihat kehadiran Zian disana, sedangkan Maryam tampak amat senang karena akhirnya Zian datang kesana.




Sementara itu, Muzaki dan kawan-kawannya pun baru bersiap untuk melakukan kegiatan pertama mereka di desa pelosok itu, ya mereka bangun dari tidur pada pagi ini dan masih berada di rumah yang disediakan oleh kepala desa untuk mereka.


Muzaki tengah melamun sambil menekuk lututnya, entah mengapa ia kepikiran dengan sosok Revi yang belum juga memberi kabar padanya terkait jawaban tentang perasaannya, itu membuat Muzaki khawatir dan mengira kalau Revi memang tak menyukainya.


Wisnu dan Rudi yang melihatnya pun langsung menghampiri Muzaki untuk bertanya pada pria itu ada apa, ya karena mereka sebagai sahabat penasaran apa sebenarnya yang membuat Muzaki bisa sampai melamun seperti itu.


"Oi! Lu ngapa ngelamun aja bro? Aaaa gue tau nih, pasti lu lagi mikirin si Laras kan?" ujar Rudi.


"Hahaha setuju gue! Yaelah Zak Zak, kasihan amat sih lu gagal mulu deketin cewek! Lain kali dipaksa aja tuh Laras buat ikut sama kita, supaya lu gak ngelamun terus kayak gini!" sahut Wisnu.


"Apaan sih kalian?" ujar Muzaki kesal.


"Tenang aja Zak! Gue yakin Laras itu sebenarnya mau kok ikut sama kita, tapi dia terlalu sayang sama ibunya!" ucap Wisnu.


"Iya tuh, bener kata si Wisnu! Eh tapi, kenapa lu gak coba ajak si Revi dah? Kan lu sama dia lagi lumayan deket tuh, siapa tau dia mau nemenin lu kesini!" sahut Rudi.


"Gimana sih lu? Mana mungkin Revi mau ikut sama gue?" ucap Muzaki.

__ADS_1


"Ya gak ada salahnya mencoba kan? Atau lu kan bisa juga tuh ajak mantan lu yang cakep kek bidadari surga, siapa tuh namanya?" ujar Rudi.


"Suci!" ucap Muzaki.


"Nah iya tuh, nama sama kayak mukanya, Suci bersih dan cantik! Hahaha..." ujar Rudi tertawa.


"Hooh, kan ada si Suci juga! Gue yakin Suci mau lah ikut sama lu kesini," ucap Wisnu.


"Mana bisa gitu sih guys? Suci kan udah jadi mantan gue, gue ini harus moveon dari dia! Lu berdua jangan bahas soal dia lagi lah, gimana gue bisa moveon coba?" ujar Muzaki kesal.


"Hahaha iya iya siap! Yaudah, yuk kita langsung gas aja lakuin rencana kegiatan kita yang pertama buat bantu-bantu di desa ini!" ucap Wisnu.


"Ya jangan lah! Ini kan masih pagi, kita mandi dulu sama sarapan. Baru deh abis itu kita keluar dan mulai bantu-bantu warga disini, gak enak dong kalo kita keluar masih bau iler kayak gini? Apalagi lu Wisnu, baunya gak ketulungan!" ujar Rudi.


"Yeh palalu peyang!" ujar Wisnu.


"Udah udah jangan ribut! Rudi betul, kita pada mandi dulu terus sarapan! Sekarang gini, siapa yang mau mandi duluan ha?" ucap Muzaki.


"Eee gue ajalah Zak, udah gak tahan gue pengen mandi nih!" ujar Rudi.


"Nah ngaku sendiri kan lu, emang badan lu yang paling bau disini Rud!" ujar Wisnu tertawa.


"Ah sialan lu, gue tabok ompong lu!" ujar Rudi kesal.


"Hahaha banyak gaya, udah sana buruan mandi!" ucap Wisnu.


"Iye iye..."


Rudi pun berjalan ke belakang membawa serta handuk dan pakaian gantinya, sedangkan Wisnu duduk di samping Muzaki sambil memakan roti di tangannya.


"Zak, sebenarnya lu tadi lagi ngelamunin apa?" tanya Wisnu masih penasaran.


"Eee...."


...•••...


Oni membuka matanya perlahan, ia terkejut saat mengetahui Radian sudah tidak ada di sampingnya ketika ia terbangun. Padahal sebelumnya pria itu masih ada disana, namun kali ini tiba-tiba saja Radian sudah pergi bahkan tidak pamit lebih dulu.


Oni pun bangkit dan duduk di atas ranjangnya sambil celingak-celinguk mencari Radian, namun ia tak berhasil menemukan dimana suaminya itu sehingga ia merasa sedih plus kesal pada dirinya sendiri karena ia gagal menjadi istri yang baik.


"Duh, aku kok gini banget ya? Masa aku kalah sama suami aku sendiri? Harusnya sebagai istri kan aku bisa urus mas Radian, bukan malah asik tidur kayak gini!" gumam Oni geram pada dirinya.


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, Radian keluar dari sana memakai handuk di pinggangnya.


"Eh istriku sayang, udah bangun?" tanya Radian.


Oni merasa sedikit lega karena ternyata suaminya masih ada disana, ia pun tersenyum ke arah Radian sambil mengelus dadanya yang sempat panik saat mengetahui sang suami tidak ada.


Sementara Radian bergerak mendekati Oni, lalu berhenti di dekat istrinya itu. Ia menarik kepala Oni menempelkan pada pinggangnya sambil mengelus wajah mulus wanita itu.


"Kamu kenapa? Nyariin aku ya?" tanya Radian.


"Iya mas, aku kira kamu udah berangkat kerja loh makanya aku panik! Syukurlah kamu masih ada disini, maaf ya mas aku gak bisa jadi istri yang baik buat kamu!" ucap Oni cemberut.


"Hey jangan bilang gitu ah! Kamu itu istri yang baik kok sayang, aku senang bisa dapat istri seperti kamu cantik!" ucap Radian tersenyum memeluk Oni.


"Masa sih mas? Aku aja bangun siang begini dan kalah dari kamu, harusnya kan sebagai istri yang baik aku tuh bangun lebih awal dan layanin kamu yang mau berangkat kerja! Emang aku ini istri gak bener, maafin aku ya mas!" ucap Oni.


"Ssshhh! Wajarlah kamu bangun siang sekarang, semalam kan aku abis minta jatah!" ucap Radian.


"Ya tapi kan—"


"Udah udah, jangan dibahas lagi! Kamu mending mandi deh sayang, abis itu kita turun buat sarapan bareng! Mau aku temenin mandi gak? Sekalian aku gosokin punggung kamu!" potong Radian.


"Umm, gausah mas aku bisa sendiri. Tapi, kalau kamu maksa yaudah gapapa deh mas!" ucap Oni tersenyum.


"Hahaha ayo sini aku mandiin kamu!" ujar Radian.


Pria itu tertawa, lalu menggendong tubuh Oni dengan cepat ala bridal style sehingga wanita itu terkejut.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2