Angkasa

Angkasa
Sikap aneh Muzaki


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 190


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Muzaki dan Suci sampai di rumah sepupu gadis itu, mereka turun dari mobil secara bersamaan lalu melangkah ke halaman rumah menemui sepasang suami-istri yang sudah berdiri menyambut mereka.


Suci pun tersenyum menatap ke arah sepupunya yang bernama Lia itu, dan suaminya yang bernama Zidan. Gadis itu melangkah dengan bantuan Muzaki yang memapah tubuhnya, terlihat Muzaki memang sangat mencemaskan kondisi Suci yang tengah sakit.


"Suci? Kaki kamu kenapa? Kok pincang gitu jalannya?" tanya Lia penasaran.


"Eee aku gapapa kok, mbak Lia! Tadi cuma ada kecelakaan kecil pas di jalan mau kesini, tapi kaki aku baik-baik aja!" jawab Suci.


"Apa? Kecelakaan? Ya ampun Suci, harusnya kamu kabari mbak dong dan jangan maksa datang kesini kalau kaki kamu sakit!" ujar Lia cemas.


"Iya mbak, aku baik-baik aja kok!" ucap Suci.


"Yakin? Kamu masih bisa jagain Reynaldi anak mbak apa enggak?" tanya Lia.


"Bisa kok mbak, aku kan gak kenapa-napa!" jawab Suci santai.


"Jangan dipaksa kalau emang gak bisa, Suci! Nanti yang ada kaki kamu makin sakit lagi!" ujar Zidan.


"Iya Suci, benar kata mas Zidan!" sahut Lia.


"Gapapa kok mbak, mas, aku bisa jagain Rey dengan baik selama mbak sama mas pergi! Lagian aku kan dibantu sama Muzaki, jadi lebih gampang lah!" jawab Suci sambil melirik ke arah Muzaki.


"Iya mbak, saya bakal bantu Suci kok!" ucap Muzaki.


"Ohh kamu pacarnya Suci, ya?" tanya Lia.


"Eee..." Muzaki terlihat gugup menjawabnya.


"Kenalin, saya Lia sepupunya Suci. Dan ini suami saya namanya Zidan!" ucap Lia.


"Iya mbak, nama saya Muzaki!" ucap Muzaki.


"Halo Zaki, salam kenal ya!" ucap Lia.


"Salam kenal Zaki! Kamu ini ganteng ya, Suci gak salah pilih cowok ternyata!" puji Zidan.


"Terimakasih mas, mbak!" ucap Muzaki.


Suci hanya terdiam menunduk saat Lia dan Zidan menyangka bahwa Muzaki adalah kekasihnya, ia juga tak mengerti mengapa Muzaki membiarkan sepupunya itu mengira dia adalah pacarnya.


"Muzaki ini sengaja bikin aku baper apa gimana sih? Kok dia gak nyangkal gitu loh?!" batin Suci.


Akhirnya Lia dan Zidan percaya kalau Suci bisa menjaga putra mereka dengan bantuan dari Muzaki, kini mereka pun bisa pergi dengan tenang tanpa perlu cemas pada putra mereka.


"Yaudah ya Suci, mbak sama mas Zidan pergi dulu? Sekali lagi mbak titip Rey sama kalian, kita gak lama kok paling abis isya udah pulang!" ucap Lia.


"Eee iya mbak, gapapa!" ucap Suci.


"Kita permisi ya? Assalamualaikum!" ucap Zidan.


"Waalaikumsallam, hati-hati mas, mbak!" ucap Suci dan Muzaki bersamaan.


Setelahnya, Lia serta Zidan melangkah menuju mobil mereka dan melaju pergi dari sana. Sedangkan Suci menoleh ke arah Muzaki, ia merasa tidak enak pada pria itu jika terus membantunya disana.


"Muz, kamu gak perlu pegangin aku kayak gini terus deh! Aku udah baikan kok, kamu juga bisa pulang kalo kamu mau! Lagian gak enak lah aku kalau kamu terus disini, nanti pacar kamu bisa marah sama aku!" ucap Suci.


Muzaki terkejut mendengar Suci mengucapkan itu.


"Bicara apa sih kamu? Pacarku orangnya pengertian kok, lagian aku kan cuma mau bantuin kamu sebagai permintaan maaf karena aku udah bikin kaki kamu cedera! Udah ya, kita masuk aja ke dalam yuk jagain ponakan kamu! Kasihan dia sendirian disana, nanti keburu nangis loh!" ucap Muzaki.


"Iya deh, tapi aku gak maksa kamu loh Muz! Kamu sendiri yang mau bantu aku!" ucap Suci.

__ADS_1


"Tenang aja!" ucap Muzaki tersenyum.


Setelahnya, Muzaki kembali menuntun Suci masuk ke dalam rumah itu. Mereka berdua langsung menuju kamar Reynaldi dan menjaga pria kecil itu.




Sementara itu, Zian mengajak Laras ke rumahnya dengan alasan ia ingin mengambil barang miliknya yang ketinggalan sebelum mereka pergi berkencan malam ini.


Laras pun mau-mau saja dan tak merasa ada yang janggal dengan Zian, karena pria itu pun tampak biasa-biasa saja seperti memang hendak mengambil lebih dulu barangnya di dalam kamar.


"Sayang, kamu tunggu disini apa ikut ke kamar aku?" tanya Zian sambil tersenyum.


"Hah? Ya jelas aku disini lah kak, masa iya aku ikut ke kamar kak Zian? Kita ini bukan mahram kak, gak boleh berduaan di kamar!" ucap Laras.


"Hahaha, iya aku bercanda kok!" ucap Zian.


Zian mengelus pundak Laras sambil membelai rambutnya, sebenarnya ia memang ingin membawa Laras ke kamarnya. Namun, ia masih takut kalau nantinya gadis itu malah berteriak dan membuat tetangganya mendengar lalu menyangka yang tidak-tidak pada mereka.


"Yaudah, aku ke kamar dulu ya sebentar? Kamu duduk aja disitu, nanti aku kembali kok!" ucap Zian.


"Oh, iya kak!" ucap Laras menurut.


Zian pun melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan Laras berjalan mengarah ke sofa yang ada disana. Gadis itu heran mengapa di rumah yang sebesar itu hanya ada Zian serta beberapa pelayan saja.


"Kak Zian kok cuma tinggal sama pembantu sih? Emang papa mamanya kemana ya?" batin Laras.


Laras berusaha berpikir positif mungkin saja kedua orang tua pria itu sedang pergi bekerja sehingga kini Zian hanya tinggal bersama pelayan di rumahnya.


Tak lama kemudian, Zian kembali dengan senyum di wajahnya yang mengarah pada Laras. Pria itu pun mendekati Laras dan langsung meraih dua tangan gadis itu untuk digenggam.


"Kak, udah ambil barangnya?" tanya Laras.


"Udah dong sayang, yuk kita lanjut jalan lagi! Kamu pasti gak sabar ya pengen ngedate sama aku?" ucap Zian sambil tersenyum.


"Eee sebenarnya enggak sih kak, justru aku pengennya pulang ke rumah dan istirahat! Tapi, ya yaudah deh aku ngikut aja sama kemauan kak Zian!" ucap Laras.


Jawaban Laras barusan tentu saja menyakiti hati Zian, namun pria itu tetap mencoba untuk kuat.


"Eee gapapa deh kamu kepaksa, awal-awal emang mungkin terpaksa, tapi kan nanti lama-kelamaan siapa tahu justru kamu yang maksa aku buat pergi jalan berdua! Di dunia ini semua bisa terjadi, aku yakin itu sayang!" ucap Zian.


"Iya aja deh, yang penting kak Zian seneng!" ucap Laras.


"*Huft, sampai kapan gue harus ikutin kemauan kak Zian begini sih? Gue ini gak suka sama dia, yang gue suka cuma kak Zaki!" batin Laras.


"Tapi, kak Zaki sekarang udah punyanya Revi. Gak mungkin juga gue bisa sama dia, masa iya gue harus nikung sahabat gue sendiri? Kan kasihan Revi, apalagi dia baik banget sama gue!" sambungnya*.


Zian tak menyadari kalau gadisnya tengah melamun memikirkan Muzaki, ia tetap fokus berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya.


Zian pun membawa tubuh Laras masuk ke dalam mobil, ia memasangkan seat belt kemudian menutup pintu dan jalan memutar masuk melalui pintu lain.




Bruuukkk...


"Awhh!!"


Suci memekik kesakitan saat dirinya tersandung oleh kaki meja di kamar Rey, ponakannya. Gadis itu pun tersungkur di atas lantai sembari memegangi kakinya dan terus meringis menahan sakit, ia coba mengurut sendiri kakinya untuk menghilangkan rasa sakit itu.


Muzaki yang mendengar suara rintihan dari Suci, langsung bergegas masuk ke kamar Rey. Ia panik saat melihat Suci terduduk di lantai dan memegangi kakinya, ia mendekati Suci dan coba membantu gadis itu berdiri kembali.


"Suci! Ya ampun, kamu kenapa bisa jatuh begitu?" ujar Muzaki cemas.


"Iya Muz, kaki aku tadi kesandung meja. Sakit banget lagi, awhh sshh!" ujar Suci kesakitan.


"Duh Suci! Yaudah yuk aku bantu kamu bangun ya? Sini sini ke atas kasur, lain kali kamu hati-hati dong Suci!" ucap Muzaki.


"Maaf Muz!" ucap Suci pelan.


Muzaki perlahan mengangkat tubuh Suci, lalu merebahkannya di atas ranjang. Namun, entah mengapa pria itu justru ikut terdorong hingga terjatuh tepat di atas tubuh Suci.


Kini Muzaki berada sangat dekat dengan wajah gadis itu, bahkan tubuhnya sudah bersentuhan dengan tubuh Suci tanpa ada jarak. Ya Muzaki menindih Suci yang masih melongok tak menyangka itu.


Muzaki pun langsung menjauh dari tubuh Suci, ia amat sangat tak percaya dengan apa yang barusan terjadi, bahkan jika ia tidak menahan wajahnya tadi bisa saja mereka saling berciuman.


"Eh eee ma-maaf, aku gak sengaja! Kamu istirahat aja dulu!" ucap Muzaki tampak malu.


"Gapapa Muz, makasih ya udah bantu aku!" ujar Suci.

__ADS_1


"Sama-sama, yaudah biar aku aja yang suapin Rey makan! Kamu tiduran disini, jangan banyak gerak dulu takutnya nanti kaki kamu sakit!" ucap Muzaki.


"Beneran nih Muz? Emang kamu gak mau pulang ketemu pacar kamu?" tanya Suci.


"Eee enggak kok, tadi siang kan udah! Sekarang aku bantu kamu dulu sampai selesai, udah kamu tiduran aja disitu jangan bandel dan banyak omong!" ucap Muzaki.


Setelahnya, Muzaki turun dari ranjang meninggalkan Suci disana. Pria itu mengambil mangkuk kecil berisi makanan untuk Rey dan menyuapinya disana, sedangkan Suci tetap berbaring di atas kasur sesuai perintah Muzaki.


"Ya ampun! Muzaki kamu benar-benar bikin aku deg-degan tahu gak! Bisa-bisanya kamu nindih aku kayak tadi, tapi itu enak sih!" batin Suci.


Akhirnya Suci memilih bangkit, ia bersandar pada badan ranjang lalu meminta Muzaki untuk bergantian dengannya, ya tentu saja Suci tidak enak jika Muzaki yang terus menyuapi Rey.


"Muz, udah sini biar aku aja!" ucap Suci.


"Suci! Kamu kok susah banget diatur sih?! Aku bilang tidur ya tidur aja, jangan ngeyel deh!" tegas Muzaki.


"Muz, tapi aku—"


"Sssttt!!" potong Muzaki yang langsung berbalik dan menaruh telunjuknya di bibir Suci. "Jangan bantah! Udah istirahat aja ya!" sambungnya.


Suci dibuat tak berkutik saat ditatap seperti itu oleh Muzaki, baru kali ini ia melihat Muzaki melakukan tindakan seperti itu. Namun, entah mengapa justru lagi-lagi Suci menyukainya.


"Iya Muz, aku nurut deh sama kamu! Tapi, maaf ya karena aku udah repotin kamu!" ucap Suci.


"Gak kok, kamu gak ngerepotin aku sama sekali Suci! Aku juga ikhlas bantu kamu, apalagi kamu jadi sakit gara-gara aku tadi!" ucap Muzaki.


Suci tersenyum begitu juga dengan Muzaki, mereka saling pandang sesaat hingga tiba-tiba...


Cupp!


Muzaki mendekatkan wajahnya pada Suci dan mengecup bibir gadis itu sekilas, membuat Suci merasa kaget dan melongok lebar ke arah pria itu, sedangkan Muzaki sendiri langsung berbalik kembali menyuapi Rey seakan tak terjadi apa-apa.


"Apa itu barusan?" batin Suci sambil memegangi bibirnya karena masih syok.




Keesokan paginya, Revi sudah bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Ia keluar kamar dengan pakaian rapih serta wangi dan senyum yang menghiasi wajahnya.


Revi pun melangkah menuruni tangga dan hendak menghampiri mama papanya yang sudah lebih dulu berada di meja makan, ia senang melihat kedua orangtuanya itu akur dan tidak bertengkar lagi.


"Morning pah, mah!" ucap Revi menyapa mereka.


"Eh sayang, pagi juga sayang! Yuk duduk sini makan bareng papa sama mama!" ucap Marcel.


"Iya pah," ucap Revi mengangguk.


Gadis itu menarik kursi, lalu duduk di hadapan papa mamanya dan mengambil piring kosong yang akan ia gunakan sebagai tempat makannya kali ini, namun entah mengapa ia merasa heran pada sikap mamanya yang nampak cuek itu.


"Mah, mama kenapa sih? Kok daritadi kayaknya diem aja gak ngomong? Mama marah ya sama aku?" tanya Revi penasaran.


Namun, Juliana hanya terdiam tanpa menoleh ke arah Revi dan tidak memperdulikan pertanyaan putrinya itu, ia tetap lanjut menghabiskan sarapannya dengan serius membuat Revi sedih.


"Mah, jangan begitu lah mah! Revi itu nanya loh sama kamu, masa kamu malah cuekin?" tegur Marcel.


"Apaan sih pah? Siapa yang cuekin? Mama cuma lagi gak mau ngobrol aja, kita kan lagi makan gak baik sambil ngobrol!" ucap Juliana mengelak.


"Udah pah, gapapa kok mama benar!" ucap Revi.


"Yaudah deh, maklumin mama kamu ya sayang! Kamu kan tahu sendiri sikap mama kamu itu kayak gimana, gausah diambil hati yang barusan! Makan aja biar kuat sayang!" ucap Marcel tersenyum.


"Iya pah, aku juga gak masalah kok!" ucap Revi.


Revi berusaha menutupi rasa sedihnya dari sang papa, ia tak mau membuat kericuhan di meja makan dan memilih mengambil makanan untuknya sarapan kali ini. Walau begitu, isi hatinya masih teramat sedih karena mamanya cuek padanya pagi ini.


"Mama pasti marah karena aku lebih milih sama kak Zaki daripada Charlie, aku harus gimana ya sekarang supaya mama gak marah dan mau terima kak Zaki?" gumam Revi dalam hati.


Tliingg...


Saat Revi tengah menikmati makanannya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering membuat ia harus mengambil ponsel itu dan memeriksanya.


Ternyata ada pesan masuk dari Muzaki, Revi pun langsung membuka pesan tersebut dan membaca isinya.


💌Kak Zaki : Assalamualaikum Rev, maaf ya pagi ini aku gak bisa jemput kamu! Soalnya aku harus antar mama dulu ke pasar, tapi nanti kamu pulangnya aku jemput kok insyaallah!


Begitu selesai membaca pesan dari Muzaki, tampak Revi sedikit kecewa karena ia tak dijemput oleh sang kekasih pagi ini.


"Yah sendiri lagi deh..."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2