
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 221
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Wisnu kembali dari membeli bensin untuk Suci, ia pun menghampiri Suci yang tengah duduk sendirian di trotoar dengan wajah manyun sambil menopang dagunya, tampak senyum terukir di wajah Wisnu saat menyaksikan pemandangan itu.
Sementara Suci hanya diam karena ia belum menyadari bahwa Wisnu sudah kembali.
"Ehem ehem..." Wisnu berdehem pelan sambil mendekati Suci, ia duduk di sebelah gadis yang reflek menoleh begitu mendengar suara deheman.
"Eh Wisnu, lu udah balik?" ucap Suci kaget.
"Udah dong cantik, nih gue beliin bensinnya buat lu. Sekarang lu bisa jalan lagi deh!" ucap Wisnu menunjukkan jerigen berisi bensin yang ia beli dari penjual bensin.
"Wah thanks ya Wisnu! Kalo gitu gue boleh gak minta tolong satu lagi sama lu?" ucap Suci.
"Apa tuh?" tanya Wisnu.
"Eee tolong tuangin bensinnya ke mobil gue dong," ucap Suci sambil tersenyum.
"Hah? Cuma itu? Yaelah jangankan tuangin nih bensin, gantiin Muzaki di hati lu juga gue mau kok!" ucap Wisnu.
"Maksudnya?" tanya Suci tak mengerti.
"Eh eee haha gak kok, untung lu orangnya lemot ya jadi gak paham. Yaudah, gue tuang dulu ya bensinnya? Lu tunggu disini aja, kasihan orang cantik kalo diri kelamaan nanti pegel!" ucap Wisnu tersenyum lalu bangkit kembali.
"Ah iya, thanks ya Wisnu!" ucap Suci tersenyum.
"Sama-sama," Wisnu pun bergerak mendekati mobil Suci membawa jerigen berisi bensin itu dan menuangkannya ke dalam sana.
Sementara Suci masih terdiam memikirkan kata-kata Wisnu mengenai pengganti Muzaki tadi, walau Wisnu mengelak tentunya Suci tahu bahwa Wisnu memang berniat mengatakan itu.
"Tadi Wisnu bilang mau gantiin Muzaki di hati gue, apa itu artinya dia cinta sama gue?" batin Suci.
Suci pun ikut bangkit dan menyusul Wisnu, ia hendak menanyakan mengenai perkataan Wisnu tadi yang ingin menggantikan Muzaki di hatinya, gadis itu yakin kalau Wisnu tidak sedang bercanda karena terlihat dari raut wajahnya.
Wisnu yang sedang asyik menuang bensin ke dalam tangki mobil Suci, tak sadar jika ada Suci di sampingnya yang tengah memperhatikan dirinya dengan wajah terheran-heran, barulah ketika Suci bersuara Wisnu menyadari keberadaannya.
"Eee Wisnu..." pria itu terkejut dan reflek menoleh ke samping memastikan siapa yang bersuara, ia tersenyum lebar begitu mengetahui Suci disana.
"Suci? Ya ampun, lu ngagetin gue aja sih! Untung cantik, kalo enggak mungkin udah gue getok nih pake jerigen ini!" ujar Wisnu.
"Hahaha, maaf ya Wisnu! Gue cuma bosen aja nunggu terus disana, makanya gue kesini. Eee itu masih lama ya nuangnya? Soalnya gue harus buru-buru ke rumah Zaki," ucap Suci.
"Rumah Zaki? Jadi, lu mau ke rumah Zaki sekarang?" tanya Wisnu kaget.
"Iya, gue mau ketemu sama tante Stevi, mamanya Zaki. Emang kenapa sih, kok lu kayak yang kaget gitu dengarnya?" ujar Suci keheranan.
"Gak, gapapa kok. Gue cuma heran aja, ngapain sih lu masih nyamperin Muzaki kayak gitu? Padahal kan si Zaki dah punya pacar baru," ucap Wisnu.
"Ya gue kan ke rumahnya bukan buat samperin Zaki, tapi karena gue pengen ketemu mamanya. Asal lu tahu aja, gue sama tante Stevi itu udah dekat banget! Lagian walau hubungan gue sama Zaki usai, bukan berarti gue gak boleh dekat sama mamanya kan?" ucap Suci.
"Iya sih, cuma emang lu gak sakit hati atau sedih gitu tiap kali ketemu Muzaki? Kan lu sadar tuh, si Zaki udah milik orang lain. Lu gak ada niatan juga buat pacaran lagi?" tanya Wisnu.
"Enggak dulu Wisnu, gue masih mau menikmati masa-masa sendiri. Mungkin kalau gue udah nemu cowok yang pas, baru deh gue bisa buka hati gue lagi! Tapi, pastinya untuk sekarang ini gue belum mau pacaran dulu!" jawab Suci.
"Oh gitu, menurut lu, gue ini laki-laki yang pas gak buat lu?" tanya Wisnu membuat Suci terkejut.
"Hah?"
__ADS_1
β’
β’
Revi baru tiba di kampusnya, kali ini ia bersama sang kekasih datang agak siangan karena mereka memang tidak ada kelas pagi. Selain itu, Muzaki juga ingin menikmati waktu berdua lebih dulu dengan kekasihnya dan tidak mau terlalu sibuk dengan urusan kuliah.
Gadis itu nampak senang dan terus tersenyum saat turun dari motor, kapan lagi Revi bisa diajak jalan-jalan pagi oleh Muzaki kalau bukan hari ini, ya biarpun sebelumnya mereka juga sudah pernah pergi jalan-jalan di pagi hari.
"Kak, kelas aku kan masih lama nih, terus aku harus ngapain dong selagi nunggu kak Zaki?" ucap Revi bertanya pada kekasihnya.
"Umm... terserah kamu aja sayang, tapi saran aku sih mending kamu ke perpustakaan baca-baca buku disana sekalian ngadem! Kamu bisa juga ajak si Latifah, atau teman kamu yang lain!" ujar Muzaki.
"Bener juga, yaudah deh aku ikutin saran kamu. Kalo gitu aku ke perpus dulu ya?" ucap Revi.
"Eh, kita barengan dong masuk ke kampusnya! Masa mau sendiri-sendiri?" ujar Muzaki.
"Oh iya, maaf maaf aku kelupaan!" ucap Revi.
"Gapapa, cewek cantik kayak kamu mah mau kelupaan juga gak masalah. Yaudah, yuk kita masuk sayang!" ucap Muzaki.
Muzaki langsung menggandeng tangan gadisnya, mengajak sang kekasih masuk ke kampus dengan perlahan sambil tersenyum.
"Kak, nanti kira-kira di perpus aku baca buku apa ya?" tanya Revi dengan ekspresi manjanya.
"Umm apa ya... coba aja kamu baca buku yang sesuai dengan keinginan kamu, biasanya kamu suka baca buku apa tuh?" usul Muzaki.
"Buku cerita sih," ucap Revi.
"Nah, yaudah itu kamu baca aja buku itu! Cari cerita yang paling bagus menurut kamu, kalau udah ketemu baru deh kamu baca disana sambil bayangin wajah aku!" ucap Muzaki tersenyum.
"Lah kok sambil bayangin wajah kamu? Emang kenapa?" tanya Revi kebingungan.
"Ya supaya kamu lebih enak baca bukunya, kan muka aku tuh tampan nan rupawan," ujar Muzaki.
"Ih ya ampun! Kak Zaki emang paling bisa ya!" ujar Revi geleng-geleng kepala.
"Hahaha..." mereka tertawa bersamaan disana.
Lalu, disaat mereka hendak pergi tiba-tiba saja Radian mendatangi mereka dan mencegat sepasang kekasih itu dari depan.
"Ehem ehem pacaran mulu," Revi dan Muzaki terkejut melihat Radian ada di depan mereka.
"Oh, Oni ada kok. Dia udah duluan ke kelasnya, gue sekarang mau lanjut ngojek. Kalian berdua kelihatan makin dekat aja nih," ujar Radian.
"Ah bisa aja, tapi wajar sih kita kan emang pacaran." kata Revi disertai senyuman.
"Betul! Masa iya sepasang kekasih gak kelihatan makin dekat? Itu patut dipertanyakan, ada masalah atau memang gak niat jadi pasangan kekasih!" sahut Muzaki.
"Ya ya ya, kalo gitu gue duluan ya ke parkiran? Langgeng terus buat kalian berdua!" ucap Radian pamitan pada keduanya.
"Oke!" ucap Revi dan Muzaki bersamaan.
Radian tersenyum smirk dengan tatapan tajam mengarah pada Muzaki, lalu pergi melewati sepasang kekasih itu. Muzaki pun tampak bingung dan penasaran mengapa Radian menatapnya seperti itu, namun ia hanya bisa diam bersabar tanpa memperpanjang urusan itu.
"Kak, udah yuk kita lanjut juga!" pinta Revi.
"Eh iya iya..." Muzaki setuju dan kembali melanjutkan langkahnya ke dalam kampus bersama sang kekasih.
β’
β’
Laras dan Zaenal telah tiba di parkiran kampus, mereka berdiam sejenak di dalam mobil sambil saling menatap satu sama lain. Zaenal meraih satu tangan wanitanya, lalu mengecupnya lembut.
Gadis itu pun tampak kaget sekaligus senang, ia merasa Zaenal sangat romantis setelah mereka resmi berpacaran, tentu suatu hal yang sudah ia dambakan dari kemarin-kemarin.
"Sayang, kita mau publish hubungan kita di kampus juga apa enggak nih?" tanya Zaenal pada Laras.
"Eee semua terserah kamu sayang, aku sih ngikut aja kemauan kamu. Kalau kamu pengen kita go public, ya aku sih iya iya aja!" jawab Laras.
"Yaudah, kita gak perlu tutupi hubungan kita! Aku malah gak suka yang kayak gitu, takutnya nanti ada cowok-cowok deketin kamu karena mereka gak tahu kalau kamu udah resmi jadi pacar aku, jadi kita go public aja ya?" ucap Zaenal.
"Iya sayang, aku setuju! Aku juga gak mau ada cewek lain yang deketin kamu, secara kamu kan ganteng banget nih, idaman para wanita tuh. Kalau mereka gak tahu kamu udah punya pacar, pasti mereka bakal terus deketin kamu dan godain kamu deh!" ucap Laras cemberut.
"Gausah cemburu cantik! Walau sebanyak apapun yang godain aku, tetap kamu yang aku pilih kok! Karena hati aku udah kecantol sama kamu, jadi aku gak mungkin tergoda wanita lain!" ujar Zaenal.
__ADS_1
"Iya deh iya, aku percaya." Laras tersenyum.
Zaenal mendekat dan mencubit pipi Laras dengan kedua tangannya, membuat gadis itu tersenyum senang.
"Kamu cantik banget sih! Boleh gak aku cium pipi kamu itu?" ucap Zaenal.
"Kamu apaan sih? Ngapain pake minta izin dulu? Bukannya kemarin kamu udah curi first kiss aku, ya? Kok sekarang malah minta izin begitu? Kayak yang belum pernah aja," ujar Laras.
"Hahaha, kemarin itu kan reflek sayang. Kalau sekarang ini aku mau kamu juga menikmati ciuman aku, jadi bukan aku aja yang menikmatinya. Gimana sayang? Mau kan?" ucap Zaenal.
"Yaudah iya, masa aku nolak sih dicium sama pacar aku yang ganteng ini?" ujar Laras sambil membelai renyah.
"Oke cantik!"
Zaenal langsung menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya, lalu maju dan mencium kening serta kedua pipi gadisnya dengan lembut. Laras memejamkan mata saat bibir Zaenal mulai menyentuh area wajahnya.
Cupp!
Cupp!
Cupp!
Pria itu pun mengecup bibir Laras berkali-kali, dari kecupan singkat berubah menjadi ciuman yang lembut dan menggairahkan, Laras pun tampak menikmati itu walau ia belum pernah melakukannya.
Setelah sama-sama puas, mereka turun dari mobil dan bergandengan tangan sambil saling menatap.
"Sayang, makasih ya morning kiss nya!" ucap Zaenal tersenyum mengusap wajah gadisnya.
"Iya, aku baru tahu ciuman tuh rasanya enak. Tahu gitu dari dulu aja aku ciuman ya?" ucap Laras.
"Ya jangan dong! Udah sama aku aja ciumannya, aku beruntung banget bisa dapetin bibir kamu yang masih fresh itu!" ucap Zaenal.
"Nah makanya kamu harus setia sama aku! Kan aku udah kasih bibir aku buat kamu, jadi kamu jangan tinggalin aku ya Zaenal!" ucap Laras.
"Tenang aja cantik! Aku akan setia dan selalu ada buat kamu kok!" ucap Zaenal tersenyum.
Mereka pun berpelukan disana, Zaenal mengusap punggung gadisnya dan menghirup aroma tubuh Laras yang terasa sedap di hidungnya, mereka tak sadar jika ada seseorang tengah memperhatikan mereka dari jauh.
"Sialan si Laras! Ternyata dia udah selangkah lebih maju daripada gue, kurang ajar! Emang dasar cewek kegatelan!" gumam seorang wanita yang mengintip dari balik pohon.
β’
β’
Sementara itu, Oni bertemu dengan Syahra serta kedua temannya saat hendak menuju kelas. Ekspresinya pun langsung berbeda ketika melihat ketiga gadis tersebut, karena ia masih ingat betul bagaimana Syahra menyebarkan berita tentang kehamilannya pada seluruh warga kampus.
"Wih ada ibu-ibu nih di kampus kita guys!" cibir Syahra menyindir Oni.
"Hahaha, mau ngapain lagi sih Bu dateng ke kampus segala? Udah lah urus aja tuh anak di dalam perut lu!" sahut Alin.
"Hai! Apa kabar kalian semua?" ucap Oni.
"Kabar? Kita baik dong, karena kita masih bisa bebas pergi semau kita. Gak kayak lu yang udah jadi ibu-ibu di usia muda, duh kasihan banget sih lu Oni! Coba aja lu gak hamil duluan, mungkin lu masih bisa jadi ketua tim dance!" ujar Syahra.
"Lu ngomong apaan sih? Coba kasih bukti ke gue kalo emang gue hamil duluan, jangan cuma ngomong di mulut doang! Udah cukup ya lu sebar berita bohong ke orang-orang waktu itu, mending sekarang lu berhenti ganggu gue!" ujar Oni.
"Kita gak ganggu lu kok, selamat ya atas kehamilan lu! Nanti kalau udah mau lahiran, jangan lupa undang kita bertiga!" ucap Syahra tersenyum.
"Bener tuh! Kan kita teman lu juga, kita mau lihat lu waktu lahiran nanti!" sahut Ami.
"Terserah kalian aja, kalo emang benar kalian mau datang ya silahkan! Tapi, gue sih gak ngarepin kehadiran kalian! Malah lebih bagus kalau kalian bertiga gak datang," ucap Oni judes.
"Hahaha, sombong banget sih lu! Harusnya lu itu malu, masih muda kok udah jadi ibu-ibu!" ujar Alin meledek Oni.
"Gapapa gue jadi ibu-ibu, emang apa salahnya? Yang penting hidup gue bahagia dan gue laku, daripada kalian bertiga sampai sekarang masih jomblo gak punya pasangan!" cibir Oni.
Setelah mengatakan itu, Oni pun langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Heh! Sialan banget sih lu! Awas lu ya!" teriak Syahra.
Namun, Oni tak perduli dan memilih terus berjalan.
"Sabar Syah! Kita kerjain dia nanti siang, biar dia tahu siapa kita sebenarnya! Jadi, dia gak bisa seenaknya hina kita kayak gitu lagi!" ucap Alin.
"Oke, gue setuju!" ucap Syahra.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...