
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 180
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Tulalit.... Tulalit....
Muzaki yang baru selesai mandi dan belum sempat berpakaian, tiba-tiba mendengar bahwa ponsel miliknya berdering. Tentu saja ia langsung bergerak menuju meja kecil yang ada di kamarnya untuk mengambil ponsel tersebut dan memeriksa siapa yang menelponnya.
Mata Muzaki langsung berbinar begitu melihat nama Revi muncul pada layar ponselnya.
"Revi?"
Tanpa berlama-lama lagi, Muzaki pun segera mengangkat telepon itu dengan senyum menyeringai di wajahnya.
π"Halo Rev, assalamualaikum!" ucap Muzaki.
π"Waalaikumsallam, halo kak! Kak Zaki, aku ganggu gak?"
π"Enggak kok, ada apa ya Rev?" tanya Muzaki.
π"Ini loh kak aku cuma mau tanya sama kak Zaki, apa sekarang ini kak Zaki udah pulang ke rumah? Atau malah masih di pelosok negeri sana?"
π"Ohh soal itu, iya nih aku kebetulan baru banget sampe rumah. Emangnya kenapa Rev?" ucap Muzaki merasa senang saat Revi menanyakan soal dirinya, terlihat ia tak dapat lagi menyembunyikan wajah gembiranya itu.
π"Eee gapapa sih, aku cuma pengen ngobrol aja sama kak Zaki. Kira-kira kak Zaki bisa gak ya? Terus, enaknya kita ngobrol dimana ya? Kak Zaki ada saran gak nih?"
π"Umm, bisa kok! Gimana kalau nanti sore sekitar jam empat abis ashar, kita ketemuan di Molinaro Cafe? Tempat itu menurut aku nyaman banget buat ngobrol sore-sore sambil minum biar gak haus, tapi ya terserah kamu sih mau setuju apa enggak!" usul Muzaki.
π"Boleh deh kak! Jam empat ya? Tapi, aku gak tahu tempatnya dimana kak! Soalnya aku belum pernah kesana,"
π"Oh gitu, yaudah tenang aja! Nanti aku jemput kamu di rumah supaya kita kesana nya bisa barengan dan kamu gak perlu repot-repot kesasar atau gimana nantinya!" ucap Muzaki.
π"Iya deh kak, makasih ya udah mau ngobrol sama aku!"
π"Sama-sama Rev, emang kebetulan juga sih aku ada yang pengen diomongin sama kamu! Jadi, sampai ketemu nanti ya Rev!" ucap Muzaki.
π"Oke kak, bye!"
π"Bye Rev, assalamualaikum!" ucap Muzaki.
π"Oh iya, waalaikumsallam!"
Tuuutttt....
Telepon dimatikan oleh Revi, kini Muzaki tampak terus tersenyum puas. Ia merasa senang sekali karena Revi mengajaknya ketemuan, ia berpikir bahwa mungkin saja gadis itu hendak membahas mengenai pertanyaan dirinya tentang hubungan mereka serta rasa cintanya pada Revi.
"Revi kira-kira mau bahas apa ya? Jangan-jangan emang bener dia bakalan jawab pertanyaan saya waktu itu?" gumam Muzaki dalam hati.
Akhirnya Muzaki kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan memakai pakaiannya yang sudah tersedia di atas ranjang, ia masih belum bisa melupakan Revi sehingga terus saja membayangkan wajah gadis itu saat tengah memakai pakaiannya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya, Muzaki pun terkejut dan seketika mempercepat memakai baju serta celana miliknya lalu berteriak menanyakan siapa yang datang.
"Siapa?" teriak Muzaki.
"Ini mama, sayang. Kamu udah selesai belum mandi sama pake bajunya? Itu Suci nungguin loh sayang!"
Terdengar suara mamanya dari arah luar, ya tentu Muzaki bergegas membuka pintu.
Ceklek...
"Eh mama, iya ini aku baru aja selesai pake baju. Emangnya Suci kenapa harus nungguin aku sih, mah?" ucap Muzaki heran.
"Ya kan Suci mau pamit pulang sama kamu, sekalian juga kamu anterin dia ya sayang! Kasihan loh kalo Suci pulang sendirian, udah yuk kita langsung turun temuin Suci!" ucap Stevi.
__ADS_1
"Eee kenapa harus aku sih, mah? Kan Suci bisa pulang naik ojek online atau taksi!" ujar Muzaki.
"Zaki, kamu ini gimana sih? Masa kamu tega biarin Suci pulang sendirian begitu? Suci udah temenin mama loh selama kamu pergi, dia juga banyak bantu mama! Kamu seharusnya anterin dia pulang sebagai bentuk terimakasih!" ucap Stevi.
"Hadeh iya deh mah iya, yuk kita langsung ke bawah aja temuin Suci! Aku paling gak bisa tolak permintaan mama, ini demi mama!" ucap Muzaki.
"Nah gitu dong Zaki!" ujar Stevi tersenyum.
Lalu, mereka pun turun ke bawah bersamaan menemui Suci yang masih terduduk di sofa seorang diri memegang ponselnya, Suci sebenarnya tak tahu apa yang dibicarakan Stevi pada putranya.
β’
β’
Saat sampai di bawah, terlihat Suci langsung beranjak dari sofa dan tersenyum menatap ke arah Muzaki serta mamanya. Gadis manis itu agak terpana melihat ketampanan Muzaki dan wangi harum tubuh pria itu yang menyengat hidungnya.
Sementara Muzaki hanya bersikap dingin pada Suci karena ia tahu dan ingat bahwa kini mereka bukan lagi sepasang kekasih seperti dulu, sampai saat ini juga Muzaki masih mencintai Revi walau gadis itu tak kunjung memberikan jawaban.
"Muz, aku mau pamit pulang dulu ya? Ini udah siang, aku takut mamaku nyariin!" ucap Suci.
"Ohh ya gapapa, makasih ya Suci selama ini kamu udah bantu mamaku! Kalau enggak ada kamu, aku pasti bakalan cemas banget sama mama!" ucap Muzaki tersenyum.
"Sama-sama Muz," ucap Suci.
Stevi menyenggol lengan putranya bermaksud agar Muzaki menawarkan diri untuk mengantar Suci pulang ke rumahnya.
"Eee Suci, aku anterin kamu pulang ya?" ucap Muzaki.
"Hah? Gausah Muz, aku kebetulan udah pesan taksi online kok. Lagian kamu kan baru pulang, pasti kamu masih capek! Mending kamu istirahat aja dulu, aku bisa pulang sendiri kok!" ucap Suci.
"Eh ya gapapa dong nak Suci, kamu kan bisa cancel itu taksi online nya! Kamu dianterin aja sama Zaki, ya?" ujar Stevi.
"Jangan deh tante, aku gak enak! Nanti aku malah ngerepotin Muzaki, ini juga taksinya udah mau sampe kok tante! Yaudah ya, aku pamit dulu? Assalamualaikum tante, Muz!" ucap Suci tetap menolak tawaran Muzaki dan mamanya.
Gadis itu mencium tangan Stevi, juga tersenyum ke arah Muzaki untuk pamitan.
"Iya nak Suci, waalaikumsallam. Zaki, kamu antar sampe depan rumah nak Suci nya jangan malah diem aja!" tegur Stevi.
"I-i-iya mah, ayo Suci kita ke depan!" ucap Muzaki.
Suci hanya mengangguk pelan, lalu ia bersama Muzaki berjalan keluar rumah menunggu taksi yang sudah dipesan oleh Suci sampai datang, walau sebenarnya Muzaki agak malas melakukan itu.
Sementara Stevi sengaja membiarkan putranya berduaan dengan Suci, tentu agar mereka bisa lebih dekat. Ia pun berbalik melangkah menuju dapur untuk membersihkan sisa makanan dan memberikan itu pada tetangganya nanti.
β€οΈ
Muzaki dan Suci kini sudah berada di luar, mereka menunggu taksi di depan gerbang sambil saling berbincang dan bertatapan, biarpun Muzaki masih tetap dengan sikap dinginnya.
"Muz, kamu kalau mau masuk lagi gapapa kok! Kamu kan pasti capek, istirahat aja Muz!" ucap Suci mempersilahkan Muzaki pergi.
"Eee gapapa, aku disini aja sampai taksi kamu datang. Takutnya nanti ada apa-apa, kan bahaya buat kamu Suci!" ucap Muzaki.
Suci pun salah tingkah mendengar ucapan dari Muzaki, ia menggigit bibir bawahnya sembari memalingkan wajah ke arah samping. Tampak pipinya mulai memerah, senyum tersipu juga muncul di wajahnya saat ini.
Muzaki yang melihat itu cukup tertarik, entah mengapa dari dulu hingga sekarang ekspresi Suci ketika tersipu selalu berhasil membuatnya tergoda dan ingin menyentuhnya, namun untuk kali ini ia berusaha menahan diri karena tahu hubungan mereka hanya sebatas teman.
"Suci, kamu kenapa?" goda Muzaki.
"Ah eee gapapa kok, aku cuma gak nyangka aja kamu masih peduli sama aku!" ucap Suci.
"Ohh ya iya dong, kamu aja peduli sama mama aku! Masa iya aku gak perduli balik sama kamu? Dosa banget dong aku, lagian cuma sebatas peduli mah gapapa kan?" ucap Muzaki tersenyum.
"Ya gapapa, justru aku seneng! Makasih ya Muz, kamu udah bikin hari aku cerah!" ucap Suci.
"Masa cuma diperduliin begitu aja langsung cerah sih? Emang biasanya hari kamu selalu gelap? Gak pernah keluar siang gitu?" tanya Muzaki.
"Gak gitu, maksud akuβ"
"Hahaha iya iya aku tahu kok, udah gak perlu dijelasin lagi!" potong Muzaki sambil tertawa.
"Ish, kamu masih gak berubah ya!" cibir Suci.
"Hahaha...."
"Eh tuh taksi kamu udah dateng! Iya bukan sih?" ujar Muzaki sambil menunjuk ke arah jalan depan.
"Umm, kayaknya iya platnya sama!" ucap Suci.
"Yaudah, kamu hati-hati ya! Sekali lagi makasih udah temenin mama aku selama aku pergi, kamu itu emang wanita yang baik Suci!" ucap Muzaki.
"Sama-sama Muz, aku sama tante Stevi kan udah kayak anak dan ibu kandung! Dari dulu juga aku anggap tante Stevi itu mama aku sendiri, jadi wajar lah aku nemenin mama kamu!" ucap Suci.
__ADS_1
"Iya Suci, aku tahu kamu emang cewek yang baik! Bukan cuma cantik dan manis!" ucap Muzaki.
Lagi-lagi Suci merasa tersipu akibat perkataan Muzaki yang barusan, gadis itu menunduk dengan wajah memerah dan menambah gemasnya.
"Jangan begitu! Kamu jadi makin imut tau!" ujar Muzaki.
Suci terbelalak mendengar ucapan Muzaki, gadis itu seakan tak percaya kalau sekarang Muzaki berani berbicara lagi seperti itu. Sedangkan pria itu sendiri juga ikut terkejut dengan apa yang barusan ia katakan pada Suci.
"Eee lupain aja ya yang barusan!" ucap Muzaki.
"Iya Muz, eh itu taksi aku udah dekat. Aku mau pulang dulu ya? Bye Muz, sampai ketemu lagi nanti!" ucap Suci tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Bye juga Suci!" ucap Muzaki singkat.
Taksi online tersebut telah sampai di depan mereka, sang supir membuka kaca lalu bertanya pada Suci.
"Dengan mbak Suci, ya?" tanya supir itu.
"Iya pak, saya sendiri!" jawab Suci.
"Oh oke mbak!" ucap supir itu.
Muzaki dengan sigap melangkah maju dan membuka pintu mobil, ia mempersilahkan Suci masuk ke dalam. Tentu saja Suci kembali dibuat tersipu dengan perlakuan Muzaki padanya.
"Ayo masuk!" ucap Muzaki.
"Iya, makasih Muz!" ucap Suci malu-malu.
Setelah Suci masuk, Muzaki pun menutup pintu. Gadis itu membuka kaca mobil dan berbicara sejenak dengan Muzaki sebelum pergi dari sana.
"Muz, aku pulang ya?" ucap Suci tersenyum.
Muzaki mendekat dan berdiri tepat di dekat kaca mobil, ia melipat dua tangannya kemudian menonjolkan wajahnya ke dekat Suci dan mengusap wajah gadis itu tanpa aba-aba.
"Oke! Hati-hati ya Suci! Pak, tolong anterin dia sampai ke rumah dengan selamat! Jangan ngebut loh pak, kalo dia lecet bapak harus tanggung jawab!" ucap Muzaki.
"Siap mas!" ucap si supir terkekeh.
Setelahnya, Muzaki mundur secara perlahan lalu melambaikan tangan ke arah Suci. Terlihat gadis itu juga melakukan hal yang sama, lalu memerintahkan supir taksi itu untuk segera melaju.
Saat dalam perjalanan, supir itu kembali bertanya pada Suci mengenai Muzaki.
"Mbak, pacarnya perhatian banget ya? Beruntung deh mbaknya bisa dapet pacar model begitu, pasti dia sayang banget sama mbak!" ucap supir itu.
"Eee...."
β’
β’
Sementara itu, Revi hendak pulang ke rumah setelah menjalani kelasnya di hari ini. Ia menunggu supirnya datang menjemput di depan kampus seorang diri, namun lama-kelamaan Latifah datang dan menepuk pundaknya dari belakang.
Pukkk...
"Rev! Lu lagi ngapain disini sendirian? Bukannya ke kantin nyusul gue!" tegur Latifah.
"Yaelah Ifah, kamu itu kenapa sih selalu ngagetin aku kayak gitu ha?!" ujar Revi cemberut kesal.
"Hehe ya maaf Rev! Udah, lu ngapain berdiri disini panas-panasan begitu? Gak takut gosong apa lu?" ujar Latifah.
"Aku nungguin jemputan, kan aku pengen pulang. Kamu sendiri ngapain malah kesini?" ucap Revi.
"Ya gue kan nyariin lu kemana-mana sampe gue puterin nih satu kampus gak ketemu juga, eh ternyata lu malah lagi jemur badan disini! Yaudah gue samperin aja, kenapa lu buru-buru banget sih langsung pulang? Kita santai dulu lah disini!" ujar Latifah.
"Aku gak bisa Fah, nanti abis ashar aku udah ada janji sama orang mau ketemuan. Kamu kalau mau nyantai dulu, ya silahkan aja sana! Kamu bisa ajak kak Digo atau siapalah itu!" ujar Revi.
"Hah? Idih ogah banget, gue gak mau berduaan sama kak Digo! Lu jangan sembarangan deh! Lagian emang lu mau ketemu sama siapa sih, kayaknya penting banget? Ajak-ajak gue dong Rev, kan gue sohib setia lu!" ujar Latifah.
"Eee kepo deh kamu! Ada deh pokoknya aku mau ketemuan sama orang, aku juga udah janji sama dia dan kamu gak perlu tau!" ucap Revi.
"Yaelah parah banget sih lu sama sohib sendiri masa masih main rahasia-rahasiaan! Ayo dong kasih tau ke gue, lu mau ketemuan sama siapa?! Terus izinin lah gue buat ikut sama lu!" bujuk Latifah.
"Ifah sorry ya! Untuk kali ini aku gak mau kasih izin buat kamu ikut sama aku, karena ini tuh masalah penting yang harus aku selesaikan dengan teman aku itu!" ucap Revi tersenyum.
"Yah kok gitu sih? Gue kan jadi makin penasaran tau!" ucap Latifah cemberut.
"Maaf ya Fah!" ucap Revi.
Tak lama kemudian, supirnya alias pak Darwin muncul sesuai permintaan Revi yang memang ingin dijemput. Revi pun langsung pamitan pada Latifah dan masuk ke dalam mobil untuk bisa segera pulang ke rumahnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...