
Raya menghempaskan tubuhnya diatas kasur, ia memijit-mijit pundaknya yang sedikit pegal karena kepala Angkasa yang tadi tidur di pundaknya.
Sedikit kesal sih, katanya sebentar, eh, dianya malah ketiduran. Mana berat lagi kepalanya.
Raya berguling mencari tempat ternyaman dan memilih memejamkan matanya. Tapi sebuah pesan masuk di hapenya membuat Raya kembali membuka mata dan meraih hapenya.
Memperlihatkan pop up pesan dari sahabatnya, Rain.
Rain : uy Raya
Rain : udah tidur ya?
Rain : kebo you
Raya : apa lo
Rain : eh?
Rain : tumben masih bangun biasanya udah ngebo
Raya : napa kangen sama gue?
Rain : hilih siapa juga yang ngangenin lo
Rain : kapan liburan?
Raya : tuh kan kangen
Rain : lo lupa?
Raya : apaan?
Rain : setiap 15 Mei
Raya : hm?
Rain : nih sering deket sama Angkasa kayanya jadi lupa kampung halaman
Raya : yeee apaan nggak
Rain : masa lo lupa sih Ray
Raya : hmmmm bentar gue mikir
Raya mengerjap, ngerjap mencoba mengingat apa yang dia lakukan bersama Rain di 15 Mei setiap tahun?
Tak asing, tapi ia benar-benar lupa hari apa itu.
Rain : ye lama lo
Rain : nggak ke rumah Sasha?
Raya mengerjap lagi. Mulutnya terbuka kecil ia sekarang ingat. Dia harus bertemu Sasha. Sudah lama dia tidak berkunjung kesana.
__ADS_1
Rain : jangan jangan lo lupa sama Sasha?
Raya : nggak akan Rain
Rain : jadi lo bisa kan?
Raya : hm gue usahain
Raya : gue kangen sama dia
Rain : gue yang siapin semua
Rain : see you Ray
Raya : hm
Raya : makasih ya Rain udah ngingetin
Rain : hm iya :)
Raya : jadi sedih gue :(
Rain : udah lah Ray
Raya : yaudah gue tidur
Rain : nice dream sayang :)
Raya : you too baby :)
💗💗💗
Kini ia, Raya, Langit, Sashi dan ayahnya sedang makan bersama. Angkasa tadinya hanya melirik kecil tapi sekarang jadi menatap Raya penuh melihat Raya hanya makan sedikit sarapannya.
"Nggak lo habisin?" tanya Angkasa membuat Raya mendongak, Langit yang berada disebelahnya ikut menoleh.
Raya menggeleng. "Oh, nggak kok. Mau gue habisin," jawab Raya sekenanya.
Angkasa menghela napas pelan. "Cepetan, hari ini masuknya lebih pagi. Ada persiapan pensi," ucap Angkasa mengingatkan membuat Raya hanya mengangguk kecil dan cepat-cepat melahap makanannya.
"Pensi lo buat umum nggak?" tanya Langit tiba-tiba membuat Angkasa menoleh membulatkan mata.
"Hng, nggak tau juga. Gue udah lepas dari OSIS jadi nggak tau. Tapi tahun kemarin ada yang buat umum," jawab Angkasa. Ia lalu mengerjap. "Kenapa?"
Langit mengangkat kedua alisnya dan menggeleng. "Nggak, nggak apa-apa. Makan aja lagi, cuma nanya kok," ucap Langit memalingkan wajahnya dan kembali memakan makanannya tenang.
Angkasa tak banyak berpikir, ia hanya langsung menghabiskan makanannya.
💗💗💗
"Raya."
Panggilan itu langsung membuat langkah Raya terhenti, ia kemudian berbalik menatap gadis yang familiar dimatanya.
__ADS_1
Mesya, gadis itu kini berdiri tak jauh dari Raya. Memandang Raya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Raya jadi mengernyit kecil. Heran.
"A ... lo manggil gue?" tanya Raya setelah hening beberapa saat.
Mesya mengerjap, tersadar lalu segera berjalan ke arah Raya. Ia mengambil napasnya pelan.
"Ada yang mau lo omongin?" tanya Raya lagi.
Mesya menatap mata Raya tepat, ia kemudian tersenyum kecil. "Tolong jauhi Angkasa," ucap gadis itu dengan nada datar.
Raya sedikit tersentak kecil, terkejut dengan permintaan Mesya yang sungguh tidak mungkin Raya penuhi.
"K-kenapa?"
"Karena gue suka dia."
"Hah?"
Raya mengerjap, memandang Mesya yang kini tersenyum tipis. "Jadi gue mohon jauhin dia," lanjut gadis itu.
"Kenapa harus gue yang jauhin dia?" tanya Raya masih tak mengerti. "Gue bahkan nggak pernah keliatan deket sama dia."
"Karena dia suka elo," jawab Mesya dengan nada tenangnya. "Emang, di sekolah lo nggak pernah keliatan deket. Tapi di luar sekolah? Lo nggak tau kan banyak gosip tentang lo sama Angkasa."
"Kita temen," balas Raya.
Mesya menyeringai kecil dan berdesis. "Dari awal gue udah tau dia suka lo, dan dari awal sebelum lo datang gue udah suka dia. Tadinya gue mau biarin aja dia suka lo, tapi perasaan gue nggak bisa."
Raya menunduk, tapi perasaannya untuk Angkasa juga ada. Dan ia juga tau, bahwa Angkasa menyukainya.
"Hanya karena lo suka dia ... gue juga nggak boleh suka?" tanya Raya dengan segenap keberaniannya memberanikan diri menatap Mesya.
Mesya membulatkan matanya. Merasa tersentak mengetahui Raya yang juga menyukai Angkasa. Raya kemudian terdenyum miring.
"Apa karena gue juga suka dia, lo akan merasa tersaingi dan akan kalah kalau gue berusaha dapetin dia?" tanya Raya menaikkan dagunya sedikit.
"Lo apa-apaan, Ray," sahut Mesya tak terima.
"Karena lo ngomong gini, gue tau. Lo dari awal udah nggak suka sama gue," ucap Raya tak menghiraukan Mesya.
"Dari awal emang banyak yang nggak suka gue. Dari mulai cabe sekolah, dan sekarang gue baru tau, elo juga nggak suka sama gue."
"Terus lo mau apa kalau gue nggak suka sama lo?" sentak Mesya marah.
"Kita berkompetisi, pada akhirnya Angkasa akan milih dengan siapa. Dan lo nggak boleh main curang," ucap Raya dengan tatapan sedikit mengancam membuat Mesya termindur karenanya.
"Ck, lo pikir Angkasa bahan taruhan?" decak Mesya tak terima.
"Lo nggak berani, hm?" tanya Raya menantang membuat Mesya mendelik langsung mengalihkan tatapannya.
"Intinya lo nggak boleh deketin Angkasa. Karena dia punya gue. Dan selalu akan begitu," ucap Mesya mengakhiri percakapan dan segera berlari kecil meninggalkan Raya.
Raya menatap punggung Mesya yang menjauh bahunya melemas seketika.
__ADS_1
Dia tadi sok menantang pada Mesya siapa yang Angkasa suka. Tapi ... ia bahkan tidak yakin rasa Angkasa benar-benar dari hati, atau hanya sementara.
💗💗💗