Angkasa

Angkasa
Morning


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 214


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


"Zaenal!" dosen tampan itu terkejut begitu ada yang memanggilnya, ia melepas pelukan dan salah tingkah ketika melihat sepupunya sudah kembali dari toilet.


"Lu pelukan sama siapa nih?" tanya seorang pria yang tak lain ialah sepupu Zaenal, menatap ke arah Laras dengan wajah kebingungan.


"Eee..." Zaenal terlihat bingung ketika hendak menjelaskan pada sepupunya.


"Saya Laras. Aku ini mahasiswi di kampus tempat Zaenal mengajar, tadi kita bukan pelukan tapi gak sengaja karena aku hampir jatuh. Jadi, jangan salah paham dulu ya kak!" ucap Laras langsung menyela dan menjelaskan pada sepupu Zaenal itu.


"Ohh, tapi kok lu kelihatan gugup gitu sih Nal? Kayak yang emang lagi sengaja mau pelukan, hayo jangan-jangan kalian pacaran nih ya!" pria itu sengaja menggoda Zaenal hingga Zaenal semakin merasa gugup dan bingung.


"Apaan sih lu? Kan udah dibilang tadi sama Laras, kita cuma gak sengaja pelukan karena Laras hampir jatuh. Gue tuh tahan tubuh dia, biar gak jatuh ke bawah!" elak Zaenal.


"Ah masa...??" goda sepupunya itu.


"Ya iyalah, udah ah gak lucu tau begitu terus! Kalo Laras punya pacar kan gak enak, mending kita lanjut ke bawah!" ucap Zaenal.


"Gapapa pak, aku belum punya pacar kok. Aku masih single, jadi bapak gak perlu cemas gitu!" ucap Laras sambil tersenyum genit.


"Kok bapak lagi sih? Kan udah saya bilang tadi, lupa lagi nih?" ujar Zaenal.


"Oh iya ya, saya lupa pak. Eh maksud saya Zaenal, maklum aku kan belum terbiasa." Laras tersenyum renyah sembari melipat kedua tangan di depan.


"Cie cie yang udah manggil nama," ledek sang sepupu disertai senyum.


"Heh! Lu bener-bener ya, masih aja ngeledekin gue! Udah dibilang Laras ini mahasiswi gue, jadi stop kayak gitu! Oh ya, Ras maafin sepupu aku ya! Dia emang orangnya gak jelas!" ucap Zaenal meminta maaf pada Laras atas kelakuan sepupunya.


"Gapapa." Laras tersenyum singkat, ia justru senang diledek seperti itu oleh sepupu Zaenal.


"Yaudah Mal, kita cabut yuk!" ucap Zaenal.


"Mau kemana sih Nal? Terus nih cewek gimana? Masa mau lu tinggal gitu aja? Gak bertanggung jawab banget lu jadi cowok! Minimal lu ajak dia lah buat ikut sama kita," ujar Akmal (sepupu Zaenal).


"Emang kamu mau ikut sama kita, Ras?" tanya Zaenal menatap Laras.


"Eee ya kalau boleh sih gapapa, kebetulan aku kan juga kesini sendiri. Tapi, semisal aku ganggu kalian ya gausah deh," jawab Laras.


"Gak ada ganggu kok, aku malah senang kalau kamu ikut. Biar aku sama Akmal ini gak dikira pasangan gay, soalnya kemana-mana berdua dan nempel terus. Kalo ada kamu, kan pikiran orang bisa berubah nanti," ujar Zaenal.


"Yaelah alasan lu prik banget, Nal! Bilang aja lu pengen Laras ikut supaya lu bisa modusin dia, kayak peluk-peluk dia tadi!" cibir Akmal.


"Lu kenapa sih, Mal? Demen banget ledekin gue gitu, kasihan si Laras gak suka tuh!" ucap Zaenal.


"Tapi lu sendiri senang kan? Ahaha udah Nal, pepet aja terus mumpung sama-sama single!" ujar Akmal.


"Ngada-ngada aja lu!"


Laras tersenyum senang melihat ekspresi dari Zaenal yang terlihat malu-malu tapi mau itu, ia pun sudah semakin tak sabar ingin segera pergi bersama Zaenal mengelilingi mall tersebut.


"Yaudah, kamu mau ikut kan Ras?" tanya Zaenal sekali lagi memastikan.

__ADS_1


Laras mengangguk pelan, kemudian menggandeng tangan Zaenal sambil tersenyum genit membuat kedua pria itu kompak terkejut.


"Eee gak perlu gandengan deh," ucap Zaenal.


"Gapapa dong, emang salah ya?" ucap Laras.


"Udah lah Nal, kode itu namanya. Lu harus peka dong jadi cowok!" ujar Akmal.


"Apaan sih lu!"


Akhirnya Zaenal terpaksa membiarkan Laras menggandeng lengannya, biarpun ia merasa sangat risih dan ingin melepaskannya.


β€’


β€’


Keesokan harinya, Revi keluar kamar dengan wajah cemberut karena masih mengingat momen saat makan malam bersama Muzaki dan mamanya di sebuah restoran semalam.


Melihat putrinya tampak bersedih, Marcel pun penasaran dan coba untuk mendekati Revi lalu bertanya padanya. Semalam memang Marcel sudah ingin bertanya mengenai dinner putrinya dengan Muzaki, namun Revi justru menghindar tak mau berbicara dan malah masuk ke kamar.


"Rev, kamu kenapa sedih begitu? Emangnya semalam apa sih yang terjadi sewaktu kamu dinner dengan Muzaki dan mamanya?" tanya Marcel tampak sangat penasaran.


"Halah udah pasti kamu gak diterima kan sama mamanya si Zaki itu! Emang dasar belagu tuh orang, masih untung kamu mau pacaran sama anaknya eh malah kayak gitu! Udah deh sayang, kamu jauhi aja Muzaki!" ujar Juliana.


"Mah, mama apaan sih? Mama jangan bikin Revi semakin stress dong!" tegur Marcel emosi.


"Mana ada sih pah? Orang mama cuma mau bantu Revi aja kok, mama tuh gak mau anak kita sedih terus kayak gini!" ucap Juliana.


"Ya tapi jangan gitu juga lah, mah!" ujar Marcel.


"Udah pah, mah, aku gapapa kok. Semalam tante Stevi emang agak ketus sama aku, tapi aku yakin lambat laun tante Stevi bisa terima aku kok. Apalagi kita juga baru ketemu pertama kali, jadi ya wajar aja sikap tante Stevi kayak gitu ke aku. Papa sama mama jangan berantem ya, aku baik-baik aja kok!" ucap Revi sambil tersenyum.


"Kamu yakin Rev? Kalau misal kamu gak diterima sama mamanya Zaki, yaudah kalian putus aja jangan dipaksakan! Biar kamu juga bisa jadian sama Charlie, itu lebih baik loh!" ucap Juliana.


"Mah, mama jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong! Revi dan Muzaki gak mungkin putus, mereka saling cinta!" ucap Marcel tegas.


"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, pah! Kalau mereka emang gak jodoh, buat apa bertahan? Mending Revi sama yang pasti-pasti aja, contohnya Charlie. Dia itu udah lah ganteng, kaya, orangtuanya juga teman mama. Jadi, cocok lah buat Revi anak kita!" ucap Juliana.


"Haaahhh... serah papa aja deh!" Juliana tampak jengkel dan langsung beranjak dari sana.


"Mah, mama mau kemana?" tanya Marcel mencekal lengan istrinya.


"Mama mau ke kamar, mama malas disini disalahin terus sama papa! Lebih baik mama istirahat aja di kamar, daripada terus disini!" jawab Juliana ketus.


"Yaudah, suka-suka mama aja!" ucap Marcel.


Marcel melepaskan tangan Juliana, membiarkan istrinya itu pergi dari sana. Tentu Juliana langsung melangkah menuju kamarnya meninggalkan Marcel serta Revi disana.


"Pah, kok mama dibiarin pergi? Papa gak coba bujuk mama?" tanya Revi.


"Biarin aja, mama kamu kalau lagi emosi susah buat dibujuk. Lebih baik kamu sekarang tenangin diri dulu, makan yang banyak supaya kamu bisa fokus kuliahnya! Soal mamanya nak Zaki, papa yakin kamu pasti bisa bikin hati calon mertua kamu itu luluh dan bisa terima kamu!" ucap Marcel.


"Iya pah, aku juga gak bakal nyerah kok. Lagian semalam kan baru pertama kali aku ketemu tante Stevi, jadi masih banyak kesempatan buat aku supaya bisa diterima sama tante Stevi!" ucap Revi sambil tersenyum manis.


"Nah bagus itu! Papa suka dengan semangat kamu yang seperti ini, kamu harus tunjukkan ke mama nak Zaki kalau kamu itu wanita yang baik dan kamu bisa menjadi pasangan yang baik bagi Muzaki! Papa juga akan selalu support kamu, sayang!" ucap Marcel mengusap punggung Revi sembari tersenyum lebar.


"Iya pah, makasih ya udah mau support aku! Semoga aja mama juga bisa kayak papa, karena aku capek dijodohin terus sama orang yang gak aku sukai!" ucap Revi cemberut.


"Sabar aja sayang!"


Marcel mendekati Revi, lalu memeluk erat putrinya sembari mengelus rambut dan mengecup puncak kepala putrinya itu dengan lembut.


β€’


β€’


Zian masih merasa jengkel pada sosok Laras karena semalam gadis itu pergi meninggalkannya begitu saja di mall tanpa memberi kabar, bahkan ia sampai mencari keberadaan Laras di sekeliling mall tersebut sampai larut malam, untungnya Laras mengirim pesan padanya sehingga ia bisa pulang dan tidak terus-terusan ada di mall.


Kini Zian tiba di kampus, ia berniat menemui Laras disana dan menanyakan pada gadis itu mengapa semalam meninggalkannya. Ia juga sengaja tak mendatangi rumah Laras secara langsung, karena khawatir akan terlibat cekcok mulut diantara mereka dan Zian tidak enak pada Maryam.

__ADS_1


"Duh, Laras mana sih? Tumben banget dia belum datang jam segini!" gumam Zian kebingungan.


Zian beranjak dari tempatnya, berusaha mencari Laras kesana-kemari mengelilingi kampus tersebut untuk bicara padanya. Akan tetapi, pria itu bingung harus mencari kemana karena ia tak tahu apakah Laras sudah datang atau belum.


"Gue cari Laras kemana, ya? Gue harus bicara sama dia sekarang! Bisa-bisanya dia ninggalin gue semalam!" gumam Zian.


Saat Zian sedang berusaha mencari Laras, tiba-tiba Latifah justru muncul dan tak sengaja berpapasan dengan Zian disana, gadis itu menghentikan langkahnya menatap ke arah Zian dan tersenyum.


"Eh kak Zian." Latifah tersenyum lebar.


"Iya Fah, kenapa lu kok kayak senang gitu ketemu gue? Ada yang mau lu omongin sama gue? Atau lu emang lagi cari gue?" tanya Zian penasaran.


"Eee sebenarnya enggak sih, kak. Gue cuma menebar senyum aja, karena senyum kan ibadah!" jawab Latifah.


"Ohh ya bagus lah! Yaudah, gue duluan ya? Permisi!" ujar Zian dingin.


Pria itu hendak melangkah pergi, namun ia berhenti saat mengingat bahwa Latifah adalah sahabat Laras, yang tentunya besar kemungkinan kalau Latifah mengetahui dimana keberadaan Laras.


"Eh tunggu tunggu, gue mau tanya sesuatu sama lu dan gue harap lu jawab jujur!" ucap Zian.


"Sesuatu apa, kak?" Laras tampak kebingungan.


"Lu lihat atau tahu gak Laras dimana sekarang? Soalnya gue lagi cari dia nih, barangkali aja lu tahu kan. Secara lu temenan sama Laras," tanya Zian.


"Ohh gue gak lihat Laras, kak. Mungkin dia belum dateng, atau bisa jadi dia gak ada kelas hari ini. Kenapa lu gak telpon atau samperin dia langsung aja biar gak penasaran?" jawab Latifah.


"Ya gue pengennya gitu, tapi masalahnya gue sama Laras ini lagi ada masalah sedikit. Makanya gue gak berani jemput dia di rumahnya," ucap Zian.


"Oh gitu, yaudah ditunggu aja kak barangkali nanti Laras datang. Gue duluan ya, kak? Ada urusan sebentar disana, permisi!" ucap Latifah.


"Iya iya, silahkan!" ucap Zian memberi jalan.


Latifah pun beranjak pergi dari sana menjauhi Zian, ada perasaan kecewa di hati Latifah mengingat dirinya menyimpan rasa pada Zian, namun Zian justru lebih memilih bersama Laras yang notabene tidak mau bersamanya.


Setelah Latifah pergi, Zian pun menyusul pergi dari tempat itu. Ia hendak menunggu Laras sampai wanita itu datang nantinya, biarpun ia tak tahu apakah Laras akan datang atau tidak.


β€’


β€’


Disisi lain, Radian mencekal lengan Oni yang baru saja hendak melangkah keluar kamar. Pria itu menarik tubuh Oni ke dalam pelukannya, mendekap erat seakan tak membiarkan istrinya pergi kemana-mana.


Oni yang sedang berjalan tadi pun terkejut, ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Radian sembari memukul-mukul dada bidang suaminya, namun gagal karena kekuatannya tak sebanding dengan sang suami.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Lepasin aku, aku mau turun ke bawah, aku ada kuliah tau!" rengek Oni.


"Gak, aku gak akan biarin kamu pergi!" tegas Radian.


"Ish mas, kamu itu kenapa sih? Aku heran deh sama kamu, apa gak puas semalaman kamu udah main sama aku? Sekarang aku harus kuliah mas, biar bisa cepat jadi sarjana!" ujar Oni.


"Iya aku tahu, tapi kamu selalu bikin aku tegang sayang. Aku gak bisa biarin kamu pergi gitu aja, uhh apalagi kamu wangi banget begini!" ucap Radian sembari mengendus leher Oni, menghirup aroma tubuh gadis itu dan meninggalkan tanda kepemilikan yang cukup banyak.


Oni akhirnya pasrah saat Radian menjilati leher jenjangnya, sampai turun ke dada dan meremass nya lembut hingga Oni mendesahh pelan.


"Ahhh mass..." Oni yang tadinya menolak, kini perlahan menikmati sentuhan sang suami dan justru meminta lebih, wanita itu mengarahkan tangan Radian ke bagian dadanya agar meremass lebih kuat.


"Tadi sok nolak nolak, eh sekarang tangan aku ditarik gini. Lain kali gak perlu malu-malu sayang, bilang aja kalo mau biar sekalian aku langsung tusuk kamu!" goda Radian.


"Mas ah, aku begini juga gara-gara kamu! Coba aja kamu gak mulai tadi!" ujar Oni.


"Gapapa sayang, kita morning s*x dulu yuk! Supaya kamu kuliahnya juga segar nanti, kan enak tuh pagi-pagi hs!" ucap Radian tersenyum mesum.


"Dasar mesum kamu mas!" cibir Oni.


Radian justru tersenyum seakan bangga saat Oni mengatakan itu, ia membawa tubuh Oni kembali ke atas ranjang dan menidurkannya disana. Radian melepas seluruh pakaian Oni secara kasar dan membuangnya ke sembarang tempat, Oni hanya diam pasrah menikmati permainan suaminya itu.


TOK TOK TOK...


Deg!

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2