
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 174
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Radian yang telah sampai di depan rumah Revi sedari tadi, hanya bisa celingak-celinguk sambil menunggu kemunculan Latifah disana. Ya sebelum ini Radian juga sudah mengabari Latifah melalui chat dan meminta gadis itu untuk keluar.
Tentu saja Radian tak berani jika harus berteriak, ia khawatir Revi akan mendengarnya dan tahu kalau ia saat ini sedang berada di depan rumahnya, walau Radian juga belum tahu apakah Latifah bercerita pada Revi tentang ini atau tidak.
"Duh semoga aja Ifah gak bilang ke Revi kalau gue yang jemput dia disini! Ini mana sih Ifah? Sampe sekarang gak muncul-muncul, apa harus gue chat lagi?!" geram Radian di dalam hati.
Disaat Radian hendak mengabari Latifah lagi, tiba-tiba gadis itu sudah muncul bersama Revi.
"Hah? Anjir lah! Ngapa dia ngajak si Revi juga sih? Mampus dah gue, gue harus bicara apa sama Revi kalo gue ketemu dia?" gumam Radian dalam hati.
Revi meminta pak Fadlul untuk membuka pintu pagar, lalu ia dan Latifah berjalan keluar mendekati Radian yang sedang dalam kondisi panik.
"Kak Radian!" sapa Latifah.
"Ah iya?" ujar Radian menoleh.
"Nah kan Rev, bener ini kak Radian! Lu gak percaya sih sama gue kak Radian itu udah jadi tukang ojek online sekarang, lihat sendiri kan lu?" ucap Latifah berbicara pada Revi.
"Eee iya Fah, aku udah lihat kok! Kak Radian apa kabar?" ucap Revi menatap wajah Radian.
"Umm, aku baik Rev! Kamu sendiri gimana?" ucap Radian berusaha tenang walau suasana jantungnya sedang tidak baik-baik saja.
"Alhamdulillah aku juga baik! Oh ya, sejak kapan kak Radian jadi driver go-bek?" tanya Revi.
"Eee sejak aku mutusin buat nikah sama Oni, aku kan udah penuh tanggungan yaitu istri dan calon anak di dalam perut Oni. Maka dari itu, aku cari kerja buat bisa hidupin mereka nantinya! Yakali aku terus bergantung sama uang orang tua ku," jawab Radian.
"Wah kak Radian hebat ya! Gue salut sama lu kak! Itu baru namanya suami yang hebat!" puji Latifah.
"Ah biasa aja kok!" ucap Radian tersipu.
"Umm, emangnya kak Oni itu udah hamil ya kak?" tanya Revi penasaran.
"Ah iya Rev, Oni dinyatakan hamil sama dokter beberapa waktu lalu. Makanya sekarang aku mau giat cari uang buat kebutuhan mereka, kan kata orang istri hamil itu pasti banyak maunya!" jawab Radian sambil tersenyum.
"Ahaha iya sih kak, benar banget suka ngidam yang gak jelas gitu! Eh btw selamat ya kak buat kehamilan kak Oni, gue jadi pengen deh temuin kak Oni dan kasih hadiah buat anak kalian!" ujar Latifah.
"Iya sama, aku juga mau ikut!" sahut Revi.
"Nah tuh gimana kak? Gue sama Revi boleh gak main ke rumah lu buat ketemu kak Oni?" tanya Latifah.
"Eee bo-boleh kok, masa iya gak boleh? Kalian kan teman dekat Oni juga, ya silahkan aja!" jawab Radian.
"Asik! Kalo gitu sekarang lu anterin gue balik dulu kak, baru nanti gue sama Revi janjian buat main ke rumah lu terus ketemu kak Oni deh!" ucap Latifah tersenyum.
"Eh ngomong-ngomong sekarang kak Oni tinggal dimana ya kak? Masih di rumahnya atau udah pindah ke rumah kak Radian?" tanya Revi.
"Eee Oni di rumahnya kok, kemarin sempat beberapa hari tinggal di rumah aku. Tapi, Oni udah kangen sama mama papanya, jadi ya sekarang dia tinggal disana supaya rasa kangennya bisa terobati!" jawab Radian.
"Ohh berarti kalo gitu aku sama Latifah datang ke rumah kak Oni aja, ya?" ucap Revi.
"Iya Rev, kamu tahu kan?" tanya Radian.
"Eee aku tahu kok, kebetulan waktu itu aku pernah antar kak Oni pulang ke rumahnya. Jadi, nanti aku bisa langsung kesana sama Latifah!" jawab Revi.
"Ohh ya syukurlah!" ucap Radian tersenyum.
Revi dan Radian tampak saling menatap satu sama lain selama beberapa detik, entah mengapa Radian sangat merindukan momen seperti itu ketika bersama Revi.
Latifah yang menyadarinya, langsung menegur kedua manusia tersebut mengingat Radian sudah mempunyai istri dan tak boleh memandang wanita lain apalagi Revi adalah sahabatnya.
"Ehem ehem...!!" Latifah berdehem pelan.
"Eh Fah, yuk kita langsung berangkat! Ini helmnya dipake dulu!" ucap Radian salah tingkah.
__ADS_1
"Iya kak, makasih!" ucap Latifah tersenyum.
Latifah mengambil helm dari tangan Radian, lalu memakainya di kepala. Ia menoleh sejenak ke arah Revi untuk berpamitan sebelum naik ke motor Radian dan pergi dari sana.
"Rev, gue pulang dulu ya? Nanti kalau mau ke rumah kak Oni kabarin gue aja!" ucap Latifah.
"Iya Fah, aku juga gak mungkin lah pergi sendiri! Mungkin nanti sorean kita ke rumah kak Oni bareng!" ucap Revi tersenyum.
"Oke siap!"
Setelahnya, Latifah pun naik ke motor Radian dan melambaikan tangan ke arah Revi terlebih dulu sebelum pergi dari sana. Tampak Radian juga ikut tersenyum ke arah Revi, sebelum melajukan motornya ke depan dengan kecepatan sedang.
Sementara Revi memilih masuk ke dalam rumah sesudah dua orang itu pergi dari sana, ia masih merasa gugup memikirkan kejadian tadi saat bertatapan langsung dengan Radian.
"Aku kenapa ya? Masa gara-gara ditatap begitu sama kak Radian langsung begini?" batin Revi.
β’
β’
Singkat cerita, Latifah telah sampai di rumah bersama Radian. Ia pun turun dan memberikan helm itu ke Radian lalu membayar ongkos ojeknya dengan uang cash karena ia tak punya saldo uang online yang biasanya dipakai untuk bayar ojek online.
"Nih kak, helm sama uangnya! Itu pas jadi gausah kembali!" ucap Latifah nyengir.
"Iya, makasih ya!" ucap Radian.
"Sama-sama kak, kalo gitu gue masuk dulu ya?" ucap Latifah.
"Silahkan! Gue juga permisi mau lanjut ngojek lagi, oh ya nanti kalau mau dateng ke rumah tinggal dateng aja gak perlu tungguin gue! Biar gue nanti bilang ke Oni," ucap Radian.
"Ohh iya siap kak!" ucap Latifah.
"Yaudah, gue permisi dulu!" ucap Radian.
"Iya kak,"
Radian memacu motornya pergi dari rumah Latifah dengan cepat, sedangkan gadis itu juga berjalan menuju ke dalam rumah sambil senyum-senyum sendiri mengingat momen canggung yang terjadi pada Radian dan Revi tadi.
"Hahaha kalau diingat-ingat rasanya lucu juga, apalagi si Revi sampai canggung banget begitu sama kayak kak Radian!" gumam Latifah dalam hati.
Latifah pun mulai mengetuk pintu sembari memanggil nama ibunya.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, Bu ibu!" teriak Latifah.
"Haish, ibu kemana sih? Pake dikunci segala nyebelin deh!" geramnya kesal.
Tiba-tiba saja ada suara motor yang datang ke rumahnya dan berhenti tepat di halaman rumah gadis itu, sontak Latifah pun langsung menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang datang. Ia terkejut lantaran pengemudi motor itu adalah Digo, alias teman Radian yang sering mendekatinya.
"Kak Digo?" ujar Latifah menganga sedikit.
"Hai Fah! Apa kabar?" ucap Digo menyapa gadis itu sembari turun dari motornya dan menghampiri Latifah.
"Eee gu-gue baik kak! Lu ngapain kesini?" tanya Latifah agak gugup.
"Rencananya aku mau ajak kamu jalan-jalan bareng sama Zian dan Laras, ya semacam double date gitu deh! Kamu mau apa enggak kira-kira?" jawab Digo menjelaskan maksudnya.
"Double date?" tanya Latifah.
"Iya Fah, kamu gak ada rencana apapun kan hari ini? Bisa lah ya ikut sama aku!" ujar Digo tersenyum.
"Eee gimana ya...??" ujar Latifah bingung.
"Ayolah Fah, kali ini aja kok! Aku cuma pengen kita berdua itu semakin dekat, supaya kamu gak canggung lagi sama aku!" ucap Digo memohon.
"Tapi kak, gue udah terlanjur janji sama Revi buat main ke rumah kak Oni nanti sore! Kayaknya gue gak bisa deh ikut sama lu, mending lu ajak cewek lain aja kak buat double date!" ucap Latifah menolak.
"Hah? Mau ngapain lu ke rumah Oni nanti sore? Dia kan udah nikah sama Radian!" tanya Digo heran.
"Ya justru itu kak, sekarang kak Oni itu lagi hamil. Jadi, gue sama Revi mau ucapin selamat buat kak Oni atas kehamilannya sekaligus kasih hadiah! Secara kan gue sama Revi tuh udah lumayan dekat lah sama kak Oni, gak enak rasanya kalo gue gak dateng temuin kak Oni!" jelas Latifah.
"Loh bukannya Oni hamilnya udah lama ya?" ujar Digo keceplosan.
"Enggak kok kak, tadi kak Radian bilang baru beberapa hari yang lalu dia tahu kalau kak Oni hamil lewat dokter!" ucap Latifah.
"Eee iya gue emang sotoy orangnya!" ujar Digo.
"Gapapa kak, maaf ya gue gak bisa ikut sama lu!" ucap Latifah.
"Yah yaudah deh, gak masalah kok!" ucap Digo.
Digo tampak lesu setelah Latifah menolak ajakan darinya, ia berbalik badan dan hendak pergi dari sana. Namun, sebuah suara menghentikan langkahnya dan membuat ia penasaran lalu menoleh ke asal suara tersebut.
__ADS_1
"Latifah!"
"Ibu? Ibu darimana aja sih? Aku mau masuk gak bisa loh Bu, pake dikunci segala!" ujar Latifah.
Rupanya suara yang muncul itu adalah suara dari Maryati alias sang ibu dari Latifah. Tentu saja Digo pun mencoba untuk mendekati Maryati agar ia bisa juga seperti Zian yang melakukan pendekatan melalui ibu Laras.
"Iya maaf sayang! Ibu tadi abis dari warung, ibu pikir kamu belum mau pulang loh! Biasanya kamu kan kalo ke rumah nak Revi selalu lama, ini kok tumben udah pulang aja?" ucap Maryati.
"Iyalah Bu, kan nanti sore aku mau pergi lagi sama Revi ke rumah temen!" ucap Latifah.
"Ohh yaudah yuk masuk!" ucap Maryati.
"Permisi tante!" ucap Digo menghampiri Maryati dan juga Latifah sambil sedikit merunduk.
"Eh, ini siapa Fah? Teman kamu?" tanya Maryati.
"Eee iya Bu, dia senior aku di kampus. Tapi, dia udah mau pulang kok!" jawab Latifah.
"Iya tante, salam kenal saya Digo teman kampusnya Latifah!" ucap Digo mengenalkan diri pada Maryati sembari mengulurkan tangannya.
"Ohh iya iya saya ibunya Ifah!" ucap Maryati.
Digo tersenyum setelah mencium tangan Maryati, ia memandang wajah Latifah sehingga membuat gadis itu terheran-heran tak mengerti mengapa Digo begitu padanya.
"Kak Digo kenapa ya?" batin Latifah.
β’
β’
Sementara itu, Laras sudah tampak rapih dan siap untuk pergi bersama Zian walau dengan terpaksa karena ia tak mau melawan perkataan mamanya yang meminta ia ikut dengan Zian.
Zian langsung terkesima begitu melihat penampilan gadisnya saat ini yang amat cantik dengan balutan dress ungu ditambah gadis itu juga mengenakan jepit rambut yang membuat dirinya semakin bertambah imut di mata Zian.
"Ras, kamu cantik banget! Aku gak salah pilih kamu buat jadi pasangan!" ucap Zian tersenyum.
"Pasangan?" Laras terheran-heran.
"Iya dong, aku kan pengen kamu buat jadi pasangan sehidup semati aku! Yaudah yuk, sekarang kamu ikut aku ke mobil! Kita tungguin Digo disana!" ujar Zian.
"Umm, iya kak!"
Zian menggandeng tangan Laras dan membawa gadis itu ke dalam mobilnya, mereka duduk bersebelahan di kursi depan. Ya Zian memang sebelumnya datang dengan motor, namun ia pulang lagi dan mengambil mobilnya agar Laras tidak kepanasan saat di jalan.
"Kak, bukannya tadi kak Zian bawa motor ya? Kok sekarang tiba-tiba jadi mobil?" tanya Laras heran.
"Iya sayang, motor aku udah ditaruh di rumah. Terus aku tuker deh sama mobil, supaya kamu gak kepanasan sayangku!" jawab Zian.
"Ohh gitu kak," ucap Laras.
Zian mendekatkan dirinya pada Laras, lalu perlahan mengusap puncak kepala gadis itu sambil menggenggam tangannya. Ingin sekali rasanya ia mencium pipi Laras, namun ia tak mau gegabah karena khawatir akan membuat Laras emosi.
"Kapan kita pergi kak?" tanya Laras.
"Eee sebentar ya, biar aku coba hubungin Digo dulu sekarang!" ucap Zian.
"Iya kak,"
Zian pun menelpon Digo menggunakan ponsel miliknya untuk bertanya apakah pria itu sudah siap atau belum.
π"Halo bro! Lu dimana sih, kok lama banget? Berhasil gak lu bujuk Latifah buat mau jalan sama kita?" ujar Zian.
π"Duh sorry bro! Latifah gak mau pergi sama gue, padahal udah gue coba bujuk sambil deketin mamanya juga biar dibolehin pergi, eh sama aja si Latifah gak mau!" jelas Digo.
π"Yah aduh sakit banget sih itu! Yaudah, jadinya gimana nih? Lu mau ikut apa enggak?" tanya Zian.
π"Ah ya enggak lah! Yakali gue ikut pergi sama lu, yang ada gue cuma jadi nyamuk! Mending gue kumpul sama yang lain aja!" ujar Digo.
π"Ohh yaudah deh, sabar ya bro!" ucap Zian.
π"Iye selamat bersenang-senang lu!" ucap Digo.
π"Hahaha oke thank you bro!"
Tuuutttt...
Zian mematikan teleponnya, lalu menaruh ponsel miliknya di dashboard. Zian menoleh ke arah Laras kemudian menjelaskan pada gadis itu mengenai Digo yang tidak jadi ikut dengannya.
"Gimana kak?" tanya Laras.
"Umm, Digo gak jadi ikut. Ternyata si Latifah itu gak bisa pergi sekarang, dia lagi sibuk! Jadinya, kita pergi berdua aja ya?" jawab Zian.
"Hah??"
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...