Angkasa

Angkasa
Mama curiga


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 171


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Revi kembali ke depan setelah selesai bicara dengan papanya mengenai perjodohan yang dilakukan sang mama, ia tampak lebih lega karena papanya ingin membantu ia berbicara dengan mamanya nanti.


Kini Revi hendak pergi ke kamarnya, namun Juliana alias mamanya itu mencegahnya saat ia tengah berjalan menuju tangga, Revi pun terpaksa berhenti sejenak dan meladeni mamanya itu disana.


"Revi!" ucap Juliana memanggil putrinya.


"Eh mama, ada apa?" tanya Revi bingung.


"Tadi mama lihat kamu dari arah ruang kerja papa, abis ngapain?" ucap Juliana penasaran.


"Hah? Eee a-aku...."


Revi tampak panik saat mamanya bertanya seperti itu, ia tak tahu kalau sang mama rupanya melihat ketika ia baru keluar dari ruangan sang papa.


"Aku tadi cuma kasih kopi buat papa, mah. Aku pikir kan papa lagi sibuk kerja, makanya aku bikinin kopi supaya papa bisa fokus kerjanya. Itu aja kok mah, gak ada yang lain!" jawab Revi berbohong.


"Ohh, tumben kamu pake segala bikinin kopi buat papa. Biasanya juga enggak, ada apa sih? Kamu punya niat terselubung ya?" ujar Juliana curiga.


"Ya ampun, mama kok curiga begitu sih sama anaknya sendiri? Padahal aku cuma pengen berbakti sama papa loh, apa salahnya sih mah? Mama mau aku bikinin kopi juga kayak papa? Yaudah, nanti aku bikinin deh di dapur!" ucap Revi tersenyum.


"Enggak sayang, mama itu cuma penasaran aja kan kamu gak pernah sebelumnya bikinin kopi buat papa terus anterin sendiri ke ruang kerjanya!" ujar Juliana.


"Eee gak tahu nih mah, aku juga bingung. Yaudah ya mah, aku mau ke kamar lagi!" ucap Revi.


"Tunggu dulu sayang! Mama pengen bahas sama kamu tentang Charlie, tadi barusan mamanya itu telpon ke mama kasih tau kalau Charlie tertarik sama kamu loh sayang! Ini sih udah fix banget nak Charlie cocok buat jadi suami kamu sayang, tinggal kamunya nih!" ucap Juliana sangat senang.


"Ya ampun, apaan banget sih mah?" ujar Revi kesal.


"Kamu kenapa sih sayang? Kok kayaknya tiap mama bahas nak Charlie kamu selalu kesel gitu? Apa salahnya coba kalau kamu menikah sama nak Charlie? Dia itu anak baik loh!" ucap Juliana.


"Mah, aku itu gak mau dijodohin begitu! Apalagi sama Charlie si pengangguran yang malas, lagian aku udah punya kak Zaki!" ucap Revi.


"Hey sayang, kamu jangan asal bicara ya! Charlie itu bukan pemalas apalagi pengangguran, dia calon penerus papanya loh nak! Mama yakin sebentar lagi dia akan jadi orang sukses, gak kayak si Muzaki yang miskin itu! Kamu harus percaya sama mama sayang, lebih baik kamu sama Charlie aja!" ujar Juliana.


"Mah, maaf ya! Aku pengen ke kamar, mending mama udahan deh bahas soal Charlie nya aku bosen tau tiap hari pasti mama selalu bahas itu! Aku pengen ketenangan mah, lagian aku juga belum mau nikah kok!" ucap Revi.


"Aduh sayang, kamu selalu deh begitu. Yaudah, kamu boleh ke kamar sana!" ucap Juliana.


"Makasih mah! Permisi!" ucap Revi singkat.


Gadis itu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan cepat, ia sudah tidak tahan berada disana bersama mamanya yang selalu saja membahas tentang Charlie.


Sementara Juliana memutuskan untuk menemui suaminya di ruang kerja, ia sangat penasaran apakah benar Revi hanya memberi kopi untuk Marcel dan tidak merencanakan sesuatu.


"Aku harus pastiin sendiri ke papa! Gak mungkin Revi tiba-tiba kasih kopi tanpa ada alasan, pasti mereka lagi punya rencana nih!" batin Juliana.


Juliana pun pergi menuju ruang kerja suaminya, ia melangkah secara perlahan agar tidak ketahuan oleh Revi yang sudah masuk ke kamarnya itu.

__ADS_1


β€’


β€’


Ceklek...


Tanpa berpikir panjang, Juliana langsung saja membuka pintu ruang kerja suaminya. Tampak sang suami memang tengah menyeruput kopi sambil mengutak-atik laptopnya di dalam sana.


Melihat istrinya ada disana, Marcel pun segera menoleh dan menatap wajah sang istri sambil tersenyum. Ia penasaran sekali apa yang hendak dilakukan istrinya disana sampai harus mengendap-endap seperti itu.


"Hey sayang! Kamu ngapain sih diem-diem begitu udah kayak maling aja?" tegur Marcel heran.


"Eee maaf pah, mama udah ganggu papa kerja! Mama cuma penasaran aja, apa benar tadi Revi datang kesini kasih kopi buat papa?" ucap Juliana.


"Oh, iya benar ini kopinya!" jawab Marcel.


"Eee apa mama boleh masuk, pah? Mama pengen bicara sesuatu sama papa tentang Revi, mumpung Revi nya lagi di kamar. Papa gak terlalu sibuk kan?" ucap Juliana minta izin.


"Hahaha yaudah masuk aja sini! Papa juga pengen bicara sih sama mama!" ucap Marcel.


Juliana tersenyum, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat. Ia duduk di dekat suaminya masih dengan gerak-gerik yang aneh dan membuat Marcel merasa ada yang tidak beres dengan istrinya itu.


"Ada apa sih mah?" tanya Marcel heran.


"Tadi Revi bahas apa aja sama papa disini? Gak mungkin dong Revi cuma kasih kopi gitu aja ke papa tanpa ngobrol-ngobrol!" ujar Juliana.


Marcel tersenyum sembari geleng-geleng kepala, ia bingung dengan istrinya yang justru curiga pada putrinya sendiri. Namun, Marcel tetap coba menjelaskan pada sang istri walau ia sangat malas.


"Begini mah, Revi itu minta supaya mama berhenti jodohin dia sama si Charlie anak teman mama! Revi tuh gak suka mah sama Charlie, mama harusnya ngerti dong perasaan anak sendiri!" jelas Marcel.


"Tuh kan bener! Feeling mama emang gak pernah salah, pasti ada yang gak beres!" ujar Juliana.


"Hadeh si mama ini, kalo feeling mama gak pernah salah harusnya mama berhenti dong jodohin Revi sama Charlie! Kan mama tau sendiri Revi gak suka sama cowok pengangguran itu, lagian Revi kan udah punya pacar mah! Bukannya kita udah janji sama Revi, kalau dia berhasil bawa pacarnya ke rumah ini kita gak akan jodohin dia?" ucap Marcel.


"Iya sih pah, tapi pacarnya Revi itu gak bener! Masa Revi pacaran sama orang kayak gitu? Dia gak sebanding sama kita pah, papa harusnya bela mama dong bukan Revi! Jelas-jelas Charlie lebih baik dibanding Muzaki!" ucap Juliana.


"Ah papa bercanda aja, Steve Jobs mana ada di kota ini papa?! Udah deh mending papa nurut aja sama mama, kita sama-sama bujuk Revi buat mau terima Charlie!" ucap Juliana.


"Mama ini keras kepala banget sih!" ujar Marcel.


Marcel sendiri merasa lelah berbicara dengan istrinya yang keras kepala itu, akhirnya ia memilih untuk kembali fokus ke layar laptopnya.


"Pah, papa kok malah cuekin mama sih? Ayolah pah, bantu mama ya!" bujuk Juliana.


"Gak!" tegas Marcel.


...β€’β€’β€’...


Sementara itu, Laras harus dengan terpaksa meladeni sosok Zian di rumahnya walau ia sangat malas untuk berbicara dengan pria tersebut jika bukan karena mamanya yang memaksa.


Ya Zian memang masih terus berusaha mendekati Laras karena ia sangat tertarik pada gadis itu, setiap hari Zian selalu mendatangi rumah Laras agar ia bisa semakin dekat dengan gadis itu dan juga mamanya.


Maryam sang mama juga sangat senang melihat kedekatan antara putrinya dengan Zian, ia turut menemani Laras berbincang dengan pria itu di sofa ruang tamu setelah membuatkan minum untuk Zian yang ia banggakan itu.


"Nak Zian, silahkan diminum dulu! Cuaca di luar kan lumayan terik, pasti nak Zian haus!" ucap Maryam.


"Ah iya makasih tante!" ucap Zian tersenyum.


Zian pun mengambil gelas di meja, lalu mulai meminumnya sampai hanya tersisa setengah. Sedangkan Laras masih terdiam memalingkan wajahnya tanpa berekspresi.


"Laras, kamu temenin nak Zian ya disini! Mama mau ke belakang dulu ada yang harus dikerjain, jangan kemana-mana loh!" ucap Maryam.


"Iya mama..." ucap Laras sangat malas.


Maryam tersenyum sambil mengusap punggung putrinya, ia pun bangkit dari duduknya lalu pamit pada Zian sebelum pergi ke dapur untuk mengerjakan apa saja agar bisa membuat Laras dan Zian berduaan terus disana.


Setelah Maryam pergi, tentunya itu dijadikan kesempatan bagi Zian untuk mendekati Laras. Ya pria tersebut berpindah tempat duduk lebih dekat ke arah Laras, gadis itu pun merasa risih dan menggeser duduknya menjauh dari Zian.

__ADS_1


"Maaf kak, jangan dekat-dekat ya! Aku gak mau ada salah paham nantinya, kan kita belum jadi mahram kak!" ucap Laras.


"Oh iya juga sih, yaudah gapapa sayang yang penting aku bisa ngobrol sama kamu!" ujar Zian nyengir.


"Eee kak Zian ini kenapa selalu datang ke rumahku? Aku sampe bosen loh ketemu sama kak Zian terus, kak Zian sendiri emang gak bosen ngeliat aku terus?" tanya Laras keheranan.


"Ya enggak dong sayang! Aku justru pengen ketemu terus sama kamu, malah kalo bisa sih setiap jam bahkan menit aku pengennya ada di samping kamu terus sayang! Ya semoga aja itu bisa kesampaian setelah kita nikah nanti!" ucap Zian tersenyum.


"Hah? Nikah? Maaf nih kak, kak Zian halu atau gimana sih? Aku gak mau nikah sama kak Zian, jangan ngarep deh!" ujar Laras.


"Hahaha sekarang kamu boleh bilang gak mau sayang, tapi nanti kan gak ada yang tau!" ucap Zian.


"Iyain aja deh," ucap Laras geleng-geleng.


Zian terus menatap wajah Laras sambil tersenyum, sesekali ia memberanikan diri untuk mengelus rambut gadis itu dengan tangannya.


Laras yang terkejut hanya bisa menoleh ke arah Zian dengan tatapan tajam, itu tentunya tak digubris oleh Zian yang memang ingin sekali dapat menyentuh wajah mulus gadis itu.


"Kamu cantik banget sayang!" ucap Zian.


"Makasih kak! Eee sebenarnya niat kak Zian datang kesini itu apa, kenapa daritadi kak Zian cuma ngomong gak jelas gitu?" tanya Laras heran.


"Niat aku? Ya udah tentu dong, aku pengen ketemu kamu sayang. Selain itu, aku juga pengen elus wajah kamu kayak gini! Aku sayang sama kamu, jadi pacar aku ya cantik!" ucap Zian tersenyum.


Laras hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Zian.


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Radian tengah beristirahat di sebuah warung kopi bersama para teman-teman ojek online lainnya yang juga ada disana. Ia meminum segelas kopi susu serta makan beberapa gorengan sembari menunggu orderan masuk.


Ada sekitar lima orang ojek online disana, karena memang tempat itu sering sekali dijadikan sebagai tempat perkumpulan para ojek online ketika belum mendapat orderan atau hanya ingin sekedar istirahat makan siang sambil ngobrol-ngobrol.


"An, hari ini udah dapet berapa orderan lu? Pasti banyak kan? Secara kelihatan dari raut muka lu, kayak lagi bahagia gitu!" tanya Wahyu.


"Ah gak terlalu banyak kok, tapi lumayan lah bisa buat kasih makan istri! Gue sebenarnya bahagia bukan karena itu, tapi karena gue udah gak sabar pengen lihat anak gue lahir!" jawab Radian.


"Hah? Jadi, istri lu udah hamil bro?" tanya Wahyu.


"Iya bro, ya masih beberapa Minggu sih belum lama-lama banget. Tapi, tetap aja gue udah gak sabar pengen jadi ayah!" ucap Radian nyengir.


"Wah selamat ya bro! Kalo gitu lu ngojeknya harus lebih semangat, supaya lu bisa hidupin istri sama anak lu nanti!" ucap Wahyu.


"Nah iya tuh, biaya lahiran kan gak murah bro apalagi kalo harus sesar!" sahut Taufiq.


"Bener! Buat jaga-jaga mending lu nabung deh dari sekarang bro, biar pas waktunya istri lu lahiran itu gak keteteran nanti! Kita sih doain semoga istri lu lahirannya normal, tapi kan gak ada yang tau nantinya bakal kayak gimana!" ucap Brodi.


"Siap bro siap! Gue juga udah mikirin itu kok, thanks ya buat support nya! Ternyata anak-anak ojek online itu solidaritas nya tinggi juga ya, gue pikir gak ada tadinya yang mau jadi temen gue!" ujar Radian.


"Yaelah bro, jangan mikir gitu lah! Sesama ojek online itu teman, jadi jangan risau selagi kita bisa bantu pasti kita bantu kok bro! Eh tapi gue mau tanya deh sama lu, nikah muda itu enak gak sih?" ucap Wahyu penasaran.


"Hahaha ya ada enak gak enaknya bro, enaknya itu gue jadi bisa begituan tanpa harus takut dimarahin emak!" ucap Radian sambil tertawa.


"Ahaha yeh iya juga sih, kalo udah nikah kan bebas ya mau gituan kapan aja?!" ujar Wahyu.


"Nah, terus yang gak enaknya tuh apa bro?" tanya Brodi penasaran.


"Ya itu dia bro, gak enaknya kita harus bisa belajar bertanggung jawab sama istri kita dan anak kita kalo udah punya! Jangan mau bikinnya doang tapi gak mau tanggung jawab, salah itu!" ucap Radian.


"Hahaha mantap dah lu bro!" ujar Brodi.


"Salut sih gue sama lu An!" ucap Wahyu.


"Ah terlalu berlebihan kalian mah, gue ini masih belum sempurna jadi seorang suami! Gue kan juga masih belajar," ucap Radian tersenyum.


Radian tampaknya sudah berhasil menemukan teman-teman yang sefrekuensi dengannya di bidang ojek online, karena sekarang ini ia jarang sekali kumpul dengan teman-teman alligator nya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2