
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 226
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Hari libur telah tiba, Muzaki pun berencana mengajak gadisnya pergi jalan-jalan seperti hari-hari libur biasanya. Tentu saja Muzaki ingin mempererat hubungannya dengan Revi, sekaligus meyakinkan pada mamanya bahwa mereka adalah pasangan serasi yang saling mencintai.
Muzaki tampak sudah siap dan rapih hanya tinggal melaju ke rumah Revi untuk menjemput gadis itu, namun dirinya harus melewati satu rintangan lagi agar bisa pergi dengan selamat, yakni minta izin pada mamanya.
Terlihat Stevi tengah memasak di dapur seorang diri, Muzaki menghela nafas sejenak lalu menghampiri sang mama dengan perlahan.
"Mama," Muzaki memanggil mamanya, berhenti tepat di belakang sang mama sambil tersenyum.
Stevi pun menoleh dan berkata, "Zaki, kamu mau kemana udah rapih begini? Ah pasti mau pergi ya? Mentang-mentang hari libur, gak bisa deh kamu diam di rumah."
"Hehe begitulah mah, boleh kan?" ucap Muzaki.
"Boleh aja, emangnya kamu mau pergi sama siapa? Wisnu? Atau teman-teman kampus kamu yang lain?" tanya Stevi.
"Eee bukan mah, aku mau jalan sama Revi." Muzaki menjawabnya dengan berhati-hati, namun tetap saja itu membuat Stevi menganga cukup lebar.
"Apa? Ngapain kamu jalan sama Revi sayang? Kayak gak ada orang lain aja yang bisa kamu ajak jalan, enggak enggak mama gak setuju pokoknya! Mending kamu di rumah aja kalo gitu!" ujar Stevi.
"Mah, mama kenapa sih gak suka gitu aku pergi sama Revi? Emang apa salahnya mah? Revi itu kan pacar aku, jadi wajar dong kalau aku pergi berdua sama dia di hari libur gini!" ujar Muzaki.
"Jelas aja mama gak suka! Gara-gara Revi, kamu jadi lupain Suci gitu aja!" ucap Stevi cemberut.
"Mama bilang apa sih? Aku gak ngelupain Suci kok, aku masih temenan sama dia sampe sekarang. Tapi, emang aku gak bisa terlalu dekat dengan Suci seperti dulu. Kan mama tahu sendiri, aku udah punya pacar baru dan gak mungkin aku deketan sama Suci," ucap Muzaki.
"Justru itu Zaki. Semua gara-gara Revi, padahal mama kan pengennya kamu dekat terus sama Suci kayak dulu. Mama ini lebih suka kalau kamu sama Suci, dibanding sama Revi. Kenapa sih kamu gak pernah mau dengerin mama?" ucap Stevi.
"Mah, mama harus belajar buat lupain Suci dan terima Revi di kehidupan mama! Karena sampai kapanpun, aku gak akan pernah kembali sama Suci! Aku akan setia dengan Revi, biarpun mama selalu desak aku buat putusin dia!" ujar Muzaki.
"Kamu itu keras kepala sekali Zaki! Yasudah, semua terserah kamu sekarang! Yang penting mama udah peringati kamu!" ujar Stevi.
"Iya mah, kalo gitu aku pergi dulu ya? Aku udah ada janji sama Revi, kasihan dia nunggu lama! Mama tolong ya belajar buat ikhlasin Suci dan mau terima Revi jadi pacar aku!" ucap Muzaki.
Stevi hanya diam memalingkan wajahnya.
"Aku pergi dulu, mah? Assalamualaikum..." Muzaki mencium tangan mamanya, lalu berbalik pergi dari sana dengan perasaan murung.
"Waalaikumsallam," Stevi menjawab pelan tanpa menoleh ke arah Muzaki.
Muzaki masih terus memikirkan mamanya yang tidak pernah senang kalau ia pergi dengan Revi, Muzaki pun bingung harus melakukan apa untuk bisa membujuk mamanya dan merestui hubungannya dengan Revi.
"Sampai kapan ya mama terus begini? Aku sama Suci kan udah lama putus, tapi kenapa mama juga belum bisa ikhlasin itu? Bahkan saat aku kenalin Revi sebagai pacar, mama juga tambah gak suka. Aku gak tahu lagi deh harus ngelakuin apa buat bujuk mama!" gumam Muzaki.
Disaat Muzaki hendak pergi menggunakan motornya, tiba-tiba Suci datang ke rumahnya dan menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Suci?" Muzaki terkejut melihatnya.
β’
β’
Sementara itu, Revi juga telah bersiap untuk pergi bersama Muzaki di hari yang cerah ini. Gadis itu keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan menghampiri kedua orangtuanya yang ada di bawah.
Terlihat Juliana serta Marcel tengah duduk berdampingan di sofa sambil menikmati cemilan dan juga minum yang sudah disediakan bik Munaroh sebelumnya.
Revi pun tersenyum lalu menghampiri Marcel dan Juliana disana, ia berhenti tepat di samping kedua orangtuanya menyapa mereka dengan penuh keceriaan, hingga membuat Marcel merasa heran karena putrinya tampak begitu ceria pagi ini.
"Halo pah, halo mah! Selamat pagi!" ucap Revi menyapa mama papanya itu.
"Eh, halo juga sayang! Kamu kenapa pagi-pagi gini udah ceria begitu? Terus rapih dan wangi banget, mau kemana kamu sayang?" ujar Marcel.
"Iya sayang, kamu mau pergi ya?" sahut Juliana.
"Eee iya pah, mah, aku emang mau pergi sih. Kebetulan aku udah janjian sama kak Zaki buat pergi pagi ini, kira-kira boleh gak pah, mah?" ucap Revi menjelaskan pada orangtuanya itu.
"Loh, kamu kok nanyanya begitu? Jelas boleh dong! Kamu juga bisa pake mobil papa buat pergi sama Muzaki, jadi kamu gak perlu ribet naik motor!" jawab Marcel memberi izin.
"Serius pah? Kalau mama sendiri gimana? Aku dibolehin gak pergi sama kak Zaki?" tanya Revi.
"Boleh kok, kamu pergi aja sana!" jawab Juliana.
"Alhamdulillah! Makasih ya pah, mah! Kalo gitu aku mau tunggu kak Zaki dulu di depan, sekalian aku coba telpon dia udah sampe mana!" ujar Revi.
"Eh eh, kamu nunggunya disini aja! Sekalian mama mau tanya satu hal sama kamu, nanti kalau Muzaki udah datang kan dia bisa telpon kamu atau minta tolong satpam buat panggil kamu!" ucap Juliana.
"Iya Rev, mama benar. Kamu disini aja sama kita, daripada kamu di depan sendiri!" sahut Marcel.
"Iya deh pah, mah." Revi menurut kemudian ikut duduk di samping mama papanya.
"Umm... emangnya mama mau tanya soal apa sih sama aku? Kelihatannya kok kayak serius gitu, penting banget ya?" tanya Revi bingung.
"Oh soal itu, ya sebenarnya sih aku belum tahu lagi perihal itu mah. Karena aku kan udah lumayan lama gak ketemu sama tante Stevi, mungkin nanti kalau aku ketemu lagi sama mamanya kak Zaki baru deh aku bisa tahu, apa tante Stevi udah terima aku atau belum!" ucap Revi menjelaskan.
"Hadeh, apa sih alasannya sampai mamanya Zaki gak suka sama kamu? Padahal kamu itu kan anak pengusaha kaya raya, emang dia gak tahu apa? Harusnya dia itu bersyukur dan senang anaknya bisa punya pacar seperti kamu!" ujar Juliana.
"Mah, mama kok gitu sih?" ujar Revi.
"Gitu gimana? Mama kan cuma heran aja sama mamanya Zaki, dia maunya apa sih? Apa kurangnya coba kamu? Udah cantik, kaya raya, justru harusnya dia bersyukur!" ujar Juliana.
"Mah, semuanya kan bukan tentang materi! Bisa aja bu Stevi itu punya penilaian tersendiri sama Revi, kita berdoa aja supaya beliau bisa terima Revi nantinya!" ujar Marcel.
"Yaudah iya, mama nurut aja sama papa. Tapi Rev, kalau kamu butuh bantuan mama buat yakinin ibunya Zaki itu, kamu tinggal bilang aja ya! Nanti mama bakal bicara sama beliau, dan mama akan jelasin ke dia tentang kamu!" ucap Juliana.
"Iya mah, tapi insyaallah aku bisa yakinin tante Stevi sendiri kok. Ini nanti aku tinggal bilang sama tante Stevi, siapa tahu tante Stevi bisa terima aku!" ucap Revi tersenyum.
"Papa sama mama selalu doakan yang terbaik buat kamu!" ucap Marcel seraya mengusap rambu Revi.
"Makasih ya pah, mah!" ucap Revi tersenyum.
Revi pun memeluk mama papanya itu disana sembari membenamkan wajahnya pada dada sang papa.
β’
β’
"Suci, kamu ngapain kesini?" Muzaki terheran-heran melihat kehadiran Suci di rumahnya, ia mendekati gadis itu dengan tatapan heran sekaligus bingung.
Sementara Suci hanya menghela nafas singkat sambil tersenyum membenarkan rambutnya.
__ADS_1
"Aku pengen silaturahmi aja, sekalian pamit sama kamu." Suci menjawab dengan ekspresi agak sedih dan membuat Muzaki makin bingung.
"Pamit? Emangnya kamu mau ke kemana?" tanya Muzaki penasaran.
"Eee iya besok aku bakal terbang ke Swiss, aku mau lanjutin kuliah aku disana. Aku rasa percuma juga aku kembali ke Indonesia, karena kamu kan udah bukan punya aku. Dan gak akan mungkin juga buat kita kembali bersatu, apalagi kamu udah punya Revi yang jelas lebih baik dari aku. Makanya aku putusin buat lanjut kuliah di Swiss," jelas Suci.
"Apa? Kamu kok baru bilang sekarang sih sama aku? Kenapa gak dari kemarin-kemarin? Masa mendadak kayak gini? Pasti mamaku kecewa banget karena kamu mau pergi, mama kan suka ngobrol-ngobrol sama kamu!" ujar Muzaki.
"Itu dia Muz, aku datang kesini kan mau pamit sekaligus temenin mama kamu buat yang terakhir kalinya. Aku juga pasti bakal kangen banget sama mama kamu! Biar gimanapun, kita ini udah dekat banget mulai dari aku masih pacaran sama kamu sampai sekarang pas kita udah pisah," ucap Suci.
"Huh, yaudah kalo gitu kamu hati-hati ya di jalan besok! Maaf banget aku gak bisa temenin kamu sekarang, karena aku udah ada janji sama Revi. Tapi, mungkin kamu bisa main disini sama mama sebelum kamu berangkat besok!" ucap Muzaki.
"Iya Muz, gapapa kok. Wajar aja kalau kamu mau pergi sama Revi, dia kan pacar kamu." kata Suci.
"Oh ya, aku mau tanya deh sama kamu. Waktu itu aku sempat lihat kamu lagi berdua sama Wisnu di cafe gitu, kalian sekarang dekat ya? Apa gimana?" ucap Muzaki bertanya pada Suci.
"Kamu kenapa nanya gitu?" Suci tampak heran.
"Ya gapapa sih, cuma mau tau aja. Soalnya kalian kelihatan dekat banget, kayak orang yang udah lama kenal gitu." kata Muzaki.
"Enggak kok, aku sama Wisnu itu cuma minum bareng. Kita juga gak ada apa-apa kok, waktu itu tuh aku pengen traktir dia buat balas budi karena udah tolongin aku!" ucap Suci menjelaskan.
"Oalah, tapi dilihat-lihat kalian berdua itu cocok loh. Kenapa kamu gak coba buka hati buat Wisnu dan menjalin hubungan sama dia?" ucap Muzaki.
"Kamu bicara apa sih Muz? Aku itu gak ada rasa sama sekali sama Wisnu, aku cuma anggap dia teman. Lagian sampai sekarang aku masih sulit buat jatuh cinta lagi, karena jujur aku juga susah lupain kamu Muz!" ucap Suci bersedih.
"Sorry ya Suci! Tapi, kamu harus bisa lupain aku!" ucap Muzaki.
"Iya Muz, makanya aku pilih buat pergi ke Swiss. Mungkin dengan begitu, aku bisa lupain kamu perlahan-lahan. Kan jadinya aku gak kepikiran terus sama kamu," ucap Suci.
"Iya sih, yaudah mau aku antar ke dalam buat ketemu mama?" tanya Muzaki.
"Boleh," ucap Suci mengangguk pelan.
Lalu, mereka pun bersama-sama masuk ke dalam rumah Muzaki untuk menemui Stevi.
β’
β’
Zaenal tiba di rumah Laras untuk menjemput gadis itu dan mengajaknya berkeliling, akan tetapi ia malah berpapasan dengan Zian yang juga datang kesana untuk menemui Laras.
Sontak saja Zaenal langsung menghampiri Zian dan menegur pria itu, ia tidak senang jika ada lelaki lain yang berani mendekati Laras alias kekasihnya. Apalagi ia sendiri tahu bahwa Zian memang mengincar Laras untuk dijadikan pacar.
"Heh! Anda ngapain datang kesini? Ini rumah pacar saya, anda tidak berhak untuk datang ke tempat ini kalau tidak ada keperluan penting!" ujar Zaenal.
"Eh ada bapak juga ternyata, bapak kenapa kesal gitu sih sama saya? Apa salahnya kalau saya kesini? Toh saya lebih dekat dengan keluarga Laras dibanding bapak, lagian saya juga udah lebih dulu kenal sama mereka sebelum bapak dan Laras resmi berpacaran. Jadi, saya berhak buat datang kesini dong pak!" ujar Zian.
"Anda ini keras kepala sekali ya! Sudah saya peringati baik-baik untuk jauhi Laras, tapi kamu malah gak ngerti. Apa anda mau cari gara-gara dengan saya?" ujar Zaenal.
"Loh, saya kesini niatnya baik-baik kok. Saya pengen ketemu sama tante Maryam, karena saya dan tante Maryam itu sudah cukup dekat. Bapak sebaiknya jangan halangi saya buat masuk ke dalam, permisi pak!" ucap Zian tak takut dengan ancaman Zaenal.
Disaat Zian hendak melangkah pergi, Zaenal pun mencegahnya dan menarik jaket pria itu.
"Eh eh tunggu! Mau ngapain sih, ha? Anda pikir saya akan biarkan anda masuk ke dalam? Oh tidak Zian, anda tetap disini dan jangan ikut masuk! Atau anda akan berurusan dengan saya, camkan itu!" tegas Zaenal.
"Bapak ini kenapa sih? Suka-suka saya dong mau masuk atau enggak, apa hak bapak larang saya?" ujar Zian.
"Oh jelas saya berhak, saya ini pacar Laras. Sedangkan anda, anda itu hanya teman Laras yang selalu mengharapkan cinta dari Laras! Saya tidak mungkin biarkan anda masuk ke dalam dan mendekati pacar saya!" ucap Zaenal.
"Baru pacar kan, belum nikah? Ingat ya pak, selagi janur kuning belum melengkung maka saya masih bisa dapatkan Laras dan rebut dia dari bapak!" ucap Zian menantang balik Zaenal.
Zian melepaskan diri dari cengkeraman Zaenal, lalu melangkah pergi memasuki area rumah Laras.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...