
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 186
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Juliana keluar menemui Revi yang tengah bersama Charlie dan juga Muzaki disana, wanita itu tampak tersenyum lega karena melihat kehadiran Charlie yang tentunya bisa membuat ia menjauhkan Revi dari Muzaki.
Namun, Marcel rupanya tak membiarkan istrinya itu bertindak semaunya, ia pun juga mengikuti kemana Juliana pergi bahkan sampai ke depan gerbang karena khawatir Juliana akan berbuat sesuka hatinya dan bisa mendatangkan keributan disana.
"Mah, mama jangan buru-buru gitu dong jalannya, nyantai aja!" ujar Marcel ngos-ngosan.
"Hah? Papa ngapain kesini sih?" ujar Juliana kesal.
"Kok ngapain? Ya jelas papa mau cegah mama, supaya mama gak bikin keributan disini! Ingat mah, ini masih pagi!" ucap Marcel.
"Siapa yang mau bikin keributan sih, pah? Papa ini ngada-ngada aja deh, mama cuma mau temuin nak Charlie kok! Ya sekalian juga bilang sama Revi supaya mau diantar sama nak Charlie!" ucap Juliana.
"Ya itu sama aja, mama! Udah deh, mama jangan paksa Revi terus kayak gitu!" ujar Marcel.
"Papa mending diem deh! Biar ini jadi urusan mama, papa jangan ikut campur! Papa itu gak tahu yang terbaik buat Revi!" ucap Juliana.
"Loh, justru mama yang gak tahu!" ujar Marcel.
Mendengar suara keributan di belakangnya, Revi pun merasa heran dan penasaran, ia menoleh ke belakang lalu melihat mama serta papanya sedang ribut disana.
"Mama? Papa? Mama sama papa ngapain ribut disitu?" tanya Revi terheran-heran.
Sontak Marcel dan Juliana terkejut, mereka menatap ke arah Revi bersamaan. Lalu, Juliana pun melangkah maju mendekati Revi sambil tersenyum seakan tak terjadi apa-apa barusan.
"Eh Revi, sayang kamu kok belum berangkat ke kampus sih? Kenapa masih disini sayang?" ujar Juliana memegang pundak Revi.
"Iya mah, ini aku mau jalan kok. Tapi, itu kak Charlie tiba-tiba datang dan paksa aku buat berangkat kuliah bareng sama dia! Padahal aku udah tolak karena aku emang mau diantar sama kak Zaki, eh kak Charlie nya malah maksa-maksa gitu!" jelas Revi.
"Ohh, halo nak Charlie!" sapa Juliana.
"Halo tante, selamat pagi!" ucap Charlie mencium tangan Juliana.
"Tante, assalamualaikum!" ucap Muzaki.
"Waalaikumsallam," jawab Juliana ketus.
Muzaki hanya bisa menghela nafas ketika Juliana menolak dicium tangan olehnya, walau terlihat betul kalau pria itu agak jengkel dengan tindakan Juliana.
"Revi, kamu itu gimana sih? Nak Charlie tuh benar loh! Lebih baik kamu ke kampusnya bareng sama dia aja ya! Enakan juga pake mobil daripada motor, mau ya sayang ya!" ucap Juliana.
"Mah, tapi kak Zaki itu pacar aku! Aku gak enak lah kalo aku berangkat bareng kak Charlie!" ujar Revi.
"Ya ampun sayang, baru pacaran aja udah larang-larang begitu? Gimana nanti pas jadi suami coba?" ucap Juliana.
"Betul itu Rev!" sahut Charlie tersenyum.
Revi terdiam sejenak melirik ke arah Muzaki dan juga papanya, ia tampak cemberut kebingungan saat ini.
Lalu, Marcel pun melangkah maju karena dirasa tindakan istrinya sudah kelewat batas.
"Mah, udah cukup mah!" tegur Marcel.
"Papa apaan sih? Ngapain papa ikut campur segala? Biarin mama yang urus ini semua, papa itu gak tahu apa-apa!" ucap Juliana kesal.
Muzaki yang melihat kemunculan Marcel, langsung mendekati pria itu dan mencium tangannya.
"Om, assalamualaikum!" ucap Muzaki.
"Waalaikumsallam," jawab Marcel sambil tersenyum.
Charlie pun tak mau kalah, ia juga berusaha menarik simpati Marcel dengan turut mencium punggung tangan sang papa dari wanita tersayangnya itu walau harus kalah start dibanding Muzaki.
"Om, selamat pagi!" ucap Charlie.
__ADS_1
"Ya Charlie," ucap Marcel singkat.
Lalu, mereka pun kembali ke inti pembicaraan.
"Eee Charlie, sebaiknya kamu biarkan saja Revi pergi ke kampus dengan Muzaki! Gak perlu lah kamu paksa dia kayak gitu, kalau emang dia mau sama kamu pasti Revi juga akan pergi sama kamu bukan nak Zaki!" ucap Marcel.
"Tapi om, saya gak tega aja kalau Revi harus pergi ke kampus naik motor butut ini om!" ucap Charlie.
"Benar yang dibilang nak Charlie, pah! Papa ini gimana sih? Harusnya papa dukung mama buat deketin nak Charlie dan Revi!" protes Juliana.
"Mah, mama yang kenapa! Gak seharusnya mama memaksakan kehendak seperti itu! Revi ini sudah dewasa mah, dia tau mana yang terbaik buat dia! Dan kalau dia memilih bersama Muzaki, kita bisa apa mah?" ujar Marcel mulai terbawa emosi.
"Pah udah pah, mama juga ya jangan ribut disini aku malu!" ucap Revi menenangkan orangtuanya.
"Iya om, tante, kalau emang Revi mau diantar sama Charlie ke kampus gapapa kok, saya ikhlas asalkan om dan tante gak ribut! Revi, kamu hari ini ke kampusnya bareng sama Charlie aja ya!" ucap Zaki.
"Kak, kok kak Zaki bilang gitu sih?" ujar Revi.
"Gapapa Rev, nanti kita kan ketemu lagi di kampus. Mending sekarang kamu pergi sama Charlie aja, pulangnya baru kita bareng!" ucap Muzaki.
"Eee tapi kak, aku gak mau berangkat bareng kak Charlie! Lagian mama sama papa kenapa sih pake ribut segala disini? Aku kan jadi gak enak sama kak Zaki!" ucap Revi kesal.
"Rev, kamu gak boleh gitu sama orang tua kamu!" ucap Muzaki mengingatkan kekasihnya.
Akhirnya semua terdiam, tak ada lagi yang berbicara dan mendadak suasana disana hening, hanya hembusan angin yang terdengar.
β’
β’
Singkat cerita, Revi terpaksa berangkat ke kampus bersama Charlie dengan mobilnya. Walaupun suasana hatinya sangat tidak ingin melakukan itu, namun Revi tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Muzaki agar mama dan papanya tidak bertengkar seperti tadi.
Sepanjang perjalanan Revi terus terdiam, ia juga lebih banyak melihat ke arah depan dibanding menatap wajah Charlie, tentunya pria itu merasa dicuekin oleh Revi dan tidak mau hal itu terus terjadi karena sebentar lagi mereka sampai di kampus.
Akhirnya Charlie memiliki ide untuk melewati jalan yang memutar agar bisa mempunyai waktu lebih banyak bersama Revi.
"Gue sengajain aja deh cari jalan yang jauh, biar gue punya banyak waktu sama Revi!" batin Charlie.
Revi yang sadar akan hal itu mencoba protes pada Charlie, ia menoleh lalu bertanya pada pria tersebut apa maksudnya melewati jalanan yang lebih jauh karena itu akan memakan waktu.
"Kak Charlie, ini kenapa kita lewat sini? Setahu aku, jalan ini lebih jauh loh dari jalan yang biasa aku lewatin! Kak Charlie mau bikin aku telat ke kampus apa gimana sih, kak?" ujar Revi tampak kesal sekaligus heran dengan tingkah Charlie.
"Oh ya? Duh maaf Rev, aku gak tahu! Soalnya jalan ke kampus angkasa, yang aku tahu cuma jalan ini Rev!" ucap Charlie berbohong.
"Eee oke siap Rev, santai!" ucap Charlie tersenyum.
Charlie memacu mobilnya lebih cepat, namun sayang jalanan di depan macet karena lampu merah sehingga perjalanan mereka harus tersendat dan menunggu lampu kembali hijau.
"Yah merah lagi!" ucap Charlie pura-pura kesal.
"Emang begini kak, jalanan disini tuh ya selalu banyak lampu merah!" ucap Revi.
"Duh, terus gimana dong? Kira-kira kamu bisa telat apa enggak, Rev?" tanya Charlie.
"Eee ya semoga aja enggak!" jawab Revi.
"Maaf ya Rev! Aku tadi gak tahu kalau jalanan ini jauh dan sering macet, maklumlah aku jarang banget lewat jalan sekitar sini!" ucap Charlie.
"Iya gapapa kak, aku juga gak salahin kak Charlie kok! Cuma lain kali, jangan maksa buat anterin aku ke kampus kayak gini lagi ya!" ucap Revi.
"Eee..."
Tiba-tiba saja, ponsel milik Charlie berdering. Pria itu pun mengambil ponselnya dari atas dashboard, lalu mengecek siapa yang menelpon, raut wajahnya seketika berubah panik ketika mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Waduh mampus gue! Ini si Jecky pasti nanyain soal mobilnya yang gue pinjem!" batin Charlie.
"Ada apa kak? Siapa yang telpon?" tanya Revi.
"Eee ini temen aku, sebentar ya Rev!" ucap Charlie.
"Iya kak, tapi mending pake earphone biar nanti pas lampunya hijau bisa langsung jalan!" saran Revi.
"Oh iya, oke deh!" ucap Charlie.
Charlie pun mengambil earphone miliknya dan mengangkat telpon dari temannya yang bernama Jecky itu di samping Revi dengan sedikit gugup.
π"Halo Jack! Kenapa sih? Gue masih di jalan ini, udah nelpon aja!" ujar Charlie.
π"Halo Charlie! Lu buruan deh balikin mobil gue, ini bos gue barusan ngabarin ada rapat dadakan! Kalo gue gak datang ke kantor sekarang, yang ada gue bisa dipecat bro!"
π"Hah? Kok mendadak banget sih?" tanya Charlie.
π"Ya gue juga gak tahu bro, kayaknya lagi ada masalah di kantor! Udah mending buruan lu balikin mobil gue!"
__ADS_1
π"Eee i-i-iya bro, nanti gue ke rumah lu kok! Tapi, gue mau anterin cewek gue dulu ke kampusnya! Sebentar lagi kita sampe kok, sabar ya bro!" ucap Charlie menego dengan sahabatnya.
π"Haish, tapi broβ"
π"Udah udah bro, gue lanjut jalan dulu ya? Sampai ketemu nanti!" potong Charlie.
π"Eh eh bro tunggu bro!"
Tuuutttt...
Charlie langsung mematikan telpon dan melepas earphone yang dikenakannya, ia menghela nafas lega karena berhasil lepas dari Jecky.
"Temennya mau ngapain, kak?" tanya Revi penasaran.
"Eee ini barusan dia minta aku buat dateng ke rumahnya, biasalah dia suka ngajak main kalo pagi begini! Tapi, udah aku bilangin kok kalo aku pengen nganterin kamu dulu!" jawab Charlie.
"Iya kak, terus kenapa kak Charlie bilang sama temennya kalo mau anterin cewek kak Charlie dulu? Emang siapa ceweknya?" tanya Revi bingung.
"Ya kamu dong!" jawab Charlie dengan tegas.
Revi terbelalak kaget mendengar jawaban Charlie, namun ia langsung membuang muka menatap ke luar kaca untuk menyembunyikan rasa kesalnya pada Charlie saat ini.
β’
β’
Sementara Muzaki sudah sampai lebih dulu di kampus dengan motornya, ia menunggu kedatangan Revi kekasihnya di depan kampus masih sembari duduk di atas jok motornya.
Muzaki tampak heran karena Revi tak kunjung datang di kampus, padahal sebelumnya mereka berangkat bersama walau Muzaki lebih dulu karena ia menggunakan motor.
"Revi kemana ya? Kok belum datang-datang juga?" gumam Muzaki dalam hati.
Disaat Muzaki tengah asyik menunggu disana, tiba-tiba saja Wisnu muncul menghampiri dirinya sambil senyum-senyum sendiri.
Pukkk...
Wisnu menepuk pundak Muzaki dari samping, lalu berdiri di depan pria tersebut sehingga Muzaki terkejut dan menatap ke arahnya, ia tersenyum renyah kemudian ikut duduk di atas motor Muzaki.
"Oi bro! Lu ngapain sih malah duduk-duduk disini? Bukannya masuk ke dalam kita makan, lagi nunggu siapa sih lu?" ujar Wisnu.
"Eee ini gue lagi nunggu Revi," jawab Muzaki.
"Hah? Eh iya ya, kemarin tuh gue sempet lihat lu lagi sama Revi di Molinaro Cafe. Kalian pada ngobrolin apa sih? Kok kelihatannya mesra gitu?" tanya Wisnu sambil terkekeh kecil.
"Lu ngeliat gue disana? Terus kenapa lu gak temuin gue coba?" ucap Muzaki mengalihkan topik.
"Yeh ya jelaslah gue gak mau samperin lu! Nanti disangka gue ganggu kalian lagi, eh yaudah jawab kemarin lu sama Revi pada ngobrolin apaan disana?!" ujar Wisnu sangat penasaran.
Muzaki terdiam sejenak memalingkan wajahnya, ia bingung harus menjawab apa pada Wisnu.
"Kita bahas soal hubungan gue sama Revi," ucap Muzaki pelan.
"Apa? Maksudnya gimana?" tanya Wisnu kaget.
"Ya begitu deh, Revi baru jawab pertanyaan gue soal perasaan gue ke dia. Lumayan lama sih, tapi Alhamdulillah jawabannya sesuai kemauan gue!" ucap Muzaki sambil tersenyum.
"Serius lu bro? Jadi, lu emang udah sempat tembak si Revi? Terus, jawabannya apa?" tanya Wisnu.
"Iya bro, sebelum kita berangkat ke desa pelosok itu, gue udah duluan tembak Revi. Ya cuma baru dijawab kemarin aja," jelas Muzaki.
"Widih mantap banget lu bro! Terus, lu diterima apa kagak sama dia bro?" ujar Wisnu.
"Alhamdulillah bro! Revi ternyata juga suka sama gue, jadi mulai sekarang gue gak perlu lagi pura-pura jadi pacar dia di depan mama papanya!" jawab Muzaki sambil tersenyum.
"Ahaha selamat ya bro! Ikut seneng gue dengernya, lu gak jadi jomblo akut lagi deh!" ucap Wisnu.
"Makasih bro!" ucap Muzaki.
"Oh ya, sebenarnya kemarin tuh juga ada si Suci loh di cafe itu. Malahan dia lebih dulu datang dibanding gue, dan dia juga yang kasih tahu ke gue kalau disana ada lu sama Revi! Kelihatannya sih si Suci cemburu deh bro, buktinya dia kayak ngambek gitu kemarin!" ucap Wisnu.
"Hah? Suci ada disana juga kemarin? Seriusan lu bro?" ujar Muzaki terkejut.
"Ya iya bro serius, tapi untung gue berhasil hibur dia dan bikin dia senyum lagi!" ucap Wisnu.
"Gimana caranya?" tanya Muzaki heran.
"Gue ajak dia jalan-jalan, awalnya sih dia gak mau dan sok-sok nolak gitu. Tapi, siapa sih yang bisa tahan dari pesona seorang Wisnu? Akhirnya kita jalan bareng deh, gue traktir dia makan juga!" jelas Wisnu sambil tersenyum.
"Ohh, ya baguslah!" ucap Muzaki.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1