Angkasa

Angkasa
Menegur Zaenal


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 222


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Latifah berjalan dengan penuh kekesalan, ia terus menggerutu emosi dan menghentakkan kakinya berulang kali ke tanah sembari mengepalkan dua tangannya, tampaknya ia sangat emosi kali ini.


Tanpa sengaja, Latifah berpapasan dengan Revi dan Muzaki yang baru datang. Tentu saja mereka berhenti sejenak disana untuk saling berbincang, Revi merasa heran melihat sahabatnya tampak kesal, karena tak biasanya Latifah seperti itu.


"Ifah, kamu kenapa kesal gitu? Lagi ada masalah?" tanya Revi penasaran plus cemas.


"Iya Fah, kelihatannya kamu lagi marah banget nih. Coba cerita dong sama kita, siapa tahu rasa marah kamu bisa reda!" sahut Muzaki.


"Eh Rev, kak Zaki. Enggak kok, ini gue cuma lagi latihan drama buat pentas besok. Soalnya di kampung gue tuh ada lomba drama gitu, kebetulan gue dapet peran jadi orang galak. Makanya gue latihan deh sekarang, supaya pas lomba besok hasilnya memuaskan!" jawab Latifah berbohong.


"Ohh, kamu keren deh Fah! Akting kamu tadi menjiwai banget, benar-benar kayak orang yang lagi emosi gitu! Kayaknya kamu cocok deh buat jadi artis film atau sinetron gitu," puji Revi.


"Nah bener tuh!" sahut Muzaki.


"Ahaha, kalian itu bisa aja deh. Doain aja ya semoga gue bisa menang di lomba nanti!" ucap Latifah tersenyum.


"Aamiin! Pasti kita bakal doain kamu kok! Eh ya, lombanya itu dimana? Kira-kira kita boleh ikut datang buat nonton gak? Kita pengen lihat kamu akting Fah," ucap Revi.


"Hah? Eee..." Latifah pun dibuat bingung ketika Revi bertanya seperti itu, dirinya telah terjebak oleh kebohongan yang dibuatnya sendiri.


"Kenapa Fah?" tanya Revi heran.


"Eh gapapa kok, udah lu sama kak Zaki mah gak perlu datang deh!" ucap Latifah.


"Loh kenapa gitu Fah? Kita kan cuma mau dukung kamu, supaya kamu lebih semangat dan termotivasi buat menang. Emangnya salah ya?" ucap Revi masih terheran-heran.


"Udah lah sayang, kalau Latifah gak mau didukung sama kamu ya biarin aja! Mungkin Latifah tuh takut grogi kali kalau ditonton kita," ucap Muzaki.


"Nah iya tuh, benar kata kak Zaki!" ucap Latifah.


"Ohh, jadi kamu grogi? Bukan karena kamu bohong sama aku Fah?" tanya Revi sengaja memancing Latifah.


"Hah??" Latifah pun terkejut ketika Revi bertanya seperti itu padanya.


"Kamu gak perlu bohong sama aku Fah, jujur aja kali ada masalah apa sama kamu!" ujar Revi.


"Eee gak ada kok Rev, kan udah dibilang gue cuma latihan buat drama. Yaudah ya, gue mau pergi duluan ada kelas nih!" ucap Latifah.


"Yah kamu ada kelas sekarang?" tanya Revi.


"Iya nih Rev, emang kenapa? Lu gak ada kelas juga gitu?" ucap Latifah.


"Gak ada, tadinya aku mau ajak kamu ke perpus buat baca buku bareng. Soalnya kelasku masih nanti siang, tapi kamu ternyata malah ada kelas sekarang. Aku gak jadi deh ajak kamu," ucap Revi.


"Oh gitu, sebenarnya gue masih punya waktu satu jam sih sebelum mulai kelas. Kalau lu mau ke perpus, ayo dah gue temenin!" ucap Latifah.


"Serius?" tanya Revi bingung.


"Iya Rev, eh tapi emang kak Zaki kenapa gak bisa nemenin lu ke perpus? Kok lu malah ajak gue? Padahal kan ada kak Zaki tuh di samping lu, kalian kan selalu bersama seolah tak mau dipisahkan, anjay!" ujar Latifah nyengir.


"Ah bisa aja kamu Fah! Kak Zaki itu ada kelas, dia gak bisa temenin aku." Revi menjelaskannya.


"Oalah pantes. Yaudah, yuk lah kita ke perpus sekarang!" ucap Latifah.


"Oke!" Revi mengangguk setuju, lalu menoleh ke arah Muzaki untuk berpamitan. "Kak Zaki, aku pergi sama Latifah ya?" ucapnya.


"Iya sayang, hati-hati!" ucap Muzaki tersenyum.

__ADS_1


Setelahnya, Revi dan Latifah pun pergi dari sana dengan bergandengan tangan. Muzaki yang melihatnya hanya tersenyum, ia senang melihat gadisnya bisa bahagia selalu.


β€’


β€’


Singkat cerita, Revi serta Latifah sudah berada di dalam perpustakaan. Mereka tengah memilih buku untuk dibaca disana, namun Revi masih terus memperhatikan Latifah yang tampak sedang memiliki masalah itu.


Sebagai seorang sahabat, tentu Revi tahu betul kalau saat ini Latifah sedang memiliki masalah. Biarpun Latifah tak mau memberitahukan padanya, Revi tetap bisa tahu dari cara Latifah berekspresi dan berbicara.


"Fah, kamu sebenarnya lagi tutupin sesuatu kan dari aku? Kamu ada masalah kan?" tegur Revi.


"Hah? Lu bicara apa sih Rev? Gue kan udah bilang berulang kali sama lu, gue gak ada masalah. Emang lu kepengen apa gue punya masalah?" ucap Latifah masih terus berbohong.


"Aduh Fah! Bukan gitu loh maksud aku, aku cuma gak mau lihat kamu banyak diem begini. Aku sukanya Latifah yang suka bercanda dan banyak omong, bukan kayak gini!" ucap Revi.


"Gue juga pengennya begitu, tapi apa daya sekarang kan kita di perpustakaan. Gak mungkin dong gue banyak omong disini? Nanti yang ada gue dimarahin penjaga perpus yang galak itu, emang lu mau tanggung jawab?" ujar Latifah.


"Ya iya sih, tapi seenggaknya kamu ngobrol pelan gitu atau senyum kek, jangan jutek terus kayak gitu! Aku kan mikirnya kamu lagi ada masalah, atau emang benar ya kamu ada masalah?" ucap Revi.


"Hadeh malah nanya lagi!" ujar Latifah.


"Hehe, maaf Fah! Aku belum yakin aja kalau kamu gak ada masalah, soalnya muka kamu tuh gak bisa bohong tau kalau kamu lagi mikirin sesuatu! Udah ngaku aja sama aku Fah, cerita ke aku!" ucap Revi.


"Terserah lu aja deh Rev! Gue mah mau baca buku, lu udah nemu belum buku yang mau lu baca?" ucap Latifah mengambil buku untuknya.


"Belum," jawab Revi seraya menggelengkan kepala.


"Nah gimana mau ketemu? Orang lu daritadi aja bukannya fokus nyari buku, malah ajak gue ngobrol terus! Mana pertanyaan lu juga gak jelas, udah dibilang gue ini gak punya masalah, eh masih aja ngeyel nyuruh gue ngaku!" ucap Latifah.


"Ya namanya juga sahabat, Fah. Aku kan khawatir sama kamu!" ucap Revi.


"Khawatir sih boleh, tapi jangan berlebihan juga! Nanti malah bikin sahabat lu ngerasa risih atau males dengarnya," ucap Latifah.


"Maksudnya? Kamu risih gitu aku tanyain terus kayak tadi?" tanya Revi.


"Ya bisa dibilang begitu Rev, makanya lu jangan kebanyakan nanya ya! Kalau gue bilang gak ada, ya artinya gue emang gak punya masalah. Mana mungkin sih gue tutup-tutupi dari lu? Pasti kalo gue ada masalah, gue bakal cerita sama lu! Kan cuma lu sohib yang mau dengerin gue curhat, gak ada yang lain!" ujar Latifah sambil tersenyum.


"Oke deh! Aku percaya sama kamu! Sekali lagi aku minta maaf ya udah bikin kamu risih! Aku gak bermaksud begitu kok, aku janji deh gak akan begitu lagi sama kamu!" ucap Revi.


"Hehe thanks!" ucap Revi tersenyum renyah.


"Yaudah, buruan lu cari buku buat dibaca! Abis itu kita duduk deh disana, terus baca bareng sambil nunggu kelas gue sama lu dimulai!" ucap Latifah.


"Iya iya, kamu kalau mau duduk duluan gapapa kok. Aku nanti nyusul pas udah dapat bukunya, soalnya aku kalo nyari buku yang cocok tuh suka lama, takutnya kamu bete nanti!" ucap Revi.


"Ah enggak kok, gue temenin lu aja disini." Latifah tidak mau pergi lebih dulu.


"Yaudah," ucap Revi singkat.


Lalu, Revi pun mulai mencari buku yang sesuai untuk dibaca olehnya kali ini. Latifah yang sudah mendapatkan bukunya, tetap bersama Revi disana menemani gadis itu. Namun, Latifah masih belum bisa melupakan kejadian panas yang dilihatnya di parkiran tadi antara Zaenal dengan Laras.


"Sebenarnya Laras sama pak Zaenal tuh ada apa sih? Kok mereka bisa pelukan kayak gitu ya?" gumam Latifah dalam hati.


Tanpa disengaja, kedua mata Latifah justru menangkap sosok Laras berada di perpustakaan tersebut. Sontak saja raut wajahnya langsung berubah menjadi bertambah kesal.


"Laras? Dia ngapain sih kesini?" ujar Latifah dengan dua tangan terkepal.


"Fah, kamu ngomong sama siapa?" tanya Revi terheran-heran.


"Eh eee..."


β€’


β€’


Disisi lain, Zian sengaja mendatangi Zaenal di ruangannya untuk membahas mengenai kedekatan Laras dan dosen tampan itu. Zian sangat penasaran ada apa sebenarnya diantara Laras dengan Zaenal, karena mereka tampak sangat romantis.


Zaenal yang sedang fokus menatap layar laptop, tak menyangka jika Zian sudah ada di sampingnya saat ini dan tengah menatapnya dengan sorot mata tajam, kedua tangannya pun juga terkepal menandakan Zian amat emosi.


"Ehem ehem..." Zian berdehem pelan, membuat Zaenal terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Eh, ada kamu Zian. Ngapain kamu kesini? Ada perlu apa?" ucap Zaenal bertanya pada Zian disertai senyuman tipis di bibirnya.


"Saya mau bicara sama bapak," jawab Zian.


"Bicara? Soal apa?" tanya Zaenal penasaran.

__ADS_1


"Kita gak bisa bicara disini, pak. Sebaiknya bapak ikut saya sebentar ke luar! Ini penting!" pinta Zian.


"Oh begitu, baiklah sebentar lagi saya akan susul kamu keluar. Saya harus kerjakan pekerjaan saya dulu, kamu tunggu saja di depan ruangan saya!" ucap Zaenal.


"Oke! Jangan lama-lama!" ucap Zian.


"Ya ya..." Zaenal mengangguk pelan.


Zian langsung berbalik dan pergi dari ruangan tersebut meninggalkan dosennya, ia akan menunggu Zaenal keluar di depan ruang tersebut.


Sementara Zaenal pun tampak kebingungan melihat Zian seperti tengah emosi, dirinya tak tahu ada apa sebenarnya yang membuat Zian sampai emosi dan ingin bicara padanya.


"Sebenarnya ada apa sih sama Zian? Dia kok kayak emosi gitu ya?" gumam Zaenal bingung.


Tak lama kemudian, Zaenal menyusul keluar menemui Zian yang sudah menunggu beberapa menit di depan sana. Ia menghampiri Zian, menepuk pundak lelaki itu dan mengajaknya pergi untuk segera bicara berdua.


"Ayo Zian!" ucap Zaenal singkat.


"Iya pak, kita bicara disana!" kata Zian sambil menunjuk ke depan.


Zaenal mengangguk saja mengikuti kemauan Zian, lalu mereka jalan berdampingan menuju tempat yang ditunjuk Zian untuk mulai berbicara.


Sepanjang perjalanan Zaenal selalu bergumam di dalam hatinya, ia bingung dan penasaran apa yang hendak dibicarakan Zian padanya.


Sesampainya di tempat duduk, mereka langsung berhenti dan duduk disana berduaan. Zian menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arah Zaenal dengan tajam.


"Apa yang mau kamu bicarakan sama saya, Zian?" Zaenal bertanya karena penasaran.


"Eee begini pak, saya to the point aja biar cepat. Sebenarnya saya gak suka lihat bapak dekat dengan Laras, karena saya ini suka sama Laras dan saya mau dia jadi pacar saya. Jadi, ada baiknya kalau bapak jauhi Laras!" tegas Zian.


"Ohh jadi soal itu? Saya mengerti perasaan kamu Zian, karena saya juga seorang lelaki. Tapi, maaf ya karena saya tidak bisa melakukan apa yang kamu minta itu!" ucap Zaenal.


"Kenapa begitu? Apa bapak juga menyukai Laras sama seperti saya?" tanya Zian.


"Ya, bukan hanya sekedar menyukai, saya juga cinta sama Laras. Dan asal kamu tahu Zian, saya dengan Laras itu sudah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Jadi, gak ada salahnya dong kalau saya dekat dengan Laras? Justru seharusnya kamu yang menjauh dari Laras, karena dia kekasih saya!" ujar Zaenal.


"Apa??" Zian terkejut dan melongok dibuatnya.


β€’


β€’


Muzaki tak sengaja bertemu kembali dengan Oni saat baru keluar kelas, mereka pun saling berhenti sejenak dan menyapa sambil berbalas senyum, walau Muzaki agak khawatir Radian akan marah lagi padanya seperti kemarin.


"Hai Muz! Lu baru selesai kelas ya?" ucap Oni menyapa Muzaki dengan ramah.


"Eee iya nih, kamu juga kan?" ucap Muzaki.


"Iya. Lu kenapa sih? Kok kelihatan takut-takut gitu gue deketin? Emang gue bau apa?" tanya Oni terheran-heran.


"Bukan gitu, aku gak mau ada salah paham lagi nantinya antara suami kamu dan aku. Kan kamu tahu sendiri, kemarin itu Radian sempat marah sama aku gara-gara aku dekat sama kamu!" ucap Muzaki agak gugup.


"Iya sih, gue minta maaf ya soal itu Muz! Gue juga bingung kenapa Radian seposesif itu sama gue, padahal kan gue sama lu cuma mau ketemu sama Revi!" ucap Oni meminta maaf pada Muzaki.


"Gapapa kok Oni, aku juga ngerti kenapa Radian sampai semarah itu. Wajar ajalah kan dia suami kamu, mungkin dia gak mau kalau istrinya dekat dengan lelaki lain!" ucap Muzaki.


"Eee yaudah, ini sekarang lu mau kemana? Ketemu Revi ya? Gue ikut dong!" ucap Oni.


"Waduh, kayaknya jangan deh Oni! Nanti kalau Radian marah lagi gimana? Aku gak mau dituding jadi perusak hubungan orang," ucap Muzaki.


"Gapapa kok, mas Radian kan lagi ngojek. Jadi, dia gak mungkin tau kalau gue bareng sama lu temuin Revi. Lagian gue cuma mau ketemu sama Revi kok, gak ada yang lain!" ucap Oni.


"Ya iya sih, cuman gimana ya..." ujar Muzaki.


"Yaudah gapapa, gue biar ketemu sama Revi sendiri aja. Lu gak perlu antar gue, jadi lu gak bakal dimarahin mas Radian!" ucap Oni tersenyum.


"Terserah kamu aja! Kalo gitu aku jalan duluan ya? Permisi!" ucap Muzaki.


Oni mengangguk cepat, kemudian memberi jalan bagi Muzaki untuk pergi. Ia hanya berdiam diri menatap punggung lelaki itu dari sana, barulah Oni mengikuti Muzaki dari jarak jauh.


Cekrek...πŸ“ΈπŸ“Έ


Tanpa disadari oleh mereka, rupanya ada seseorang yang memfoto kebersamaan Oni dan Muzaki disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2