Angkasa

Angkasa
Wisnu dan Suci


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 224


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


"Apa??" Radian dan Zian terkejut mendengar suara tersebut, mereka kompak menoleh mencari tahu siapa yang bersuara.


Radian pun terbelalak ketika melihat Oni berada di dekatnya bersama Revi serta Muzaki yang sepertinya mendengar kalimat yang dilontarkan Radian tadi.


"Oni? Ka-kamu udah selesai kuliahnya sayang?" ucap Radian berusaha menetralkan suasana.


"Coba kamu jelasin ke aku, mas! Apa maksud kamu tadi bilang begitu ke Zian? Emangnya benar kalau kamu sampai sekarang masih cinta sama Revi? Dan kamu nikahin aku bukan karena cinta, iya?" ujar Oni geleng-geleng kepala.


"Sayang, kamu tenang dulu ya! Aku bisa jelasin semuanya kok ke kamu, tapi gak disini. Yaudah, kita pulang dulu yuk sayang! Aku bakal jelasin ke kamu di rumah," bujuk Radian.


"Kenapa mesti di rumah? Kan bisa disini mas, apa kamu takut ketahuan sama Revi? Mas, aku pengen tahu apa alasan kamu nikahin aku kalau bukan karena cinta! Cepat kamu jawab mas jangan diam aja, atau kamu mau aku marah?" ucap Oni.


Radian mendekat dan memegang dua pundak Oni sambil menatapnya tajam.


"Dengerin aku sayang, kita pulang sekarang dan bicara di rumah! Kamu emang mau rahasia besar kita diketahui sama mereka?" ujar Radian.


Oni terdiam melirik ke sekitarnya, ia akhirnya coba menenangkan diri dengan cara menghela nafas agar tak terbawa emosi, biar bagaimanapun tak mungkin jika Oni dan Radian bicara di depan Revi serta Muzaki, semua aib yang sudah mereka tutupi bisa terbongkar.


"Sayang, kita pulang ya!" bujuk Radian.


"Yaudah iya, tapi aku gak mau pulang sama kamu! Aku pengen naik taksi atau ojek aja, kita ketemu di rumah nanti!" ucap Oni.


"Loh kenapa gitu sih? Udah kita bareng aja sayang, biar cepet juga kan kita sampe rumah. Terus kita bisa langsung bicara disana, katanya kamu pengen dengar penjelasan aku!" ujar Radian.


"Terserah kamu deh!" Oni berjalan lebih dulu meninggalkan Radian serta yang lainnya disana.


"Oni, tunggu dong sayang jangan buru-buru!" teriak Radian berusaha menghentikan langkah Oni, namun tidak didengar oleh istrinya itu.


Radian pun pamit sejenak pada Zian serta Revi dan Muzaki, walau ia sudah sangat ingin mengejar Oni agar wanita itu tidak terus marah padanya.


"Bro, Rev, Zak, gue pamit duluan ya?" ucap Radian.


"Iya bro," ucap Zian singkat.


"Iya kak Radian, semoga hubungan rumah tangga kamu sama kak Oni tentram terus ya!" ucap Revi.


"Aamiin! Makasih atas doanya!" ucap Radian.


Setelah berpamitan, kini Radian berjalan pergi menyusul Oni menuju motornya dengan tergesa-gesa. Radian juga memikirkan alasan apa yang akan ia sampaikan pada Oni nantinya agar istrinya itu tidak marah padanya.


"Gue harus bilang apa ya ke Oni? Gak mungkin gue cerita semuanya ke dia, yang ada dia bisa marah besar!" gumam Radian dalam hati.


Sementara Muzaki serta Revi pun juga pamit kepada Zian untuk pergi dari sana.


"Kak Zian, kita berdua juga pamit ya?" ucap Revi.


"Eh eee iya Rev, kalian hati-hati!" ucap Zian.


Revi mengangguk lalu mengajak Muzaki segera pergi, namun Zian justru menahan mereka untuk tidak pergi dulu dari sana.


"Sebentar Rev, gue mau tanya satu hal sama lu!" ucap Zian.

__ADS_1


Revi pun berbalik menatap Zian dengan wajah penasaran, "Tanya soal apa kak?" ucap Revi bertanya pada lelaki di hadapannya itu.


"Begini Rev, kamu tahu gak Laras ada dimana sekarang?" ucap Zian.


"Ohh kak Zian mau ketemu sama Laras? Tadi sih dia udah pulang duluan sama pak Zaenal, mereka naik mobilnya pak Zaenal. Tapi, aku juga kurang tahu mereka mau kemana." Revi menjawab pertanyaan Zian dengan singkat dan jelas.


"Sama pak Zaenal?" ujar Zian terkejut.


"Iya kak, mereka kan udah pacaran. Pasti kak Zian kaget ya dengarnya? Sama sih tadi aku sama kak Zaki juga begitu kok, tapi ya namanya cinta kan gak ada yang tahu!" ucap Revi tersenyum.


"Eee iya lu benar!" Zian merasa kecewa sekaligus sedih, rasanya ingin sekali ia mengakhiri hidupnya saat ini setelah gagal mendapatkan hati Laras wanita yang dicintainya.


β€’


β€’


Singkat cerita, Radian justru membawa Oni ke apartemennya bukan ke rumah seperti yang dikatakan olehnya tadi. Tentu saja Oni pun bingung sekaligus kesal pada suaminya, ia merasa telah dibohongi dan tidak mau ikut turun dari motor.


"Mas, kamu kenapa bawa aku kesini? Katanya kita mau bicara di rumah, tapi kok malah ke apartemen kamu?" tanya Oni kesal.


"Maaf ya sayang! Aku cuma mau leluasa aja ngobrol sama kamu nya, kan kalau di rumah tuh ada mama atau papa yang bisa ganggu kita. Disini kan cuma ada kita berdua, jadi aku bisa tenang jelasin semuanya ke kamu tanpa ada campur tangan dari papa atau mama!" jawab Radian.


"Ohh jadi menurut kamu, papa mama aku itu pengganggu di rumah tangga kita, iya?" ujar Oni.


"Hah? Ya ampun gak gitu lah sayang! Kamu jangan salah tangkap dulu! Bukan maksud aku bilang mereka pengganggu, tapi di situasi seperti ini kita butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah kita berdua sayang!" jelas Radian.


"Halah alasan! Bilang aja kamu mau ancam ancam aku kan disini, supaya aku gak bisa marah sama kamu! Emang kamu itu licik banget mas! Aku gak suka sama kamu!" ucap Oni.


"Apa sih sayang? Pikiran kamu kok jelek terus sih sama aku? Aku ini suami kamu loh, harusnya kamu hormat dong sama aku! Sekarang ayo kita turun, kita selesaikan masalah kita di dalam!" ucap Radian tegas.


"Huft, yaudah iya aku nurut lagi!" ujar Oni.


Radian tersenyum kemudian mencubit pipi Oni dengan dua tangannya.


"Nah gitu dong, baru namanya istri yang baik hati dan patuh sama suaminya!" ucap Radian.


"Yaudah cepetan, gak pake lama!" ujar Oni.


"Udah yuk kita masuk!" ujar Radian langsung menggenggam tangan Oni.


Oni mengangguk saja mengikuti kemauan Radian, mereka pun melangkah bersamaan menaiki lift untuk menuju kamar mereka.


"Tangan kamu halus banget sih!" puji Radian.


"Gausah gombal! Dan yang paling pentin, kamu juga gak boleh modus sama aku selagi kamu belum jelasin ke aku tentang ucapan kamu di parkiran tadi sama Zian! Malam ini dan seterusnya juga aku gak bakal mau kasih kamu jatah!" ucap Oni mengancam suaminya.


"Waduh sayang, kok gitu sih? Yaudah iya iya, aku janji akan jelasin semuanya saat ini juga! Gak mungkin aku tahan kalo gak dapat jatah dari kamu, apalagi dalam waktu yang lama!" ujar Radian.


"Haish, emang yang ada di otak kamu cuma begituan aja ya mas! Atau jangan-jangan, kamu juga nikahin aku karena nafsuu ya bukan karena cinta?" ucap Oni menaruh curiga pada suaminya.


"Nanti aku jelasin ya di kamar, gak enak disini nanti kalo didengar orang gimana?" ucap Radian.


Oni cemberut kesal memalingkan wajahnya dengan kedua tangan ia lipat di depan, sungguh Radian sangat cemas jika istrinya terus ngambek dalam waktu yang lama, akan sangat bahaya untuk karir juniornya nanti.


Setibanya di kamar, Radian langsung membawa Oni masuk ke dalam dan mengunci pintu rapat-rapat. Pria itu mendorong tubuh Oni hingga mepet ke tembok, disana lah Radian mengurung Oni sembari mencengkram dua tangan wanita itu ke atas kepalanya.


"Sekarang aku mau bicara serius sama kamu! Mohon jangan dipotong sebelum aku selesai ya sayang, supaya kamu bisa paham!" ucap Radian.


"Ya tapi gak perlu pake kayak gini segala kali! Aku susah gerak jadinya," ujar Oni meronta-ronta.


"Sssttt udah diem aja! Aku bakal jelasin ke kamu perihal ucapan aku di parkiran tadi sama Zian, lalu setelahnya giliran kamu yang kasih penjelasan ke aku!" ucap Radian dingin.


"Hah? Penjelasan apa? Emang aku ada salah apa sama kamu?" ujar Oni terkejut.


"Pokoknya ada, nanti kita bahas! Sekarang aku mau kamu tahu kalau aku ini cinta sama kamu, cuma kamu yang aku cintai dan aku sayangi! Soal Revi, ya emang aku masih cinta sama dia. Tapi, aku bakal berusaha melupakan semua itu demi kamu istriku!" ucap Radian.


Oni terdiam, tak mungkin ia percaya begitu saja dengan apa yang dilontarkan oleh pria mantan buaya itu.


β€’


β€’

__ADS_1


Disisi lain, pasangan Revi dan Muzaki pun tengah menikmati waktu berdua di sebuah cafe. Akan tetapi, Revi merasa heran sebab Muzaki selalu diam dan jarang berbicara padanya kali ini.


Tak seperti biasanya Muzaki lebih banyak diam dan melamun saat bersama Revi, padahal sebelumnya pria itu tampak ceria dan selalu bahagia setiap kali berdua bersama gadisnya.


"Kak, kak Zaki kenapa sih? Daritadi kok kamu cuekin aku terus kayak gitu? Kamu marah ya sama aku?" tanya Revi penasaran.


"Ah enggak kok, aku cuma lagi mikirin perkataan Radian tadi. Soalnya dia kelihatan serius banget bilang begitu ke Zian, apa benar kalau dia masih cinta sama kamu Rev? Aku kok rasanya gak rela ya dengar itu," ujar Muzaki.


"Oh jadi karena itu kamu bengong terus? Kalau menurut aku sih kayaknya kak Radian emang bicara sesuai isi hatinya, tapi kamu gak perlu cemas kak Zaki! Itu kan perasaannya kak Radian, jadi terserah dia mau suka sama siapapun. Yang terpenting, aku cuma suka sama kamu!" ucap Revi.


"Iya sih, tapi kalau dia berusaha buat dapetin kamu lagi gimana? Aku gak rela Rev!" ujar Muzaki.


"Umm... kak Zaki jangan mikir begitu! Mana mungkin kak Radian mau berbuat kayak gitu? Kan dia sekarang udah punya istri, terus istrinya juga lagi hamil, gak mungkin lah kak Radian deketin cewek lain!" ucap Revi.


"Yaudah deh, aku gak akan cemas lagi. Tapi, kamu harus janji sama aku buat tetap bersama sama aku selamanya!" ucap Muzaki meraih tangan Revi dan menggenggamnya.


"Iya kak, aku janji!" kata Revi sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul membawakan pesanan mereka. Muzaki pun reflek melepas genggamannya karena malu dilihat oleh sang pelayan yang berada di dekatnya.


"Silahkan kak dinikmati makanan dan minumannya!" ucap pelayan.


"Iya mbak, makasih ya!" ucap Muzaki tersenyum.


"Sama-sama kak, permisi!" ucap pelayan itu lalu berbalik dan pergi meninggalkan mereka.


Muzaki pun beralih menatap Revi, kembali menggenggam tangannya sambil tersenyum dan mengusap rambut sang kekasih.


"Cantik, ayo diminum dong kopinya!" ucap Muzaki menyodorkan gelas minuman ke depan Revi.


"Iya kak, ini aku mau minum kok. Kak Zaki juga ikut minum tuh minumannya, jangan cuma didiemin aja nanti malah dilalerin!" ucap Revi.


"Hahaha iya iya..." Muzaki tertawa lalu meminum minumannya bersamaan dengan Revi yang juga meminum kopi miliknya.


"Gimana? Enak gak?" tanya Muzaki.


"Enak kok, ini kopi terenak yang pernah aku minum. Emang pilihan kak Zaki gak salah deh!" jawab Revi tersenyum renyah dan kembali menyeruput kopinya.


"Syukurlah! Itu artinya aku gak salah ajak kamu kesini, karena emang disini tuh semuanya enak-enak. Selain itu, pemandangan disini juga keren banget! Apalagi ditambah senyum kamu yang manis itu, beuh tambah nikmat deh suasana disini!" ucap Muzaki.


"Aduh kak Zaki ini paling bisa gombalin aku!" Revi tersipu dan wajahnya pun memerah.


Mereka pun kembali melanjutkan meminum dan memakan pesanan mereka, sembari menikmati pemandangan indah di sekitar cafe.


β€’


β€’


Suci tiba di sebuah cafe bersama Wisnu yang mengendarai mobilnya, Suci sengaja mengajak pria itu kesana untuk mentraktirnya sebagai imbalan karena sebelumnya Wisnu sudah sempat membantunya membeli bensin.


"Lu kok pilih cafe ini? Apa alasannya?" tanya Suci pada Wisnu sambil menatap wajahnya.


"Iya Suci, karena disini itu pemandangannya indah banget dan gue jamin lu pasti bakal suka! Udah yuk kita turun terus masuk ke dalam! Lu mau traktir gue sepuasnya kan?" ucap Wisnu tersenyum.


"Santai aja! Gue gak mungkin bohong soal janji, lu bebas mau pesan apapun yang lu mau sebagai imbalan karena udah bantu gue!" ucap Suci.


"Thanks ya! Sebenarnya lu gak perlu begini sih, karena gue kan bantu lu ikhlas dan gak mengharapkan imbalan. Tapi, karena lu maksa yaudah deh mau gimana lagi? Lagian kata ibu gue, gak baik menolak rezeki. Selagi dapat traktiran dari cewek cantik kayak lu, jadi gue terima aja!" ucap Wisnu tersenyum renyah.


"Hadeh, lu daritadi kayaknya bahas soal cantik cantik cantik terus deh! Emang gue secantik itu apa di mata lu? Perasaan menurut gue, muka gue biasa aja deh!" ujar Suci keheranan.


"Lu akan terlihat cantik di mata orang yang benar-benar tulus sama lu!" ucap Wisnu.


Suci terdiam, untuk kesekian kalinya ia dibuat tak berkutik dengan ucapan Wisnu. Setelah cukup lama mengobrol di dalam mobil, akhirnya mereka berdua pun turun dari mobil dan memasuki area cafe dengan berdampingan.


Sesampainya di dalam cafe tersebut, mata Suci langsung dihadapkan pada pemandangan yang tidak mengenakkan, dimana Muzaki tengah suap-suapan bersama Revi disana.


"Zaki...??" ucap Suci menganga lebar.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2