Angkasa

Angkasa
Charlie mengesalkan


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 177


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Juliana terus menarik lengan Revi hingga mereka sampai di ruang tamu, terlihat disana sudah ada Charlie beserta mamanya yang sedang berbincang dengan Marcel sang papa dari Revi.


Melihat kehadiran Revi dan mamanya, tentu Charlie langsung tersenyum senang karena memang ia menantikan sosok Revi sedari tadi. Ya entah mengapa Charlie merasa nyaman bila mengobrol berdua dengan Revi.


"Halo jeng! Maaf ya lama, untung ini kebetulan Revi tadi udah siap-siap loh! Kayaknya mah dia udah feeling kalo kalian mau kesini!" ujar Juliana.


"Ahaha bagus dong itu!" ujar Yani.


"Mah, karena mama udah dateng, jadi papa mau pergi keluar dulu ya?" ucap Marcel.


"Umm, oke pah!" ucap Juliana.


"Sayang, papa pergi dulu ya?" ucap Marcel berdiri dari duduknya menghampiri sang istri serta anaknya.


"Iya pah, hati-hati!" ucap Revi tersenyum.


Revi dan Juliana pun mencium punggung tangan Marcel seperti biasa, lalu Marcel berbalik badan kemudian pergi keluar dari rumah membawa tas miliknya yang sudah tersedia tadi.


"Nah Revi, ayo duduk sayang! Kamu bisa ngobrol lagi sama nak Charlie!" ucap Juliana.


"Iya mah," ucap Revi singkat.


Mereka pun duduk berdampingan di sofa, tentu juga berdekatan dengan Charlie. Tampak Charlie tersenyum senang ketika melihat Revi berada di dekatnya saat ini, apalagi Revi terlihat lebih cantik dibanding sebelumnya.


"Hai Rev! Kamu cantik!" ucap Charlie menyapa Revi sambil tersenyum.


Sontak Revi terkejut mendengarnya, bahkan bukan hanya ia, Juliana dan Yani sendiri pun kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Charlie barusan karena pria itu biasanya lebih banyak diam.


"Eee iya, makasih!" ucap Revi gugup.


"Aduh, kalian ini gemesin banget sih! Mama jadi yakin kalau kalian berdua itu serasi dan cocok loh!" ucap Juliana tersenyum.


"Benar jeng! Saya juga ngerasa begitu, mereka emang serasi banget!" sahut Yani.


"Mama apaan sih? Aku kan cuma muji Revi aja, wajar dong kalau aku memuji ciptaan Tuhan? Masa yang kayak gitu aja dibilang serasi? Revi juga cuma diem kok, serasi darimana nya mah?" ujar Charlie.


"Hey Charlie! Kamu jangan salah! Revi diam-diam begitu salting tau, tante kan hafal banget gerak-gerik anak tante ini!" ucap Juliana.


"Nah kan sayang!" sahut Yani.


Charlie tersenyum menatap wajah Revi, ia merasa puas telah berhasil membuat gadis itu salah tingkah akibat kata-katanya tadi. Namun, tetap saja Charlie masih belum puas karena Revi tak mengatakan apapun lagi selain terimakasih.


"Mah, aku mau ke dapur dulu ya? Aku haus pengen minum!" bisik Revi.


"Eh kamu haus? Yaudah kamu panggil aja bik Munaroh, gausah jalan sendiri ke dapur kan lama!" ucap Juliana.


"Umm, aku jalan sendiri aja mah!" ucap Revi.


"Gausah sayang! Biar mama yang panggil deh kalo kamu malu karena ada Charlie!" ucap Juliana.


"Eee tapi mah—"


"BIK BIBIK...!!" teriak Juliana.


Tak lama kemudian, bik Munaroh pun muncul menemui Juliana disana.


"Iya nyonya, ada apa?" tanya bik Munaroh.


"Tolong bikinin minum satu lagi ya buat Revi!" jawab Juliana sambil merangkul putrinya.


"Oh siap nyonya, sebentar ya non!" ucap Munaroh.


"Iya bik," ucap Revi singkat.


Bik Munaroh pun kembali ke dapur membuatkan minuman untuk Revi, sedangkan gadis itu tetap disana bersama mamanya menemani Charlie dan juga Yani.


"Nah, kalau begitu kan gampang! Jadi, kamu gak perlu susah-susah jalan ke dapur!" ucap Juliana.

__ADS_1


"Iya mah, tapi kan lama nunggunya. Kalau aku jalan ke dapur sendiri, aku bisa ambil minumannya sendiri dan langsung minum disana!" ucap Revi.


"Udah sayang, yuk ngobrol aja sama Charlie!" ucap Juliana tersenyum.


Revi mengangguk pelan karena tak bisa berbuat apa-apa selain menurut dengan kemauan mamanya, walau ia amat sangat malas meladeni Charlie atau mamanya sekalipun.


"Sampe kapan sih aku harus terjebak disini? Maaf ya Fah, aku gak bisa temenin kamu!" batin Revi.


Charlie yang sedari tadi terdiam, kini mulai berinisiatif untuk kembali berbicara pada Revi seperti sebelumnya. Hal itu yang memang ia inginkan sedari tadi yakni dapat bicara berdua dengan Revi, karena ia ingin lebih dekat dengan gadis tersebut.


"Eee tante, maaf nih! Apa saya boleh bicara berdua dengan Revi? Di sekitar sini aja, mungkin di depan atau dimana gitu!" ucap Charlie memberanikan diri.


"Oh kamu mau bicara sama Revi? Boleh dong Charlie, tapi sebentar ya tunggu sampe bik Munaroh bawain minuman buat Revi! Nanti baru deh kalian bebas mau bicara dimana aja, oke?!" ucap Juliana.


"Oke tante!" ucap Charlie tersenyum.


Charlie merasa senang, karena ia dapat berbicara dengan Revi berdua saja walau harus menunggu.


Sementara Revi justru sebaliknya, ia merasa malas sekali harus berbicara dengan Charlie lagi.


"Yah elah, ini Charlie ngapain sih pake ngomong begitu segala ke mama?" gumam Revi dalam hati.




Sementara itu, di depan gerbang rumah Revi. Latifah datang dengan ojek online pesanannya, ia turun lalu segera mendekat ke gerbang dan memanggil satpam untuk membukakan pintu.


"Misi pak, pak Fadlul misi!" teriak Latifah.


Sang satpam itu muncul menghampiri Latifah dan tersenyum segera membukakan kunci gerbang agar Latifah bisa masuk ke dalam.


"Eh neng Ifah, ayo masuk neng!" ujar pak Fadlul.


"Makasih ya pak! Oh ya, Revi ada di dalam apa enggak ya?" tanya Latifah.


"Ada neng, mau ketemu sama non Revi?" ujar Fadlul.


"Iya dong pak, saya udah ada janji sama Revi! Tapi, dia saya telponin daritadi gak diangkat-angkat! Terus saya sms juga gak dibalas sama dia, makanya saya samperin aja dia kesini!" ucap Latifah.


"Anu neng, non Revi lagi ada tamu. Mungkin karena itu non Revi gak bisa balas pesan neng Ifah," ucap pak Fadlul.


"Oh gitu, emang tamunya siapa pak?" tanya Latifah.


"Temannya nyonya sama anaknya, neng. Kalau neng Ifah mau ketemu sama non Revi, silahkan aja masuk neng ke dalam! Kan sama-sama tamu, jadi gapapa neng gak perlu malu apalagi panik!" ucap pak Fadlul sambil nyengir.


"Eee yaudah, kalo gitu saya cek dulu ke dalam ya neng? Mari neng ikut aja sekalian ke dalam, nanti neng tunggu dulu di teras!" ucap pak Fadlul.


"Oh oke pak!" ucap Latifah tersenyum.


Mereka pun masuk ke dalam halaman rumah Revi, lalu pak Fadlul membawa Latifah menuju teras dan meminta gadis itu duduk disana menunggu selagi ia mengecek ke dalam.


"Neng, duduk dulu! Sebentar ya saya cek ke dalam?" ucap pak Fadlul.


"Siap pak!" ucap Latifah.


Latifah menurut dan duduk di kursi yang tersedia menunggu pak Fadlul mengecek Revi.


Namun, disaat pak Fadlul hendak masuk tiba-tiba saja Revi muncul bersama dengan Charlie yang hendak berbincang-bincang di luar.


"Eh non Revi?' ujar pak Fadlul terkejut.


"Pak Fadlul? Ada apa?" tanya Revi bingung.


"Eee ini non, ada neng Ifah mau ketemu sama non Revi katanya udah janjian!" jawab pak Fadlul.


"Oh ya, dimana dia pak?" tanya Revi.


"Hai Rev!"


Latifah langsung saja berdiri dari kursinya dan menemui Revi, ia tersenyum menatap ke arah Revi juga Charlie. Gadis itu amat penasaran siapa sosok pria yang ada di samping Revi itu, karena ia belum pernah melihatnya.


"Eh Fah, hai juga! Sorry ya, aku tadi gak bisa angkat telpon kamu atau balas pesan kamu! Soalnya aku lagi ada tamu, ini orangnya!" ucap Revi.


"Ohh jadi ini tamu lu? Iya gapapa Rev, tadi pak Fadlul juga udah jelasin kok ke gue!" ucap Latifah.


"Umm non, maaf ya saya permisi mau balik ke pos dulu! Kan urusan saya disini sudah selesai, takutnya ada apa-apa di depan non!" ucap pak Fadlul menyelak obrolan mereka.


"Iya pak, silahkan!" ucap Revi tersenyum.


Pak Fadlul pun pergi kembali ke posnya, sedangkan Latifah melangkah mendekati Revi dan berbisik pada gadis itu.


"Rev, jadi gimana sama janji kita kemarin? Lu bisa gak temenin gue?" bisik Latifah.


"Eee maaf ya Fah! Kayaknya aku gak bisa deh, soalnya aku harus temenin dia ngobrol dulu! Kamu pergi aja sendiri ya? Maaf banget loh Fah!" ucap Revi merasa tidak enak.


"Ohh ya gapapa sih, gue juga wajarin kok kan lu lagi ada tamu! Yaudah deh, kalo gitu gue langsung pamit aja ya Rev?" ucap Latifah.

__ADS_1


"Loh kok pamit sih? Gak mau ngobrol dulu sebentar temenin aku gitu disini sama dia sambil minum?" ucap Revi.


"Eee gak bisa Rev, gue kan harus pergi sekarang!" ucap Latifah menolak.


"Iya ya, yaudah kamu boleh pergi kok! Tapi, gak mau kenalan dulu sama dia?" ucap Revi sambil melirik ke arah Charlie bermaksud mengajak Latifah berkenalan dengan pria itu.


"Hah?" Latifah terkejut dan menganga lebar.


"Eee hai temannya Revi!" sapa Charlie.


"Iya, hai juga! Btw nama gue Latifah, salam kenal ya!" ucap Latifah nyengir.


"Gue Charlie, salam kenal juga!" ucap Charlie.


"Oke! Yaudah, kan kita udah kenalan nih, kalo gitu gue pergi dulu ya Rev? Bye!" ucap Latifah sambil melambaikan tangan.


"Iya Fah, hati-hati!" ucap Revi tersenyum.


Latifah pun berbalik badan, lalu pergi dari sana. Namun, ia masih menyempatkan diri menoleh ke belakang untuk menatap wajah Charlie. Entah mengapa Latifah merasa nyaman sekali saat bertatapan dengan pria tersebut tadi.


"Temannya Revi ganteng juga ya! Eh, tapi itu teman dia atau siapa ya?" gumam Latifah dalam hati.


Sementara Charlie kembali menatap Revi dan mengajak gadis itu untuk segera pergi agar ia bisa bicara berdua dengannya.


"Ayo Rev, kita kesana!" ucap Charlie.


"Eee iya..." ucap Revi gugup.


Akhirnya Revi terpaksa mau bicara berdua dengan Charlie karena tak ada pilihan lain, walau sejujurnya ia sangat malas berduaan dengan pria yang sama sekali tidak ia sukai itu.


...•••...


Disisi lain, Radian pamit pada istri serta kedua mertuanya untuk berangkat bekerja di pagi hari yang cerah ini. Walaupun semalam ia pulang larut, bukan alasan bagi seorang Radian untuk bermalas-malasan karena ia harus segera mencari uang yang banyak.


Oni pun merasa bangga pada sikap pekerja keras yang dimiliki sang suami, ia sampai dibuat terharu karena Radian tak kenal lelah untuk dapat membawa pulang uang hasil kerja kerasnya, biarpun Oni tahu kalau Radian pasti sangat letih.


"Sayang, aku kerja dulu ya? Kamu diem aja di rumah jangan kemana-mana!" ucap Radian.


"Iya mas, dari kemarin juga aku di rumah terus kok! Aku kan selalu nurut sama apa kata suami, kamu kerjanya yang semangat ya!" ucap Oni tersenyum.


"Pasti dong sayang!" ucap Radian.


Radian pun memeluk Oni dan mencium kening sang istri dengan lembut, ia benar-benar menyayangi istrinya itu sampai tak mau membuatnya merasa sedih karena harus menikah di usia muda.


"Yaudah ya sayang, yuk kita turun ke bawah! Aku sekalian mau pamit dan titip kamu sama papa mama!" ucap Radian.


"Hahaha kamu ada-ada aja ih! Emang aku barang apa pake dititipin segala?" ujar Oni tertawa kecil.


"Ya ia dong sayang, aku kan pengen lihat kamu baik-baik aja dan gak kenapa-napa! Walau aku tahu banget pasti papa sama mama itu bakalan jagain kamu sepenuh hati, tapi apa salahnya aku sebagai suami bilang begitu kan?" ucap Radian.


"Iya mas, kamu gak salah kok!" ucap Oni.


"Yaudah ayo!" ucap Radian tersenyum.


Oni mengangguk sambil tersenyum manis, lalu mereka berjalan ke luar kamar dengan saling merangkul, Radian mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Oni dan sebaliknya Oni juga menaruh tangannya di pinggang sang suami.


Sampai di bawah, mereka langsung menemui Rihana serta Baim alias kedua orang tua dari Oni yang kini telah menjadi mertua Radian. Terlihat memang keduanya tengah duduk di sofa mengobrol ringan sembari menikmati secangkir kopi dan juga teh.


"Selamat pagi pah, mah!" ucap Oni dan Radian menyapa kedua orangtuanya.


"Pagi, eh kalian ternyata! Sini sini duduk sama papa mama kita nonton tv bareng! Wah muka kalian ini berseri sekali ya? Pasti semalam abis enak-enak nih makanya begini!" ujar Baim.


"Ish papa jangan gitu ah!" tegur Rihana.


"Hahaha bercanda doang mama!" ujar Baim.


Oni merasa malu dan menundukkan kepalanya, sedangkan Radian justru terkekeh sembari menatap wajah istrinya. Mereka pun duduk di sofa berdampingan dengan Oni yang terus merapatkan tubuhnya pada Radian karena masih malu.


"Gapapa pah, tapi kebetulan kita ini lagi bahagia aja bukan karena abis enak-enak semalam!" ucap Radian menahan tawanya.


"Hahaha, oh kirain gitu kan? Terus, ini kamu kok pagi-pagi begini udah pake jaket go-bek aja sih Radian? Memangnya kamu mau ngojek sekarang?" tanya Baim bingung.


"Eee iya pah," jawab Radian tersenyum.


"Loh, apa enggak kepagian nak Radian? Ini baru jam enam loh, mama aja belum sempat masak masih ngantuk nih!" ucap Rihana.


"Iya Radian, tahan dulu sebentar! Sekitar jam delapan atau sembilan baru kamu berangkat!" sahut Baim.


"Eee maaf pah, mah! Aku gak bisa, soalnya aku harus giat narik mumpung lagi semangat! Takutnya kalau leha-leha malah jadi males pah, mah!" ujar Radian.


"Oalah kamu memang hebat An!" puji Baim.


"Makasih pah!"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2