
"Tak apa, aku baik-baik saja. Sorry kita terjebak di sini gara-gara aku mau mendaki.
"Tidak ada yang salah dengan sedikit terjebak di hujan sesekali. Itu resiko pendakian. Yang penting kau dapat blueberry." Aku tertawa sekarang.
"Thanks." Dia menang Dickhea*d, dulu Kakak lebih kejam darinya jika aku membuat mereka kena masalah dan akhirnya Kakak tidak mau aku ikut bersama mereka. Tapi dia selalu membelaku. Kenangan masa lalu yang menghangatkan hati ini tiba-tiba muncul saat hujan turun lebat begini.
"Kita berharap saja ini tak lama." Kami menunggu dalam diam diantara curahan hujan dan angin.
"Apa itu." Mataku menangkap kelebatan bayangan bergerak di sebelan kanan kami. Dari remang yang masih bisa kutangkap dan kejauhan itu sepertinya bergerak. Tapi kemudian bayang-bayang itu bertambah.
Tommy mengeluarkan binocularsnya.
"Itu infected dan nampaknya cukup banyak. Kurasa ada belasan."
"Kenapa bisa cukup banyak? Bukankah daerah ini sudah dibersihkan."
"Entahlah, biasanya yang seperti ini karena penerobosan dari zona hitam, disekitar kita memang masih banyak zona hitam, atau ada satu bangunan yang tidak tersapu sebelumnya di sekitar sini. Akan kuurus, belasan masih bisa kutangani. Mereka lambat."
"Kubantu Tommy." James menawarkan diri.
"Kau yakin bisa Doc. Kau asset penting, aku tak ingin membahayakan kalian berdua."
__ADS_1
"Aku yakin bisa. Tenang saja, aku sudah terlatih, jika terdesak aku bisa menggunakan pistol. Aku tahu pistol ini opsi terakhir."
"Baik, kau lihat dari kanan, satu tombak ini untukmu aku akan memakai satu lagi, kita akan mulai dari titik terluar, kita akan menyapu dari kanan ke kiri. Nona Jen tunggu di sini. Kau bisa mengawasi kami. Ini pegang teropongnya. Kau harus awas keadaan di sekelilingmu jangan hanya mengawasi kami. Jelas."
"Iya, oke." Aku menerima teropongnya.
Dibawah curahan hujan yang masih deras itu mereka bergerak memutar lima puluh meter ke depan. Aku mengawasi dengan teropong keadaan mereka. Mereka mulai dari bagian terluar menghadapi satu persatu.
Aku melihat mereka dengan harap-harap cemas. Walaupun Tommy bergerak dengan cepat, beberapa memang lebih aman karena ikut ditangani oleh James.
Baru saja menghela napas lega karena tinggal satu, aku dikejutkan oleh suara di sampingku. Seorang infected berjalan cepat ke arahku, aku kelabakan menjangkau pistol karena terkejut dan dia sekarang berlari ke depanku.
Pistol yang pengamannya kubuka dengan buru-buru itu menyalak, suara tembakan bergema. Tapi sialnya aku tidak memperhatikan kuda-kudaku karena gugup.
Aku hanya bisa mengelinding ke bawah, jatuh dengan tas berat dan aliran air yang menyeretku. Sebelum sebuah pohon besar menghentikanku mengelinding dan kepalaku terhantam ke pokok bawahnya.
"Jeeeen! Jeeen!" Aku bisa mendengar James memanggilku dari kejauhan. Tapi kepalaku terlalu nyeri untuk menjawab. Hanya bisa meringkuk memegangi kepala.
Derap dan suara daun basah disibak terdengar diatas tapi di kepalaku sesuatu yang panas mengalir, aku terluka dan darah memerah di tanganku, rasanya mengalir turun ke wajahku.
Kubuka topiku dan kutekan sebisaku, tapi sadar percuma karena hujan yang masih menguyur basah, kucoba melihat ke atas, cukup jauh aku terjatuh, hujan masih menguyur lebat di atas kepalaku. Semuanya terasa basah dan dingin sekarang. Aku punya handuk di tas tapi tak punya perban.
__ADS_1
"Jeeen!" James dan Thomas sampai di bibir turunan curam itu.
"Aku disini!" Aku menjawabnya, mungkin aku terjatuh ke bawah sekitar 20 meter. Tapi kepalaku masih sakit untuk bangkit sendiri.
"Tunggu kami turun." Tak lama bagi mereka untuk mencapaiku.
"Kau terluka?" James langsung bertanya.
"Kepalaku terbentur pohon. Berdarah, mungkin hanya tergores. Di tasku ada handuk bersih tapi ini basah."
"Kita ke atas. Kau bisa berdiri. Pegangan ke kami ." Dengan bantuan dua orang itu aku merayap naik ke atas.
"Aku tak berhati-hati menembak, aku menyusahkan kalian, tadi aku kaget ada infected sudah dekat."
"Tak apa, kita akan turun. Kita ke tenda dulu." Aku merasa kecerobohanku benar-benar menyusahkan diriku sendiri.
Kami sampai dengan tertatih-tatih kemudian.
Aku duduk ke sebuah alas terpal kering, kedinginan dan kepalaku sakit. James memeriksa lukaku, dengan dibantu penerangan dari Tommy, sementara dia juga menghubungi tim yang menjemput kami.
"Tak apa tak tergores dalam. Tapi kau basah, hujan lebat sialan ini memang menyebalkan. Tommy apa tim yang menyusul sudah dekat, jika kita turun nampaknya akan sulit."
__ADS_1
"Aku bisa berjalan seperti tadi." Kurasa rasanya sudah mendingan, lebih baik segera sampai ke tempat kering segera.