BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 3. The Meeting 2


__ADS_3

"Ayahku tak menjadi penasehat keamanan lagi."


"Ohhh, bagaimana keadaan Ayahmu?"


"Dia baik, tapi dia melupakan banyak hal. Ibu lebih baik, adikku pulih sepenuhnya. Itu saja sudah membuatku bersyukur kukira."


"Jadi kau sekarang mengambil alih perusahaan Ayahmu?"


"Iya dengan Kakak."


"Hmm..." Dia mengangguk mengerti, entah apa yang ada dipikirannya. Kukira entah bagaimana dia akan menemukan cara yang dia inginkan untuk deal denganku. Pikirannya selalu lebih maju dariku.


"Kau sekarang tidak di militer lagi."


"Aku resminya masih memegang posisi militer, kami belum lepas sepenuhnya dari pengaturan militer, masih banyak hal yang harus dibenahi walaupun kami sudah banyak menyerahkannya ke sipil lagi."


"Ohh, baiklah. Pasti posisimu sudah tinggi sekarang. Bintang 3?" Dia hanya tersenyum. "Selamat kalau begitu, terakhir kita bertemu kau masih bintang dua. Pasti sangat jarang yang bisa mencapai bintang 3 di usia sepertimu." Dia tak menyangkalnya berarti benar.


"Tak banyak juga pemimpin perusahaan besar di usia baru awal 30." Ganti aku tersenyum dengan pujiannya.

__ADS_1


"Mau tak mau. Aku terbantu dengan banyak profesional brillian juga, tanpa mereka kami tak berjalan." Aku teringat orang yang mengobati keluargaku. "Dimana Dokter James dan Perawat Jen sekarang?"


Aku ingat kenangan beberapa tahun lalu, mereka banyak membantuku terutama perawat Jen. Dia banyak menenangkanku berkaitan dengan kondisi keluargaku, dia juga yang memberiku saran bagaimana berhadapan dengan Gilbert.


"Mereka di Miami. James memimpin rumah sakit utama di sana."


"Miami, apa sudah buka lagi?"


"Sudah, kota Miami sudah ditempati lagi."


"Tampaknya kalian melakukan banyak pekerjaan hebat dan cepat, tinggal masalah waktu kalian memimpin kembali."


Dia tidak akan memaafkanku begitu mudah. Sudah ku bilang ini akan sulit. Paman David tidak percaya padaku.Walaupun entah kenapa dia mau bicara denganku.


Dia masih seperti yang kuingat selama dua tahun ini, bedanya dulu adalah dia santai bicara denganku, tapi sekarang dia bicara dengan memperhatikan kata-kataku, mencurigaiku di setiap kata.


Aku akan mengumpulkan keberanian untuk bicara dan minta maaf sekali lagi


"Saat itu aku putus asa, aku menggunakan segala cara untuk menemukan mereka. Sebelumnya pasukan tidak ada yang diperbolehkan memasuki kota. Aku sebenarnya tahu ada pengobatan yang bisa menyembuhkannya. Aku harus mendapatkan mereka. Aku mengabaikan kata-katamu saat itu. Tentang aku harus jujur padamu dan aku bisa meminta bantuanmu dengan terus terang. Aku salah, aku takut jika aku melakukan itu, kau juga tak mau mengambil resiko. Sampai sekarang kau masih menganggapku buruk karena itu. Sekali lagi maafkan aku." Aku berpikir keras untuk menyusun kata-kata itu.

__ADS_1


Dia diam sekarang.


"Ini hanya bagian dari negosiasimu." Setitik senyum yang menyakitkan ketika dia mengatakan aku meminta maaf padanya hanya demi negosiasi.



"Iya, mungkin kau beranggapan begitu, aku harus mengatakan ini, kau nampaknya masih menganggapku orang yang tak bisa dipercaya. Itu tak bagus. Sudah kukatakan aku tak cocok masuk ke sini, tapi aku tetap di dorong ke sini. Aku agak pesimis berhasil sekarang."


Dia diam sesaat.


"Ini kesepakatan dagang, bukan soal penyerbuan kota Nona Dugard. Itu sudah lama berlalu."


"Aku hanya masih merasa tak bisa menghadapimu. Kau masih melihatku sebagai pengkhianat."


"Well, ... kita lihat saja nanti. Aku malah merasa kau memang cocok di sini. Memang proyek Brazil sangat penting bagi kami, aku akan mempelajari tawaranmu bersama tim, nanti aku akan masuk ke meeting besok."


Dia sekarang bersikap praktis lagi. Aku melihatnya, entah kenapa aku merasa ingin dia bisa tertawa lepas padaku. Punya kepercayaan padaku, tapi tentu saja tak bisa.


Dia tak akan pernah percaya lagi padaku.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2