
Hari ini nampaknya ada beberapa ratus pengungsi baru tiba, triage UGD ramai, aku sibuk menentukan siapa yang duluan. Sementara di luar para tentara sibuk memobilisasi dan menempatkan mereka di tempat baru.
"Susan, bisakah kau mengambilkan makanan untukku. Aku makan di sini saja."
"Kau tak makan siang dengan Andrew."
"Tidak, kurasa di sini saja."
"Ada masalah dengan kalian?" Belakangan ini aku selalu makan siang dengan Andrew, tapi kurasa sekarang aku ingin memberinya ruang untuk berpikir.
"Tidak aku hanya ingin makan sendiri." Aku tersenyum. Tak ada rasa kesal membuncah kurasa, hanya pemahaman lebih baik membiarkan semuanya mengalir apa adanya.
"Benarkah?"
"Hmm benar..." Aku tersenyum ke Susan yang meneliti wajahku. "Pergilah cepat, aku lapar, pasien masih menunggu kita sementara dokter setengahnya juga istirahat."
"Baiklah, aku tak akan lama." Dia pergi setelah aku mengusirnya.
Tak lama, bukan Susan yang datang tapi Andrew. Dia menaruh makananku di depanku.
"Kau masih marah padaku?"
"Tidak. Terima kasih membawakanku makanan. Kau sudah makan?" Aku tetap bersikap ramah padanya.
"Sudah. Kau tak perlu menghindariku begini."
"Aku tidak menghindarimu, kau tahu dimana kau bisa menemukanku. Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir." Aku makan dengan segera di depannya, masih ada pasien yang menunggu. Kasihan mereka yang sakit dan dari luar. "Pasien sedang banyak aku tak bisa lama-lama bicara padamu."
"Nanti malam kita bicara lagi."
__ADS_1
"Iya baiklah."
Andrew baik. Walaupun dia nampak tak bisa menyembunyikan dia terguncang menemukan gadis itu.
"Kalian ada masalah bukan. Andrew tampak terganggu dengan kenyataan kau tak muncul waktu makan siang." Susan yang kembali menyenggolku sekarang.
"Dia bertemu mantan kekasihnya yang diharapkannya. Mungkin sama ceritanya dengan aku bertemu Fred. Aku hanya memberikannya waktu. Tidak ada masalah kurasa, masalahnya hanya pilihan."
"Siapa? D'Angelo sendiri berkata Andrew tidak punya pacar. Apa kau tidak salah?"
"Dia pacarnya waktu SMA."
"Astaga waktu SMA, kenapa kau harus takut jika begitu." Dia tidak melihat bagaimana Andrew memandang wanita itu."
"Aku tak takut, aku hanya membiarkan dia berpikir. Sudahlah, pasien masih banyak, banyak yang harus kita kerjakan."
Saat makan malam aku bertemu dengannya seperti biasa. Tidak ada pertengkaran apapun selama makan malam. Aku bergabung di sampingnya dan kami ngobrol seperti biasa dengan teman-teman kami.
"Ikut aku." Andrew mengandeng tanganku sekarang.
Dia membawaku bersamanya ke unit tempat tinggalnya, aku duduk di sofa seperti biasa. Seperti tak terpengaruh apapun. Ini baru dua hari mungkin dia belum memutuskan apapun tapi ya mungkin juga dia masih belum menyadari perasaannya sebenarnya.
"Kau tak berniat meminta putus karena masalah kecil ini bukan."
"Hmm? Kau mau putus?" Aku bertanya balik padanya.
"Tidak!" Dia mengatakannya tanpa keraguan.
"Ya baiklah. Kita tetap lanjut." Aku tersenyum ringan padanya.
__ADS_1
"Kau tak cemburu padaku, marahlah sedikit. Aku tak apa." Perkataannya membuatku melihat padanya, kadang dia memang baik, aku tak meragukannya. Tapi seperti kataku ini hanya masalah hati.
"Aku tak mau membuat banyak masalah. Jika kau ingin putus katakan saja. Kita akan putus." Dia diam, sebelum memelukku erat.
"Kita tak akan putus."
"Oke." Aku senang, iya tentu saja. Dia tetap menjadi pacarku. Mungkin kata-kata Susan dan James benar. Masa lalu tetaplah masa lalu, aku mungkin masa depan untuknya.
"Cuma oke jawabanmu?" Dia melonggarkan pelukannya dan menatapku.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Katakan kau mencintaiku?" Pertanyaan yang membuatku berpikir bagaimana men
"Cinta berat untuk di tanggung Tuan Walikota. Kau sangat baik, aku tak tahu tentang cinta. Bolehkah kukatakan aku menyukaimu saja, kau baik, kau tampan, kau segalanya, aku menangis karena kau melihat mantan pacarmu itu. Jika aku mengatakan mencintaimu, maka itu datang dengan konsekuensi sangat besar, mungkin pernikahan seperti Susan dan D'Angelo. Aku belum berani mengatakan aku ingin memilikimu. Mari berjalan saja karena kau menginginkannya dan aku pun menyukainya."
"Maaf, aku membuatmu menangis. Jangan marah padaku. Aku hanya menyangka dia sudah meninggal, tak kusangka dia masih hidup."
"Baiklah masalah selesai jika begitu. Tak ada yang perlu di perdebatkan."
"Kau tak akan kembali ke kamarmu malam ini bukan." Aku tertawa kecil.
"Tuan walikota, kau memang anak manja."
"Tinggallah, aku merindukanmu. Beberapa saat aku sudah terbiasa kau ada di sampingku."
"Aku akan tinggal."
Malam itu semuanya jadi membaik lagi. Aku ada di pelukannya lagi. Aku senang aku tak menangis malam ini. Semoga juga tidak di depannya.
__ADS_1