BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 151. Commander Gillian Gilbert


__ADS_3

"Itu kadang berkah dibalik kutukan. Semua orang menyangka aku punya hidup yang mudah. Ayah dengan pangkat tinggi, Ibuku pengusaha sukses. Tapi standart tinggi yang mereka tetapkan membuat semua anak-anaknya merasa kehilangan sesuatu dari hidup mereka."


Itu pengakuan yang jujur. Nampaknya semua orang punya kesulitannya masing-masing di masa mereka belum menemukan jalan mereka sendiri.



"Sebuah karakter tangguh tak mungkin dibuat dari keadaan mudah kata pepatah Sir."


"Iya, selalu ada kisah dibaliknya." Dia mengatakannya dengan senyum. Seperti aku mungkin dia sudah berdamai dengan masa lalunya.


"Nanti selalu ada saat kita bisa melihat dari jauh dan tersenyum jika kita tidak patah. Seperti sekarang. Yah hidup, aku selalu bersyukur aku masuk dinas militer belakangan Sir..."


"Kau bisa panggil Gilbert saja, kita tak dalam situasi formal." Tawaran yang menggoda, aku jadi bertanya apa ini salah satu caranya dekat dengan wanita. Memulai dengan yang non-formal.


"Tak dalam situasi formal..."


"Ada yang salah dengan itu. Kau bebas bicara."


"Ohh aku sering melihatmu dalam situasi non formal di Kissimme." Dia tertawa.


"Itu, ..." Dia tertawa sejenak sebelum menjawabku. "....sebagai tim tactical komando, kau harus fokus, memaksa otakmu di kondisi 100% saat menilai keadaan di layar komando. Aku memakai makan malam, ehm...pembicaraan gadis-gadis sebagai pengalih perhatian, memaksa otakku istirahat sebelum aku berpikir lagi. Hanya aku banyak di cap memanfaatkan orang karena itu. Plus di cap playboy... Hanya orang-orang yang mengenalku yang tahu apa yang aku lakukan."

__ADS_1


"Ahh... seperti saat ini."


"Kau tidak bisa di andalkan, karena kau terlalu serius. Otakmu berjalan dengan prasangka terburuk pada orang asing yang tiba-tiba mengajakmu bicara dan menganalisanya di setiap kata, aku terpaksa harus bicara serius dan berpikir jika di depanmu." Aku meringis mendengarnya dan dia tertawa.


"Aku tidak bermaksud mengatakan kau membosankan. Tiap orang punya karakternya masing-masing. Tidak ada orang yang sama. Jadi jangan mengecapku buruk duluan Nona Jen."


"Aku nampaknya pandai menganalisa orang Sir."


"Aku harus belajar berhadapan dengan banyak orang. Belajar psikologi manusia itu sangat perlu." Sekarang aku akan berpikir dia terlalu sulit dihadapi karena ini. "Sekarang kau sedang mencurigaiku nampaknya. Aku tidak sulit, aku tak berniat buruk terutama, kecuali kita musuh jelas aku akan menyulitkanmu. Aku tak berniat membuat musuh dengan orang yang baru kukenal di makan malam, apalagi seseorang yang membantuku, rekan kerja. Aku hanya sedikit pamer." Dia malah tertawa lagi. Nampaknya permainan ini menyenangkan untuknya.


"Kau pamer? Buat apa pamer padaku?"


"Kau memang complicated Sir." Dia tertawa.


"Teman oke. Terima kasih sudah banyak membantu."


"Ya kau memang teman kerja Sir." Aku membuat batasan sekarang. Dia terlalu complicated untuk dijadikan "teman".


"Aku seburuk itu dimatamu ternyata. Anggap saja aku teman cerita, kau sudah banyak membantu. Jika ada masalah, jangan sungkan menghubungiku Jen."


"Kuharap aku tidak menyusahkanmu dengan masalah apapun Sir. Terima kasih."

__ADS_1


"Baiklah, aku memang mengacaukan makan malammu kali ini. Lain kali aku tak akan mencoba membuatmu bingung lagi." Aku tersenyum.


"Senang bisa membuatmu tertawa jika begitu Sir."


"Aku serius jika kau perlu apapun bicara saja padaku oke. Aku pergi dulu, semangkin lama aku di sini aku akan mengacaukan jam istirahatmu." Dia melihat ke area penyajian makanan. "Ludo, aku masih punya simpanan?" Simpanan apa yang dia maksud.


"Ada Sir."


"Boleh minta dua gelas."


"Sebentar Sir." Tak lama kepala koki datang dengan dua gelas anggur merah. Ternyata dia punya simpanan wine.


"Bersulang." Dia memberikan gelasnya padaku.


"Bersulang." Aku tersenyum kali ini, mengikutinya mendentingkan gelas kami. Wine seperti ini tak pernah muncul di kantin manapun. Aku meneguknya mengikuti gaya minumnya


"Istirahatlah, maaf mengacaukan makan malammu. Selamat malam Jen."


"Malam Sir."


Dia pergi, aku melihat bayangan punggungnya menghilang di kegelapan. Komandan yang brilliant, tapi untuk di anggap teman, complicated.

__ADS_1


__ADS_2