
"Assistenmu itu, Anna, apa dia dan Andrew akan bersama. Apa Anna pernah cerita sesuatu padamu?" Aku mencoba mengorek sedikit keterangan, mungkin dia tahu tentang hubungan mereka.
"Hmm, aku tak tahu. Bukan urusanku. Kau bisa tanya sendiri ke mereka berdua." Dia meringis sendiri mendapat pertanyaan macam itu. Lebih tepatnya dia mengejekku kurasa.
"Apa kau sengaja menyuruh Anna mendekati Andrew?" Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benakku. Dia langsung tersenyum lebar.
"Aku malah tak tahu mereka saling menyukai. Kau mau mengejar Andrew, kau bisa mencobanya sendiri. Semoga kau berhasil." Aku mungkin bisa meminta tolong Ibu menjodohkan kami, tapi bagaimana kalau Andrew tidak mau. Ini akan sangat memalukan.
"Kau sedang mengejekku bukan..." Dia tertawa.
"Kalian tidak cocok. Dia tak punya hati padamu." Aku tak akan mendengarkan mafia Rusia ini dia hanya sedang cemburu dan berusaha membelokkan ketertarikanku.
__ADS_1
"Kau tak tahu kecocokan kami." Aku tahu Alexsey juga menyukaiku, tapi kurasa kami tidak punya masa depan, dan dia sendiri yang setuju dia tidak boleh merayuku. Jadi kubiarkan dia tahu aku sedang mengejar Andrew, ingin kulihat bagaimana tanggapannya.
"Jika dia menyukaimu selama bertahun-tahun kalian kenal kenapa dia tidak pernah mengatakan sesuatu. Pria itu sederhana, jika dia menyukaimu dia akan menunjukkannya entah dengan perbuatan atàu perkataan. Kau mau mengejar pria yang tak tertarik padamu? Sihlakan saja coba, tapi bukankah itu agak... membanting harga dirimu." Perkataannya mengena padaku.
Aku diam. Iya aku tahu itu benar, jika aku meminta Ibu kami menjodohkan kami kemungkinan besar mereka akan setuju. Tapi masalahnya bukan di mereka tapi di Andrew. Aku akan terlihat putus asa dan sangat mengharapkan.
Apa harus kutanya saja Andrew terus terang. Walaupun aku tahu hasilnya tak akan bagus...? Aku tidak punya keberanian bertanya apakah dia suka padaku, saat aku merasa 80% jawabannya adalah tidak.
"Ini hadiah pertemuan kita, sesuai namamu Svetluny." Dia menaruh paper bag itu di depanku. Aku melihatnya dengan perasaan tak enak. Apa yang dia harapkan dariku.
"Ini apa..."
__ADS_1
"Hanya hadiah kecil pertemuan kita." Sekarang senyumnya membuatku merasa bersalah, aku tak ingin dianggap memanfaatkannya. Aku harus menolak hadiah yang nampaknya mahal ini.
"Ini tak bisa kuterima, aku tak ingin berhutang padamu."
"Kau tidak berhutang padaku. Apa yang membuatmu berhutang."
"Ini hadiah mahal, kau tak harus melakukan ini. Aku tak mengharapkan hadiah." Cartier jelas bukan hadiah kecil walau aku belum tahu apa isinya. Aku mendorong paper bag merah itu kembali padanya. "Kumohom ambil kembali aku tak bisa menerima hadiah begini mahal."
"Ini hanya hadiah kecil, kau tak perlu merasa harus membalas apapun padaku. Kau harus menerimanya, jika tidak aku akan sakit hati sebagai temanmu, ini tidak ada apa-apanya dibanding bantuan yang telah kau berikan padaku 20 tahun yang lalu." Dan dia mendorong kembali padaku.
"Kau tidak mengharapkan apapun? Karena aku tak akan menjanjikan apapun padaku. Aku tak suka dituduh memanfaatkanmu. Aku tidak meminta apapun darimu, kau tahu peraturan kita, kau dilarang merayuku. Dan aku serius soal itu. Jangan mengharapkan apapun dariku."
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak merayumu, aku tahu jika kau ingin kau bisa membeli apapun sendiri. Aku tidak mengharapkan apapun. Aku hanya ingin memberi hadiah padamu untuk pertemuan kita kembali. Tolong ambillah..."