
Sekarang kami sudah berhadapan.
"Baik 3 ronde 3 menit istirahat diantaranya 1 menit." Anthony, yang akan menjadi wasit sudah berdiri diantara kami.
Rupanya dia berlatih boxing selama ini. Tapi mempertimbangkan kemungkinan keahliannya itu akan ditekan sampai level baru belajar. Tak ada nampak bekas pelatihan atau tanda bahwa dia sudah berlatih lama.
Anthony datang pada kami dan bertanya apa aku setuju.
"Alex kau setuju." Dibandingkan dengan boxing, aku tak pernah serius dengan satu aliran, tapi selama bertahun-tahun aku sudah mengembangkan kekuatan dan kecepatan pukulan.
"Oke 3 round 3 menit, diantaranya istirahat satu menit."
"Sergie, kau akan menang." Wanita yang bersamanya dengan bersemangat mendukungnya. Mungkin beberapa bulan ini dia sudah berlatih keras dengan boxing ini.
Yang menarik adalah wanita ini nampaknya punya keterikatan cukup kuat padanya. Dia mendukung Sergie dengan sungguh-sungguh. Bangs*at ini cukup beruntung punya pacar anak millionaire.
Sergie yang nampak senang dukungannya melihat padaku. "Aku tak akan kalah denganmu."
__ADS_1
"Banyak omong ayo selesaikan saja."
Svetluny datang ke samping ring. Tadinya dia tidak berniat bergabung terlalu jauh di pertarungan ini, karena tak suka aku menyelesaikan ini di ring, tapi melihat Sergie didukung sedemikian rupa mungkin dia kasihan juga padaku.
"Apa ada deal khusus diantara wanita?"
"Tidak, kami hanya tidak ingin permusuhan. Kalian bermusuhan tapi kami tidak."
"Ya nampaknya baik bagi masa depan. Mungkin dengan kalian berdua ada genjatan senjata(perdamaian sementara) di masa depan." Kemarin saat makan malampun dia mencoba berbaur dengan Sergie, berharap kami menghentikan semua perang ini. Svetluny hanya tersenyum dengan kata-kataku.
"Tentu saja." Aku menepukkan dua sarung tinju itu. Siap untuk menghajarnya.
"Menangkan ini Tuan Mafia. Setelah itu jangan berkelahi lagi." Dia menepuk bahuku memberi semangat dan segera pertarungan akan dimulai.
Kami selesai dipakaikan pelindung gigi. Sayang sekali, kesempatanku untuk mematahkan giginya nampaknya tidak ada, tapi akan kubuat dia memar-memar.
"Baik, kalian berdua kemarilah." Anthony menyuruh kami ke tengah lapangan, sementara ada tiga orang yang bertindak sebagai juri di pinggir.
__ADS_1
"Area pukulan terlarang belakang kepala, ulu hati, rusuk, tenggorokan, ********. Mengerti." Kami berdua mengangguk.
"Fight." Segera pertarungan dimulai. Kami melangkah maju dalam jangkauan pukul.
Aku tak punya strategi khusus, yang kulakukan adalah memukulnya secepat mungkin dan sekuat yang aku bisa, aku percaya akumulasi latihan bertahun-tahun akan terlihat sebagai keunggulan. Sementara mungkin dia baru belajar teknik bertinju selama beberapa saat dan tak punya tenaga.
Pukulan pertama sukses membuatnya terkejut. Tenagaku masih full, dia terlambat melakukan blocking, akibatnya posisinya goyah.
Pelatihnya yang mengikutinya langsung memberikan arahan padanya, aku merangsek maju pagi. Dengan segera dia memasang pertahanan dari pukulanku.
Selanjutnya yang kulakukan adalah memborbardirnya dengan pukulan, memanfaatkan staminaku yang masih full, dengan blockingnya yang lemah dia tak bisa menahan beberapa pukulan masuk.
Arahan apapun tidak bisa di dengarnya lagi selama tiga menit pertama itu karena aku tak memberinya kesempatan membalas. Sesekali dia membalas tapi pukulannya terlalu lemah. Sudah kubilang dia baru belajar bertinju. Apa yang dilakukannya dalam ronde pertama adalah situasi keterkejutan yang sia-sia.
Dia hampir dalam postur memegangi kepalanya karena takut kupukul.
"Kau mau begitu terus? Buka!" Anthony mengingatkannya dia tak boleh selamanya dalam posisi itu.
__ADS_1