
"Tadinya kau bekerja apa?" Aku bertanya pada gadis cantik itu.
"Aku seorang pengacara perusahaan." Ternyata dia punya karier menjanjikan sebelumnya. Sayang wabah ini mamaksa kebanyakan orang menjadi petani hanya untuk bertahan hidup.
"Kau punya karier yang bagus." Dia tertawa.
"Itu tidak berarti sekarang bukan. Tidak mati kelaparan saja itu sudah bagus. Yang masa lalu sudah masa lalu, dunia sudah berubah. Tapi untunglah aku bisa tinggal di kota yang punya sumber air panas gratis." Kata-kata itu walau terdengar pasrah tapi dia punya sisi positif yang bisa dia capai. Aku menyukainya.
"Yah kau benar, mungkin saat ini kita termasuk yang paling beruntung bukan."
"Aku bisa berkebun di Hot Spring, tak apa itu pekerjaan impian jika di pikir-pikir. Aku selalu berpikir jika aku pensiun aku akan membeli tanah dan punya banyak tanaman."
Kami mengobrol banyak hal, perjalanan cukup lancar hari ini, kami berangkat jam 9 kurang, dan ternyata kami berhasil sampai di Hot Spring lagi sebelum jam makan siang.
"Kau akan di data petugas dan ditempatkan nanti, jika kau ingin mengobrol aku ada di UGD. Aku juga tidur di bangsal rumah sakit." Dia akan turun dan langsung bergabung dengan yang lain.
__ADS_1
"Baiklah, kita bertemu lagi nanti, senang mengobrol denganmu." Dia melambai padaku.
Aku kelaparan, tapi Susan mungkin sudah ada di dapur umum kami. Aku teringat aku janji harus menemui Andrew, mungkin dia masih menunggu. Jadi sekarang aku ke kantornya.
"Sir, Nona Jen meminta bertemu?" Assitennya memberikanku tanda untuk masuk kemudian.
Aku melangkah masuk ke ruangannya. Tersenyum padanya kemudian. Dia meminta tanganku dan aku duduk di depannya.
"Senang kau sudah di kembali lagi." Aku memandangnya.
"Senang mendapatkan seseorang menantikanku kembali." Si ganteng ini, baik sekali. Benar kata Donna, di masa yang sangat sulit ini, kami mungkin adalah orang yang sangat beruntung, kenapa walikota ganteng ini bisa jadi kekasihku. Aku tak pernah berniat menggodanya.
"Sudah kukatakan aku akan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. Perjalanan pulang kami hanya memakan waktu setengahnya, kami menemukan pengungsi yang ingin ikut."
"Itu bagus, kau tak tahu aku khawatir kalian menempuh jarak 1 jam tapi belum sampai-sampai jam 6 sore. Walaupun Komandan batalyon bilang kalian baik-baik saja, tetap saja itu sangat mengkhawatirkan."
__ADS_1
"Aku tak mau membicarakan perjalan menyeramkan itu lagi. Rasanya mengerikan dikepung ribuan infected. Kau sudah makan? Aku kelaparan..."
"Ini sudah lewat jam 1, jam istirahat sudah lewat. Kau pergilah meminta makanan ke dapur. Aku harus mengecek beberapa pekerjaan, tapi nanti malam kita makan malam bersama dengan teman-teman."
"Maksudmu?"
"Kau kekasihku, apa masalahnya duduk disampingku, apa kita perlu menyembunyikannya? Sampai kapan? Siapa yang berani menggangumu ... atau kau berbohong dengan perkataanmu kemarin?" Aku meringis, dia ternyata mengejarku dengan status kekasih itu. Bahkan dia sudah blak-blakan dengan James.
"Baiklah... terserah padamu. Aku akan duduk disampingmu saat makan malam."
"Itu lebih baik Nona, yang berani menganggumu cakar saja, kau Nyonyanya." Aku tertawa saat dia mengatakan cakar saja. "Pergilah makan siang, jangan sampai kau sakit. Ceritanya ditunda nanti malam." Dia merangkulku, sebuah ciuman singkat membungkamku sesudahnya. Ini kekasihku, aku sudah memutuskan menerimanya.
"Aku pergi Tuan Walikota. Sampai bertemu di makan malam."
"Pergilah, nanti malam kita lanjutkan."
__ADS_1
"Lanjutkan apa ..." Aku pura-pura bodoh saja.
"Kau tahu apa maksudku Nona perawat." Aku tertawa. Memiliki kekasih ini menyenangkan juga.