
Hari-hari yang sibuk setelahnya. Karena kami mempersiapkan rumah sakit agar bisa beroperasi penuh dibantu dengan tambahan dokter, perawat militer, dan tentara yang sudah tiba sebelum kami.
Beberapa sipil yang belum pernah sama sekali mendapat penugasan di daerah operasi militer terlihat susah payah menyesuaikan diri, tapi yang sudah pernah tak punya kesulitan berarti. Selalu ada yang pertama untuk segala hal nampaknya.
Michelle?
Aku tak mengurusinya, dia dikirim disini untuk mengumpulkan data. Kami hanya kadang bertemu saat makan saja. Tapi kelihatannya dia cukup menderita plus cukup tabah. Entah kenapa melihatnya sekarang jadi hiburan.
"Wanita itu pasti sangat tersiksa." Aku duduk dengan tim Tom saat makan siang beberapa hari kemudian bersama beberapa perawat lain.
"Kau ternyata memperhatikannya, kenapa kau tak menghiburnya." Tom tertawa.
Michelle sedang mengambil makanan, mukanya tanpa emosi melihat makanannya, kami yang sudah terbiasa dengan makanan apa adanya asal kenyang ini menemukan melihat tingkahnya adalah hiburan.
"Aku tak berbakat jadi pengasuh."
__ADS_1
"Jen, gadis blonde itu yang kau bilang kesini karena mengejar dokter James?" Martha perawat militer senior yang kutunjuk jadi wakil pertamaku mengikuti pandanganku.
"Iya, dia sama sekali tak pernah keluar kota aman, tak pernah merasakan jadi pengungsi, tak pernah kekurangan makanan, atau makan makanan tak enak. Hidupnya nyaman karena tim utama peneliti di CDC."
"Baguslah, anak manja harus di seret makan kentang. Semua orang menderita, dia harus merasakannya sedikit. Jika dia mengeluh di depanku aku akan tambah mengerjainya bukan kasihan." Martha memang lebih tegas dariku karena dia lebih senior.
Michelle yang melihatku bergabung ke mejaku.
"Boleh aku disini."
"Iya, duduklah Michelle."
"Hmm... menyedihkan. Aku tak bisa berfungsi hanya dengan kentang dan daging ikan goreng beku tawar. Ini bayam dengan jagung, rasanya hanya asin." Dia mulai mengeluh, sementara yang lain memandangnya dengan sebal.
"Di luar sana bahkan ada anak-anak makan sekali sehari dengan apa yang mereka bisa temukan, tidur kedinginan, siang kepanasan. Jika kau tak bisa makan dan berfungsi disini, pulang sana ke Atlanta dengan konvoi truk pengangkut! Tak tahu bersyukur! Hidup kalian di kota aman aman sejahtera bak tinggal di hotel mewah sementara banyak anak-anak kecil di zona hitam bahkan tak bisa makan!?" Martha langsung sengit.
__ADS_1
"Nona Michelle, kau 0.1% orang yang bisa makan semaumu. Jika kau tak menyukai makanan ini, pulanglah ke hotelmu, kami disini untuk menyelamatkan orang, membuat mereka bisa makan kenyang dengan menanam sesuatu untuk dimakan, kami jarang punya roti dan susu, kota-kota di zona hitam ini hanya punya perternakan ayam, cuma punya kentang dan ubi, jagung, sayuran, kadang ada potongan daging ayam dan telur saja sudah bersyukur, bersyukur masih bisa makan tidur tanpa merasa nyawa kami terancam. Kau tak punya empati sama sekali mengeluh soal makanan hambar."
Sudah kubilang makanan di dapur umum CDC yang dikhususkan untuk staff dan dokter itu makanan mewah. Bahkan di dapur umum di kota makanannya jauh lebih sederhana.
Michelle terdiam sekarang. Martha dan Tom terang-terangan tak menyukai perkataannya dan orang-orang memelototinya di meja makan, dan tak ada yang membela tertidakpekaannya.
"Maafkan aku." Dia makan tanpa bersuara sekarang.
Setelah dia sadar dia tak berhak mengkritik makanan lagi, aku mengalihkan pembicaraan, sudah cukup nampaknya membuatnya tak berani lagi mengeluh soal makanannya.
"Kelihatannya pasukan sudah ada yang berangkat. Area makan tak sepenuh biasanya."
"Dari kemarin mereka sudah berangkat. Hanya akan tinggal sekitar 400 orang yang akan mengatur kota."
"Ohh pantas saja, kukira rombongan pengungsi pertama akan segera tiba besok atau lusa Martha."
__ADS_1
"Iya, sepertinya begitu." Aku jadi merindukan Susan, Javier, bagaimana kabar mereka di musim semi ini.
"Jen, kau bertugas di mana sebelumnya."