
"Setahuku sudah, tapi memang kita belum ada kejadian yang bisa dilihat langsung. Entahlah jika menghadapi wilayah Toronto yang lebih padat."
"Kau sudah harus memikirkan menempatkan rumah sakit pendukung lebih dekat ke Toronto. Jika area sudah dibersihkan mereka perlu mengecek faselitas segera. Sarnia ke Toronto hampir 3 jam, terlalu jauh. Satu jam lebih masih bisa diterima tapi 3 jam beresiko, kukira begitu kita mencapai Hamilton kita bisa mengambil rumah sakit di sana."
"Iya Hamilton kandidat yang cocok untuk ini. Aku akan menetapkan sebuah rumah sakit di sana."
"Kukira dalam dua tiga hari ini kita akan mencapai Hamilton."
"Iya akan kupersiapkan." Dia diam sebentar. "Ada keluhan tentang supply ransum kami? Aku tak tahu standart kalian, jika ada masalah apapun, jangan ragu untuk bilang padaku."
"Tidak, tentu saja tidak ada masalah. Di kota perintis kadang kami hanya makan kentang, sayuran dan telur. Apa saja yang saat itu panen, ransum prajurit hanya untuk saat tugas lapangan, kami tidak memperbolehkan prajurit mengeluh tentang standart makanan sementara para pengungsi kadang tidak makan jika mereka tidak mendapatkan makanan."
Dia sedang mencoba bermanis-manis padaku sepertinya.
__ADS_1
"Soal kemarin,..." Dia diam sebentar sebelum melanjutkan, membuatku tidak sabar.
"Soal kemarin?" Bagian mana yang dia maksud dengan kemarin.
"Soal aku akan terjun sendiri ke Toronto, komandan Cristian lebih berpengalaman dariku, aku yakin dia bisa mengendalikan situasi dengan baik jika ada kondisi apapun. Ada keadaan yang harus kutangani sendiri di Toronto." Aku menatapnya, mungkin menemukan keluarganya sangat penting baginya. Ada sisi dimana aku mengerti langkah yang dia ambil.
Tapi mengakali rekan kerja demi kepentingan sendiri bukanlah hal yang bisa kuterima.
"Kau tahu kita bekerja dalam tim, aku di sini untuk misi kemanusian, jika sesuatu dilakukan dengan terbuka, di bagikan ke kolega dan diselesaikan bersama mungkin lebih banyak yang di dapatkan daripada di selesaikan sendiri. Kau bisa minta bantuan padaku, seperti aku terus terang padamu aku punya masalah soal dana saat datang kemari. Jika ada yang bisa kubantu sihlakan beritahu aku." Kuberi dia kesempatan terakhir untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Iya aku mengerti. Terima kasih atas bantuan kalian, jika ada yang aku perlu diskusikan akan kuberitahu. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Sementara semua dalam kendali kurasa. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam kecepatan begini. Misi kita nampaknya berjalan dengan lancar sampai detik ini. Tapi jika di Toronto kita sudah memikirkan taktik baru. Kurasa tak ada yang bisa lakukan selain menunggu hasilnya, lagipula tak semua infected di Toronto memiliki kemampuan komunikasi."
Kau tidak mengerti apa yang kukatakan 'wonder women', sekarang di pikiranmu hanya kau sudah memperhitungkan semuanya. Mulai dari mengakaliku sampai membahayakan pasukanku. Ini sangat mengecewakan. Aku perlu menghela napas panjang untuk menekan kekecewaanku.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau mengerti. Kalau begitu akan kita tunggu kabar selanjutnya. Aku juga berharap aku bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat." Rasa kecewaku membuat aku membuang pandangan dari gadis cantik ini.
"Iya baiklah."
Dia berbalik padaku sebelum dia keluar.
"Komandan Gilbert..."
"Hmm...?"
"Kau tidak seburuk yang dikatakan perawat itu, kau lebih baik dari itu." Aku tersenyum.
"Benarkah? Nampaknya itu pujian yang tulus, terima kasih untuk itu."
__ADS_1
Elizabeth Dugard, sayang sekali kau sama sekali tak tahu bagaimana mengeluarkan sisi terbaikku, jelas Jennifer Gothard jauh lebih tulus darimu, yang kau lakukan adalah menggunakanku sebagai alat.