
"Apa Shasha menghubungimu belakangan ini?" Aku bertanya kepada Monica. Khawatir dan penasaran jika dia memang berusaha mendekatinya.
"Kenapa dengan Shasha?"
"Entahlah, melihatnya bersama dengan Sergie terasa salah, apa dia pernah mencoba memprovokasimu atau apapun."
"Kurasa tidak, walaupun ya dia memang tak pernah muncul lagi di butik atau meneleponku. Kurasa itu hal bagus dia tak pernah muncul di depanku lagi. Akan canggung menghadapinya."
"Baguslah dia tidak muncul lagi, aku tetap beranggapan ketika dua saingan muncul mereka harusnya adalah musuh. Kau harus berhati-hati terhadap Shasha." Monica melihatku dengan alis berkerut.
"Apa ini begitu rumit sayang. Kurasa selama dia tak sengaja mencari masalah denganku kita aman. Apa kau sudah menemukan nomor orang yang mengancammu?"
"Belum, nampaknya akan sulit, sampai sekarang mereka belum mendapatkan petunjuk."
"Apa yang akan kau lakukan."
__ADS_1
"Mempertahankan pengawal, termasuk pengawalmu, aku tak bisa menuduh orang lain tanpa bukti. Setidaknya aku harus bersabar menunggu penyelidikan, yang penting sekarang kau harus berhati-hati dengan Shasha jika dia entah bagaimana mendekatimu."
"Apa dia memang harus dicurigai?"
"Aku tak tahu sayang. Ibu tiriku dan dia harusnya ada di tempat yang sama, apalagi dia terlihat dengan Sergie, aku takut mereka menyusun rencana, mungkin akan mengancam keselamatanmu." Dia terlihat terganggu, dan aku tahu ini adalah hal yang sulit untuknya. "Maafkan aku. Aku tahu ini sulit." Aku bersalah membawa masalah ini di depannua berulang kali.
"Tak apa, hidup pasti ada masalahnya." Dia bersikap biasa saja, tapi kurasa dia pasti lelah dengan keadaan seperti ini. Dia menatapku dalam diam. "Belakangan kau sibuk, seminggu lagi kau harus ke Moskow, bisa kita liburan saja 2 hari bersama akhir pekan ini kau tak ada acara pekerjaan bukan di akhir pekan." Dia melihatku dengan wajah memohon. Aku memang terlalu sibuk belakangan, aku mengakuinya.
"Baiklah, akhir pekan ini kita jalan-jalan." Monica tersenyum dengan mudah mendengar jawabanku.
Sementara Bibi belum meneleponku soal hasil pencarian nomor itu, sehingga aku harus meneleponnya.
"Bibi kau bisa melacak nomor telepon yang kuberikan padamu?"
"Menurut orang yang menyelidikinya agak sulit, itu hanya pernah diaktifkan sekitar satu kali, kebanyakan memakai itu indentitas palsu yag dicuri. Dia sudah mengantisipasi jika kita menemukan pesan itu nampaknya." Aku sudah mengira ini tak akan mudah.
__ADS_1
"Yah aku tak mengharapkan ular licik tua itu begitu bodoh."
"Kau benar, dia tak akan mungkin menunjukkan dirinya begitu mudah. Tapi tenang saja, Ayahmu tak mungkin tak mengambil tindakan soal kasus yang menimpamu, dia akan memperingatkan semua orang tidak bermain api saat kita berkumpul nanti." Bibi nampaknya yakin soal ini.
"Dia akan mengingatkan tentu saja, hanya apa mereka akan mendengarkannya atau tidak adalah masalah lain." Aku uang pesimis terhadap yang namanya ancaman. Kurasa itu tidak akan efektif.
"Ayahmu akan datang dengan ancamannya sendiri kau tak usah khawatir dia tak akan mengambil tindakan."
"Ohh begitukah."
"Tentu saja, kau pikir dia akan diam saja."
Bibi menyakinkanku, aku jadi penasaran Ayah akan datang dengan ancaman yang bagaimana. Kita lihat saja pekan depan apa yang terjadi di Moskow.
Malesnitsa, Moskow, aku kembali.
__ADS_1