BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 86. Stay Away From Us 1


__ADS_3

"Kau ingin eskrim." Dia mengangguk dengan wajah senang. Kami mengunjungi sebuah bazar yang di buka dekat apartmenku hari ini karena dia akan kembali ke Montreal sore ini, jadi kami tak pergi terlalu jauh.


Bazaar-bazaar terjadwal seperti ini membuat roda ekonomi berputar. Banyak orang yang bisa berusaha melakukan sesuatu dengan tempat berjualan yang tidak usah dibayar. Ada banyak yang berusaha menjual makanan dengan ketrampilam mereka.


"Ini dekat dengan lokasi gedung retail kita. Bahkan terletak di satu blok, apa ini sengaja?"


"Iya memang sengaja. Agar para pedagang kita juga bisa menambah penjualannya di akhir pekan seperti ini. Ini salah satu usaha untuk mendukung mereka, juga menaikkan pendapatan kita."


"Nampaknya kau sangat serius berusaha membesarkan gedung retail kita."


"Tentu saja, kami mencoba banyak cara. Setiap toko punya caranya sendiri-sendiri menarik pengunjung. Kau jangan khawatir, nantikan saja laporannya." Eliza tersenyum.


"Aku percaya padamu dan selalu berharap kau akan berhasil dengan gemilang walaupun ada banyak rintangan. Bagaimanapun ini investasi besar jika dalam setahun atau dua tahun kenaikannya signifikan. Albert akan lebih menghargaimu dan tak punya alasan menolak hubungan kita lagi."


"Terima kasih masih mempercayaiku Sweetheart."

__ADS_1


Aku melepas Eliza sore itu dengan senyum lega di wajahnya. Pertemuan kami nampaknya membuatnya memperbaharui tekadnya lagi.


"Hati-hati oke. Aku akan berusaha ke Montreal nanti. Maaf kita masih harus berada di kondisi ini."


"Tak apa, kau jika tak sempat tidak perlu ke Montreal, aku saja yang ke sini, kau punya banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan di sini, jadi aku akan mendukungmu."


"Kita lihat saja. Aku juga masih atase untuk Kanada jadi aku harus bolak-balik ke Montreal juga. Tapi kita akan segera bertemu lagi."


"Baiklah. Aku pergi. Jaga dirimu oke..." Dengan pelukan erat dan lambaian tangan aku melepasnya sore itu.


Ponselku berbunyi saat aku baru selesai mengantar Eliza ke bandara. Sebuah telepon dari Kylie Warner. Kenapa dia meneleponku, aku sudah memberitahunya aku ke Oklahoma selama beberapa hari.


"Kylie ada apa? Kau baik-baik saja? Kau sudah di rumah bukan?" Aku memang tidak meneleponnya dua hari ini.


"Kupikir kau di Oklahoma." Sebuah tuduhan langsung muncul.

__ADS_1


"Kenapa memangnya dengan Oklahoma?" Aku memang mengatakan bahwa aku ke sana padanya.


"Kupikir benar kau harus ke luar kota ternyata kau pergi dengan kekasihmu. Seharusnya ķau tak usah berbohong padaku." Dia langsung ke inti persoalan. Jadi ada seseorang melihatku dan mengatakan padanya.


Jadi dia tahu aku pergi dengan Eliza. Baguslah, karena aku juga tak berniat melapor padanya. Jadi dia harus tahu ini urusan pribadi yang tak kubagi dengannya.


"Kylie, kau sudah tahu aku punya kekasih. Dan aku tak membagi urusan pribadiku dengan orang lain. Maaf, jika aku berbohong, karena memang lebih nyaman berbohong untukku. Tak ada pengaruhnya apapun padamu bukan." Sekarang dia diam. Aku terus terang mengatakan semuanya. Dia tahu aku benar, aku memang tak pernah mengatakan apapun padanya.


Seminggu ini aku selalu mengunjunginya tapi aku tak pernah memberi harapan apapun padanya. Aku menjaga kesopanan dan sikapku, tidak pernah menyentuh kulitnya dengan sengaja.


"Kukira kau dan dia sudah berakhir karena orang tuanya tidak setuju."


"Kami baik-baik saja. Darimana kau mendengar itu, lagipula kami tidak tergantung dengan orang tua lagi. Sudahlah ini hidup kami. Maaf, aku tak membicakan ini denganmu.." Aku menolak menceritakan detail lainnya. Harusnya dia mengerti aku mendorongnya.


"Jika kau bicara seperti ini di depan Rachelle kukira dia akan menertawakanmu, dia selalu bilang hubunganmu dan Eliza tidak mungkin." Dia mencoba menggoyahkan keyakinanku.

__ADS_1


__ADS_2