BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 98. Decision 3


__ADS_3

Aku berpikir lama sendiri melewati hari-hari sendiri saat kadang dia berada di US, menimbang bagaimana bicara dengannya. Kenangan demi kenangan membuatku sakit, kemungkinan kami akan berpisah membuatku menangis pilu karena kehilangan.


Minggu ini dia tidak pergi kemanapun. Jadi akhir pekan ini aku membulatkan tekad untuk bicara dengannya. Untuk mengatakannya sangat sulit. Aku takut hasilnya mengecewakan, tapi itu lebih baik daripada aku dikecewakan nanti.


Mungkin aku akan patah hati, aku tak ingin melewati ini tapi inilah yang akan terjadi.


Akhirnya aku mengambil keputusan aku harus bicara sekarang juga.


"Sayang, aku mau bicara padamu." Bahkan suaraku rasanya tercekik saat memulai. Dia masih melihat ke ponselnya, aku menunggunya


"Ada apa?" Aku tak akan mulai saat dia tak melihatku. Kubiarkan dia selesai dengan apa yang dikerjakannya. "Sayang ada apa?" Akhirnya dia memperhatikan ekspresiku.

__ADS_1


"Aku mau bicara serius padamu." Saat ini saja sepertinya mataku sudah memanas.


"Bicara serius?" Dia meraih tanganku, mengengamnya dengan hangat. "Baiklah, ada apa?" Sikapnya yang sangat baik membuatku merasa sangat bersalah padanya.


"Aku ingin kau melepaskan posisi di Moskow, mintalah Ayahmu memberikan kewenangan penuh atas dua perusahaan si Kanada dan kita tidak akan ke Moscow..." Sesaat dia tidak bisa bicara, mungkin dia merasa dia salah mendengar apa yang aku katakan.


"Apa maksudmu melepaskan jabatan di Moskow?"


"Aku tak ingin kita pindah ke Moskow, aku tahu kau ingin kembali, tapi aku tak bisa, itu kota yang terlalu asing bagiku. Dan banyak hal yang tidak benar di sana..."


"Aku tak menerima kompromi di belakang. Kau ingin berkata itu masih lama, mungkin menunggu sampai kita punya keluarga? Aku tak ingin anak-anakku tumbuh diantara Nenek tiri yang membencinya, Paman-paman yang tidak menyukai mereka dan bahkan mungkin ingin mencelakai mereka. Aku tak ingin pindah ke Moskow dengan kompromi apapun. Kau ingin mengakaliku bukan, jangan pikir aku tak tahu." Dia terdiam sesaat dengan kata-kataku.

__ADS_1


"Lalu maksudmu aku harus menyerahkan itu ke Sergie?" Dia masih memikirkan dendam antara keluarga mereka, aku memikirkan masa depan keluargaku. "Bagaimana kau meminta aku menyerahkan semua kerja kerasku ke Sergei?"


"Bukan fokusnya tentang Sergie tapi tentang kita. Tidakkah kau mengerti."


Dia menatapku tanpa bicara, aku langsung melanjutkan.


"Aku memikirkan anak-anakku di masa depan. Perselisihan diantara kalian tidak bisa di damaikan, Margarita membencimu, Sergie membencimu, kalian akan terlibat satu sama lain dan menumpuk kebencian.


bukan fokusnya ke Sergie, tapi bagaimana jika mereka menaruh anakku dalam bahaya, tapi kau dan aku punya kehidupan di sini. Apa yang kurang? Kau punya perusahaan besar di sini, itu sudah sangat lebih dari cukup. Apa kita harus menguasai semuanya bertengkar dengan semua orang. Apa kau harus membawa keluarga kita bertarung dengan Margarita nanti. Bukan kalah tapi kita hanya ingin kehidupan tenang demi keluargaku di masa depan..."


"Kau tak mengerti." Alex menyela. "Kau ingin aku meninggalkan semua yang sudah aku usahakan."

__ADS_1


Aku tenggelam dalam rasa sedih mendengar tiga kata itu. Aku tak mengerti? Berarti dia memang lebih menghargai Moskow.


"Apa yang tak kumengerti. Apa dendam begitu penting bagimu, atau kau benar-benar ingin tinggal di sana? Disini kau juga punya segalanya..."


__ADS_2