
"Sayang, kau benar-benar... Fu*ck! Kebawahku, akan kuselesaikan ini, buka lebar-lebar..." Geraman D'Angelo membuatku merinding. Pikiranku memikirkan dia sedang menjadikan Susan mangsanya, menerkamnya di bawahnya, dan dia menyerah di bawahnya, pasrah, panas. Dan di depanku seseorang yang di sebut Susan panas. Aku melihatnya dan dia melihatku.
"Kau sebaiknya pergi." Andrew menatapku dengan menahan napas. Dan memalingkan wajahnya sekarang. Dia benar-benar menyuruhku pergi, dia memegang kata-katanya bahwa jika aku ke sini tak akan terjadi apapun.
"Ya ...di sana, kau bes*ar sekali, cinta... yes, di sana. Jangan berhenti, ... aku mau datang. Sayaang, ..." ******* Susan begitu membuatku gila sekarang. Aku juga mengingin*kan itu.
"Pergilah..." Andrew membalikkan badannya meninggalkanku. Sementara desa*han dan eran*gan itu mencapai puncaknya. Mereka berdua benar-benar membuat orang lain yang mendengarkan mereka menjadi gila.
Aku mengambil keputusan gilaku. 'Pakai dulu jika tak cocok nanti putuskan' Itu kata-kata mesum Susan yang mencuci otakku. Kutahan pintunya yang akan tertutup.
"Apa yang kau lakukan?" Dia tertegun melihatku. Aku menutup pintunya pelan. Sementara Andrew masih tak percaya bahwa aku menutup pintunya.
__ADS_1
"Kau yakin?" Pertanyaan selanjutnya yang aku sendiri tak bisa menjawabnya.
"Aku tak tahu tapi aku ...mau ... itu." Aku membisikkan kata-kata pelan itu. Wajahku memanas, tapi tubuhku lebih menang dari logikaku sekarang.
"Kuberi kau lima detik untuk berubah pikiran."
"Lima detik? Akhir aku bicara ini sudah lewat ku kira. Mungkin kau harus memberikanku lima menit agar aku pergi..." Dia mengurungku dengan lengannya sekarang, jantungku berdetak keras. Di bayangan lia*rku aku ingin mencengkra*m t-shirtnya dan membuat dia menye*ntuh*ku segara.
"Memang sudah habis..." Saat dia memeluk pinggangku dan membuat tubuh kami berdekatan, rasanya seperti tersengat listrik. Menyenangkan sekali. "Jangan menyesal, jangan menyalahkanku, kau yang memilih ini..." Tanpa aba-aba dia menciumku, aku mencengkram t-shirtnya dengan segera. Merasakan perlukan eratnya yang menjalar rasanya, aku begitu menginginkannya. Dan tak bisa menahan diri membalas ciumannya. Lampu mengelap, dia mematikan lampu ...menyisakan lampu temaram hangat yang memanaskan suasana.
"Lakukan ..." Tangannya menangkupku, menekankan dirinya, mengesekku membuatku gila tapi dia belum melakukannya. Aku menginginkan lebih dari itu.
__ADS_1
"Jen... sayang kau sangat ..ba*sah." Aku terlalu menginginkannya kurasa, sampai tubuhku memerintah logikaku.
"Kumohon ..." Rengekanku membuatku merasa malu aku bisa membuat suara itu, tapi aku sudah tak perduli lagi. Aku ingin hadiahku malam ini seperti Susan mendapatkannya.
******* putus asaku berhasil membuatnya menguasiku. Aku memejamkan mata, memeluknya begitu erat, dia menciu*mku, sementara dia bergerak di atasku. Perasaan dikuasai ini begitu memuaskan, pahatan tubuhnya yang menguasaiku membuat pikiranku berpicu begitu jauh, aku memohon dia tak berhenti, karena aku merasa ingin mengapainya saat itu juga.
Dan cara dia memperlakukanku membuatku merasa melupakan segalanya. Segalanya terlalu cepat kemudian, gabungan ketegangan yang tidak tersalurkan , membuat puncaknya seperti sangat mudah digapai.
"Andrew, jangan berhenti." Aku merasakan lonjakan menyenangkan itu. Terlalu cepat, terlalu inte"ns, hentakan yang dibuat tubuh dan eranganku tak terkendali lagi. Dan dia pasti merasakannya.
"Sial Jen, kenapa ini begitu cepat..." Reaksinya spontan terpicu, dia mengerang dan melepasnya diatasku saat aku masih menikmati puncakku. Rasanya begitu luar biasa.
__ADS_1
Aku menatapnya dengan senyum. Ternyata kata-kata Susan benar dia memang panas.
____________ ehmm sambung besok 😁