
Aku mengunjungi rumah sakit di Hamilton keesokan harinya. James menemaniku sekarang.
"Bagaimana keadaannya?" Aku perlu mengecek sendiri dan melaporkannya ke Jenderal, ini adalah bagian dari deal pembayaran bantuan. Dari yang awalnya misi sosial, menjadi pembayaran yang setara.
"Yah baik-baik saja kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, protokol untuk penanganan infected pintar juga sedang berjalan. Tapi penanganan ini agak lama. Percobaan di lab perlu rata-rata 10 hari untuk mendapatkan kesadaran kembali dan kami memerlukan bius total dalam lima hari pertama." James menjelaskan bagiannya yang dikuasainya untuk ini aku tak mengerti. Aku menyerahkan padanya.
"Kalian merasa ini bisa dilakukan?" Aku belum tahu persentase keberhasilannya.
"Di lab dalam 8-10 hari mereka bisa mendapatkan kesadarannya kembali 100%. Kurasa jawabannya bisa berhasil, ya bisa. Walaupun aku agak khawatir dengan reaksi obat pada pasien lebih tua dan efek menjadi infected pada tubuhnya. Tapi kurasa untuk sadar sepenuhnya bisa dipastikan."
Nampaknya James positive dengan keberhasilan kami. Aku jadi bisa menaruh harapan besar.
"Kudengar banyak drama kemarin." Aku meringis.
"Tentu saja, dia yang bermain drama duluan. Kau pikir jika tidak bermain drama aku akan memenangkan kasus ini."
"Bisa dimegerti kenapa kau harus menaruhnya salam drama. Tapi hebat ini bisa di selesaikan dalam satu hari."
"Pasukan kita yang hebat." Kemarin dia dievakuasi dengan orang tuanya. Apa dia sudah bertemu mereka. "Apa dia sudah melihat orang tuanya?"
"Dia belum diizinkan keluar dari isolasi. Nanti hari keempat kami akan memberikannya izin. Tapi sementara Jen memberikannya akses kamera melalui ponsel. Tampaknya dia tidak protes. Lagipula prraturan hanya memperbolehkan kunjungan dokter dan perawat di pasien infected. Walaupun dia cukup banyak menangis dari semalam. Aku sudah menjelaskan padanya semua tahapan yang akan orang tuanya jalani. Nampaknya dia bisa menerimanya."
"Hmm ... baiklah."
"Kau tidak menemuinya?"
"Dia akan menyump*ahiku dengan kata-kata terbaik yang bisa ditemukannya di dalam otaknya. Dari kata neraka sampai ke nama setiap penghuninya." James tertawa sekarang.
__ADS_1
"Ohh kemungkinan besar, tapi mungkin juga tidak, bagaimanapun kau sudah menyelamatkan seluruh anggota keluarganya. Apa lagi harapan terbaik yang bisa dia minta, yahh walaupun dia akan dipecat, tapi kurasa dia... menukarnya dengan sesuatu yang sepadan."
"Hai James, dia sudah puas menyu*mpahimu semalam, siang ini nampaknya dia sudah mengerti kondisinya." Jen tiba-tiba muncul di depanku.
"Yah aku bisa membayangkan."
"Jika kau ingin menemuinya bisa kurasa. Dia stabil kondisinya."
"Hmm..." Aku tak tahu, mungkin saja aku harus menemuinya, bagainanapun ini perbuatanku. Aku tak pernah menganggapnya musuh sebenarnya tapi dia yang memulai masalah denganku. "Aku akan menemuinya. Dia tak akan mengg*igitk*u bukan?"
"Suhu tubuhnya sedikit tinggi tapi dia stabil, pasti ada deman di 24 jam pertama."
"Baiklah, aku akan masuk."
"Di di isolasi 1. Kau perlu pengawalan? Kami tetap pada protokol borgol."
"Ahh rupanya kau sudah siap menerima caci maki lagi. Sana masuklah Komandan. Cepatlah keluar untuk kesehatan jantungmu jika dia marah-marah." Aku meringis saja.
"Kim, biarkan Komandan Gillian masuk." James yang membiarkanku masuk kemudian.
Tak berapa lama aku tiba di ruang isolasinya. Dia melihatku mengetuk pintu ruangannya, lalu mengalihkan pandangannya tak mau melihatku.
"Kau boleh menyumpahiku jika kau ingin." Aku duduk di kursi yang agak jauh darinya. Walaupun dia nampak tak berbahaya aku tak tahu jika dia ingin memberiku gi*git*an. Mungkin membalas den"dam atas isolasi ini. Tapi sekali lagi itu perbuatannya sendiri.
"Apa ada gunanya..." Ya tidak ada gunanya dia benar juga. Dia sadar juga.
"Bagaimana keadaanmu?" Aku coba menyapanya baik-baik.
__ADS_1
"Baik." Dia hanya menjawab pendek, dia membenciku tentu saja. Lebih baik aku pergi saja segera setelah ini. Tapi ada yang harus kukatakan.
"Sudah kubilang kau lebih baik jujur. Aku sudah memberimu kesempatan di pembicaraan terakhir kita tapi kau menganggap semua kata-kataku angin lalu." Dia masih diam saja, sebuah kejutan dia tidak memaki-maki. Mungkin dia sadar dia salah langkah. Tapi mengucapkan terima kasih saja tidak.
Kami berdiam diri cukup lama. Wonder woman ini kasihan juga.
Sebuah bulir air mata tiba-tiba turun. Dia menghapusnya dengan cepat. Air mata itu, aku tak paham kenapa dia menangis bukankah dia sudah mendapatkan keinginannya. Apa lagi yang perlu dia tangisi.
"Ada yang sakit, aku akan memanggil dokter James." Yah baiklah bagaimanapun dia seorqng wanita, ditinggalkan semua keluarganya, aku paham kenapa dan apa tujuan tindakannya. Tapi bukan dia saja yang kehilangan, semua orang kehilangan.
"Terima kasih." Dia mengucapkan terima kasih tapi tetap tidak mau melihat padaku.
"Tak perlu berterima kasih, sudah tugasku. Mungkin kau berterima kasih pada perdana Menterimu saja. Aku membuatmu membayar cukup banyak. Dan dia mau membayarnya dia memang teman keluargamu."
Dia melihatku dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya mungkin.
"Aku memang memanfaatkanmu. Jika kau membalasnya itu tidak salah." Tiba-tiba dia mengakui kesalahannya. Well, dia tidak terlalu buruk rupanya. Semua orang berbuat kesalahan.
"Aku tahu kau melakukan apa saja untuk keluargamu. Hanya caramu yang salah, kau tak memikirkan nyawa orang lain." Entah dia menerimanya atau tidak ini perlu kukatakan.
"Iya aku tahu. Aku tahu aku membayar karena itu. Kau orang baik, aku yang terlalu mengecewakan. Kelakuanku memang tidak pantas ditiru. Setelah ini aku akan dipecat, atay mungkin disuruh mengganti kerugian sebagai hutang, aku akan terima saja."
"Selamat kau bisa berjumpa lagi dengan Ayah dan Ibumu."
"Iya, terima kasih.Kau orang yang baik, maaf aku mengecewakanmu."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Di depan jangan ulangi lagi." Aku beranjak.
__ADS_1
"Kuharap kau baik-baik saja."