
POV Alexsey
"Pria mana lagi yang meminta maaf padamu dengan mengirim bunga selama tiga bulan sayang." Dia tersenyum lebar mendengar itu.
"Kau punya kesalahan besar padaku Tuan Mafia. Sudah beruntung aku tak menghajarmu sendiri dengan tanganku."
"Iya aku bersalah, kau puas. Sampai sekarangpun aku masih menebusnya." Dia tersenyum sekarang.
"Ehm...cium aku lagi." Svetluny ini menyusup di pelukanku lagi, mendekatkan dirinya padaku seakan dia sudah menjadi kekasihku lama. Wanita-wanita ini jika mereka ingin menggodamu mereka akan melakukannya dengan sepenuh hati.
Aku berusaha keras fokus ke hal lain yang bisa kulakukan, misalnya menghabiskan blini di meja marmer dapur saat dia menggodaku. Tak ingin dianggap memanfaatkan kesempatan yang ada saat kencan pertama kami. Kucium dia singkat dan melepaskannya. Matanya menatapku seakan protes itu hanya ciuman singkat.
"Kau mau blini lagi?" kusuapi dia yang ada di depanku masih mengunci tengkukku. Dia memakannya dalam sekali gigit, tapi nampaknya dia lebih senang menjadikanku makanan sekarang.
"Alexsey..."
"Hmm..."
"Boleh kulihat kamarmu." Aku melihat padanya. "Aku ingin lihat kamarmu..." Sekarang itu bukan permintaan lagi tapi perintah yang harus dituruti. "Kita akan sulit bertemu lagi di sini bukan. Aku mau lihat kamarmu seperti apa."
"Kamarku seperti kamar manusia pada umumnya. Aku jelas tak menyimpan tank atau meriam di sana." Aku tertawa.
__ADS_1
"Tapi kalau senapan mesin ada bukan?" Svetluny ini terlalu berani menggodaku sekarang. Apa ini hanya tes darinya? "Apa kau tak ingin aku masuk ke kamarmu."
"Bukan begitu. Kau boleh masuk kemana saja di rumah ini." Episode seperti ini akan menyiksa karena aku tak mau menyentuhnya pada pertemuan pertama seperti ini. Rasanya aku harus menunggu sedikit lebih lama, setelah pembicaraan hati ke hati pertama kami. Saat kami telah lebih terbiasa satu sama lain.
"Aku ingin lihat sekarang..." Dia menarikku dari kursi meja dapur. "Di mana. Ayo tunjukkan padaku." Aku terpaksa menurutinya membawanya ke sebuah pintu di lantai dua yang merupakan kamarku. Sebuah kamar dengan dominan warna abu-abu dan coklat terhampar di pandangan matanya sekarang.
Dia duduk di tempat tidurku dan mencoba mengetes per-nya, aku membiarkannya, aku duduk di sofa yang terpisah. Dia tersenyum dan menyusulku duduk di sana, di pangkuanku lebih tepatnya.
"Kamarmu bagus..."
"Hmm...terima kasih." Aku tak tahu apa yang harus kujawab karena dia duduk di pangkuanku seperti ini.
"Kau pernah membawa wanita ke sini?" Dia merangkul leherku, aku tak tahu dia seberani ini.dalam kencan pertama kami.
"Lalu? Kau melakukannya di mana?"
"Kenapa kau ingin tahu."
"Jawab saja." Pertanyaan yang sangat pribadi. Tapi baiklah akan kujawab.
"Di hotel, di mana saja, tapi tidak di rumah ini."
__ADS_1
"Ehmm... begitu." Wajahnya membuat senyum dikulum, apa yang diinginkannya bertanya seperti itu.
"Jadi aku yang pertama diundang ke sini?"
"Iya kau yang pertama, dan kuharap kau juga yang terakhir."
"Tuan Mafia, kau sangat manis malam ini. Apa yang sedang kau usahakan?"
"Aku hanya berusaha mengatakan apa adanya. Kau tak percaya, kau bisa tanya Maria. Jadi karena kau sudah lihat kita keluar saja." Tapi dia menghentikanmu di pintu kamar.
"Aku percaya, aku hanya berkata kau manis. Aku suka jadi yang pertama tentu saja dan aku percaya padamu."
Dia memainkan jemarinya di bibirku sebelum menciumku panjang. Rok panjang ringan itu membuatnya mudah duduk di pangkuanku. Godaan untuk menyentuh kulitnya tak tertahankan sekarang.
"Apa yang kau lakukan Monica." Aku memperingatkannya dengan serius ketika dia berusaha mengodaku di bawah sana. Dia harusnya sangat sadar gerakannya pingg*ulnya seperti itu bisa membangkitkan sesuatu.
"Kau bilang kita akan punya malam yang lebih panjang minggu kemarin. Aku boleh sedikit mengacaukan tempat tidurmu bukan?"
"Kau memintaku melakukannya saat kencan pertama kita? Kau tak ingin menunggu , mungkin mengetesku jika ada yang membuatmu ragu. Apa aku orang yang tepat untukmu..."
"Aku sudah menunggumu empat tahun. Orang yang tepat, kurasa bukan itu masalahnya" Perkataannya membuatku berpikir sesaat, lalu aku sadar, mungkin maksudnya dia menunggu seseorang sejak kematian kekasihnya, tak ada kekasih baru untuknya. Baru sekarang dia punya seseorang, karena yang lain menjauhinya. Tapi arti kalimat berikutnya aku tak tahu.
"Aku tak ingin dianggap mengambil kesempatan secepat ini."
__ADS_1
"Ini suka sama suka. Bukankah kau tak memaksaku. Aku yang memintanya. Jika di depan kita punya masalah besar di depan, itu akan kita akan mencari jalan, jika kita tidak menemukan jalan bersama mungkin kita akan berpisah. Orang yang tepat belum tentu keadaannya tepat juga.. " Sekarang aku benar-benar binggung apa yang Svetluny-ku bicarakan.
"Menemukan masalah besar? Kita akan berpisah? Apa maksudmu, diantara kita akan ada masalah apa, keadaan apa yang tepat?" Kenapa dia sudah berkata ada masalah besar dan keadaan tidak tepat?